Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 20 Indahnya Kebersamaan


__ADS_3

"Kak, bangun sudah subuh. Katanya hari ini mau masak banyak," kata Clara mengguncang tubuh kakaknya yang masih terlelap.


"Memang jam berapa ini, Clara?" tanya Cindy sambil menguap.


"Sudah jam 5 pagi Kak, kakak pulang jam berapa semalam kok masih ngantuk?" tanya Clara mengintrogasi Cindy.


"Agak malam, pukul 23.00 an kalau tidak salah," jawab Cindy sambil menyeringai.


"Pantas saja, Kakak kemana saja hayo?" tanya Clara menyelidik.


"Kakak salat dulu, setelah itu aku ceritakan ya," jawab Cindy dengan tersenyum penuh arti.


Clara menyiapkan bahan-bahan yang sudah ada untuk memasak, sambil menunggu Cindy selesai salat. Setelah ini mereka akan kepasar, membeli bahan yang belum tersedia. Sebenarnya ini ide Juan, dia juga yang memberikan dananya.


"Sebelum ke pasar, Kakak harus ceritakan semuanya," kata Clara seraya menarik tangan Cindy untuk duduk dikursi.


"Iya sabar, Clara," jawabnya.


"Semalam Bima menyatakan perasaannya, dia ingin aku menjadi istrinya. Dia akan segera menyelesaikan kuliahnya, lalu mencari kerja. Setelah itu kita akan menikah," cerita Cindy berbunga-bunga.


"Secepat itu Kak? Apa dia serius? Apa Kakak benar-benar mencintai pria itu?" tanya Clara beruntun.


"Ya di jalani saja, seperti kamu dan Juan. Kalau jodoh tidak akan kemana. Insyaallah Kakak ikhlas jika belum berjodoh," kata Cindy dengan bijak.


"Iya sih Kakak benar, kita jalani seperti air mengalir. Selama Juan bersamaku, aku akan bertahan walaupun orang tuanya belum merestui. Semoga jalan Kakak lebih mudah dariku," kata Clara penuh ketulusan.


Mereka berdua mengobrol sebentar, saling mencurahkan perasaan. Kemudian bergegas ke pasar membeli bahan-bahan masakan, sedikit buah dan kue juga. Sejauh ini mereka sangat bahagia, bersyukur sekali dengan hidupnya saat ini. Apalagi beberapa hari lagi upah mereka dibayarkan, mereka bisa mengirim orang tuanya di kampung. Belum lagi mendapat tawaran pekerjaan dari Juan, mereka sangat tidak menyangka. Sekarang mereka juga tidak sendiri, telah ada seorang pria yang berjanji akan selalu melindungi mereka. Ini benar-benar sebuah karunia Allah yang tidak ternilai.

__ADS_1


Jam 10 semua telah selesai mereka kerjakan. Wanita yang bagian memasak, pria bertugas beres-beres rumah. Mereka sangat kompak.


Setengah jam kemudian Juan datang, disusul Bima 5 menit kemudian.


"Waduh hanya kita berdua ini yang jomlo, kapan ya kita punya pasangan," kata Jhony kepada Januar, membuat yang lain tertawa terbahak-bahak.


"Oh ya, kalian semua jangan panggil aku bapak lagi ya. Apalagi saat di luar pabrik begini, panggil Juan saja." kata Juan yang ingin mengikis jarak diantara mereka.


"Baiklah, tapi kalau di pabrik kita tetap harus menghormati Bapak, eh Juan," kata Jhony yang belum terbiasa.


"Terserah kalian saja. Oh ya, aku meminta izin kepada kalian, terutama kamu Jhony sebagai sahabat dekat. Aku ingin mengontrakkan rumah untuk Clara dan Cindy tidak begitu jauh dari sini, karena bagaimanapun kalian kan bukan muhrim. Takut saja ada warga yang tidak suka lalu memfitnah kalian, jadi mengantisipasi saja begitu," kata Juan mulai serius.


"Kebetulan di kantor temanku sedang butuh 2 orang wanita untuk bagian administrasi, aku meminta Clara dan Cindy untuk mengisi lowongan itu. Senin besok akan ku bawa Clara kesana, sedangkan Cindy nanti menyusul sehabis gajian saja. Bagaimana menurut kalian?" tanya Juan mengenai pendapat mereka.


"Wah Alhamdulillah, aku ikut senang. Kita setuju saja, menurutku kerja di pabrik memang terlalu berat untuk mereka. Disana pasti kerjanya tidak terlalu lama, gaji yang di dapat juga lumayan. Kalau masalah tempat tinggal sebenarnya juga dulu ingin kos saja, tapi karena ingin hemat kita numpang di sini dulu. Jadi itu tidak masalah, kita juga masih bisa bertemu," kata Jhony menanggapi.


"Alhamdulillah, terima kasih. Kamu baik sekali Juan," puji Jhony dengan tulus.


"Kalau aku sepertinya lebih baik di pabrik saja, karena keterampilanku hanya menjahit. Sepertinya perusahaan tidak membutuhkan seorang penjahit," kata Januar sangat polos.


Juan terkekeh mendengarnya, mereka semua benar-benar polos, pikirnya.


"Kamu tidak harus kerja di perusahaan, keterampilan kamu itu justru sangat bermanfaat. Kamu bisa membuka usaha menjahit sendiri, awalnya bisa untuk permak atau reparasi. Bisa jahit bendera ketika hampir hari kemerdekaan. Bisa juga menjahit seragam sekolah, seragam kantor. Belum lagi kalau mendekati lebaran, pasti ramai. Kalau mau menjahit sepatu juga bisa tinggal beli bahan-bahannya." Jelas Juan memberi pandangan.


"Iya dari dulu sebenarnya kepikiran, tapi itu butuh modal yang tidak sedikit. Harus beli mesin jahit, peralatan, belum juga bahan-bahannya," jawab Januar terlihat sedikit bersedih.


"Tenang nanti aku bantu modalnya," kata Juan mengerti kegelisahan Januar.

__ADS_1


"Benarkah? Tapi mungkin aku membayarnya dengan mencicil, apa tidak apa-apa?" tanya Januar merasa tidak enak hati.


"Tidak perlu kamu pikirkan, aku ikhlas membantu kalian semua," ucap Juan dengan senyum manisnya.


"Duh jadi tidak enak," kata Januar.


"Tapi sangat berharap," goda Jhony, membuat mereka semua tertawa terpingkal-pingkal.


"Ngomong-ngomong siapa nih yang masak, enak sekali rasanya?" tanya Bima disela-sela tawanya.


"itu loh calon istri Kak Bima yang masak, Clara cuma bantuin sedikit saja," kata Clara sambil mengedip-ngedipkan mata kearah Cindy.


"Apa sih Clara, dia juga ikut masak kok," jawab Cindy membalas godaan Clara.


"Cie... cie... yang sudah jadi pasangan, bikin kita iri saja," kata Jhony menggoda mereka, membuat Bima dan Cindy tersipu malu.


"Bagaimana kuliahmu Bim, apa sudah lancar?" tanya Juan.


"Ini masih berusaha melobi dosen yang mata kuliahnya nilainya kurang agar bisa ikut mengulang, agak susah sih karena kemarin-kemarin sering bolos. Tapi aku harus berusaha, agar dalam setahun ini sudah bisa lulus," jawab Bima.


"Semangat ya, tidak ada hal yang mustahil jika kita terus berusaha. Dulu aku harus kuliah di bidang yang justru aku benci, tapi karena tidak ingin orang tua kecewa aku tetap berjuang. Ya walaupun tidak menjadi yang terbaik, setidaknya nilaiku tidak buruk," kata Juan bercerita kisahnya zaman kuliah.


"Kalian beruntung bisa kuliah, aku hanya tamatan SMP. Tapi aku bersyukur, karena orang tuaku telah berjuang keras untuk itu," kata Clara membagi kisahnya.


"Sayang semua orang sudah punya takdirnya sendiri. Bukan berarti uang banyak, pendidikan tinggi, harta melimpah akan menjamin kebahagiaan seseorang. Intinya itu adalah bersyukur atas apa yang Allah beri." kata Juan sangat bijaksana sekali.


Juan serius dengan ucapannya, karena dia telah membuktikannya sendiri. Nyatanya dengan hidup bergelimang harta, jabatan yang tinggi tidak serta merta membuatnya bahagia selama ini. Justru kehadiran sosok Clara lah yang membuatnya menjadi berarti. Hidupnya yang dulu terasa kosong sekarang menjadi sangat berwarna. Apalagi dihadapkan dengan lingkungan sekitar Clara yang apa adanya tanpa kepura-puraan, membuatnya seoalah memiliki keluarga yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2