Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 76 Meminta Waktu


__ADS_3

"Bapak serius menyuruh ku menikah dengannya?" tanya Cindy tak percaya.


"Sebenarnya niatnya baik yaitu ingin segera menikah dengan mu, hanya caranya saja sangat salah. Aku lihat kemarin ketika dia datang bersama keluarganya, ia terlihat sangat menyesal dengan perbuatannya. Jika kamu memiliki calon yang lebih baik darinya dan bisa menerima mu apa adanya Bapak akan sangat senang, namun jika tidak lebih baik kalian resmikan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius agar tidak terjadi hal-hal yang di luar batas lagi," ucap Pak Jarwo.


Cindy menyimak ucapan beliau dengan seksama. ia berpikir apakah masih ada pria yang akan menerimanya apa adanya. Memikirkan Andre rasanya semakin tidak bisa ia gapai, ia hanya seorang gadis miskin dan sudah tidak suci lagi tidak mungkin rasanya bersanding dengan Andre yang lebih segala-galanya darinya. Apa memang sebaiknya ia menikah dengan Bima, mencoba menerima takdir Allah dengan lapang dada.


"Aku akan memikirkannya dulu, Pak. Berikan waktu sebulan sebelum aku mengambil keputusan," ucap Cindy pada akhirnya.


"Tidak masalah, mereka pasti bisa memaklumi. Hubungi mereka, suruh kesini nanti malam agar mendengar sendiri keinginan mu," balas Pak Jarwo.


"Baik, Pak. Jika kalian lelah istirahatlah di dalam kamar ya, aku akan menghubungi Clara dulu," ucap Cindy.


"Iya, Nak. Nanti kita akan istirahat setelah masalah ini selesai di bicarakan, Kami tidak bisa lama-lama besok harus pulang karena adik-adik mu Bapak titipkan di rumah paman mu," balas Pak Jarwo.


"Iya, Pak. Cindy mengerti," jawabnya.


Cindy segera mengirim sms kepada Clara.


[Clara, tolong hubungi keluarga Bima agar bisa kemari selepas magrib. Ibu dan bapak sudah datang dari tadi.]


Tring... tring...


[Ok, Kak. Siap.]


Cindy langsung mendapat balasan sms dari Clara, tak lama kemudian.


***


Setelah magrib, keluarga Bima segera menuju tempat tinggal Cindy. Mereka telah di beri tahu Clara jika orang tua Cindy datang ke kota untuk membicarakan masalah mereka dengan lebih serius. Clara segera membukakan pintu saat mereka tiba.


"Terima kasih Bapak sekeluarga sudah mau menerima undangan kami, silahkan duduk dulu," sambut Pak Jarwo.


Clara dan Cindy segera menyuguhkan kue dan minuman untuk tamunya. Bima sudah tampak lebih baik lukanya, ia sempat melirik Cindy untuk mencari tahu keputusannya dari sorot matanya, namun ia tidak dapat memprediksinya. Setelah selesai Cindy dan juga Clara ikut bergabung bersama mereka.

__ADS_1


"Saya langsung ke permasalahannya saja ya, Pak. Bagaimana keputusan Bapak dan Nak Cindy tentang pembicaraan kita tempo hari?" tanya Ayah Bima.


"Kalau saya sih ikut apa kata Cindy, karena dia yang akan menjalani. Hanya saja jika saya pribadi lebih menginginkan mereka bersatu, saya lihat Bima benar-benar menyesal dengan tindakannya jadi saya ingin memberikannya kesempatan untuk bertanggung jawab. Namun jika suatu saat dia berani menyakiti putri saya lagi, saya pastikan dia akan di penjara," ucap Pak Jarwo.


"Terima kasih atas dukungannya, saya berjanji apabila putra saya menyakiti hati Cindy lagi saya lah yang akan memasukkannya ke penjara sendiri, Pak," balas ayah Bima.


"Syukurlah kalau begitu, semoga ke depannya Bima tidak gegabah lagi dalam bertindak," ucap Pak Jarwo.


"Amin, semoga saja seperti itu. untuk keputusan Nak Cindy sendiri bagaimana ya?" tanya Ayah Bima beralih memandang Cindy.


"Maaf, saya belum bisa menjawab sekarang. Saya butuh waktu untuk berpikir dan memantapkan hati untuk memutuskan semuanya. Beri saya waktu selama satu bulan dari sekarang, setelahnya saya akan memberi kabar," jawab Cindy.


Cindy sama sekali tidak menoleh ke arah Bima, matanya hanya berinteraksi dengan orang tuanya. Dia masih merasa sangat kecewa dengan pria itu walaupun dia telah memaafkannya.


"Oh begitu, baiklah kita paham dengan keinginan Nak Cindy. ini memang keputusan yang berat jadi harus di pertimbangan dengan matang, kita akan menunggu kabar dari Nak Cindy. Selama masa itu saya janji Bima tidak akan pernah mengganggu," ucap ayah Bima.


"Terima kasih, silahkan di makan kue nya," ucap Cindy.


"Jika Ibu dan Bapak lelah, tidur saja di kamar biar kita tidur di sofa saja," ucap Clara.


"Iya benar itu. Oh iya besok Bapak pulang naik apa?" tanya Cindy.


"Iya, Bapak belum ngantuk kok. kita naik bus saja biar lebih gampang," jawab pak Jarwo.


"Apa minta antar sopirnya Juan saja, Pak?" tanya Clara.


"Jangan, Nak. kita sudah terlalu sering merepotkannya, biarlah kita naik bus saja," cegah pak Jarwo.


Tring, tring... tring, tring...


ponsel Clara berdering ketika mereka tengah asyik mengobrol.


"Wa alaikum salam, ada apa Juan?" tanya Clara.

__ADS_1


"Kamu sedang apa, kok dari tadi tidak telepon atau sms aku?" tanya Juan.


"Iya maaf, dari tadi aku sibuk. Aku lupa memberi tahu jika orang tua ku berkunjung kesini untuk membicarakan masalah kak Cindy. Keluarga Bima baru saja pulang dari sini," ucap Clara.


"Oh pantas saja, apa orang tua mu lama di sini, Sayang?" tanyanya.


"Tidak, besok mereka harus pulang karena adik-adik ku di titipkan kepada paman di desa," jelas Clara.


"Oh kalau begitu biar di antar sopir saja, biar besok pagi bareng aku kesana sekalian bertemu orang tua mu," ucap Juan.


"Tadi aku juga menyarankan begitu, tapi bapak menolak. Katanya tidak ingin merepotkan kamu, Sayang," balas Clara.


"Tidak repot kok, kan di antar sopir. Mereka adalah calon mertua ku jadi sudah sepantasnya aku peduli terhadap mereka. Tolong katakan kepada mereka untuk tidak menolak, pokoknya besok pagi aku akan kesana ya," ucap Juan.


"Iya baiklah, akan aku pastikan mereka tidak akan menolak," jawab Clara.


"Baguslah. Oh ya bagaimana keputusan Cindy, apa dia memaafkan Bima?" tanyanya.


"Kakak masih meminta waktu satu bulan untuk berpikir matang-matang tentang keputusannya," jawab Clara.


"Itu pasti sulit untuknya. Andre sangat marah mendengar hal ini, dia bahkan ingin pulang ke Indonesia dan membuat perhitungan dengan Bima," ucap Juan.


"Apa? Kenapa kamu ceritakan padanya tentang masalah ini, Sayang?" tanya Clara.


"Maaf aku terpaksa, tapi aku sudah mencegahnya untuk datang. Dia bisa mengerti jika ini sudah bukan urusannya lagi, karena Cindy sendiri yang menginginkan dia pergi dari hidupnya. Hanya saja dia masih belum bisa melupakan Cindy, ia sangat marah dan mengutuk perbuatan Bima" jawab Juan.


"Mereka memang saling mencintai, tapi sayang takdir tidak memihak. Semoga mereka bahagia walaupun tidak bersama. Harusnya kamu tidak cerita agar dia tidak sedih dan mengingat kembali kenangannya bersama kakak," ucap Clara.


"Sudah aku bilang, aku terpaksa," ucapnya.


"Terpaksa kenapa?" tanyanya.


"Karena ingin mengembalikan posisi Cindy di kantor. Cindy bisa kembali kerja di tempat Andre mulai besok," ucap Juan.

__ADS_1


__ADS_2