Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 61 Cindy Sakit, Bima Bunuh Diri


__ADS_3

Keesokan hari ketika mentari mulai menampakkan sinarnya, seperti biasa Clara setelah menunaikan ibadah wajib dia bergegas melakukan pekerjaan rumah. Namun tidak biasanya Cindy masih juga belum bangun dari tidurnya. Clara mendekati kakaknya pelan, mencoba membangunkannya.


"Kak, bangun. Nanti shalatnya kesiangan loh," ucap Clara menyentuh kakaknya pelan.


Cindy bergeming hanya mengubah posisinya semakin meringkuk. Clara mengernyit, tidak biasanya dia seperti itu. Dia kuatir kakaknya sedang sakit. Benar saja ketika ia pegang keningnya, suhu tubuhnya sangat panas. Clara langsung mengambil peralatan untuk mengompres Cindy. Ia bergegas memasak agar kakaknya bisa segera sarapan dan minum obat.


"Kak bangun dulu ayo makan, aku sudah membuatkan kakak sarapan. Setelah itu minum obat ya biar cepat sembuh," pinta Clara perhatian.


"Jam berapa ini, Clara?" tanyanya sambil berusaha bangun.


"Sudah setengah 6 pagi, Kak," jawab Clara.


"Aku mau mandi dan shalat dulu, baru aku sarapan ya," balas Cindy langsung menuju kamar mandi.


Clara sangat kuatir melihat kondisi Cindy, ia merasa pasti semua terjadi karena percintaannya yang sedang rumit. Dia pasti terlalu banyak mikir, semalam saja ketika tengah malam ia terbangun sayup-sayup mendengar kakaknya tengah menangis. Namun ia tak mau mengganggunya, ia biarkan kakaknya bebas menumpahkan kesedihannya. Ia tidak ingin membahas masalah Bima saat ini, karena hal itu sangat sensitif.


Setelah shalat Cindy segera sarapan dan minum obat. Tak berapa lama ia kembali berbaring.


"Clara tolong bilangkan Mas Andre aku tidak bisa kerja hari ini, badanku masih lemas," pinta Cindy.


"Kenapa tidak telepon Pak Andre langsung, Kak? Dia pasti kuatir," saran Clara.


"Tolong sampaikan saja Clara, aku tidak ingin dia banyak bertanya. Aku tidak ingin menangis di depannya," jawab Cindy lirih.


"Baiklah, aku mengerti. Tapi Kakak tidak boleh seperti ini terus, Kakak harus memilih salah satu di antara mereka. Walaupun pada akhirnya akan ada yang tersakiti itu lebih baik daripada terus begini. Aku yakin mereka akan menerima keputusan Kakak, walau terasa berat," ucap Clara.


"Aku tidak bisa memilih, Clara. Aku tidak ingin menyakiti siapapun juga. Aku mencintai Mas Andre tapi aku juga kasihan dengan kondisi Bima, bagaimanapun dia pernah ada di hatiku. Aku tidak sanggup, lebih baik aku pergi saja biar adil," balas Cindy.


"Kakak bicara apa sih? Kakak harus kuat, aku tahu posisi Kakak serba sulit tapi bukan berarti pergi akan menyelesaikan masalah. Tolong buang jauh-jauh pikiran itu, disini ada aku yang akan selalu mendukung Kakak," ucap Clara sembari merangkul Cindy.


"Maaf, Clara. Aku terlalu bingung untuk bersikap. Aku akan benar-benar memikirkannya," balas Cindy.


"Ya sudah sekarang Kakak istrihat biar cepat sembuh. Apa tidak apa-apa aku tinggal kerja?" tanya Clara.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku hanya kurang istirahat karena semalam tidak bisa tidur," balas Cindy.


"Kalau gitu aku siap-siap dulu ya, Kakak tidur saja," ucap Clara kemudian berlalu.


Setelah bersiap, Clara segera berangkat ke kantor. Ia tak berpamitan kepada Cindy lantaran terlihat kakaknya tengah tidur dengan nyenyak.


Tok... tok... Tok...


Clara mengetuk pintu ruangan Andre, ia masuk setelah dipersilahkan.


"Clara, ada apa?" tanya Andre heran.


"Maaf Pak, saya hanya ingin menyampaikan hari ini Kak Cindy tidak dapat masuk kerja, badannya lemas mungkin kurang istirahat," ucap Clara.


"Oh kasihan sekali, apa dia baik-baik saja?" tanya Andre kuatir.


"Tadi badannya panas, tapi setelah sarapan dan minum obat sudah turun panasnya. Sudah saya kompres juga, tapi masih lemas makanya saya suruh istirahat," jawab Clara.


"Syukurlah kalau sudah mendingan, sebentar lagi aku masih ada meeting penting, setelah selesai aku akan menjenguknya. Terima kasih sudah memberi kabar ya, Clara," balas Andre.


***


Selesai meeting Andre bergegas menjenguk Cindy.


"Kamu sakit apa, Sayang?" tanya Andre setelah Cindy membuka pintu.


"Aku tidak apa-apa, Mas. Mungkin hanya kelelahan saja," jawab Cindy sambil tersenyum.


"Mungkin karena liburan kemarin. Kamu ingin apa biar cepat sembuh, Sayang?" tanyanya.


"Aku tidak ingin apa-apa, melihat Mas tersenyum manis, perhatian padaku seperti ini pasti membuatku lekas sembuh," jawab Cindy.


"Bisa saja, Sayangku ini, bikin aku gemas saja," balas Andre sambil mencubit pipi Cindy karena gemas.

__ADS_1


Mereka mengobrol dengan santai, kehadiran Andre membuat Cindy lupa dengan kesedihannya. Andre selalu bisa menghiburnya, ia merasa nyaman berada di dekat pria itu. Pria itu sudah membuatnya benar-benar merasa bahagia.


***


Seminggu telah berlalu, Cindy telah mengambil keputusan untuk tetap bersama Andre. Mungkin dia terlihat egois tapi dia tidak mungkin membohongi hatinya yang telah benar-benar mencintai Andre. Kehadiran Bima yang sudah tidak pernah muncul di hadapannya membuatnya semakin lupa akan pria itu.


Saat itu ia tengah mengerjakan laporan bersama Clara, tiba-tiba satpam datang dan memberi tahu jika ada tamu untuknya di lobi. Cindy pun segera turun menemui tamunya itu.


"Apa ini Nak Cindy?" tanya seorang wanita berusia sekitar 45 tahunan.


"Iya benar," jawabnya.


"Maaf, ibu siapa ya? Apa saya mengenal Ibu?" tanya Cindy.


"Nak, tolonglah ikut denganku. Tolong selamatkan anakku, dia sangat mencintaimu. Masa depannya sudah hancur tolong jangan pernah tinggalkan dia, dia tidak bisa hidup tanpamu. Tolonglah, Nak," kata wanita itu sambil terisak.


"Bu, maksudnya bagaimana? Saya tidak mengerti?" tanya Cindy bingung.


"Kamu kekasih Bima anak ku kan? Wanita yang sangat di cintai anakku, benar kan?" tanya wanita itu.


Degh...


Cindy terkejut bukan main mendengar kata-kata wanita itu, ia kira Bima telah benar-benar pergi dari hidupnya setelah tahu ia telah bersama pria lain. Namun sepertinya dugaannya salah.


"Apa Ibu orang tuanya Bima? Ada apa dengan Bima, Bu?" tanya Cindy masih belum mengerti.


"Ikutlah denganku, demi keselamatan anak ku. Nanti aku jelaskan di perjalanan," jawab wanita itu.


"Baiklah, ayo Bu," jawab Cindy menyetujui.


Mereka pun pergi, Cindy tak sempat memberi kabar kepada siapa pun.


"Bima kenapa, Bu? Dia baik-baik saja bukan? Ini kita mau kemana, Bu?" tanya Cindy di perjalanan.

__ADS_1


"Sudah seminggu ini dia mulai mengurung diri lagi di kamar, padahal sebelumnya dia sudah terlihat bahagia kembali. Dia bercerita telah mengirimimu bunga dan kartu ucapan yang ia titipkan kepada satpam tempatmu bekerja. Tapi kemudian dia berkata bahwa ia terlambat, katanya kamu sudah bersama pria lain. Sepertinya ia sangat mencintaimu, ia tidak bisa menerima kenyataan. Ia kembali terpuruk dalam keputus asaan. Aku sudah menasehatinya untuk bersabar dan bangkit, namun semuanya sia-sia. Ia terlihat begitu kecewa. Hari ini ketika aku akan menyuruhnya sarapan, aku melihat ia terkapar di kasurnya dengan mulut berbusa. Ia berusaha mengakhiri hidupnya dengan menelan banyak obat," cerita wanita itu dengan berderai air mata.


Cindy terperangah, ia tidak bisa berkata-kata. Lidahnya terasa kelu, hanya air mata yang kemudian terjun bebas membasahi pipi lembutnya. Ia benar-benar tidak menyangka Bima akan senekad itu.


__ADS_2