Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 36 Kenyataan Pahit


__ADS_3

Sekitar jam 5 sore orang tua Andre datang, mereka sedikit shock melihat putra kesayangan mereka terkapar. Mereka sedikit tenang setelah mendengarkan penjelasan Dokter saat jam kontrol. Juan pamit untuk shalat maghrib dan mencari makan, sejak siang perutnya belum terisi. Saat iya tengah di kantin rumah sakit Bagas menelepon.


"Halo, Gas. Ada kabar apa?" tanya Juan


"Aku mau ngasih info, tapi janji Mas jangan marah atau emosi ya," kata Bagas sangat hati-hati.


"Maksudmu gimana sih, Gas?" tanya Juan tak mengerti.


"Janji dulu Mas, biar aku tidak merasa bersalah," kata Bagas memaksa.


"Apaan sih, Gas! Bikin penasaran saja kamu itu. Ya terserah, aku janji." jawab Juan setengah terpaksa.


"Jadi gini, tadi sudah aku selidiki. Aku sudah menyuruh orang-orang bayaran mencari pengemudi mobil itu. Mereka berhasil menemukannya. Tadinya orang itu berkata jika itu hanya kecelakaan, namun ketika di tunjukkan hasil CCTV dan mengancam akan di laporkan pihak berwajib dia ketakutan." jelas Bagas, namun berhenti sejenak. Ia masih terlihat ragu untuk menceritakan.


"Terus bagaimana? Apa katanya?" tanya Juan penasaran.


"Dia berkata kalau dia hanya suruhan. Targetnya sebenarnya adalah kekasihmu, Clara, Mas." jelas Bagas membuat Juan terperangah tak percaya.


"Apa? Serius kamu, Gas?" tanya Juan tak percaya.


"Iya Mas, aku juga di sana saat dia di interogasi. Tapi dia mengatakan tidak tahu siapa yang menyuruhnya, dia di hubungi lewat telepon."


"Tapi Mas jangan kuatir, aku tetap akan menyelidikinya. Dia aku lepaskan, tapi aku sudah menyadapnya. Aku sangat yakin orang yang menyuruhnya pasti menghubunginya kembali," kata Bagas.


"Ok, terima kasih Gas," kata Juan mengakhiri.


***


Seminggu telah berlalu sejak kejadian kecelakaan itu. Andre sudah boleh pulang dan melakukan aktivitasnya, namun sesekali harus tetap kontrol ke rumah sakit.


"Halo, Mas Juan. Kita bisa ketemu sekarang, ada hal penting yang mau aku bicarakan," kata Bagas.


"Ok, langsung ke kantor saja. Aku tunggu, Gas," jawab Juan.


"Ok, Mas." kata Bagas lalu menutup telepon.

__ADS_1


Sekitar 20 menit kemudian Bagas telah tiba. Dia langsung ke ruangan Juan.


"Ada apa Gas? Kok tumben ingin bertemu langsung, biasanya lewat telepon sudah cukup?" tanya Juan penasaran.


"Ini soal kecelakaan yang melibatkan Mas Andre kemarin. Mas nyuruh aku menyelidiki, dan kemarin ada nomer yang menghubungi orang yang menyebabkan kecelakaan itu. Karena curiga aku mengeceknya, aku minta bantuan teman yang sudah profesional tentang masalah begini. Coba Mas lihat ini," jelas Bagas lagu memberikan selembar kertas berisi nomer dan riwayat sms ponsel pelaku.


"Iya, terus kenapa? Tinggal tangkap saja bukan, itu sudah ada buktinya." jawab Juan setelah membaca riwayat sms itu.


"Mas juga harus dengarkan ini," kata Bagas lalu memutarkan rekaman percakapan.


"Kenapa aku seperti tidak asing dengan suara orang di rekaman itu ya?" tanya Juan sambil seperti mengingat ngingat, namun ia lupa itu suara siapa.


Bagas tak mau menyampaikan langsung tanpa adanya bukti, karena ia takut Juan tidak akan percaya.


"Coba Mas ketik nomor ponsel ini di hp Mas Juan," kata Bagas sambil menyodorkan kertas tadi.


"Buat apa Gas? Laporkan langsung saja ke pihak berwajib, biar mereka yang menangani." jawab Juan tegas.


"Apa Mas tidak penasaran dengan orang ini? Apa motifnya ingin mencelakai Clara? Apa Mas tidak ingin tahu?" tanya Bagas serius.


"Sudah Mas ketik saja nomornya," kata Bagas memaksa.


"Ok deh terserah kamu," jawab Juan.


Ia mulai mengetik nomor demi nomor, tiba di nomor terakhir sebuah nama muncul di layar ponselnya. Ia belum menyimpan nomor itu, baru mengetik saja. Matanya menatap tajam Bagas meminta penjelasan.


"Apa maksudnya ini, Bagas?" tanya Juan berteriak.


"Maaf Mas, memang itu yang sebenarnya. Aku tidak mau menuduh tanpa bukti, makanya aku butuh waktu cukup lama untuk menyelidiki kasus ini. Aku juga tidak percaya pada mulanya, namun aku sudah berulangkali menyelidikinya sampai aku benar-benar yakin." jelas Bagas sangat hati-hati.


Seketika air mata Juan luruh, hatinya begitu sakit. Dia benar-benar tidak menyangka hal ini terjadi di dalam hidupnya. Juan terduduk di kursinya, menunduk menahan pilu. Tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Bagas mencoba menenangkannya, ia menepuk pundak Juan untuk menguatkannya. Matanya menatap iba kepada sepupunya itu.


"Sabar ya, Mas," kata Bagas menyemangati.


"Jadi benar Mama yang menyuruh orang itu, Gas?" tanya Juan lirih, ia masih belum mempercayainya.

__ADS_1


"Bukti-bukti semua mengarah kesana, Mas," jawab Bagas.


Juan menghela napas, ia menyeka air matanya dengan sudut jasnya.


"Kenapa dia melakukan ini kepadaku, Gas? Jika papa yang melakukan mungkin aku akan percaya, tapi ini mama. Apa yang harus ku perbuat, Gas?" tanyanya, ia merasa sangat sedih.


"Coba Mas bicara dengan tante, tapi jangan sampai emosi ya Mas. Bagaimanapun beliau orang yang telah melahirkan dan membesarkan Mas." kata Bagas, mencoba bijaksana.


"Mungkin beliau punya alasan tersendiri, bisa juga itu karena permintaan atau paksaan dari om Danu," katanya lagi, berspekulasi.


"Baiklah, nanti aku akan bicara. Terima kasih untuk semuanya ya, Gas." kata Juan seraya menepuk pundak Bagas.


"Sama-sama Mas. Lalu langkah selanjutnya bagaimana Mas?" tanya Bagas.


"Nanti aku kabari ya Gas, aku harus berbicara dengan mama dulu." kata Juan.


"Ok Mas, kalau begitu aku pergi dulu ya." pamit Bagas.


Juan memutuskan menemui mamanya nanti malam, ia harus tahu apa motif mamanya ingin mencelakai Clara.


***


Di tempat lain Jhony telah kembali ke Surabaya, ia langsung kos di sekitar tempat Clara. Keadaan ibu Tini sudah berangsur membaik, bahkan sudah dapat melakukan aktivitas seperti biasanya. Jhony benar-benar memberikan pengobatan terbaik untuk ibunya. Dia juga memberikan uang pegangan yang lumayan. Ibu Tini awalnya curiga dari mana Jhony mendapat banyak uang sedangkan yang ia ketahui anaknya hanya bekerja sebagai buruh pabrik. Namun ia beralasan meminjam dari Juan, dan ibu Tini pun percaya, karena ia tahu Juan memang dermawan.


"Aku harus mulai mencari pekerjaan, uang tabungan sudah mulai menipis," kata Jhony ketika melihat saldo di rekeningnya.


"Halo, Clara. Aku sudah kembali ke Surabaya karena ibu sudah cukup sehat. Aku butuh pekerjaan, apa kamu bisa membantuku?" tanya Jhony sangat berharap.


"Alhamdulillah, aku sudah rindu sekali denganmu Jhon. Nanti malam coba kamu maen ke apartemen ya, nanti aku kasih alamatnya. Nanti aku coba tanya Juan atau Pak Andre siapa tahu ada lowongan." kata Clara begitu antusias.


"Ya sudah sampai ketemu nanti," jawab Jhony.


Karena hari masih sore, Jhony memutuskan jalan-jalan sebentar di mall. Ia membeli beberapa pakaian baru. Setelah lelah berkeliling ia berhenti di area foodcourt untuk mengisi perut. Ketika makan ia merasa ada yang mengawasi, kemudian ia menoleh ke kanan. Sesosok pria tampan dengan lesung pipit tersenyum manis ke arahnya.


'Oh Tuhan mengapa hatiku bergetar melihat senyum pria itu, maafkan hambamu Ya Alla' batin Jhony.

__ADS_1


Ia mengalihkan pandangannya, ia tidak ingin salah jalan lagi.


__ADS_2