
"Eh Kak Cindy darimana? Aku tadi sudah tanya penjaga villa, sepertinya bukan kak Bima yang memberi bunga itu karena katanya pria yang menyuruhnya memberikan kepada Kakak itu kakinya agak pincang dan wajahnya ada bekas luka," tanya Clara sambil menjelaskan.
Cindy hanya diam tidak merespon, ia berusaha menutupi kesedihannya dengan tetap menunduk dan tidak melihat Clara. Clara curiga Cindy hanya diam saja, ia mendekatinya lalu menatap wajahnya yang tertinduk.
"Kakak menangis? Ada apa, Kak?" tanya Clara kuatir.
Cindy tak dapat menahan kesedihannya sendiri, ia memeluk Clara dan menangis sejadi-jadinya. Clara bingung melihat kakaknya seperti itu, ia mengelus punggung kakaknya agar lebih tenang. Ia biarkan Cindy menumpahkan kesedihannya, Clara menunggu Cindy agar tenang dulu baru nanti ia akan bertanya. Setelah Cindy dapat mengontrol emosinya barulah Clara bertanya kembali.
"Ceritakan kepadaku Kak, apa yang membuatmu menangis?" tanya Clara.
Cindy pun bercerita pertemuannya dengan Bima tadi, apa kata Bima semua ia ceritakan tanpa di lebihkan atau di kurangi. Clara terlihat menyimak ceritanya, ia mulai bisa menilai bahwa Bima tidak bermaksud meninggalkan Cindy.
Clara menghela napas setelah Cindy selesai bercerita. Menurutnya wajar jika Bima merasa tidak percaya diri lalu menghindar, namun ia tak membenarkan caranya tersebut karena pasti sangat melukai kakaknya.
"Kakak masuk dulu, tolong hapus air matanya ya. Tadi Pak Andre nyari Kakak, aku pergi dulu sebentar," kata Clara kemudian berlalu.
Cindy menatap kepergian Clara dengan heran, ia belum memberikan respon tentang ceritanya malah pergi. Ia pun memutuskan masuk menemui Andre setelah terlebih dahulu menghapus air matanya.
"Sayang, kamu dari mana?" tanya Andre ketika melihat Cindy baru datang.
"Cuma jalan-jalan di sekitar villa saja," jawabnya sembari tersenyum.
"Kenapa mata kamu kelihatan sembab? Apa habis nangis?" tanya Andre lagi.
"Oh tadi kelilipan terus di kucek jadinya begini," jawab Cindy.
"Oh, ayo gabung sama Juan. Dia sudah menyiapkan semuanya untuk bakar-bakar," ajak Andre sembari menggandeng Cindy.
Cindy rasanya ingin menangis namun ia tahan. Ia takkan pernah tega meninggalkan pria sebaik Andre, lalu bagaimana dengan Bima? Pria itu juga sangat membutuhkan dirinya, apalagi keadaannya sudah tak segagah dulu. Sekarang ia rapuh, meninggalkannya akan membuat ketakutannya menjadi nyata.
__ADS_1
'Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku berada dalam pilihan yang sulit, tolong bantu aku, Tuhan. Aku tak ingin menyakiti siapapun, haruskah aku pergi agar adil untuk semua?' batin Cindy sambil menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Clara mana kok tidak sama kalian?" tanya Juan ketika melihat Andre menggandeng Cindy.
"Dia keluar sebentar katanya, tidak tahu kemana dia tidak bilang," jawab Cindy.
"Aneh, kemana dia ya?" tanya Juan heran.
"Mungkin hanya jalan-jalan di sekitar sini, tadi Cindy juga dari jalan-jalan katanya," jawab Andre.
"Oh, aku cari Clara dulu ya. Tolong kalian lanjutkan dulu," ucap Juan sembari menyerahkan kipas kepada Andre.
Juan mulai mencari Clara, namun baru saja keluar gerbang villa Clara nampak melambaikan tangan padanya.
"Sayang, kamu mau pergi kemana?" tanya Clara.
"Oh maaf, tadi tidak sempat." balas Clara merasa bersalah.
"Aku bercanda, Sayang. Lain kali kemana-mana pamit dulu ya, supaya aku tidak kuatir," kata Juan mengacak-acak rambut Clara.
"Ayo duduk di sana dulu, aku ingin cerita," ajak Clara.
Juan menurut saja tangannya di gandeng Clara ke luar gerbang, mereka duduk di taman samping pintu gerbang.
"Kok di sini, kenapa tidak di taman dalam villa saja sih, Sayang?" tanya Juan heran.
"Di sini saja, aku ingin berbicara berdua saja," jawab Clara.
"Baiklah, Cintaku," kata Juan pasrah.
__ADS_1
"Juan ini masalah serius,"
"Ada apa? Jangan menakut-nakuti," sahut Juan.
"Bima kembali dalam kehidupan kak Cindy," jelas Clara.
"Apa? Berani sekali dia, setelah sekian lama menghilang sekarang justru kembali di saat Cindy sudah bahagia dengan Andre. Pria b4jingan, beraninya mempermainkan perasaan wanita," kata Juan kesal, tangannya mengepal.
"Tenang dulu Juan, tadinya aku juga sangat marah. Tapi setelah mendengar cerita kak Cindy dan penjelasan kak Bima langsung, aku merasa kasihan. Ternyata semua tidak seperti yang kita bayangkan," balas Clara.
"Jadi kamu membela dia? Andre itu pria yang baik, dia baru saja bangkit dari keterpurukannya, dia sangat bahagia dengan Cindy." ucap Juan tidak senang.
Clara menghela napas dalam, ia membenarkan ucapan kekasihnya namun hatinya juga tidak bisa mengabaikan perasaan Bima.
"Kak Bima tidak berniat meninggalkan Kak Cindy. Sewaktu perjalanan pulang kembali ke Surabaya ia mengalami kecelakaan parah, kakinya pincang, tangannya patah, wajahnya juga penuh luka. Dia koma selama dua bulan. Ia tak bisa menerima kenyataan, ia takut kakak sedih melihat kondisinya. Namun ketika sadar bahwa tak seharusnya ia tidak memberi kabar kepada kakak, saat itu sudah terlambat. Kakak telah menerima Pak Andre dalam hidupnya," cerita Clara.
"Mendengar ceritamu aku juga iba dengan kondisi Bima, tapi itu salahnya sendiri tak seharusnya ia menghilang sekian lama. Seharusnya ia juga mengerti bagaimana perasaan Cindy. Seharusnya dia tidak perlu kembali jika sudah tahu Cindy telah bersama pria lain. Jika begini Cindy akan berada di posisi yang serba sulit," balas Juan.
Mereka berdua diam, terhanyut dengan pikiran masing-masing.
"Jangan sampai Andre tahu dulu, biarlah Cindy cerita sendiri. Kita hanya bisa menasehati, selebihnya biar mereka yang memutuskan, Sayang. Semoga mereka bisa mengambil keputusan yang terbaik," kata Juan bijaksana, digenggamnya tangan Clara mesra.
"Iya kamu benar, Sayang," ucap Clara setuju.
"Ya sudah, ayo kita kembali. Mereka pasti mencari kita," ajak Clara.
Mereka pun kembali bergabung dengan Andre dan Cindy. Acara bakar-bakar yang seharusnya meriah menjadi sedikit sepi, karena kejadian tadi. Andre sebenarnya curiga mengapa mereka semua tiba-tiba tidak banyak bicara, padahal tadi masih baik-baik saja. Namun ia berusaha bersikap biasa saja dan tidak bertanya.
Sehabis magrib mereka memutuskan untuk kembali ke Surabaya. Juan yang menyetir di temani Clara di depan. Cindy berpura-pura tidur agar tidak ada yang mengajaknya mengobrol, dia bersandar di bahu kokoh Andre. Andre terlihat mengusap lembut rambut kekasihnya itu dan menyelimuti dengan jaketnya. Clara dan Juan pun memilih diam selama perjalanan pulang. Cindy bisa merasakan cinta Andre begitu besar padanya, begitupun dirinya yang juga mencintai pria itu. Namun rasa bersalah dan kasihan pada Bima juga tidak dapat ia remehkan, apalagi di dalam hatinya yang terdalam masih menyimpan secercah cinta kepada pria itu.
__ADS_1