
"Memangnya kenapa, jelek ya?" tanya Clara.
"Bukan soal itu, tapi kenapa kamu mengubah penampilan hingga sedemikian rupa? Mau jadi pelacur, Kamu?"
Kata-kata Jhony begitu menyakitkan untuk Clara bahkan pun untuk Dinda. Bagaimana mungkin Jhony bisa berpikiran sepicik itu, hanya karena merubah penampilan ia bisa mengeluarkan kata yang kasar seperti itu.
"Kamu kok kasar sih, Jhon? Apa kamu pikir setiap wanita berambut pirang terus berpakaian seksi itu l*nte, hah? Berarti menurut mu aku juga wanita seperti itu?"
Dinda merasa tersinggung dengan ucapan Jhony, karena secara tidak langsung dia mengatai dirinya begitu.
"Bukan begitu, Din. Itu berbeda, kamu dan Clara tidak sama. Kamu berdandan seperti itu karena tuntutan profesi, tapi dia? Untuk apa dia merubah penampilan begitu?"
"Aku mau menjadi LC, Jhon. Aku butuh uang banyak saat ini, menjadi pelayan saja tidak cukup," kali ini Clara angkat bicara.
"Apa? Jangan gila kamu Clara, apa kata orang tua mu jika mereka sampai tahu. Aku tahu kamu butuh uang, tapi tidak dengan menjadi LC. Kamu tidak pernah mabuk, bagaimana jika mereka mengambil kesempatan. Pokoknya aku tidak setuju,"
Jhony meninggalkan mereka berdua begitu saja, tampaknya dia benar-benar marah. Clara bisa mengerti perasaannya, karena ketika dulu Jhony pernah terjerumus, Clara juga marah kepadanya dan tidak setuju dengan pilihannya.
"Bagaimana ini, Kak? Selama ini dia tidak pernah marah pada ku, sekarang dia menjadi sangat menakutkan begitu,"
"Kamu tunggu di sini saja, biar aku berbicara dengannya,"
Dinda segera menyusul Jhony, ia langsung masuk saja ke kamar Jhony. Walaupun keduanya pekerja malam, namun gaya pacaran mereka tidak vulgar seperti yang lainnya. Mereka masih tahu batas-batas, mereka bertekad untuk saling menjaga diri hingga menikah nanti.
"Ada apa kamu kesini? Tidak perlu membujuk ku, karena aku tetap tidak akan setuju,"
Belum berkata apapun Jhony sudah memberikan ultimatum, namun bukan Dinda namanya jika tidak bisa merayu Jhony.
"Kenapa kamu begitu marah, Sayang? Apa menurut mu jadi LC itu sama saja dengan pelacur?" tanya Dinda dengan wajah di buat sedih.
"Bukan begitu, aku hanya tidak ingin Clara terjerumus terlalu dalam. Dia pergi bersama ku ke kota ini, ada tanggung jawab dari orang tuanya yang harus aku jaga. Aku mohon kamu mengerti, bantu aku membujuknya agar mengurungkan niatnya itu,"
Kali ini Dinda merasa bersalah, dia bisa mengerti posisi Jhony. Tapi Clara juga memiliki keinginan yang kuat karena faktor ekonomi. Ia tidak bisa menyalahkan keduanya.
"Aku mengerti, aku juga tidak begitu saja setuju. Tapi dia tidak punya solusi lain, sedangkan dia butuh banyak uang. Kamu tahu sendiri bagaimana kondisi keluarganya sekarang, aku jadi bingung harus bagaimana,"
Keduanya terlihat berpikir, jika saja kondisi keuangan mereka bagus pasti akan membantu Clara dengan senang hati. Hanya saja saat ini hidup mereka hanya bergantung kepada pekerjaan mereka saat ini juga.
***
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
Rasa kantuk mulai menggelayuti mata Clara, namun dia tidak bisa tertidur. Kata-kata Jhony tadi terus terngiang-ngiang di telinganya. Tidak pernah sahabatnya berkata sekasar itu kepada dirinya selama ini. Clara menangis, hatinya tiba-tiba terasa sakit.
'Aku bukan pelacur, aku tidak ingin menjadi pelacur. Aku hanya ingin bekerja sebagai LC agar dapat uang banyak' batin Clara.
"Clara, Clara, ayo bangun,"
Clara seperti bermimpi ada yang membangunkan dirinya, namun rasa kantuk yang sangat membuatnya tetap tidur.
"Clara, aku mau bilang sesuatu. Ayo bangunlah dulu,"
Dinda mengguncang tubuh Clara sedikit kencang agar gadis itu bangun. Benar saja, gadis itu bangun walau menahan kantuk.
"Kak Dinda, ada apa memangnya? Kakak ingin bicara apa?" tanya Clara.
"Kamu harus siap-siap nanti malam, karena kita akan mulai bekerja,"
"Tapi aku masih ragu, apalagi Jhony sangat marah tadi,"
Clara terlihat bersedih, wajahnya berubah murung.
"Aku sudah bicara dengannya, kita akan selalu menjaga mu selama bekerja. Jadi tidak ada yang perlu di kuatirkan,"
"Kita? Maksud Kakak Jhony setuju?"
"Yang benar, Kak? Kakak serius?"
Mata Clara membulat sempurna, ia tidak menyangka Dinda bisa membujuk Jhony.
"Ya benarlah, Dinda gitu loh,"
Mereka tertawa bersama, entah kebahagiaan apa yang nanti mereka dapatkan sehingga merasa sesenang ini. Yang jelas kebersamaan ini membuat mereka makin akrab dan lebih saling mengerti.
***
Malam harinya.
"Duh, jangan terlalu seksi begitu. Ini hari pertama mu, pakai yang lain saja,"
Jhony mengomentari penampilan Clara, ia merasa risih melihat sahabatnya memakai gaun pendek dengan model bolong di belakang. Jhony saja melihatnya jadi melek bagaimana pria-pria di sana.
"Kalau ini bagaimana?" tanya Clara.
__ADS_1
"Ya, kamu pakai itu saja,"
"Eh kalian kok lama sekali sih, dari tadi di tungguin," ucap Dinda.
"Aku sudah ganti baju 3x Kak, Jhony itu nyuruh ganti terus dari tadi," balas Clara.
"Habisnya pakainya terlalu terbuka, lagian kamu ngasih Clara kok bajunya yang terlalu seksi sih. Dia kan belum terbiasa, Sayang," kali ini Jhony berkata dengan sedikit mesra.
"Ya nanti coba aku carikan lagi, ayo kita segera berangkat,"
Mereka berangkat dengan mobil jemputan dari tempat mereka bekerja, untung teman yang lain tadi mau menunggu mereka walaupun agak lama.
Suara hingar bingar musik memenuhi ruangan, tampak seorang DJ wanita sedang memainkan perannya dengan cukup baik. Dinda segera membawa Clara dan Jhony berkenalan dengan karyawan dan juga pekerja malam lainnya.
"Ada yang minta barang baru, kebetulan sekali ada Clara. Pria itu langganan di sini, baik dan tidak suka minum alkohol. Dia hanya suka berkaraoke, jadi cocok sekali. Kamu mau kan, Clara?" tanya wanita yang di sebut mami oleh semua orang itu.
Clara terlihat ragu, ia menatap Dinda untuk meminta pendapat.
"Sudah terima saja, kita akan selalu mengawasi," ucap Dinda.
Akhirnya Clara setuju, ia segera di antar ke ruangan pria tersebut. Ternyata pria itu tidak terlalu tua, usianya masih sekitar 45 tahunan. Di sampingnya juga sudah duduk seorang wanita sepertinya, berarti pria ini memesan dua orang wanita.
Dengan sedikit canggung Clara mulai mendekati pria itu dan memperkenalkan diri.
"Kamu anak baru ya? Aku belum pernah melihat mu,"
"Iya, Pak. Saya baru mulai hari ini,"
"Santai saja jangan kaku begitu, aku tidak gigit kok," selorohnya.
Clara tersenyum dan segera duduk tidak terlalu jauh dari pria itu.
"Kamu pasti jago karaoke ya?" tanya pria itu.
"Apa?" pikiran Clara entah kemana.
"Kamu bisa bernyanyi kan?"
"Oh, iya,"
Pria itu menyuruh Clara memilih lagu dan bernyanyi untuknya. Ia memilih lagu kenangannya bersama Juan dulu, ia bernyanyi sepenuh hati dan penuh penjiwaan. Tamunya merasa senang sekali, pria itu sampai ikut sedih mendengar Clara berjanji.
__ADS_1
"Clara, ini tip untuk kamu. Jika suatu hari aku kesini lagi, temani aku lagi ya,"
Clara melihat lembaran uang yang pria itu berikan, betapa banyaknya tip yang ia dapat, ia terharu menerima uang itu.