Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 104 Menikmati Malam Di Pedesaan


__ADS_3

"Sayang bagaimana keadaan mereka di hotel ya, aku penasaran?" tanya Clara.


"Apa kamu juga ingin bermalam di hotel, Sayang?" tanya Juan menggoda.


"Aduh apa sih, Sayang," ucap Clara pipinya merona.


"Tadi katanya penasaran," balas Juan.


"Maksudnya apakah kakak sudah tidak trauma lagi dan menjalankan kewajibannya sebagai istri gitu," ucap Clara.


"Kita doakan saja yang terbaik ya, Kalau kita kapan nyusul mereka?" tanya Juan sambil mengedipkan matanya.


"Nanti, tunggu kak Cindy punya anak," jawab Clara.


"Kalau mereka lama punya anaknya bagaimana?" tanya Juan.


"Ya berdoa semoga mereka cepat dapat momongan," jawab Clara sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


"Sayang sini dulu, kok malah masuk sih," ucap Juan.


"Aku mau shalat, kamu cepat shalat juga. Nanti kita jalan-jalan naik motor," balas Clara.


Juan pun segera menuju ke rumah Jhony untuk melakukan ibadah. Setelah selesai ia segera pamit kepada Jhony dan bu Tini untuk pergi bersama Clara jalan-jalan, ia meminjam motor Jhony.


"Sayang, apa kamu bisa naik motor?" tanya Clara tidak yakin.


"Ya bisa dong, dulu ketika kuliah aku membawa motor," jawab Juan.


"Itu berarti sudah lama sekali, apa masih ingat caranya?" tanya Clara.


"Insyaallah ingat," jawab Juan.


"Memangnya kita mau kemana?" tanya Juan.


"Kita berkeliling kota, ke kampus tempat anak-anak muda biasa nongkrong," jawab Clara.


"Nanti kamu masuk angin, kita ke cafe saja deh," ucap Juan.


"Aku sudah terbiasa, ayolah itu pasti seru," bujuk Clara.


"Ya baiklah, tapi jika nanti kamu masuk angin jangan menyalahkan aku ya," balas Juan.

__ADS_1


"Iya," jawab Clara.


Mereka berpamitan kepada orang tua Clara baru berangkat. Clara senang sekali, sudah lama dia tidak pernah berkeliling seperti ini. Bukannya dia tidak bersyukur kekasihnya selalu membawanya naik mobil, hanya saja naik motor ada kesenangan tersendiri.


"Sayang aku senang sekali, sudah lama tidak berkeliling naik motor begini," ucap Clara.


"Ya sudah nanti di kota kita berkeliling naik motor seperti ini ya," balas Juan.


"Benarkah itu, Sayang?" tanya Clara tidak percaya.


"Iya, aku janji," jawab Juan.


Malam ini adalah malam minggu jadi lalu lintas sangat ramai dengan muda-mudi yang menghabiskan malam mingguan di pusat kota. Mereka duduk sebentar di alun-alun kota sambil menikmati kuliner di sana.


"Kamu tidak apa-apa makan-makanan pinggir jalan begini?" tanya Clara.


"Sebenarnya belum pernah sih, tapi ternyata enak juga ya," jawab Juan sambil memakan cilok di tangannya.


Mereka sangat menikmati malam ini, bersenda gurau seperti layaknya anak muda sedang berpacaran. Sejenak melupakan rasa penat yang ada setelah kesibukan pekerjaan yang selama ini mereka geluti.


"Sayang, terima kasih ya sudah selalu sabar menemani aku selama ini. Semoga orang tua ku segera merestui hubungan kita," ucap Juan.


"Harusnya aku yang berterima kasih, kamu selalu ada dan membantu setiap apapun yang aku lakukan. Bukan hanya cinta, waktu tapi juga materi," balas Clara.


"Tidak, aku akan mempertahankan diri mu sampai kapanpun. Kalau kamu, apakah kamu akan menyerah mendampingi aku?" tanya Juan.


"Tentu tidak, aku akan selalu menyayangi dan menemani mu," jawab Clara mantap.


Begitulah setiap orang pasti punya mimpi dan harapan, karena hanya itulah yang membuat mereka bersemangat menjalani hidup. Mimpi Juan dan Clara hanyalah ingin hidup bersama dengan restu dari keluarga masing-masing. Mungkin bagi sebagian orang harta, jabatan dan popularitas bukanlah suatu hambatan namun sayang tidak semua orang berpendapat sama.


Malam semakin larut, namun alun-alun kota bukan bertambah sepi justru semakin ramai. Mereka memilih untuk pulang karena udara dingin semakin menusuk kulit, bahkan Juan sudah mulai bersin-berani dari tadi.


"Hacih... hacih..." Juan bersin.


"Duh Sayang, kamu pasti masuk angin. Ayo kita pulang saja," ajak Clara.


"Sepertinya iya, maaf ya Sayang aku belum terbiasa," ucap Juan.


"Tidak apa-apa, justru aku yang salah meminta kamu membawa ku kesini pakai motor pula," balas Clara.


Mereka akhirnya segera pulang. Sepanjang perjalanan Juan tidak berhenti bersin sampai terkadang motor yang dikendarai menjadi sedikit oleng. Clara kasihan melihat kekasihnya itu, hingga ia merapatkan tubuhnya dan merangkul Juan dari belakang.

__ADS_1


Juan yang mendapat perlakuan tidak biasa dari kekasihnya senyum-senyum sendiri. Pelukan Clara memberikan kehangatan yang mengalir seluruh tubuhnya sehingga mampu membuatnya lupa dengan masuk anginnya. Walau mereka sudah bertunangan namun mereka memang tidak pernah di luar batas, berpelukan saja hampir tidak pernah. Hanya saat-saat tertentu saja seperti saat Juan menemukan kembali Clara setelah di culik.


Sesampai di rumah Juan kembali bersin-bersin bahkan semakin parah. Clara segera membuatkannya teh hangat.


"Juan kenapa Clara?" tanya Jhony yang baru keluar dari rumahnya.


"Sepertinya masuk angin, Jhon," jawab Clara.


"Kamu sih ada-ada saja, dia biasa naik mobil kamu suruh bawa motor malam-malam, mana dingin begini," ucap Jhony.


"Aku tidak apa-apa kok, hacih..." balas Juan.


"Di kerokin saja, Clara," kata Jhony memberi saran.


"Oh iya, aku kerokin ya Sayang?" tanyanya tidak mengerti.


"Yassalam, kerokan tidak tahu?" tanya Jhony.


Juan hanya menggelengkan kepala, membuat Jhony menepuk jidatnya sendiri. Clara segera mengambil minyak dan koin di belakang.


"Buka baju mu, Sayang," perintah Clara.


"Apa? Malu, ada Jhony. Kita juga belum menikah Sayang," ucap Juan membuat Jhony tertawa.


"Duh, udah diam nurut saja. Cepat buka bajunya lalu tiduran," perintahnya lagi.


"Hah? Maaf ya Jhon, sepertinya dia sudah tidak sabar. Aku harus bagaimana ini Jhon?" tanya Juan dengan wajah panik.


Jhony setengah mati menahan tawa, entah Juan sedang menggoda Clara atau dia benar-benar polos dan tidak mengerti. Yang jelas ini membuatnya sangat terhibur.


"Ya dituruti saja, biar dia tidak marah," jawab Jhony.


"Apa kamu gila Jhon, dia meminta aku membuka baju dan tiduran," ucap Juan.


"Sudah ayo cepat Sayang, aku sudah mengantuk ini," balas Clara.


"Ya, baiklah," kata Juan, mengalah.


Ia membuka bajunya, lalu celananya dan hanya meninggalkan celana pendek di atas lutut. Jhony tersenyum, mau tertawa takut dosa. Clara yang belum sadar karena tengah mencampur minyak kelapa dengan minyak kayu putih seketika terkejut ketika melihat Juan.


"Sayang, kenapa celananya di lepas juga sih, cepat pakai lagi. Bisa salah paham nanti jika di lihat orang. Kamu itu juga Jhon, sudah tahu malah diam saja," ucap Clara mengomeli keduanya.

__ADS_1


"Maaf, aku kira dia sedang menggoda kamu, ternyata dia memang tidak tahu, hehehe," balas Jhony terkekeh.


Juan segera memasang celananya kembali dengan wajah cemberut.


__ADS_2