Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 46 Paket Misterius


__ADS_3

"Halo, dengan Mas Indra ya?" tanya Clara menghubungi nomor di balik foto Jhony.


"Iya, ini siapa ya?" tanyanya.


"Saya Clara sahabatnya Jhony, tadi pak satpam apartemen bilang anda datang kesini. Apa benar Jhony ditusuk preman? Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Clara kuatir.


"Iya benar, Clara. Lukanya parah, sudah 3 hari dia belum sadarkan diri. Ponselnya berhasil di rampas, aku bingung mau menghubungi keluarganya kemana. Takutnya penjahat itu memanfaatkan ponsel Jhony, kuatir juga keluarganya di kampung cemas dia tidak ada kabar. Dulu ia pernah bilang punya teman di apartemen situ, saya nekad kesana walau tak tahu nama dan tempat pastinya. Alhamdulillah kamu telepon, aku senang sekali." jelas Indra terharu.


"Ya Allah kasihan sekali dia, hiks... hiks... Dia di rawat di mana Mas?" tanya Clara sambil terisak.


"Di RS Mitra. Ini sudah malam, besok saja kesininya kasihan kamunya. Jangan kuatir aku yang jaga tiap hari, kadang-kadang dengan teman kerja Jhony juga. Tolong doanya supaya dia cepat sadar ya," kata Indra bijak.


"Iya Mas, aku pasti doakan. Ya sudah kalau sampai sana besok aku telepon ya," jawab Clara.


"Ok, Clara terima kasih. Selamat beristirahat ya, sampai ketemu besok" kata Indra mengakhiri percakapan.


"Ok Mas, terima kasih juga sudah menjaga Jhony. Sampai jumpa," jawab Clara.


***


Pagi itu Clara bersama Cindy dan Juan bermaksud mengunjungi Jhony. Cindy sudah bisa mengingat kembali sepenuhnya, Andre sangat berjasa bagi kesembuhannya. Mereka tidak mengajak Andre karena di anggap tidak terlalu mengenal Jhony.


Sesampai disana Clara langsung menghubungi Indra. Tak lama mereka sampai di tempat Jhony di rawat. Terdengar isak tangis memilukan melihat Jhony yang belum sadarkan diri.


"Jenguknya bergantian ya, kata dokter satu-satu." jelas Indra.


Setelah memakai baju yang steril mereka bergantian masuk melihat Jhony.


"Bagaimana sebenarnya kronologisnya, Mas?" tanya Juan.


"Saya juga kurang tahu pasti cuma dengar dari orang-orang. Jhony sepertinya sedang beli makan siang trus ada yang mencoba merampas harta bendanya, katanya 6 orang preman naik motor. Dia kena tusuk 2x dan mengeluarkan banyak darah. Saya sedang mencarinya karena biasanya kita makan siang bareng, ternyata ketemu di jalan sudah tak sadar. Kemudian langsung saya bawa kesini." jelas Indra dengan raut wajah serius.


"Nekat sekali ya preman sekarang, padahal siang dan pasti juga ramai orang. Terima kasih ya Mas Indra sudah ikhlas membantu, bahkan sampai mencari ke apartemen. Oh iya untuk biaya biar saya yang tanggung semua, Jhony sudah saya anggap seperti saudara sendiri." kata Juan.

__ADS_1


"Iya, saya juga heran. Padahal selama ini di wilayah sana itu selalu aman, mungkin sedang apes. Kalau masalah biaya tidak perlu diganti, Jhony juga karyawan saya. Apalagi dia kena musibah saat masih bekerja, jadi itu tanggung jawab saya," kata Indra ramah.


"Oh baiklah, terima kasih untuk kebaikannya. Tolong beri nomor saya atau Clara kepada dokter agar kalau ada apa-apa kita juga bisa tahu. Ini kita mau pamit kerja dulu, nanti sore sepulang kerja kita akan kesini lagi," kata Juan.


"Oh iya nanti saya berikan, terima kasih sekali atas kepeduliannya. Jhony aman di sini karena sudah saya titipkan kepada dokter dan perawat jika tidak ada yang menjaga," jawab Indra.


"Mas Indra kita pamit dulu ya, kalau ada apa-apa tolong hubungi aku ya Mas." ucap Clara.


"Iya, tenang saja. Sampai ketemu lagi ya," ucap Indra sembari melambaikan tangan.


Mereka pun berangkat ke kantor bersama. Juan menurunkan Clara dan Cindy lalu bergegas karena akan menghadiri meeting. Ini merupakan hari pertama Cindy masuk kerja setelah kecelakaan yang menimpanya.


"Pagi, Pak Andre," kata Clara dan Cindy kompak menyapa bosnya yang juga baru tiba di kantor.


"Pagi... loh Cindy sudah masuk kerja ya? Apa benaran sudah sembuh?" tanya Andre terlihat kuatir.


"Alhamdulillah, berkat Bapak saya cepat sembuhnya. Terima kasih ya Pak untuk kebaikan Bapak. Saya juga minta maaf apabila ada perkataan atau perbuatan saya yang kurang menyenangkan ketika amnesia ya, Pak" jawab Cindy tulus.


"Kita ini kan dekat, apalagi kamu bekerja padaku jadi semua itu wajar. Alhmdulillah walaupun amnesia kamu tidak pernah jahat padaku," kata Andre terkekeh sendiri.


"Halo Pak Andre ada yang bisa di bantu, Pak?" tanya Bella.


"Oh baik, nanti saya sampaikan, Pak," jawab Bella lalu memutus panggilan.


"Apa ada tugas dari Pak Andre, Kak?" tanya Clara.


"Tidak, tapi nanti kita diundang makan siang di ruangan Pak Andre. Aku, kamu dan Cindy katanya merayakan kembalinya Cindy dikantor ini." jawab Bella merasa senang.


"Wah Pak Andre baik sekali ya, aku merasa tidak enak kepada beliau," ucap Cindy.


"Justru bos seperti itu yang diharapkan karyawan, yang perhatian dan peduli dengan karyawan." kata Bella.


"Ya sudah ayo cepat selesaikan kerjaan kita Kakak-kakak, sebentar lagi sudah mau jam makan siang," kata Clara sangat antusias.

__ADS_1


Perutnya sudah sangat lapar karena tadi tidak sarapan, terlalu bersemangat menjenguk sahabatnya di RS.


Jam makan siang tiba, mereka sudah berkumpul di ruangan Andre. Sebenarnya Juan juga sudah di telepon namun berhalangan datang karena banyak pekerjaan. Mereka asyik bercengkrama sambil menunggu makanan datang.


Tok, tok, tok. Terdengar pintu di ketuk. Pak satpam datang dengan membawa bungkusan yang terlihat seperti paket.


"Maaf Pak, ada paket untuk Bu Cindy. Tadi ke ruangannya tapi tidak ada, katanya harus di serahkan lansung kepada yang bersangkutan, makanya saya bawa kesini," jelas pak satpam.


"Tidak apa-apa Pak Slamet, langsung kasihkan saja," kata Andre.


Cindy langsung menerimanya, namun merasa heran siapa yang mengirim paket.


'Apakah Bima yang mengirim ya' batin Cindy.


"Cie... dari kekasihnya ya," ledek Bella.


"Tidak ada nama atau alamat pengirimnya, Kak," jawab Cindy.


"Buka saja, kita kan ingin tahu," kata Bella sambil mengerling kearah Cindy.


Cindy mulai membuka paket, dia penasaran seperti ada gerakan dari dalam. Namun ia tak merasa curiga karena ini pertama kalinya ia mendapat paket selama hidup. ternyata ada kardus di dalamnya, Cindy membukanya tanpa ragu.


"Akhhh...." teriaknya di ikuti oleh yang lain.


Cindy terkejut di dalam kardus ada kobra yang sudah siap mematoknya. Spontan ia melempar kardus itu, dan ular pun keluar dari tempatnya tadi.


Kepanikan mulai terjadi, para wanita naik ke kursi. Andre langsung menghubungi satpam.


"Ada apa, Pak?" tanyanya.


"Itu ada kobra, ada yang bisa mengeluarkan tidak?" tanya Andre.


"Kok bisa ada ular, mana besar lagi. Tenang Pak, saya biasa nangkap ular di desa. Sebentar saya ambil alat di gudang dulu. Jangan dekat-dekat, ular itu sangat berbisa." katanya lalu bergegas ke gudang.

__ADS_1


Tak berapa lama dia kembali, ternyata dia memang cekatan. Tak butuh waktu lama, kobra berhasil di tangkap dan di masukkan karung.


__ADS_2