Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 63 Cinta Tak Harus Memiliki


__ADS_3

"Assalamualaikum, Clara," sapa Cindy di telepon.


"Waalaikumsalam," jawab Clara.


"Kakak di mana? Kenapa pergi tanpa pamit, Kak? Lalu siapa wanita yang mengajak Kakak pergi tadi itu?" tanya Clara beruntun.


"Aku sudah di apartemen sekarang. Dia ibunya Bima. Pulang kantor kamu bawa Andre kesini ya, aku ingin berbicara penting dengannya," jawab Cindy.


"Apa Kakak akan kembali kepada kak Bima? Bagaimana dengan Pak Andre, Kak?" tanya Clara sedih.


"Sudahlah nanti kamu juga tahu, aku tunggu di apartemen." balas Cindy.


"Baiklah, Kak." jawab Clara.


Kini Clara benar-benar kuatir, dia tidak tega jika orang sebaik Andre sampai terluka. Namun semua keputusan ada di tangan Cindy, karena dia yang menjalani kisah ini.


"Hai, Sayang. Maaf ya aku tidak bisa segera kesini, tadi tiba-tiba ada proyek yang harus segera aku selesaikan, ini baru selesai langsung kemari," ucap Juan.


"Tidak apa-apa ini juga baru mau pulang, ayo cepat kita ke ruangan Pak Andre," ajak Clara.


"Apa Cindy sudah ketemu?" tanya Juan.


"Barusan kakak telepon, katanya sudah di apartemen. Dia menyuruh ku membawa Pak Andre kesana sepulang kantor, katanya ada yang mau di bicarakan penting. Ternyata wanita yang kesini tadi ibunya Bima," jelas Clara.


"Apa dia akan kembali bersama Bima? Lalu agaimana dengan Andre?" tanya Juan panik.


"Entahlah Sayang, aku juga tidak tahu. Dia pasti sudah berpikir matang-matang sebelum membuat keputusan," jawab Clara.


"Aku sebenarnya tidak rela jika Cindy dan Andre berpisah, mereka baru saja bersatu. Andre pasti akan terpuruk lagi, aku harap Cindy bisa mengambil keputusan yang tepat." balas Juan.


Mereka telah sampai di ruangan Andre, terlihat ia sedang duduk di kursinya dengan mata terpejam.


"Kalau ngantuk tidur di kasur, jangan duduk di kursi begitu," ucap Juan.

__ADS_1


"Eh kalian, apa aku sudah lama tertidur?" tanya Andre terkejut.


"Sudah 2 jam kita menunggu kamu tidur, sampai ikut ngantuk juga," celoteh Juan.


"Hah? Benarkah selama itu aku tertidur?" tanya Andre dengan polosnya.


"Tidak kok Pak, kita baru saja datang. Juan Sayang, kamu iseng sekali sih," balas Clara sambil mencubit pinggang kekasihnya.


"Dasar, Juan," umpat Andre kesal di kerjai.


"Ayo kita ke apartemen, Cindy menunggumu di sana," ajak Juan.


"Benarkah? Kamu tahu darimana, kamu kan baru saja datang?" tanya Andre tidak percaya.


"Benar, Pak. Barusan kakak telepon, kita di suruh ke apartemen," jawab Clara.


"Syukurlah dia tidak kenapa-kenapa, ayo kita segera kesana," ajak Andre antusias.


Cindy menunggu kehadiran kekasihnya dengan perasaan resah. Dia takut sekali jika Andre tidak bisa menerima keputusannya. Dia akan berhenti dari kantor Andre setelah memutuskannya agar pria itu bisa segera melupakannya. Dia akan mengubur dalam-dalam cinta yang sebenarnya tengah tumbuh dengan subur untuk pria itu di hatinya. Ya itu adalah pilihannya, pilihan yang ia harap menjadi jalan yang terbaik untuk semuanya.


Cindy bergegas keluar kamar ketika melihat mereka telah datang.


"Sayang, kamu kemana saja? Kenapa kamu pergi tanpa pamit? Aku kuatir sekali." tanya Andre sambil memeluk Cindy erat.


Cindy membalas pelukan Andre dengan tulus, mungkin ini akan menjadi pelukan pertama serta terakhirnya untuk pria yang sangat mencintainya itu. Juan dan Clara hanya diam memandang keduanya saling berpelukan. Cindy tak kuasa menahan air matanya yang daritadi berusaha tak ia tumpahkan.


"Sayang, kenapa kamu justru menangis? Apakah ada yang menyakitimu?" tanya Andre kuatir.


"Tidak, Mas. Justru aku yang menyakitimu," jawabnya dengan berlinangan air mata.


"Maksudmu apa? Aku tidak merasa kamu menyakitiku, Sayang," jawab Andre sembari menyeka air mata Cindy.


"Mas, maafkan aku. Aku tidak bisa bersamamu lagi, Mas Andre," ucap Cindy, di sela tangisannya yang semakin keras.

__ADS_1


"Tenanglah dulu, jangan menangis lagi. Aku akan mendengarkan, mengapa kamu tidak bisa bersamaku lagi? Apa kamu tidak bahagia denganku?" tanya Andre lembut.


"Bukan, Mas. Aku mencintaimu, aku juga sangat bahagia bersamamu. Namun Bima membuatku harus mengambil keputusan yang berat ini," terang Cindy setelah cukup tenang.


"Dia pria yang meninggalkanmu begitu saja, kenapa kamu justru mau kembali bersamanya dan pergi dariku?" tanya Andre tak habis pikir.


Cindy pun bercerita kejadian sebenarnya perlahan-lahan. Ia menceritakan alasan Bima yang tak memberi kabar, tentang kecelakaan Bima yang membuatnya cacat, bahkan aksi bunuh diri yang di lakukan pria itu juga ia ceritakan. Ia tidak mau Andre salah paham, ia tahu Andre pria yang baik jadi ia pasti bisa mengerti keputusannya.


"Tadinya hatiku sudah memutuskan untuk bersamamu, Mas. Tapi setelah mendapat berita dia bunuh diri aku sangat shock. Aku tak punya pilihan lain, aku takut dia akan mengakhiri hidupnya lagi. Aku tidak mau karena diriku ada jiwa yang harus pergi, Mas," ucap Cindy.


"Hubungan yang di dasari rasa iba itu tidak baik, Cindy. Aku tahu posisimu serba sulit. Tapi jujur ini juga sangat sulit untukku, karena aku sudah terlanjur sangat mencintaimu," balas Andre membuat Cindy makin merasa bersalah.


Untuk beberapa saat suasana hening, yang terdengar hanya isak tangis dan helaan napas yang berat. Mereka tenggelam dalam lamunan masing-masing. Clara menggenggam tangan Juan, menahan kesedihannya. Juan sangat iba melihat sahabatnya akan kembali bersedih, namun ia tak menyalahkan Cindy karena keadaannya memang sangat rumit.


"Apa kamu mencintaiku, Cindy?" tanya Andre memecah kesunyian.


"Apa akan sebegitu sulit inikah aku mengambil keputusan jika aku tidak mencintaimu, Mas?" jawab Cindy dengan pertanyaan juga.


"Sebesar apa kamu mencintaiku?" tanya Andre lagi.


"Jika aku bisa, aku rela luka hatimu menjadi lukaku, deritamu menjadi deritaku, aku rela Mas tidak pernah bertemu denganmu agar aku tak pernah menyakitimu seperti ini," jawab Cindy dengan tetesan air mata.


Kali ini Andre terlihat meneteskan air mata, bulir-bulir kepedihan yang ia tahan sejak tadi luruh juga membasahi pipinya. Ini kenyataan yang begitu berat untuknya, bahkan lebih berat dari kehilangan kekasihnya dulu. kebahagian yang beberapa saat baru saja ia rengkuh terhempas begitu saja dalam hitungan menit.


"Mungkin benar jika ada orang yang berkata bahwa cinta tak harus memiliki, itu berarti sama dengan kisah kita saat ini. Aku harus rela melihatmu hidup bersama pria lain," ucap Andre tersenyum getir.


"Maafkan aku, Mas," pinta Cindy sembari berlutut di depan Andre.


"Bangunlah, Sayang. Aku tahu kamu berada dalam posisi yang sulit, tapi maafkan juga aku yang tak bisa begitu saja menerima semua ini," ucap Andre seraya menggenggam tangan Cindy dan mengusap wajahnya dengan lembut.


"Aku akan berusaha ikhlas walau untuk itu entah berapa lama waktu yang aku butuhkan. Cintamu akan menemani hidupku sebagai kenangan yang terindah. Jika masih berjodoh Tuhan pasti akan mempertemukan kita kembali. Semoga kamu selalu bahagia walau tidak bersamaku," ucap Andre lalu melangkah pergi.


"Mas Andre..." panggil Cindy, namun Andre terus melangkah dan tak menoleh lagi. Mungkin hatinya terlalu kecewa dan sakit.

__ADS_1


__ADS_2