
"Kak, kita harus membuat perhitungan dengan pria itu. Kalau perlu laporkan saja ke pihak berwajib biar dia tahu rasa," ucap Clara geram.
"Jangan Clara, aku malu. Tolong kamu rahasiakan ini dari siapapun, aku takut Clara," balas Cindy.
"Tapi ini tidak bisa di biarkan, setelah apa yang terjadi dia masih berani ingin bertemu dengan Kakak. Aku takut dia akan berbuat yang lebih parah lagi," ujar Clara.
"Aku tidak akan kemana-mana, aku janji tidak akan keluar dari apartemen seorang diri. Tolong rahasiakan ini dari siapapun, Clara," kata Cindy memohon.
"Baiklah aku tidak akan menceritakan kepada siapapun. Tapi Kakak harus tetap melanjutkan hidup, jangan menyerah oleh keadaan," ucap Clara.
"Iya, tapi untuk saat ini aku ingin menenangkan diri dulu," jawab Cindy.
"Ya tidak apa-apa, Kak. Untuk masalah pekerjaan nanti bisa mencari lagi setelah Kakak tenang, biarlah bu Sandra memecat Kakak, yang penting kondisi jiwa Kakak bisa pulih secepatnya," ucap Clara.
"Siapa itu bu Sandra?" tanyanya.
"Ia manajer baru yang menggantikan Pak Andre, dia masih sepupunya. Tadi dia mengancam jika sampai besok Kakak tidak masuk, Kakak tidak boleh datang lagi seterusnya," jelas Clara.
"Hmm, biarlah aku ikhlas kehilangan pekerjaan, aku masih tidak sanggup melihat dunia luar," jawab Cindy.
Mereka pun lanjut bercerita hingga larut malam. Suasana sudah mencair seperti biasanya, namun sangat tampak sekali Cindy mengalami trauma pasca kejadian itu. Clara mengerti apa yang kakaknya rasa, kehormatan wanita harusnya hanya untuk suami tercinta, tapi di usia yang masih belia pria itu telah merenggutnya darinya sungguh sangat tragis. Kejadian ini pasti akan membekas seumur hidup walaupun kakaknya telah menikah nanti.
***
Keesokan hari.
"Assalamualaikum, Sayang," sapa Clara di telepon.
"Waalaikumsalam, Cintaku," jawab Juan mesra.
"Hmm pagi-pagi sudah gombal nih, nanti pulang kantor bisa antar aku tidak , Sayang?" tanyanya.
"Apa sih yang tidak buat kamu, Sayang. Ke ujung dunia pun akan aku antar," gombal Juan.
"Hahaha..." Clara terbahak-bahak.
"Semakin hari kok seperti playboy sih, setahu ku seorang Juan itu adalah pria yang kaku, dingin seperti es batu, hahaha," ledek Clara.
"Kok gitu sih Sayang, ini semua kan karena Kamu. Kamu yang membuat aku sampai lupa daratan, sampai kehilangan jati diri aku tuh," balas Juan.
"Enak saja aku yang di salahkan, kamu saja yang cinta mati sama aku," goda Clara.
__ADS_1
"Memangnya kamu tidak cinta mati ya?" tanyanya.
"Tidak mau ah cinta mati, aku mau cinta hidup saja," jawab Clara asal.
"Berarti kalau aku mati dengan mudahnya kamu melupakan aku terus cari pengganti lagi, iya?" tanya Juan serius.
"Apa sih, Sayang. Sudah jangan bicara tentang kematian, cinta Clara hanya untuk Juan seorang sampai kapanpun," jawab Clara.
"Benar tidak itu? Dari dalam hati atau hanya di mulut saja itu?" tanya Juan menggoda.
"Tentu saja, memang masih butuh bukti apalagi sih, Sayang?" tanyanya gemas.
"Buktinya segera menikah dengan ku, Sayang," jawab Juan.
"Iya, pasti. Sabar ya, tunggu beberapa saat lagi," balas Clara.
"Berapa saat lagi, kapan?" tanyanya lagi.
"Iya, tunggu waktu yang tepat ya, Sayang," jawab Clara.
"Waktu yang tepat itu kapan?" tanya Juan memaksa.
"Hahaha... maaf ya sudah godain terus dari tadi, habis gemas ingin lihat kamu merajuk," kata Juan tertawa puas.
Setelah puas mengobrol mereka berangkat ke tempat kerja masing-masing. Clara berencana akan mendatangi Bima sepulang kantor, dia akan menemuinya sendiri karena dia sudah berjanji untuk merahasiakan persoalan ini kepada siapa pun.
***
Clara sudah merapikan meja kerjanya untuk bersiap-siap pulang. Ia berencana akan menunggu Juan di lobi saja. Bagaimanapun kantor ini sekarang tidak di pegang Andre, jadi tidak mungkin Juan masuk begitu saja kesini.
"Sudah lama menunggu, Sayang?" tanya Juan yang baru tiba.
"Tidak, ini juga baru turun kok," jawab Clara.
"Kenapa kamu menunggu di sini, biasanya kan aku jemput ke atas?" tanya Juan.
"Sekarang kantor ini kan bukan di pegang Pak Andre, aku takut kena marah bu Sandra kalau kamu ke atas," jawab Clara jujur.
"Hahaha, mana mungkin dia marah padaku, aku kenal baik dengannya dari kecil," jawab Juan.
"Kalau kamu kenal kenapa kamu tidak memilihnya sebagai kekasih, bukankan dia cantik sekali, baik dan pintar lagi," ucap Clara polos.
__ADS_1
"Tidak mudah membuat hati ku bergetar, Sayang. Jadi kamu sangat beruntung bisa mendapatkan pria tampan ini," kata Juan sembari menggerak-gerakkan kedua alisnya.
Clara tertawa keras sekali melihat tingkah kekasihnya, membuat semua mata tertuju kepada mereka. Ternyata Sandra juga melihat kemesraan mereka dan memutuskan menghampiri serta menyapa Juan. Setelah sedikit berbasa-basi akhirnya mereka pamit.
"Sayang ini kita mau kemana?" tanya Juan sambil menyetir.
"Antar aku ke rumah Bima ya," jawab Clara.
"Tumben panggilnya nama gitu tidak ada embel-embelnya?" tanya Juan heran.
"Iya, lupa," jawab Clara singkat membuat Juan mengerutkan dahi.
Clara memang sangat marah kepada pria itu, tidak sudi rasanya memanggil dia kak Bima seperti biasanya. Ia belum puas sebelum membuat perhitungan dengan pria itu.
Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah Bima. Juan akan turun dari mobil namun Clara mencegahnya.
"Sayang aku ada urusan penting sebentar, kamu tunggu di sini saja ya tidak perlu ikut ke dalam," ucap Clara.
"Tidak apa-apa aku ikut saja, aku temani ya," balas Juan.
"Tidak perlu aku hanya sebentar, tolong tunggu di sini saja ya," pinta Clara.
Melihat kekasihnya melarang Juan pun mengerti, mungkin ada hal rahasia menyangkut Cindy yang harus mereka bicarakan.
"Baiklah, aku tunggu di sini," jawab Juan mengalah.
Clara bergegas masuk, pembantu Bima menyuruhnya menunggu di ruang tamu. Rumahnya tampak sepi, sangat pas untuk menumpahkan segala kemarahannya kepada Bima. Tidak berapa lama Bima muncul, ia terlihat sangat terkejut dengan kedatangannya.
"Clara," ucap Bima.
Clara menghela napas agar tidak terlalu emosi, namun ia benar-benar sudah tidak bisa menahan. Ia berdiri menghampiri Bima, dan...
Pyaarr... pyaarr... bugh... bugh...
Dua tamparan melayang ke pipi Bima, tak hanya itu Clara juga memberinya pukulan dan tendangan membabi buta ke sekujur tubuhnya. Bima meringis menahan sakit namun ia tak melawan, tampaknya ia pasrah karena memang jelas bersalah.
"Maafkan aku, Clara. Aku hanya tidak ingin kehilangan dia, aku khilaf. Aku akan bertanggung jawab," jelas Bima.
"Kamu itu pria tidak tahu di untung, kakak ku sampai merelakan cintanya demi kamu, tapi apa yang kamu perbuat padanya hanya derita yang kamu berikan! Kamu pikir setelah kejadian itu kakak masih mau bersama mu, jangan mimpi! Cuih..." maki Clara sembari meludahi Bima.
"Harusnya kamu mendekam di penjara sampai mati, tapi aku tidak ingin kakak ku lebih terluka, biar Tuhan yang membalas! Awas, jangan pernah mendekati kakakku lagi, jika tidak aku akan membayar orang untuk menghajarmu sampai kamu merasa mati segan hidup pun tak mau!" ancam Clara lalu pergi dari rumah itu.
__ADS_1