
Tidak terasa hari pertunangan Juan dan Clara tinggal seminggu lagi, semua persiapan telah selesai 90%, hanya tinggal fitting baju untuk pertunangan, kostum keluarga saat acara serta catering. Untuk tempat mereka memilih ballroom hotel Shangri-La yang baru berdiri belum ada 2 tahun di Surabaya, pemiliknya masih merupakan salah satu teman bisnis Juan.
Juan telah memberi tahu orang tuanya tentang keputusannya bertunangan dengan Clara, namun mereka seolah tidak peduli jadi kemungkinan besar mereka tidak akan datang pada saat acara. Namun Juan cukup senang karena ternyata Om dan Tantenya akan hadir pada acara tersebut walaupun dia telah memasukkan anaknya, David ke penjara. Bagas sepupunya dan beberapa kerabat juga sudah memastikan kehadiran mereka.
Berbeda dengan keluarga Clara, orang tua dan adik-adiknya sangat antusias sekali dengan acara ini, mereka berencana datang 2 hari sebelum acara pertunangan di gelar. Sedangkan saudara mereka yang lain akan menyusul dengan mencarter 2 buah mobil tepat saat acara di adakan. Suasana kekeluargaan memang masih sangat kental di kampung sehingga bila ada acara apapun pasti mereka dengan sukarela berpartisipasi.
"Apa bu, 5 mobil?" tanya Clara terkejut.
"Ia, Nak. Mereka semua mau ikut, kalau di perbolehkan bahkan bisa 10 mobil. Itu sudah saudara dekat semua yang di pilih," jelas Ibu Clara di telepon.
"Bu, ini kan hanya acara pertunangan jadi tidak perlu terlalu banyak yang ikut aku tidak enak dengan Juan, semua biaya pertunangan dia yang tanggung. Dia tidak memperbolehkan aku keluar uang sedikitpun, jadi tolong ibu atur cukup 2 mobil saja, keluarga inti saja ya bu," ucap Clara lembut.
"Oh begitu ya, Nak. Ya sudah biar nanti Ibu dan Bapak atur agar 2 mobil saja yang datang," jawab ibunya.
"Terima kasih, Bu. Hari kamis nanti sopir Juan akan berangkat pagi sekali untuk menjemput kalian, jadi tolong siap-siap mungkin sekitar pukul 11.00 sampai di sana," ucap Clara.
"Iya, Nak. Kamu jangan pergi jauh-jauh seminggu lagi mau tunangan, harus jaga diri baik-baik ya," pesan ibunya.
"Iya, Bu. Sudah dulu ya Bu, sampai ketemu hari kamis. Assalamualaikum," ucap Clara.
"Waalaikum salam," jawab ibunya.
"Kok banyak sekali yang mau datang, Clara?" tanya Cindy yang sejak tadi mendengarkan mereka bercakap.
"Kakak kan tahu ibu itu orangnya mudah bergaul, tiap ada orang kena musibah, hajatan dan lainnya pasti datang dan membantu. Ini kan kali pertama ibu punya hajat jadi pasti banyak yang ingin berpartisipasi," jelas Clara.
"Wah iya, sampai lupa aku kalau hampir semua orang di desa mengenal ibu karena beliau orang yang baik dan dermawan, aku jadi bangga terlahir dari rahimnya," ucap Cindy.
__ADS_1
"Iya, aku juga bangga. Sayang orang tua Juan kemungkinan besar tidak datang, hanya om dan tantenya yang berkenan hadir," ucap Clara.
"Sabar Clara, yang penting pria yang bersamamu adalah orang yang kamu cintai dan sangat mencintaimu," ucap Cindy tertunduk.
"Apa sampai saat ini Kakak belum mencintai Kak Bima lagi?" tanya Clara melihat rona kesedihan di wajah kakaknya.
Cindy menggeleng pelan, sorot matanya menampakkan kerinduan kepada seseorang. Ya, dia memang merindukan sosok Andre dalam hari-harinya.
"Aku juga bingung, mengapa sangat sulit melupakannya. Padahal seingatku saat dulu Bima menghilang tanpa kabar dan Mas Andre datang membawa harapan, rasa itu cepat memudar. Saat ini Bima selalu baik padaku, memanjakan aku tapi tetap saja tak bisa membuat bayangan Mas Andre menghilang. Semoga dia tak sesulit aku untuk melupakan cinta yang pernah terjalin," ucap Cindy.
"Sabar ya Kak, semoga Tuhan segera menunjukkan jalan menuju kebahagiaan," balas Clara.
"Amin," jawab Cindy.
***
Hari ini Orang tua Clara dan Cindy akan tiba di Kota Surabaya, mereka bergegas pulang saat jam kantor telah usai. Barusan orang tuanya telepon jika sudah keluar Pasuruan, Clara segera membeli beberapa makanan dan camilan untuk menyambut keluarganya yang pasti sudah lapar karena tadi mereka tidak memasak.
Sekitar 1,5 jam kemudian keluarganya tiba di apartemen, mereka menjemputnya di loby.
"Nak apa kita tidak salah masuk? Kenapa kita malah ke gedung bertingkat begini? Bukankah acara pertunanganmu masih sabtu malam, Nak? Apa ini hotel ya?" tanya Ibu mereka beruntun.
Terlihat keluarga mereka memandang kagum Apartemen ini, bahkan mereka mengira tempat itu adalah hotel karena di desa mereka belum ada gedung setinggi ini.
"Bukan Bu, ini tempat tinggal kita. Ini namanya apartemen, ini milik Juan. Dia menyuruh kita tinggal di sini, karena lebih aman dari kos atau kontrak apalagi dekat dengan kantor. Itu gedung tinggi di depan sana itu adalah tempat kerja kami, kantor itu milik Mas Andre," jelas Clara sambil menunjuk kantornya.
"Ternyata Nak Juan dan Nak Andre memang sangat baik ya bu, tidak salah aku menitipkan putri-putriku kepada mereka," sahut ayah mereka.
__ADS_1
"Ayo kita ngobrol di dalam saja, Pak," ajak Clara kepada keluarganya.
Clara dan Cindy begitu senang bisa bertemu dan berkumpul dengan orang tua serta kedua adiknya lagi.
"Subhanallah, ini tempat kalian bagus sekali. Nak Juan itu betul-betul kaya ya, beruntung sekali Clara mendapatkan cintanya ya, Pak," ucap Ibunya.
"Alhamdulillah, Bu. Semoga mereka bahagia, langgeng sampai ajal menjemput," sahut Ayahnya.
"Amin," ucap Clara.
Merekapun segera membersihkan tubuh mereka, kemudian makan bersama. Setelah selesai mereka bersantai sambil menonton tv, adik mereka tampak bahagia sekali melihat barang-barang yang ada di sana. Apalagi Clara dan Cindy telah membelikan mereka mainan dan juga baju baru beberapa hari yang lalu, mereka sangat bahagia bertemu dengan kakaknya.
"Cindy, kapan kamu mau menyusul Clara bertunangan dengan Nak Andre?" tanya ibunya lembut.
Cindy dan Clara saling berpandangan, mereka lupa bahwa orang tuanya belum tahu mengenai keputusan Cindy berpisah dengan Andre. Pertanyaan ibunya kembali menorehkan luka di hatinya, dia juga bingung menjelaskan perihal ini kepada orang tuanya.
"Di tanya kok bengong, Nak? Apa kalian tidak serius dengan hubungan kalian?" tanya ibunya lagi.
"Bukan begitu, Bu," jawab Cindy tertunduk.
"Kenapa justru sedih begitu wajahmu, Nak? Apa Nak Andre belum mau bertunangan denganmu ya?" tanya ibunya.
Cindy menghela napas dalam, Clara mengerti kakaknya malas bercerita karena akan membuat dirinya semakin tidak bisa melupakan pria itu.
"Kakak sudah berpisah dengan Pak Andre, Bu. Mungkin belum berjodoh," jawab Clara bijak.
Kedua netra ibunya membulat, Ayahnya juga terperangah. Mereka sama sekali tidak menyangka secepat ini hubungan mereka kandas, padahal baru beberapa bulan yang lalu pria itu mengutarakan keseriusannya membina hubungan dengan putrinya.
__ADS_1