
Dua hari kemudian.
Setelah mengetahui suaminya terbukti selingkuh Cindy mengacuhkan pria itu setiap menjenguknya di rumah sakit. Dirinya merasa jijik membayangkan suaminya menjamah tubuh wanita lain, apalagi ternyata wanita itu adalah istri bosnya sendiri. Entah apa yang mereka pikirkan sampai setega itu mengkhianati orang yang telah memberi mereka makan.
Hati Cindy tentu saja sakit, perih menjadi satu. Namun ia tidak mau lagi menangis untuk seseorang yang bahkan tidak peduli dengan perasaannya. Apapun alasan Bima berselingkuh tetap saja tidak dapat di benarkan. Cindy berencana pulang ke rumah orang tuanya setelah keluar dari rumah sakit dan segera menggugat cerai suaminya. Ia akan menggunakan uang sisa pemberian adiknya sebagai modal berjualan kecil-kecilan untuk menafkahi anaknya.
"Halo Clara, bagaimana apa dapat sewa mobilnya?" tanya Cindy.
"Tidak perlu sewa Kak, ibu kos ku memberi pinjaman mobil plus sopirnya,"
Clara memang belum cerita di mana ia tinggal dan apa pekerjaannya, biarlah ini menjadi rahasianya dengan Jhony. Jika saatnya tepat, ia pasti akan mengatakan yang sebenarnya.
"Wah baik sekali ibu kos mu. Aku keluar 2 jam lagi, apa kalian bisa menjemput ku langsung? Aku sudah tidak ingin bertemu Bima,"
"Ok Kak, sebentar lagi kita akan segera berangkat. Tapi kenapa Kakak tidak menghajarnya dulu, dia pria yang bodoh sudah begitu tega mengkhianati wanita yang matia-matian dulu ia perjuangkan,"
"Sudahlah Clara, aku telah memiliki rencana. Nanti akan aku ceritakan,"
Setelah selesai berbicara, Clara segera bersiap-siap. Hari ini dia dan Jhony akan ikut mengantar Cindy pulang ke rumah orang tua mereka di desa.
"Mi, aku dan Jhony pulang dulu ya. Besok kita langsung kembali kok, karena kan harus bekerja. Terima kasih sudah meminjamkan mobil dan sopirnya ya,"
Clara memeluk mami Sita untuk beberapa saat, ada perasaan sedih di hati ketiganya. Walaupun mereka tidak memiliki hubungan darah, namun kebersamaan mereka menimbulkan rasa yang setara itu.
Setelah satu jam perjalanan, mereka sampai di rumah sakit. Cindy telah berkemas, namun ia belum mengatakan apapun tentang rencananya pulang kampung.
"Kalian sudah datang, kita ke rumah dulu ya. Aku harus membawa Damar dan pakaian ku," ucap Cindy.
"Kakak baru saja operasi, apa tidak apa-apa menempuh perjalanan jauh? Aku kuatir, apalagi sekarang ada bayi juga,"
"Insyaallah aku dan anak ku kuat, doakan saja ya,"
Mereka segera meninggalkan rumah sakit setelah menyelesaikan administrasi dan yang lainnya. Mereka menuju ke rumah Bima. Cindy segera mengemasi pakaiannya dan juga anaknya.
"Clara, bagaimana dengan mertuanya Cindy?" tanya Jhony lirih.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu, kakak bilang akan mengurus semuanya tadi. Aku kasihan sebenarnya, ibu mertuanya baik dan perhatian sekali. Sayang anaknya brengs*k," jawab Clara.
Mereka duduk di ruang tamu sembari menunggu Cindy selesai berkemas. Ibu mertuanya yang sedang menimang cucunya tampaknya belum sadar jika mungkin ini terakhir kali kebersamaan mereka.
"Nak, kenapa kamu bawa koper dan tas? Kamu mau pergi kemana?"
Cindy mendekati ibu mertuanya yang tengah memandang heran ke arahnya. Ia mengambil bayinya dan menyerahkannya kepada Clara. Di ajaknya wanita itu duduk untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Bu, aku menyayangi ibu dan ayah seperti orang tua ku sendiri. Aku tahu kalian juga sangat menyayangi ku, tapi maaf aku tidak bisa tinggal di sini lagi. Tolong sampaikan salam dan maaf ku kepada ayah,"
Air mata mulai mengalir menganak sungai dari mata keduanya. Bahkan Clara dan Jhony pun ikut terharu.
"Tapi kenapa kamu ingin pergi Nak? Apa karena Bima tidak bisa memenuhi kebutuhan kalian?" tanya mertuanya.
"Bukan Bu, aku tidak pernah menganggap materi menjadi masalah. Mas Bima selingkuh Bu, maaf aku tidak bisa berbagi suami ku dengan wanita lain. Aku akan segera menggugat cerai, Bu," jawab Cindy.
"Astagfirullah, tidak mungkin dia selingkuh. Rasanya ibu tidak percaya setelah semua perjuangan yang ia lakukan untuk mendapatkan kamu, ia akan tega untuk berkhianat," sanggah ibu mertuanya.
Jhony memberikan kamera yang di gunakan untuk merekam mereka kepada Cindy. Ibu mertuanya terpana melihat rekaman itu. Walaupun itu bukan video adegan suami istri, tapi penampilan yang minim di dalam kamar apalagi yang akan di lakukan seorang pria dan wanita di dalam kamar selain ber-reproduksi.
"Maafkan aku ya, aku tidak berhasil mendidik putra ku menjadi orang baik. Aku tidak menyangka ia akan berbuat setega itu,"
Ibu mertuanya memeluk Cindy, ia menangis tersedu-sedu karena rasa bersalah.
"Tidak Bu, ibu sudah mendidiknya dengan baik. Mungkin karena pergaulan saja. Aku pamit pulang ya Bu, jaga diri Ibu baik-baik,"
"Cindy, bagaimana ibu bisa hidup tanpa kamu dan cucu-cucu ibu? Ibu mohon jangan pergi Nak, aku akan menyuruh Bima meninggalkan wanita itu dan bertobat,"
Ibu mertuanya memohon bahkan berlutut di kaki Cindy.
"Ibu jangan begitu, tolong mengerti perasaan ku Bu. Aku tidak bisa hidup bersama mas Bima lagi,"
Cindy membangunkan mertuanya yang berlutut dan menenangkannya.
"Suatu saat aku akan berkunjung, ibu juga boleh datang ke rumah orang tua ku," ucap Cindy.
__ADS_1
Setelah membesarkan hati ibu mertuanya mereka segera meninggalkan rumah itu.
"Kita mampir ke kantor mas Bima dulu ya," ucap Cindy.
"Hah? Untuk apa Cin?"
"Iya Kak, buat apa?"
"Aku akan menemui bosnya, suami dari selingkuhan mas Bima,"
Mereka bertiga saling pandang. Ada rasa kuatir di hati mereka, namun para pezina itu memang pantas dapat pelajaran.
"Maaf Mbak, saya ingin bertemu pemilik perusahaan ini," ucap Cindy.
"Tuan sedang meeting. Memangnya Ibu siapa? Apa sudah membuat janji?" tanya wanita itu.
"Akan saya tunggu, katakan ini sangat penting. Katakan juga jika ini menyangkut rumah tangganya,"
Wanita itu tampak bingung, namun dia menghubungi seseorang. Saat menunggu mereka melihat Bima sedang menuju lift dekat mereka, Jhony dan Clara segera berdiri untuk menghalangi Cindy agar tidak terlihat.
"Huh, hampir saja," ucap Clara.
"Bu, sudah di tunggu Tuan di lantai 4. Silahkan,"
Mereka mengikuti petunjuk wanita tadi menuju lantai 4. Di depan lift ternyata sudah ada orang yang menunggu mereka.
"Silahkan ikuti saya, saya akan mengantarkan kalian ke tempat tuan,"
Pria itu mengajak mereka melewati beberapa ruangan, lantai 4 sepertinya tidak banyak orang yang berlalu lalang.
"Silahkan masuk, Tuan sudah menunggu di dalam,"
Pria itu menyuruh masuk lalu menutup pintunya kembali.
"Hah... Bu Jenny,"
__ADS_1
Wanita itu tersenyum sinis ke arah mereka.