
"Diantara, ayo cepat kesini,"
Temannya menariknya untuk membaur, namun kakinya terasa berat untuk melangkah. Ingin rasanya ia berlari dari sana agar tidak bertemu kedua pria dari masa lalunya. Namun terlambat, Andre telah melihatnya. Kini pria itu menatapnya tanpa berkedip.
"Oh tidak, apa pak Andre mengenali ku?" gumam Clara.
"Aku pergi saja ya," ucap Clara.
"Diandra ini kesempatan mu, mereka itu bos besar semua. Dua orang pria di sana masih belum memilih, dari tadi mereka tampak acuh,"
Temannya menahannya, kedua pria yang di maksud adalah Juan dan Andre. Tentu saja mereka tidak akan memilih, karena ia tahu mereka bukan pria seperti itu.
"Juan, gadis itu kok mirip Clara ya," ucap Andre, tatapannya mengarah kepada Clara.
"Mana? Jangan main-main kamu Dre?"
Juan menatap wanita yang di tunjukkan Andre. Hatinya bergetar, luka lama itu kembali terbuka. Ia yakin wanita itu bukan istrinya, namun wajah mereka memang mirip tapi tampilan mereka sangat berbeda. Clara sederhana dan selalu berpakaian sopan, sedangkan wanita di depannya terlihat seperti wanita malam pada umumnya.
"Bawa dia kemari, Dre,"
Juan segera mengambil minuman, perasaannya begitu bergejolak. Sudah sekian lama ia merindukan Clara, sekarang di hadapannya justru muncul wanita yang benar-benar mirip dengannya.
Andre menuruti permintaan Juan, Ia segera mendekati Clara dan temannya itu.
"Teman ku ingin di temani dia," tunjuk Andre ke arah Clara.
'Apa? Apakah Juan sudah mengetahui identitasnya? Tapi dari gelagat pak Andre sepertinya mereka tidak curiga' batin Clara.
Karena tidak dapat mengelak lagi, Clara menuruti permintaan mereka. Ia duduk di sebelah Juan dengan hati berdebar. Ingin rasanya ia memeluk pria itu, melepaskan semua kerinduan di dalam hatinya selama sekian lama. Namun ia hanya bisa menahan perasaannya itu.
"Juan sudah minumnya, kamu tidak boleh mabuk," cegah Andre ketika pria itu mau minum lagi.
"Lepaskan, aku ingin minum," tepis Juan.
"Nama mu siapa? Nama ku Andre,"
"Diandra,"
Andre berusaha berkelanan dengan wanita yang mirip Clara tersebut. Tidak seperti LC yang lain, Diandra lebih pendiam. Ia hanya menjawab jika di ajak bicara.
'Dia benar-benar mirip Clara' batin Andre saat menatap wanita itu lebih dekat.
"Juan, sepertinya kamu sudah mabuk. Lebih baik kita pulang," ajak Andre.
"Tidak mau, aku rindu padanya. Sekarang aku sudah menemukannya, apa kabar Sayang?"
Juan mulai meracau, ia mulai memeluk pinggang Clara membuat wanita itu menjadi panik. Juan terus saja minum dan meracau, Andre hanya bisa menjaganya karena Juan tidak dapat di cegah. Pertemuannya dengan wanita mirip Clara membuat dirinya menjadi rapuh kembali.
__ADS_1
"Aku mau ke toilet sebentar, bisakah kamu menjaga teman ku?" tanya Andre.
Clara hanya mengangguk. Tentu saja ia akan dengan senang hati menjaganya.
"Juan, berhentilah minum lagi," pinta Clara.
Seperti tersadar, Juan segera menatap manik wanita itu.
"Clara, jangan tinggalkan aku,"
Juan jatuh dalam pelukan Clara setelah mengucapkannya. Ia sangat panik melihat suaminya mabuk sampai tidak sadarkan diri. Dia meminta bantuan rekan bisnis Juan untuk mengangkat tubuh pria itu ke dalam kamar agar dapat beristirahat.
"Tolong jaga dia dulu ya, nanti kita kesini lagi,"
Mereka meninggalkan mereka berdua di dalam kamar itu. Clara menatap suaminya dengan rasa iba.
"Sayang, maafkan aku yang sudah meninggalkan diri mu,"
Clara mengusap wajah suaminya dengan lembut, tangisnya sudah tidak dapat di bendung lagi. Hatinya begitu sakit dan tersiksa. Setelah sekian lama akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dalam dimensi yang berbeda.
"Kalau saja kamu tahu jika kita telah mempunyai seorang putra, kamu pasti sangat bahagia,"
Bulir-bulir air matanya jatuh membasahi wajah Juan. Membuat pria itu sedikit membuka mata.
"Clara..."
Clara segera menyeka air matanya, ia takut Juan merasa curiga.
"Siapa kamu? Apakah kamu Clara?"
"Saya Diandra,"
Juan berusaha bangkit sembari terus mengamati wanita di depannya, ia menyipitkan matanya agar lebih fokus. Betapa terkejutnya ia melihat wajah istrinya di depannya.
"Clara Sayang, kamu di sini,"
Juan segera menarik tangan Clara hingga jatuh di pangkuannya. Tubuh keduanya nyaris tidak berjarak. Clara bisa mencium bau menyengat alkohol dari mulut suaminya. Namun aroma tubuh Juan yang masih sama mengingatkan akan masa-masa indah mereka dulu.
Hasrat yang telah lama tidak tersalurkan serta kerinduan yang mendalam membuat Juan makin tidak dapat mengontrol emosinya. Ia mencium bibir Clara sedikit kasar, menjelajahi semua yang ada di dalam bagaikan sedang kelaparan. Clara yang awalnya menolak akhirnya terbawa suasana. Ia menikmati setiap sentuhan yang suaminya berikan.
"Akh... Juan,"
Pakaian Clara sudah tak ada lagi di tubuhnya, sementara Juan masih berpakaian. Tonjolannya yang sudah mengeras sejak tadi ia keluarkan perlahan mendekati tubuh Clara. Ia mulai membuka paha istrinya sembari terus mencium bibir Clara dan tangannya bermain-main dengan gunung kembar istrinya.
Perlakuan Juan membuat Clara mabuk kepayang. Apalagi saat senjata pria itu mulai memasukinya, ia hanya bisa menggigit bibirnya untuk menahan kenikmatan yang sudah lama tidak di rasakan.
"Akh..."
__ADS_1
Mereka mengerang secara bersamaan. Juan terkulai lemas di sampingnya dengan posisi masih memeluknya.
"Aku mencintai mu Clara, jangan pergi lagi,"
Juan tidak bergerak lagi, entah tertidur atau tidak sadarkan diri. Dengan sisa-sisa tenaganya, Clara memunguti pakaiannya dan memakainya dengan cepat.
"Aku juga mencintai mu Sayang, tapi maaf kita tidak bisa bersama,"
Clara mengecup kening suaminya. Ia pakaian semua kembali apa yang tadi sempat Juan lepaskan hingga rapi kembali. Ia masih sangat merindukan suaminya, namun ia harus segera pergi.
"Juan, kita sudah memiliki seorang anak laki-laki. Maaf aku terpaksa membuat kalian terpisah," bisik Clara di telinga suaminya.
Untuk terakhir kalinya ia mencium bibir suaminya dengan lembut. Ia menangis karena sedih, Clara pergi meninggalkan kamar itu sambil terisak.
"Jhon... Jhony, sebaiknya kita cepat pergi dari sini. Ayo kita cepat pulang. Kita temui Kak Dinda dulu,"
Clara menarik tangan Jhony yang masih menatapnya kebingungan.
"Kak Dinda, aku ingin bicara,"
Dinda segera menghampiri Clara dan Jhony.
"Kak, aku minta tolong kepada Kakak jika ada siapapun yang bertanya tentang aku jangan katakan yang sebenarnya. Nama ku Diandra, jangan pernah menyebut ku Clara. Kakak bisa mengarang apapun juga terserah. Aku akan berhenti bekerja, lebih jelasnya akan aku ceritakan di rumah. Tolong aku ya Kak,"
Walaupun masih bingung Dinda menyetujuinya.
"Jhony juga ikut?" tanya Dinda.
"Iya Kak, bahaya jika dia di sini pasti nanti akan ketahuan. Kita pergi dulu ya,"
☆☆☆
"Juan, bangunlah,"
"Huek... huek..."
Andre membantu Juan agar memuntahkan semuanya. Ia lalu memberinya minuman hangat agar perutnya terasa lebih baik.
"Clara mana, Dre?"
Juan menatap ke sekeliling mencari keberadaan istrinya.
"Clara? Dia kan sudah lama pergi, Juan,"
"Tidak, tadi dia di sini bersama ku. Bahkan kami sempat bercinta,"
"Jangan ngarang kamu, yang menemani kamu tadi adalah Diandra. Apa kalian tadi..."
__ADS_1
"Dindra? Tidak mungkin, aku yakin itu Clara. Aku masih ingat setiap inci tubuhnya,"
"Lebih baik kita tanya saja kepadanya, ayo," ajak Andre.