Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 132 Berbohong Demi Kebaikan


__ADS_3

Pak Iman terkejut bukan main, ternyata kedua pria ini sedang mencari Clara, orang yang telah ia tolong. Dia sudah mendengar cerita dari Clara sebelumnya jadi dia harus hati-hati dalam menjawab pertanyaan mereka.


"Apa Bapak mengenal istri saya?" tanya Juan penuh harap.


Pak Iman menatap Juan, pria ini sepertinya sangat mengharapkan istrinya. Raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam, menandakan istrinya begitu berharga untuknya.


"Saya memang pernah mengantarnya, saat itu dia sedang menangis. Saya merasa kasihan dan bertanya tentang keadaannya, tapi sayang dia enggan bercerita," jawab pak Iman.


Hati Juan semakin sakit, Clara menyembunyikan sesuatu yang besar darinya. Entah apa yang dia tutupi sehingga harus berpura baik-baik saja di depan semua orang, namun kenyataannya dia juga terluka.


"Dia menangis Dre, pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan. Aku harus segera menemukannya, aku harus tahu bagaimana keadaannya," ucap Juan tak dapat menahan kesedihannya lagi.


Pak Iman begitu terharu melihat cinta Juan, dia menjadi dilema antara jujur atau berbohong demi kebaikan Clara. Ia takut ancaman ayah mertuanya akan menjadi kenyataan, ia benar-benar bingung harus bagaimana.


"Iya, kita pasti akan terus mencarinya. Kamu sabar dulu ya, tenangkan diri mu dulu," hibur Andre agar Juan lebih tenang.


Juan berusaha menetralkan perasaannya, ia memikirkan kehidupan Clara tanpanya. Ia pejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.


"Clara minta turun di mana, Pak?" tanya Andre.


Pak Iman bingung menjawab, ia berusaha mengingat cerita Clara waktu itu.


"Nak Clara minta turun di terminal bungurasih, dia sempat mengatakan saat itu jika dia tidak punya tujuan," jawab pak Iman setengah mungkin agar tidak ketahuan.


"Dia turun di terminal mau kemana Dre, di sana banyak sekali kendaraan dengan tujuan berbeda. Kita tidak tahu dia akan kemana, habislah sudah harapan ku,"


Juan seketika lemas, hilanglah sudah harapannya untuk menemukan istrinya. Ia menangis meraung-raung, tidak peduli lagi dengan tatapan orang-orang yang melihatnya. Andre dan pak Iman melihatnya penuh rasa iba, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah Juan sedikit tenang, pak Iman memilih untuk berpamitan, ia tidak tahan melihat penderitaan Juan. Ia juga tidak sanggup berbohong lebih lama, ia takut kelepasan bicara jika tetap disini.

__ADS_1


Dengan langkah gontai pak Iman kembali ke taksinya, air matanya menetes membasahi pipinya yang mulai keriput di makan usia. Begitu berat kisah cinta dua insan yang saling mencintai, harus berpisah karena restu orang tua. Entah sampai kapan ia dapat menutupi kebohongan yang menyakitkan ini, jika tidak berkaitan dengan nyawa tentu saja ia sudah memberitahukan keberadaan Clara kepada suaminya sejak tadi.


"Nak Clara," panggil pak Iman.


"Loh Bapak, ada apa tumben kemari?" tanya Clara heran.


"Apa kamu sedang sibuk, Bapak ingin bicara?" tanyanya.


"Sebentar, Clara izin dulu ya,"


Clara bergegas masuk untuk meminta izin sebentar, menit kemudian ia keluar dengan senyum merekah.


"Silahkan duduk dulu Pak, ini sambil di minum dan di makan," ucap Clara sopan.


"Terima kasih Nak, maaf ya sudah mengganggu waktu kerjanya. Sebenarnya mau menunggu sampai pulang kantor, tapi rasanya kok lama sekali,"


Dahi Clara berkerut, tampaknya yang akan pak Iman bicarakan adalah hal yang sangat penting.


Pak Iman bingung harus darimana ia mulai bercerita.


"Ehm begini... Kalau boleh tahu, apakah Nak Clara sangat mencintai suaminya?"


Degh...


Clara sangat terkejut dengan pertanyaan tentang Juan, seketika pikirannya mengembara memikirkan pria itu. Pria yang sangat mencintainya dan sangat dia cintai, ayah dari calon anaknya. Tentu saja dia sangat mencintainya, sampai kapanpun.


"Tentu saja, saya mencintainya lebih dari apapun. Hanya saja mungkin takdir tidak berpihak kepada cinta kita," jawab Clara penuh kesedihan.

__ADS_1


"Tadi suami mu mencari mu ke kantor taksi, tapi aku tidak memberi tahu keberadaan mu Nak," ucap pak Iman.


Clara terkejut bukan main, ia mengambil tasnya dan mengeluarkan selembar foto pernikahan.


"Apa pria ini yang mencari saya, Pak?" tanya Clara sembari menunjuk foto Juan.


"Iya benar, hanya saja dia lebih kurus. Kulitnya putih pucat dan ada lingkaran hitam di bawah matanya, sedikit berbeda dengan fotonya," jawab pak Iman dengan detil.


Clara merasa sangat bersalah, belum lama ia pergi keadaan suaminya sudah berubah drastis. Juan begitu mencintainya, ia pasti sangat terluka saat dia meninggalkannya. Tangis kesedihan yang menyayat hati tak dapat dibendung lagi.


"Apa tidak sebaiknya kalian bersama lagi, dia juga kelihatan sangat sedih sampai tidak merasa malu menangis di hadapan orang-orang. Dia baru bisa tenang setelah temannya yang bernama Andre itu menghiburnya, mereka datang berdua tadi," imbuh pak Iman.


'Ya Allah, Pak Andre sampai rela pulang ke Indonesia untuknya. Mungkin keadaannya cukup parah, aku harus bagaimana Tuhan?' batin Clara.


"Tapi saya takut dengan ancaman ayah mertua saya, Pak. Bagaimana jika sungguh-sungguh menghabisi keluarga saya? Tidak mungkin saya dan suami hidup bahagia jika harus mengorbankan mereka, ayahnya adalah orang yang berkuasa, dia mampu melakukan apa saja," balas Clara.


Pak Iman sangat mengerti posisi Clara memang sulit, bagaikan makan buah simalakama. Serba salah. Dia juga tidak bisa berbuat banyak, hanya mampu menyembunyikan keberadaan Clara. Berbohong untuk kebaikan, mungkin keadaan ini lebih baik untuk sementara ini.


"Ya sudah jika memang itu yang terbaik, Bapak akan mendukung. Nak Clara harus menjaga kesehatan agar bayinya tumbuh dengan baik, walaupun bapak jarang di rumah ada ibu disana, jadi jika butuh bantuan jangan sungkan-sungkan ya," ucap pak Iman.


"Terima kasih, Bapak sudah selaku baik dan menolong saya. Kehadiran Bapak dan keluarga telah mengobati rasa rindu saya dengan keluarga, semoga Allah selalu merahmati Bapak dan juga keluarga, amin," balas Clara.


Ia memeluk pak Iman dengan tulus, kasih sayang beliau begitu terasa bagai keluarga sendiri. Ia sangat bersyukur beliau tidak mengatakan keberadaannya, demi kebaikan semua orang. Setelah selesai mengobrol pak Iman segera berpamitan.


Bu Ina yang dari tadi menyaksikan mereka berdua berbicara serius dari dalam segera menghampiri Clara.


"Ada apa Clara, kenapa kamu sampai menangis?" tanyanya lembut.

__ADS_1


Clara akhirnya menceritakan apa yang telah di sampaikan pak Iman tadi, membuatnya kembali mengeluarkan air mata. Bu Ina memeluk Clara dan menghiburnya untuk mengurangi kesedihannya.


"Aku tidak menyangka ternyata masih ada orang yang bisa menyalah gunakan kekuasan untuk mengintimidasi orang lain, sabar ya Clara jangan lupa selalu berdoa agar di berikan petunjuk. Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya," ucap Bu Ina.


__ADS_2