Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 147 Kenyataan Pahit


__ADS_3

Keesokan harinya.


Cindy masih merasakan sakit di perutnya pasca operasi caesar, apalagi setelah pendarahan kemarin. Namun rasa sakit di hatinya jauh lebih ia rasakan, ia tidak tahu harus berbagi dengan siapa. Tubuhnya lemah tanpa tenaga, bahkan bayinya terpaksa di beri susu formula oleh ibu mertuanya. Ia berharap Clara dan Jhony segera datang menjenguknya lagi.


Ia sengaja tidak bertanya kepada suaminya, karena pasti pria itu mempunyai 1001 macam alasan untuk berkilah. Ia harus mengungkap semuanya, ia bertekad tidak akan memaafkan Bima jika sampai benar ketahuan selingkuh.


"Kakak, bagaimana kabarnya? Loh, kenapa wajah Kakak pucat sekali?" tanya Clara merasa kuatir.


"Iya Cin, kemarin kamu baik-baik saja kenapa sekarang jadi begini?" tanya Jhony.


Cindy tidak dapat lagi menahan rasa sakitnya, air matanya luruh begitu saja sampai membasahi bantal yang ia tiduri. Keduanya bingung melihat Cindy menangis. Untung ibu mertuanya sedang mengajak jalan-jalan cucunya di luar sehingga tidak melihat pemandangan itu.


"Kakak kenapa menangis?"


Clara menyeka air mata Cindy dan mengusap lembut bahunya. Mereka ikut merasakan kesedihannya walaupun tidak tahu apa yang membuatnya sesedih itu.


"Sepertinya Bima memang selingkuh, saat kemarin ia datang aku mencium bau parfum wanita. Di kerah bajunya juga ada noda lipstik, tolong bantu aku memergokinya. Aku tidak tahan hidup seperti ini," jawab Cindy setelah tenang.


Clara dan Jhony menghela napas dengan kasar, mereka sangat geram mengetahui kelakuan Bima yang di luar batas. Perjuangan mendapatkan gadis ini tidak mudah, teganya ia mengkhianatinya bahkan saat ia sedang berjuang bertaruh nyawa.


"Aku turut prihatin Kak, kita pasti membantu. Tapi apa yang akan Kakak lakukan jika dugaan itu ternyata terbukti?" tanya Clara.


"Aku akan meminta cerai, aku tidak bisa berbagi suami dengan wanita lain. Membayangkannya saja hati ku sangat sakit," jawab Cindy.


"Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja. Aku dan Clara akan mengawasi Bima, aku harap kamu kuat demi anak-anak mu," sahut Jhony.


"Aku tidak apa-apa, kalian pergi saja. Aku ingin tahu yang sesungguhnya, aku tidak ingin prasangka ini membunuh ku perlahan,"


Clara dan Jhony segera berlalu, mereka menuju ke kantor Bima. Kantor itu lumayan besar, mereka berpura-pura ingin bertemu Bima untuk mengawasi barangkali ada yang mencurigakan, tentu saja Clara masih dalam penyamaran dan memakai masker.


"Selamat siang, Bisa saya bertemu dengan Pak Bima dari divisi operasional?" tanya Jhony.


"Maaf, pak Bima sedang keluar dengan bu Jenny manager perusahaan ini. Mereka sedang makan siang bersama klien perusahaan," jawab resepsionis.


"Kalau boleh tahu mereka kemana ya?" tanya Jhony lagi.

__ADS_1


"Maaf Pak, saya tidak bisa memberi tahu. Jika ada urusan bisa langsung menghubungi nomor beliau saja,"


"Baiklah, terima kasih,"


Jhony dan Clara kecewa karena tidak berhasil menemukan Bima, penyelidikan mereka menemui jalan buntu.


"Eh bu Jenny itu nekad sekali ya, tiap hari pergi sama pak Bima. Sekarang mereka ke hotel Mar**t katanya bertemu klien, tapi sudah bisa di duga apa yang mereka lakukan. Bisa perang dunia kalau sampai pak Roby tahu,"


"Sudahlah Din, kita tidak perlu ikut campur urusan mereka. Jadi karyawan serba salah, berpihak ke pak Roby di ancam sama bu Jenny, tapi kalau kita diam saja kita ikut dosa,"


Dua orang gadis itu berbicara lirih, namun pendengaran Jhony menangkap pembicaraan mereka.


"Ayo Clara, cepat,"


Jhony menarik tangan Clara, gadis itu menurut saja walau tidak tahu akan di ajak kemana.


"Jhon, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Clara.


"Aku tahu mereka ada di mana, semoga saja yang aku dengar tadi memang benar," jawab Jhony.


"Bagaimana jika mereka tidak di sini, Jhon? Lagian mana mungkin mereka memberitahu orang lain tempat mereka berselingkuh sih?"


Mereka berdua merasa putus asa, mereka duduk di loby hotel untuk beristirahat sejenak sembari melihat orang-orang yang berlalu lalang. Hotel ini begitu besar, bagai mencari jarum di tumpukan jerami rasanya menyelidiki keberadaan mereka di sini.


Clara tiba-tiba berlari meninggalkan Jhony, gadis itu masuk ke dalam lift. Jhony yang ikut menyusulnya kehilangan jejak karena lift sudah tertutup rapat jauh sebelum ia sadar dan mengejar gadis itu.


"Jhon, aku sedang di lantai 3. Cepat kesini," clara menghubungi Jhony.


Jhony bergegas naik ke lantai 3, ia segera bertemu Clara yang ternyata telah menunggunya di samping lift.


"Dia benar-benar Bima, aku yakin mereka selingkuh. Mereka tampak mesra sekali di dalam lift tadi, padahal ada aku dan sepasang suami istri juga di dalam lift tadi," ucap Clara.


"Lalu kita harus bagaimana sekarang, Clara,"


Clara segera berbisik di telinga Jhony, ia memberitahukan tentang idenya.

__ADS_1


"Tapi bagaimana kalau tidak boleh masuk?" tanya Jhony.


"Kita cari cara lain, yang penting di coba dulu. Kamu pakailah masker juga, ini ambillah,"


Clara memberikan persediaan maskernya kepada Jhony, mereka segera melakukan rencananya.


Tok... tok... tok...


Beberapa kali Clara mengetuk namun tidak ada sahutan, ia mencoba untuk terakhir kali namun masih belum juga di buka. Ia menyerah, ia akan melangkah pergi tatkala terdengar suara pintu terbuka.


"Hei, kamu siapa main ketuk-ketuk pintu kamar orang?" ucap Jenny.


"Maaf Kak, aku dan suami tadi baru saja check out. Tapi ada yang lupa ketinggalan di kamar mandi, boleh saya ambil sebentar?" tanya Clara hati-hati.


"Ada-ada saja, ya sudah cepat sana ambil," jawab Jenny.


Clara melangkah perlahan, ia mencari letak kamar mandi dengan sudut matanya, ia tidak boleh salah melangkah jika tidak ingin ketahuan. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi dan berpura-pura mengambil sesuatu yang sebenarnya ia ambil dari dalam tasnya.


Batin Clara mengumpat, ia melihat Bima bertelanjang dada di atas kasur. Pria itu sempat meliriknya, namun selingkuhannya kemudian menjelaskan. Sesuai yang di rencanakan, agar bisa mengambil rekaman mereka Jhony akan mengetuk kamar dan pura-pura mencari istrinya.


***


Sementara itu di rumah sakit.


Cindy menunggu dengan perasaan gelisah. Ia berharap dugaannya salah, namun semua bukti mengarah ke arah sana. Chat mesra yang tak sengaja ia baca, struk pemesanan hotel, bau parfum wanita di kemeja Bima sampai noda lipstik adalah bukti kuat adanya perselingkuhan.


"Kenapa kamu jalan terus Nak, istirahat saja biar tidak capek," ucap ibu mertuanya.


"Aku tidak apa-apa Bu, kata dokter suruh berjalan agar luka jahitan ku cepat sembuh," balas Cindy.


Setelah 2,5 jam menunggu, Clara dan Jhony akhirnya tiba. Cindy meminta tolong mertuanya untuk membelikan makanan agar dirinya bisa mengobrol bebas dengan mereka.


"Bagaimana? Apa kalian bisa mendapatkan bukti itu? Apa dia benar-benar selingkuh?" tanya Cindy tidak sabar.


Mereka saling menatap, mereka diam tidak bisa menjelaskan. Biarlah Cindy melihatnya sendiri. Jujur memang lebih baik walaupun pahit. Clara memberikan hasil rekamannya.

__ADS_1


"Astaga, ini kan bu Jenny. Istri pemilik perusahaan tempat Mas Bima bekerja, tega sekali mereka berdua," ucap Cindy sambil terisak.


__ADS_2