Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 38 Pengakuan Nyonya Danuarta


__ADS_3

"Papa mau kemana lagi, baru saja datang sudah mau pergi lagi?" tanya istrinya dengan mata sembab.


"Aku harus keluar kota selama dua hari, ada meeting untuk proyek besar." jawab pak Danu sambil memasukkan beberapa potong baju serta perlengkapan lainnya ke dalam koper kecil.


"Kenapa mendadak sekali, biasanya memberi tahu dulu," kata istrinya.


"Ini juga infonya dadakan, sudahlah jangan terlalu banyak tanya. Mama tadi aku tanya kenapa menangis juga tidak menjawab, aku merasa sudah tidak di hargai." jawab Pak Danu sedikit ketus.


Istrinya menghela napas, namun diam saja tak berucap satu patah kata pun.


"Baiklah jika kamu tidak ingin bercerita, aku pergi dulu." ucapnya lalu meninggalkan istrinya.


"Hati-hati," pesan istrinya.


Dia masih menangis mengingat perkataan putranya. Ia merasa putranya pasti akan membencinya setelah mengetahui bahwa ialah yang telah membayar orang agar menabrak Clara. Ia memutuskan meminta maaf dan mengakui semua kesalahannya kepada Juan, ia tak ingin hubungan dengan putranya memburuk.


"Juan..." panggilnya seraya masuk ke kamar putranya.


"Untuk apa Mama kesini? Apa yang ingin Mama katakan?" tanyanya tanpa memalingkan wajahnya.


"Maafkan Mama, Nak. Mama memang salah, tapi Mama terpaksa melakukannya," ucapnya sembari duduk di samping Juan.


Juan menatap mamanya penuh arti.


"Apa Papa yang menyuruh Mama melakukannya?" tanya Juan.


Mamanya menggeleng pelan, kemudian menundukkan wajahnya tak berani menatap putranya.


"Lalu apa, Ma? Apa alasan Mama ingin mencelakai Clara?" tanyanya sedikit berteriak.


"Aku tidak ingin kasih sayangmu terbagi, sejak bersamanya kamu sudah tidak memperdulikan Mama lagi. Kamu semakin jauh, padahal dia hanya kekasihmu." jelasnya mengeluarkan unek-uneknya.


"Aku adalah orang yang melahirkanmu, Juan. Aku yang membesarkanmu, aku yang memberimu kasih sayang. Walau kita sering tidak bersama tapi aku selalu menyayangimu. Belum apa-apa kamu sudah membelikannya apartemen, semua waktumu selain kerja ya hanya bersamanya." ucapnya dengan berlinang air mata.


"Jadi karena itu Mama ingin membunuh Clara?" tanyanya sinis.


"Aku tidak menyuruh mereka membunuhnya, aku hanya menyuruh mereka memberi sedikit pelajaran. Agar dia menjauh darimu, aku hanya sedikit menakutinya." jelasnya.


"Itu bukan sedikit Ma, Andre terkapar hampir seminggu di rumah sakit. Untung saja Andre pria kuat, bagaimana kalau sampai Clara dan Cindy yang menjadi korban? Apa Mama tidak berpikir, hah?" tanya Juan berteriak.


Mamanya hanya diam dan menangis.


"Jika Mama berkata karena Clara kita semakin jauh, Mama salah. Dari dulu kita sudah jauh, sejak Mama mengikuti keinginan Papa dengan sibuk di luar bersama orang-orang kaya itu. Mama meninggalkan aku sendiri, hanya pekerja yang menemaniku di rumah. Sementara Papa dan Mama sibuk di luar, tidak ada yang ingat padaku!" tegasnya.


Keduanya saling melempar pandang, ada rasa sakit di hati keduanya.

__ADS_1


"Maafkan Mama, Nak. Hiks... hiks..." ucapnya merasa bersalah.


"Sudahlah, Ma. Aku mohon jangan mengganggu Clara lagi, dia adalah hidupku. Jika Mama melukainya, berarti sama hal nya melukaiku. Dia yang membuat hidup ku terasa berarti, karena sebelumnya aku hidup tanpa tujuan. Jadi biarkan kami bahagia" kata Juan sungguh-sungguh.


"Pergilah, Ma. Aku sangat lelah, aku ingin istirahat." ucapnya, lalu mulai berbaring di tempat tidur.


Bu Danu hanya bisa memandangi putranya yang memunggunginya, ia merasa bersalah telah membuat anaknya terluka. Ia mengira perbuatannya takkan pernah ketahuan karena sudah membayar orang yang profesional, namun ternyata dugaannya salah. Ia keluar dengan rasa penyesalan yang mendalam.


***


Keesokan hari, pukul 8.30.


"Selamat pagi," sapa Jhony kepada salah seorang karyawan kafe.


"Pagi... eh Jhony, rajin sekali sepagi ini sudah datang," jawab temannya ramah.


"Iya, ini hari pertama kerja, jadi harus semangat." katanya sambil tersenyum.


"Pagi Irwan, Jhony," Sapa Indra yang baru datang.


"Pagi, Pak," jawab Irwan.


Jhony hanya tersenyum, kemudian melanjutkan membantu Irwan menata kafe yang baru saja buka. Satu persatu karyawan mulai berdatangan. Jhony merasa senang karena karyawan yang lain sangat ramah, mereka mengajarinya dengan sabar. Profesi kasir di butuhkan ketelitian, jadi Jhony berusaha benar-benar fokus. Indra merasa cukup puas dengan pekerjaan Jhony, terlihat jika ia benar-benar niat bekerja.


***


Terlihat Juan masuk ke ruangan Andre.


"Juan, memang dasar tidak punya sopan santun ya, masuk keruangan orang sembarangan," kata Andre bercanda.


Juan tak menjawab, ia langsung merebahkan diri di sofa. Wajahnya terlihat lesu sekali, sepertinya ia kurang tidur. Wajahnya sedikit pucat, dengan raut wajah sedih yang sangat kentara.


"Kenapa murung begitu sih? Muka sampai kusut seperti setrikaan saja," kata Andre menggoda sahabatnya.


"Aku lagi sedih, Dre," jawabnya singkat.


"Sudah tahu lagi sedih, tapi kenapa?" tanya Andre serius.


"Kamu tahu tidak siapa yang membuatmu kecelakaan kemarin?" tanya Juan.


"Bukankah orangnya sudah kamu tangkap. Kita tidak ada yang mengenalnya bukan," ucap Andre.


"Iya, tapi dia cuma orang bayaran. Ada yang menyuruhnya mencelakai Clara." jelasnya, membuat mata Andre seketika membulat.


"Yang benar?" tanyanya tak percaya.

__ADS_1


Juan hanya mengangguk.


"Terus, apa sudah berhasil menyeret pelakunya ke polisi?" tanya Andre lagi.


Juan menggeleng, lalu menghela napas dalam.


"Aku tidak sampai hati membawanya ke kantor polisi," jelas Juan.


"Tapi Juan, itu tindakan kriminal. Bisa saja Clara terluka bahkan meninggal jika aku tidak menyelamatkannya tepat waktu," kata Andre.


"Bagaimana aku bisa memenjarakan orang yang telah melahirkan dan membesarkanku, Dre," kata Juan, matanya terlihat ber-air.


"Jadi Mamamu dalangnya?" tanya Andre, merasa sangat tidak percaya.


Juan hanya mengangguk, terlihat ia sedang menahan air matanya agar tidak tumpah.


"Sabar, ya Juan." kata Andre lalu memeluk sahabatnya.


Tiba-tiba pintu di ketuk lalu di buka.


"Pak An..." Clara tidak meneruskan ucapannya.


Terlihat ia memandang kedua pria di depannya dengan bingung. Ia melihat kekasihnya seperti sedang menangis.


"Ada apa, Clara," tanya Andre.


"Tidak, Pak. Hanya mau memberikan file yang harus ditanda tangani," ucapnya sembari menaruh file di meja kerja Andre.


"Juan kenapa kamu ada disini? Kenapa kamu terlihat bersedih, apa ada masalah?" tanya Clara, ia mendekati Juan.


Andre melirik kearah Juan, tatapan mereka bertemu seolah ingin mengatakan pendapat yang sama.


"Tidak apa-apa Sayang, hanya sedikit tidak enak badan," katanya berbohong.


"Benarkah?" tanya Clara, lalu memegang kening Juan.


"Memang sedikit hangat, sebaiknya kamu jangan terlalu bekerja keras. Kamu butuh istirahat, makan juga jangan sampai telat," pesan Clara, membuat Juan tersenyum.


Andre merasa iri melihat mereka, ingin rasanya ia mempunyai sosok yang perhatian kepadanya seperti itu.


"Dre, bolehkah Clara pulang lebih cepat hari ini?" tanya Juan memelas.


"Ya, aku tahu kamu membutuhkannya. Pergilah, kamu harus banyak istirahat. Jangan terlalu banyak berpikir, dengarkan nasehat Clara tadi." jawab Andre.


"Terima kasih, Dre. Iya aku pasti dengarkan. Ayo, Sayang," ajaknya sembari menggandeng tangan Clara.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak. Saya pamit dulu," kata Clara dengan membungkukkan badan.


Andre hanya tersenyum, lalu mengangguk.


__ADS_2