
"Kamu tidak salah lihat, Gas? Apa mungkin hanya mirip saja?" tanya Juan tak percaya.
"Sepertinya tidak salah, tapi akan aku selidiki lagi agar lebih yakin," ucap Bagas.
"Ok deh, aku tunggu kabar dari kamu. Segera kabari aku jika sudah dapat kepastiannya," balas Juan.
"Siap Mas, ya sudah aku kasih info orang-orang ku dulu agar segera bertindak," ucapnya.
"Ok," Juan mematikan panggilan.
"Apa iya ini ulah Andre agar Cindy batal nikah dengan Bima? Tidak mungkin ini hanya kebetulan saja kan, wanita itu jika memang masih ada hubungan saudara dengan Andre?" Juan bertanya-tanya.
Menit kemudian ia sudah berada di dalam alam mimpi, kelelahan membuatnya tidur dengan pulas.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Bima sudah menghubunginya, dia mengatakan telah mengambil libur agar bisa mencari wanita hamil itu seharian. Juan sengaja tidak menceritakan tentang temuannya semalam karena masih belum pasti, jika sudah ada kepastian dari Bagas barulah dia akan bertindak.
***
Pagi ini Cindy terlihat cemberut, masalah wanita hamil itu berhasil mengaduk-aduk emosinya. Ada lingkaran hitam di sekitar matanya, pertanda semalam ia kurang tidur.
"Kakak masih bersedih ya, sabar ya Kak. Semoga Allah segera memberi petunjuk, semoga Bima bisa segera membuktikan jika dia memang tidak bersalah," hibur Clara.
"Mengapa kamu benar-benar yakin jika Bima tidak bersalah?" Cindy bertanya dengan menatap lurus adiknya.
"Entahlah Kak, hati ku yang merasa begitu. Karena selama ini aku lihat dia sampai cinta mati kepada Kakak, jadi rasanya tidak mungkin dia akan berkhianat," jawab Clara mantap.
Cindy menghela napas. Pandangannya mulai menerawang jauh, sekarang ia merasa benar-benar bimbang. Tadinya dia sangat yakin dengan ucapan Gina, namun kata-kata Clara menurutnya juga ada benarnya.
"Aku juga berharap dia tidak bersalah, Clara. Aku memang belum bisa mencintai dia sepenuhnya, tapi aku akan merasa sangat sedih jika dia benar-benar melakukan pengkhianatan di belakang ku," ucap Cindy, ada kesedihan mendalam pada ucapannya.
__ADS_1
"Semoga secepatnya ada titik terang, Kak," balas Clara.
"Tapi jika sampai wanita itu benar, rasanya aku tidak sanggup untuk hidup lagi. Aku tidak sanggup mengatakannya kepada bapak dan ibu, mereka sangat senang dengan keputusan ku. Mereka akan sangat kecewa jika Bima benar-benar berkhianat," kata Cindy.
"Kita berdoa saja, Allah tahu mana yang terbaik untuk umatnya," balas Clara.
"Iya, kamu benar. Oh iya bukankah Jhony bilang akan berkunjung kemarin, kenapa dia tidak datang ya?" tanya Cindy mengalihkan topik.
"Entahlah Kak, aku sudah sms tidak di balas, di telepon berkali-kali juga tidak di angkat," jawab Clara.
"Kenapa lagi dengan anak itu, apa jangan-jangan ada masalah? Apa tidak sebaiknya kita lihat ke kosannya langsung saja sepulang kantor?" tanya Cindy memberi ide.
"Boleh, nanti kita belikan dia makanan. Dia sudah lama tidak bekerja, keuangannya mungkin sedikit bermasalah," jawab Clara.
"Ide bagus, ayo kita segera siap-siap agar tidak terlambat ke kantor," ajak Cindy.
"Iya, Oh ya Kak kapan-kapan kita ke tempat Januar ya, aku rindu padanya. Sudah lama kita sibuk dengan urusan sendiri sampai lupa bersilaturahmi ke rumah teman seperjuangan," ucap Clara.
Setelah puas mengobrol mereka segera bersiap-siap ke kantor.
***
Sementara itu di tempat lain Jhony terlihat baru saja membuka matanya, ia melihat di sampingnya Indra masih tertidur pulas. Segera ia bangun dan membersihkan diri di kamar mandi. Setelah merasa segar ia bergegas ke dapur, melihat ada nasi sisa segera ia membuat nasi goreng dengan telur ceplok sebagai sarapan mereka. Sambil mengunyah sarapannya, Jhony terlihat merenung.
Dia sudah memutuskan untuk tidak berhubungan dengan para sahabatnya agar mereka tidak terluka. mungkin kehadirannya akan membahayakan hidup mereka, jadi biarlah dia yang memilih mengalah. Biarlah ia menerima ketetapan Tuhan yang telah di ditakdirkan, walaupun itu pahit namun tidak mungkin dapat menolaknya. Bulir bulir air mata kesedihan mulai menetes membasahi pipinya namun segera ia suka dengan tangannya. Ia harus kuat, ia harus bisa bertahan sampai titik darah penghabisan. Ia merasa akan selalu ada harapan selama dirinya masih hidup.
"Wah Jhon, kamu sudah bangun rupanya," sapa Indra dengan senyum manisnya.
"Iya, ini aku sudah buat sarapan, semoga kamu suka. Maaf ya aku makan lebih dulu karena sudah lapar," ucap Jhony.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, terima kasih aku pasti suka kok. Aku mandi dulu baru sarapan," balas Indra.
Selesai sarapan Jhony segera bersiap-siap memakai pakaian yang rapi, hari ini ia akan mulai bekerja lagi di cafe milik Indra.
"Wah sudah rapi, jika kamu masih lelah tidak harus mulai kerja hari ini, besok-besok juga tidak apa-apa kok," ucap Indra.
"Tidak, aku memerlukan uang untuk bisa terus hidup, aku juga harus mengirimi ibu ku di kampung. Aku juga akan merasa bosan jika di rumah saja," balas Jhony.
Indra segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompetnya. Ia segera mengeluarkan beberapa lembar uang serta kartu atm.
"Ini untuk mu, kamu bisa gunakan untuk keperluan mu. Di dalam kartu atm ini ada banyak uang, kamu bisa mengirimi ibu mu di kampung," kata Indra sembari menyodorkan kepada Jhony.
Jhony tampak ragu untuk menerimanya namun ia memang sangat membutuhkan uang itu untuk saat ini. Akhirnya ia tidak dapat menolak bantuan Indra.
"Terima kasih," ucap Jhony.
"Jhon, sebelum ke cafe kita ke mall dulu ya, sepertinya kamu butuh baju-baju baru. Baju mu sudah banyak yang pudar warnanya, ini masih jam 10 tidak perlu buru-buru bekerja" ajak Indra.
"Ehm, tapi aku harus profesional agar karyawan lain tidak iri padaku. Aku tidak mau mereka tahu hubungan kita," jawab Jhony berusaha mencari alasan agar tidak jadi pergi.
"Sudahlah kan hanya hari ini saja, santai saja," balas Indra.
Akhirnya mereka pun pergi ke mall. Saat mereka sampai mall itu baru saja buka sehingga mereka lebih leluasa untuk berbelanja. Indra membelikan Jhony beberapa potong baju dan celana panjang, jam tangan, topi, serta beberapa pakaian dalam. Lelah berjalan mereka memutuskan untuk makan di kfc.
"Loh benar kamu ternyata, Jhony," sapa seorang pria menghampiri mereka.
"Eh Januar," Jhony tampak salah tingkah.
"Wah teman Jhony ya, perkenalkan aku Indra," Indra mengenalkan diri dan tersenyum ke arah Januar.
__ADS_1
"Eh maaf Januar, kita sedang buru-buru," ucap Jhony segera menarik Indra menjauhi Januar.
Januar terpana, ia tidak menyangka Jhony akan berbuat begitu. Sudah lama mereka tidak bertemu, harusnya ia senang bisa bertemu walaupun tidak sengaja dan bukan malah menghindar.