
"Apa? Indra?" tanya Clara terkejut.
"Iya benar, itu nama temannya saat memperkenalkan dirinya," jawab Januar.
"Ada apa sih dengan Jhony sebenarnya, kenapa tidak ada keroknya berteman dengan pria brengs3k itu," ucap Clara kesal.
"Memangnya kenapa dengannya? Mengapa kalian sangat terkejut mendengarnya? Apa Indra itu orang yang jahat ya?" tanya Januar penasaran.
Bagaimanapun Januar adalah sahabat mereka dan Jhony, dia harus tahu juga kebenarannya agar jika bertemu bisa menasehati Jhony agar tidak berteman dengan Indra lagi. Tentu saja mereka tidak akan mengatakan aib Jhony yang sepakat mereka rahasiakan.
Januar tampak mendengarkan dengan serius, ia tidak menyangka Jhony akan memilih jalan pintas untuk mendapatkan uang. Januar pun berasumsi jika mungkin saat ini motif Jhony kembali bersama Indra sama, yaitu uang. Dia merasa iba dengan Jhony yang telah salah jalan, mungkin ini merupakan dampak dari meninggalnya ayahnya serta ibunya yang mulai sakit-sakitan. Tapi bukankah dia punya sahabat-sahabat yang bersedia membantu mereka seperti Clara, Cindy dan juga Juan.
"Jadi begitu ya ceritanya, kasihan juga ya hidupnya sekarang. Padahal Dia kan punya kalian untuk berbagi dan selalu membantunya dengan tulus, tapi kenapa juga harus memilih berteman dengan orang yang pernah menjerumuskan begitu," ucap Januar.
"Justru itu kami juga heran, padahal saat dia baru sampai di kota ini beberapa hari lalu dia itu sms, katanya besok malamnya akan berkunjung ke apartemen tapi sampai sekarang tidak muncul. Sms tidak dibalas, di telepon juga tidak pernah di angkat," balas Clara kesal.
"Itu pasti karena dia mulai berteman dengan Indra lagi, Clara," ucap Cindy.
"Jhony tidak mungkin mau begitu saja, Indra pasti memaksanya. Entah apa yang ia gunakan untuk menekan Jhony tapi yang jelas Jhony memerlukan bantuan dari kita semua," ucap Juan.
"Ya Sayang, kamu benar. Dia pasti di tekan agar menurut pada Indra. Bagaimana kalau kita mencarinya di kafe Indra yang dekat sini, mungkin saja mereka ada di sana, aku kuatir terhadap Jhony," balas Clara.
"Ini sudah malam Sayang, sebaiknya besok saja. Besok kita menjenguk Bima dulu Setelah itu baru ke kafe Indra," ucap Juan.
"Wah iya benar, besok kan hari minggu jadi kita bisa pergi lama," jawab Clara.
"Aku boleh ikut tidak menemui Jhony, bagaimanapun dia juga sahabatku, tidak rela rasanya jika sampai ia di manfaat orang lain," pinta Januar.
"Wah tentu saja boleh, besok kita akan menjemput mu," jawab Juan.
Mereka pun terus bercerita tentang kegiatan masing-masing, tentang bisnis, pekerjaan dan kenangan-kenangan mereka dulu. Januar terkejut Clara dan Juan telah bertunangan karena mereka lupa mengundangnya saat pesta tempo hari.
"Maaf ya Januar, kita lupa waktu itu tidak mengundang kamu. Tapi jika nanti kami menikah kami pasti akan mengundang mu secara khusus," ucap Juan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku maklum kok. Aku doakan kalian selalu bahagia dan secepatnya bisa menikah. Untuk Cindy jangan lupa jika sudah di tentukan tanggal pernikahannya kasih kabar ya, tadi sudah simpan nomor ponsel ku kan," balas Januar sangat bahagia melihat sahabatnya bahagia.
Karena malam semakin larut mereka memutuskan untuk segera pulang dan beristirahat.
***
Keesokan harinya Clara dan Cindy seperti biasa melakukan aktivitasnya. Walaupun hari ini libur mereka tetap bangun pagi untuk beribadah dan melakukan rutinitas mereka. Setelah semua selesai mereka sarapan. Sembari menunggu kedatangan Juan mereka bersantai dengan menonton tv. Sekitar pukul 09.00 pagi Juan tiba untuk menjemput mereka.
"Sayang ini kita jemput Januar dulu atau ke rumah Bima dulu?" tanya Juan.
"Tadi Januar sms katanya dia harus menyelesaikan pesanan baju dulu sebentar, jadi lebih baik menjenguk Kak Bima saja dulu," jawab Clara.
"Baiklah kalau begitu," Juan segera melakukan mobilnya ke rumah Bima. Jaraknya cukup jauh dari apartemen, namun karena jalanan cukup lengang mereka bisa sampai lebih cepat.
Keluarga Bima sangat senang melihat kedatangan mereka. Apalagi mereka telah tahu kebenaran tentang wanita yang bernama Gina itu. Mereka segera mempersilahkan masuk.
"Ayo semua masuk, Bima sedang menonton tv di ruang keluarga. Di suruh istirahat menolak, katanya bosan," ajak ibu Bima.
"Hei kalian, terima kasih ya sudah mau datang. Aku jadi merepotkan kalian semua," ucap Bima merasa tidak enak.
"Kamu memang baik Juan, ayo duduk," ucap Bima.
Ibunya segera ke dapur untuk membuatkan minum serta camilan sebagai teman mereka mengobrol.
"Bima, maaf ya aku sempat tidak mempercayai mu. Kamu bahkan sampai terluka begini karena pikiran ku yang negatif," ucap Cindy merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, wajar saja jika kamu tidak percaya setelah apa yang terjadi sebelumnya. Kita jadikan pelajaran saja untuk ke depannya," balas Bima bijaksana.
"Apa orang tua mu sudah memberi tanggal?" tanyanya.
"Belum, kata bapak pak Kyai masih keluar kota dan baru akan kembali hari ini. kita tunggu saja," jawab Cindy.
Setelah cukup lama di sana mereka segera pamit untuk menemui Jhony.
__ADS_1
"Salam kepada Jhony ya, maaf belum bisa ikut main kesana," ucap Bima.
"Iya tidak apa-apa, nanti kita sampaikan," ucap Cindy.
Setelah berpamitan kepada semuanya mereka berangkat menjemput Januar yang ternyata telah siap di depan teras, jadi mereka bisa langsung berangkat, tidak perlu turun dari mobil. Beberapa menit kemudian mereka sampai di kafe itu, tampak beberapa pengunjung memenuhi tempat itu.
"Lumayan rame, semoga Jhony ada di sini," ucap Clara.
"Eh itu sepertinya Indra yang baru keluar dari kafe," tunjuk Januar.
"Iya benar itu Indra, ayo kita segera cari Jhony sebelum dia kembali," ajak Cindy segera turun dari mobil.
Setelah mengedarkan pandangan keseluruh ruangan mereka mendapati Jhony sedang menghitung pesanan customernya.
"Itu Jhony, yang sedang di kasir," tunjuk Clara.
"Ayo kita dekati," ajak Cindy.
Jantung mereka berdetak lebih cepat seolah akan menggrebek tempat kriminalitas saja.
"Jhony, kamu sedang apa di sini? Mengapa kamu tidak jadi datang ke tempat kami? Kenapa sms dan telepon ku tidak kamu balas?" tanya Clara menumpahkan kekesalannya.
"Hah kalian? Kenapa kalian datang kesini?" tanyanya tampak ketakutan sembari menoleh ke segala arah.
"Ya tentu saja karena mencari mu, Januar berkata jika kamu kembali berteman dengan Indra," jawab Cindy kesal.
"Kalian tidak mengerti, lebih baik pergi dari sini. Juan tolong bawa mereka pergi," pinta Jhony lirih, dia seperti ingin menangis.
"Kamu tidak boleh di sini Jhon, sebaiknya kita pergi. Nanti kamu bisa cerita di jalan, jangan takut dengan ancaman Indra," ajak Juan.
"Hei ada apa ini?" tanya Indra yang telah datang.
"Cepat kalian pergi dan lupakan semua pertemanan kita, aku tidak ingin berteman dengan kalian lagi! Cepat pergi!" usir Jhony sambil berteriak hingga matanya memerah.
__ADS_1
Mereka semua terkejut, tadi dia begitu lembut dan ketakutan. Namun saat Indra datang ia berubah menakutkan dan dengan lantang membentak serta mengusir mereka.