
Keesokan hari.
Andre bagun pagi seperti biasa, ia menyalakan ponselnya. Kebiasaannya memang ketika hendak tidur ia mematikan poselnya, agar tidak mengganggu waktu istirahatnya.
Tring... tring... tring....
ponselnya berdering tiada henti, terdapat beberapa panggilan tak terjawab dan sms. Ternyata dari satu nomor saja, nomor Jessy.
"Mau apa lagi sih wanita gila ini," katanya sambil membuka sms itu.
[Mas Andre sudah mengingkari janji, kenapa masih bersama wanita itu? Aku tidak terima! Walau dia sudah tidak di kantormu, tapi kalian masih bersama.]
[Jangan coba menipuku, aku tidak akan tinggal diam. Akan aku hancurkan kalian berdua! Tunggu saja.]
[Terima aku dalam hidup mu Mas Andre, maka akan aku biarkan wanita itu tetap hidup.]
3 sms dari Jessy membuat Andre pusing. Darimana ia tahu ia pergi bersama Cindy? Ia benar-benar sudah tak tahan lagi. Ia harus secepatnya menyelesaikan masalah Jessy.
Ia bergegas untuk bersiap-siap ke kantor. Ia akan membuat rencana dengan Clara. Andre menghubungi Clara untuk memberi tahu tentang rencananya. ia berniat melakukan rencananya saat makan siang nanti.
"Kamu mau makan apa, Clara?" tanya Andre saat makan siang.
"Saya sedang ngidam soto daging, Pak," jawab Clara.
"Wah mantap sepertinya dingin-dingin seperti ini makan yang berkuah. Aku juga pesan itu deh," kata Andre menelan saliva.
"Oh ya Clara tolong nanti kamu sampaikan kepada Cindy ya, besok dia bisa kerja kembali di kantor ini," kata Andre.
"Benarkah? Kak Cindy pasti gembira sekali mendengar ini," jawab Clara merasa senang.
"Iya, aku sudah malas menuruti kemauan Jessy. Semakin lama dia ngelunjak, semakin tidak tahu diri. Sebentar lagi aku akan ke kantor polisi untuk melaporkannya. Banyak bukti yang aku punya, ada sms, riwayat panggilan dan rekaman CCTV. Aku yakin polisi akan segera menangkapnya," jelas Andre kesal.
"Wah bagus itu Pak, wanita sepertinya sangat membahayakan. Dia pantas berada di balik jeruji besi karena sudah 2x berusaha mencelakai Kak Cindy," kata Clara geram.
"Pak, saya ke toilet dulu ya. Titip makanan saya kalau sudah datang," kata Clara lalu bergegas ke toilet wanita.
__ADS_1
Andre hanya mengangguk seraya tersenyum. Clara cukup lama di toilet, sekitar hampir 15 menit dia baru kembali. Mereka pun melanjutkan makan siang dengan lahap sekali.
Pukul 15.00 Clara di panggil ke ruangan Andre. Ketika tiba di sana terlihat Riska sudah duduk di depan meja Andre.
"Clara silahkan duduk," perintah Andre.
"Riska, kamu tahu kenapa aku memanggilmu ke ruangan ku?" tanya Andre.
"Tidak, Pak. Memangnya ada apa ya?" tanya Riska bingung.
"Riska, kamu merupakan karyawan senior di sini. Kamu staff terlama di sini yang hingga kini masih di pertahankan oleh kantor. Apakah menurutmu gaji yang selama ini kamu dapat itu masing kurang? Katakan saja apa yang ada dalam pikiranmu," ucap Andre.
"Ti... tidak, Pak. Bapak sudah memberikan apa yang seharusnya saya dapat, saya juga senang bekerja di sini." jawab Riska.
"Apa kamu yakin? Apa benar yang kamu katakan? Kalau memang kurang kamu terus terang saja, bagaimana?" tanya Andre terus memaksa.
"Benar Pak, saya serius. Gaji saya sudah cukup, Pak. Bahkan saya bisa menyicil kendaraan, rumah serta membantu orang tua saya selama di sini." jawab Riska jujur.
Clara hanya menyimak pembicaraan kedua orang itu.
"Itu artinya aku dan perusahaan ini sangat berjasa bagi hidup mu, benar bukan?" tanya Andre tegas.
"Lalu kenapa kamu tega mengkhianati ku, padahal aku sudah berjasa untuk mu?" tanya Andre tak dapat menahan emosi lagi.
"Maksud Bapak apa?" tanyanya bingung.
Andre memutar rekaman CCTV, ia hadapkan monitor ke arah Riska dan Clara. Terlihat ia sedang menelepon di dekat toilet, namun Ia tidak mengetahui jika Clara ada di mushalla.
"Jelaskan padaku," perintah Andre.
"Itu tadi saya sedang menelepon mama saya, dia minta di antar ke minimarket sepulang kantor," jelasnya.
"Ternyata kamu berbakat sekali berbohong ya, entah sudah berapa kali kamu melakukannya!" Kata Andre mulai marah.
"Benar, Pak. Saya tidak berbohong," ucap Riska ketakutan.
__ADS_1
Brakkk... Andre menggebrak meja, membuat Riska dan Clara terkejut. Apalagi Riska, wajahnya terlihat panik sekali.
"Clara silahkan putar rekamannya," perintah Andre.
"Pak Andre mengatakan akan segera melaporkanmu ke kantor polisi, Cindy juga mulai besok di suruh masuk kerja lagi. Kamu jangan sampai membawa-bawa namaku, selama ini aku sudah selalu membantumu. Sekarang aku sudah tidak mau membantu lagi, aku takut. Aku tidak mau sampai kehilangan pekerjaan. Sekarang kamu urus saja sendiri rencanamu."
Rekaman suara pun berhenti. Raut wajah Riska memerah, matanya mulai berair. Semakin lama tangisannya semakin keras. Andre dan Clara diam membisu, mereka menunggu penjelasan Riska.
"Maaf, Pak. Hiks... hiks..." hanya itu kata yang keluar dari mulut Riska.
"Keterlaluan kamu Riska, kamu itu seperti ular berbulu domba! Aku benar-benar tidak menyangka kamu mata-mata Jessy selama ini! 2x Cindy hampir meninggal karena kalian, wanita macam apa kalian ini, begitu mudahnya mempermainkan nyawa manusia!" teriak Andre memaki Riska.
"Tolong maafkan saya, Pak. Saya terpaksa mengikuti permintaannya," jawab Riska masih terisak.
"Tidak perlu mencari alasan, saya sudah muak denganmu. Lebih baik kamu segera pergi, detik ini juga kamu saya pecat dari perusahaan ini secara tidak hormat!" kata Andre, ketus.
"Pak saya minta maaf, saya tidak beralasan. Saya di ancam, terpaksa saya menurut. Mendengar Pak Andre mau lapor polisi saya takut, saya memilih untuk berhenti mengikutinya," jelas Riska memelas.
"Memang dia mengancam mu bagaimana, hah?" tanya Andre tak mau percaya begitu saja.
"Waktu itu..." kata Riska sambil melirik Clara, membuat Andre dan Clara heran.
"Cepat katakan!" hardik Andre.
"Iya, Pak. Waktu itu saya sedang bertengkar dengan salah satu OB. Tidak sengaja Jessy mendengar pertengkaran itu dan menjadikannya ancaman untuk saya agar mengikuti kemauannya." jelas Riska dengan wajah tertunduk.
"Hanya bertengkar dengan OB dibuat bahan ancaman? Tidak masuk akal. Apa kamu percaya ucapannya, Clara?" tanya Andre meminta pendapat Clara.
Clara menggeleng, ia juga merasa alasan Riska tidak masuk akal.
"Bukan karena saya bertengkar dengan OB, Pak. Waktu itu OB memeras saya, ia meminta uang tutup mulut. Dia sudah beberapa kali seperti itu jadi saya tidak mau memberi lagi. Jessy yang memberinya uang, tapi dia mengancam akan memberi tahu rahasia saya kepada Bapak jika saya tidak mau menurutinya. Saya takut, saya terpaksa menurutinya," jelas Riska.
"Rahasia apa yang tidak ingin aku ketahui, hingga kamu bersedia mengikuti ide gilanya itu?" tanya Andre, matanya melotot menatap Riska.
Riska menatap Andre dan Clara bergantian, ia terlihat tidak mau mengatakan. Namun ia takut sekali melihat tatapan Andre.
__ADS_1
"Saya dan OB yang mengerjai Clara waktu itu di toilet hingga dia pingsan, Pak." jelas Riska lirih.
Andre dan Clara menatap tak percaya, mereka merasa salah dengar. Namun kenyataannya itu memang yang Riska katakan. Mereka terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing. Ternyata Riska dan Jessy cocok sekali berkolaborasi, sama-sama tak berperasaan.