
Keesokan paginya Clara dan Cindy memulai aktivitas paginya dengan beribadah. Saat baru saja selesai shalat ponsel Clara berdering. Juan meneleponnya.
"Assalamualaikum, Cinta," sapa Juan membuat wajah Clara berseri.
"Waalaikum salam, Sayang," jawab Clara.
"Kamu sedang apa, Sayang?" tanyanya.
"Ni baru saja selesai shalat. Tumben pagi-pagi sudah menghubungi ku, Sayang," ucap Clara.
"Iya, ada sesuatu yang mau aku bicarakan. Sebenarnya sudah dari kemarin-kemarin tapi lupa karena kamu sedang sibuk mengurus acara lamaran Cindy," balas Juan.
"Baiklah, katakan saja," ucap Clara.
"Menurut mu apakah Bella gadis yang baik?" tanyanya.
"Kak Bella, setahu ku dia orangnya baik. Memang kenapa, Sayang?" tanya Clara heran.
"Begini, aku lihat Bagas itu seperti menyukainya. Jika memang Bella menurut mu gadis baik, kita bantu mereka untuk menjadi dekat. Sepertinya usia mereka sepantaran. Bagas itu walaupun tidak kaku seperti aku, tapi dia jarang sekali bisa dekat dengan wanita, jadi jika mengandalkan dirinya sendiri pasti lama," jawab Juan.
"Wah aku setuju sekali, dua-duanya orang yang baik jadi sangat cocok," ucap Clara senang.
"Lalu apa rencana mu, Sayang?" tanyanya.
"Nanti kamu ajak Bella untuk makan malam bersama, aku juga akan mengajak Bagas. Jika Cindy mau ikut juga tidak apa-apa, nanti kita beri kesempatan mereka untuk bicara dari hati kehati," jawab Juan.
"Baiklah, semoga mereka berjodoh. Amin," ucap Clara.
"Amin. Ya sudah dulu ya, Sayang. Assalamualaikum," balas Juan.
"Waalaikum salam," jawab Clara.
"Ada apa Clara, kok kamu gembira sekali?" tanya Cindy melihat adiknya senyum-senyum sendiri.
"Itu loh Kak, Bagas sepertinya menyukai Kak Bella. Jadi Juan rencananya ingin mendekatkan mereka berdua," jelas Clara.
"Alhamdulillah, ikut senang rasanya jika Kak Bella dapat orang baik seperti Bagas," ucap Cindy.
"Nanti malam kita akan mengajak mereka makan malam, Kakak ikut ya," ajak Clara.
__ADS_1
"Sepertinya aku di rumah saja, kalian saja yang pergi," tolak Cindy.
"Yah sayang sekali, kenapa tidak ikut juga sih, Kak?" tanya Clara sedikit kecewa.
"Hari Pernikahan ku tinggal 5 minggu lagi Clara, sebaiknya aku mengurangi pergi-pergi. Walau kita tidak percaya namun ada baiknya nasehat orang tua kita ikuti saja," jawab Cindy.
"Oh iya, ya sudah nanti aku bawakan makanan saja ya Kak," ucap Clara.
"Tidak perlu Clara, semoga usaha kalian berhasil ya. Senang rasanya jika melihat orang lain juga merasa gembira," balas Cindy.
Mereka pun melakukan rutinasnya dan bergegas ke kantor. Setelah bertemu Bella Clara segera mengutarakan maksudnya untuk mengundangnya makan malam. Tadinya Bella menolak karena tidak mau mengganggu makan malam Juan dan Clara, namun setelah mengatakan Juan tidak sendiri dan membawa temannya juga barulah Bella setuju.
Ketika akan pulang kantor Clara mengingatkan Bella tentang rencana mereka nanti malam.
"Kak jangan lupa nanti malam kita jemput, dandan yang cantik ya," ucapnya mengingatkan.
"Ok, Clara," jawab Bella.
***
Malam pun tiba, Clara mulai bersiap-siap untuk acara makan malam. Ia berdandan minimalis seperti biasa, namun aura kecantikannya tetap saja terpancar dalam kesederhanaan. Tidak lama Juan tiba bersama Bagas. Clara tersenyum ketika melihat Bagas.
"Memangnya sebelum-sebelumnya aku jelek ya?" tanya Bagas seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tampan juga sih, hanya saja tidak berseri-seri seperti sekarang," jawab Clara sambil tertawa.
"Aura orang sedang kasmaran itu memang berbeda, Sayang," sahut Juan.
"Sudah-sudah jangan terus menggoda ku, jadi makan malam atau tidak ini," ucap Bagas kesal karena semua menggodanya.
"Wah sudah tidak sabar rupanya," kelakar Juan.
"Huh kalian ini," dengusnya lalu melangkah pergi.
Juan dan Clara menyusul Bagas ke parkiran mobil. Biasanya dia tidak pernah ikut ke atas seperti ini, jadi ini merupakan kesempatan bagi Clara untuk menggodanya. Mobil segera melaju ke rumah Bella. Setelah berpamitan dengan ibunya Bella mereka berangkat menuju restoran.
"Wah suasanya romantis sekali restorannya, sepertinya ini memang di desain khusus untuk orang berpacaran ya Sayang," ucap Clara.
"Sepertinya begitu, kita juga baru sekarang kesini. Ini rekomendasi dari rekan bisnis ku, katanya selain suasana dan pemandangannya yang bagus, makanannya juga enak," balas Juan.
__ADS_1
"Tapi ini duduknya kok cuma berdua-berdua seperti itu, kita kan berempat, Mas," sahut Bagas.
"Iya juga, berarti kamu dengan Bella. Aku akan duduk bersama kekasih ku di sini," putus Juan sembari tersenyum penuh arti ke arah Bagas.
'Wah ini mereka memang sudah niat mengerjai aku dan Bella.' batin Bagas.
"Ya, baiklah," jawab Bagas.
"Ayo duduk di sini, Bel," ajak Bagas sambil menyodorkan kursi untuknya.
"Terima kasih, Mas" jawab Bella.
Mereka duduk berhadapan, saat Bella menunduk Bagas akan memandangnya. Namun saat Bella menatapnya Bagas akan berpura-pura melihat ke arah lain. Beginilah jika keduanya sama-sama pemalu dan tidak berpengalaman dalam cinta.
Hanya mereka dan Tuhan yang tahu betapa gugupnya mereka, hingga jantung mereka berpacu setara dengan orang yang sedang berlari tujuh kali keliling lapangan. Tiba-tiba ponsel Bagas berdering, sebuah notifikasi sms dari Juan.
[Ayo kamu pasti bisa! Belajar jujur dengan perasaan mu, jangan sampai di balap orang baru menyesal.]
Bagas memikirkan sms Juan, ia memang mulai menyukai Bella saat di rumah sakit, namun belum ada keberanian untuk mengutarakannya. Ia takut jika perasaannya tidak berbalas, ia pasti akan kecewa. Tapi ia sadar, bagaimana ia akan tahu bagaimana perasaan Bella padanya jika ia hanya diam saja.
"Bella, apa kamu sudah punya kekasih?" tanya Bagas pada akhirnya.
"Belum Mas, jika ada aku pasti tidak di sini sekarang," jawabnya.
"Kamu cantik, pintar, baik dan mandiri. Aku yakin banyak pria yang menyukai mu, kenapa masih sendiri?" tanya Bagas.
"Aku tidak percaya diri, Mas. Aku juga takut di kecewakan pria, makanya aku lebih memilih berkarier sampai sekarang," jawab Bella.
"Bella, menurut mu aku bagaimana?" tanya Bagas lagi.
"Tentu saja Mas orang baik dan juga, tampan," jawab Bella jujur.
"Benarkah?" tanyanya.
"Iya, benar," jawab Bella tersipu malu.
"Bella, jujur sebenarnya aku sudah mulai menyukai mu sejak kamu di rawat di rumah sakit. Tiap hari selalu di hantu oleh bayang-bayang mu. Aku bukan termasuk orang yang mudah berkata-kata, tapi aku sangat bertanggung jawab sebagai seorang pria," ucap Bagas mengutarakan perasaannya.
"Aku mengatakan hal ini bukan karena aku sempat melihat tubuh mu, namun perasaan itu muncul tiba-tiba tanpa aku sadari. Aku jatuh cinta padamu, maukah kamu menjadi kekasih ku, Bella?" tanya Bagas serius.
__ADS_1
Bella menatap dalam kedua bola mata Bagas. Pria yang baru saja ia kenal, namun selalu membantunya. Ia tidak menyangka pria ini telah jatuh cinta kepadanya.