
"Halo, Sayang. Sebentar lagi kamu pulang, jangan turun ke bawah ya. Aku jemput ke ruanganmu, sekalian bertemu Andre," kata Juan di telepon.
"Ya, baiklah," jawab Clara tak mau membantah.
Sebenarnya ia merasa tidak enak dengan karyawan yang lain, Juan dan Andre terlalu menganak emaskannya. Tapi mengingat tadinya Juan melarangnya bekerja, ia tidak jadi protes. Mungkin nanti dia akan berbicara dengan kekasihnya itu, jika keadaannya sudah mulai stabil.
"Wah, wah, cinta banget kayaknya sampai di jemput kesini. Padahal biasanya jarang ingat sama sahabatnya ini," goda Andre, melihat Juan di ruangannya.
"Dia baru saja bekerja, mana mungkin aku meninggalkan dia sendiri," kata Juan mencoba menyanggah.
"Sudahlah jangan berkelit. Aku mengenalmu dari kecil, hapal betul bagaimana perangaimu itu." kata Andre, membuat Juan tersipu malu.
"Dari dulu susah sekali jatuh cinta, giliran jatuh cinta bucinnya minta ampun," kata Andre, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Kurang aj*r, beraninya menggoda terus ya," kata Juan sambil melempar bantal sofa ke arah Andre. Yang ditimpuk cepat menghindar, sehingga tidak mengenainya.
"Sudah sana, nanti permaisurimu terlalu lama menunggu malah di antar pria lain," kata Andre, belum puas menggoda Juan.
"Berani mengusirku sekarang ya, awas kamu," kata Juan sambil nyengir, lalu berlalu dari sana.
"Ayo sayang, kita pulang," kata Juan saat melihat kekasihnya.
"Kak Bella, Clara pulang dulu ya Kak," pamit Clara pada Bella.
"Iya, hati-hati di jalan ya." jawab Bella dengan ramah.
***
"Bagaimana tadi kerjanya, Sayang?" tanya Juan saat perjalanan pulang.
"Awalnya susah sekali, aku hampir saja menyerah. Tapi Kak Bella sangat sabar mengajariku, jadi aku cepat paham." cerita Clara sangat antusias.
"Baguslah kalau kamu senang, semoga karyawan yang lain juga baik terhadapmu ya," jawab Juan senang.
"Apakah Andre bersikap baik padamu, Sayang?" tanya Juan lagi.
"Iya tentu saja, Pak Andre sangat baik sekali. Kalian sepertinya sangat dekat, beliau sangat mengenalmu," jawab Clara.
__ADS_1
Juan tersenyum, ia mengingat masa kecilnya dengan Andre. Pria itu sudah sejak kecil selalu mengalah kepadanya, selalu melindunginya seperti saudaranya sendiri. Walau tidak terlahir dari rahim yang sama, namun keduanya saling menyayangi. Seiring bertambahnya usia dan kesibukan, membuat mereka jarang menghabiskan waktu bersama. Namun mereka masih kerap bertelepon saling bertanya kabar.
"Dari kecil dia sudah begitu, dia menganggapku sebagai saudaranya sendiri. Dia bahkan selalu melindungiku, Clara. Tapi karena kita sekarang sama-sama sibuk, jadi jarang bertemu." cerita Juan kepada kekasihnya.
"Dulu kita sama-sama anak tunggal, sebelum adik perempuannya lahir saat dia berumur 14 tahun. Mungkin itu yang membuat kita menjadi dekat." imbuh Juan.
"Oh pantas saja," jawab Clara singkat.
"Oh ya sayang, besok aku akan keluar kota 2 hari. Nanti yang antar jemput kamu bekerja aku minta tolong Andre ya, tadi aku sudah bicara padanya." kata Juan saat hampir tiba di rumah Clara.
"Aku tidak enak Juan, aku naik angkot saja ya," jawab Clara memohon.
"Apa? Kalau kamu tidak mau, lebih baik aku belikan mobil saja," kata Juan memutuskan.
"Apa?" tanya Clara, kali ini dia yang terkejut.
"Juan jangan begitu, bukankah kamu mengatakan akan mengontrakkan aku dan kak Cindy rumah di dekat kantor, nanti. Aku rasa 2 hari naik angkot tidak akan menjadi masalah, Juan." kata Clara memelas.
"Setelah aku pulang dari Jakarta, kita akan mencari rumah. Sekalian menunggu Cindy bekerja juga di sana. Atau aku menyuruh supir untuk mengantar dan menjemputmu selama aku tidak ada?" tanya Juan memberi penawaran.
"Sebenarnya aku minta tolong kepada Andre, karena dia searah denganmu. Juga tidak ada yang paling aku percaya selain dia," kata Juan menjelaskan.
"Nah begitu kan membuatku semakin sayang," kata Juan sambil mencubit pipi Clara, gemas.
Clara turun dari mobil. Dia menunggu sampai mobil Juan menghilang dari penglihatannya, baru dia masuk ke rumah. Setelah membersihkan diri, dia bergabung menonton tv.
"Clara ceritakan bagaimana kantornya? Apa pekerjaannya sulit? Terus karyawan yang lain apa baik terhadapmu?" tanya Cindy, memberondong Clara dengan banyak pertanyaan.
"Banyak banget pertanyaannya, Kak," kata Clara membelalakkan matanya. Membuat semuanya terkekeh.
"Kantornya besar sampai 5 lantai. Semua staf inti dan pejabat tinggi perusahaan ada di lantai 5, aku juga di tempatkan di sana. Kalau pekerjaannya awalnya susah sekali menurutku tapi jika sudah mulai terbisa, tidak sulit juga kok Kak. Sejauh ini semua karyawan maupun bosnya baik padaku." cerita Clara, menjawab pertanyaannya satu persatu.
"Syukurlah, semoga kamu betah di sana ya Clara." kata Jhony penuh ketulusan.
"Aku tadi mendengar Pak Andre menyuruh semua keluargaku bekerja di sana, dia baik sekali kepada Juan. Pak Andre orangnya lucu." cerita Clara.
"Semoga tidak ada yang berbuat buruk kepadamu, karena mungkin saja banyak yang merasa iri terhadapmu," kata Jhony mengingatkan.
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Clara berdering.
"Kok bukan Juan, siapa ini tidak ada namanya?" tanya Clara.
"Terima saja Clara, mungkin penting," kata Cindy memberi saran.
"Iya, angkat saja mungkin penting," kata Jhony menimpali.
"Halo," sapa Clara.
"Clara ini aku, Andre. Besok berangkat kerja, aku jemput ya. Juan meminta tolong padaku, karena dia harus keluar kota selama 2 hari," kata Andre memulai pembicaraan.
"Oh Pak Andre. Baik, tadi Juan sudah memberitahu Pak," jawab Clara.
"Ya sudah sampai ketemu besok ya. Jangan lupa simpan nomor ponselku ya Clara," ucapnya kemudian mematikan telepon, setelah Clara menjawabnya.
Tiba-tiba ia tersenyum, mengingat kelakuan Clara seharian ini. Ingat dengan kepolosan gadis itu yang benar-benar apa adanya.
"Oh tidak, kenapa aku mengingat Clara. Dia kekasih Juan, aku tidak boleh begini" ucapnya merasa bersalah. Ia segera menepis bayangan Clara yang tiba-tiba saja hadir dalam pikirannya.
***
Keesokan hari seperti biasa semua telah berangkat kerja lebih dulu. Clara menyempatkan diri menelepon Juan, sekarang dia sudah lebih berani memulai terlebih dahulu. Tidak hanya menunggu Juan menghubungi lebih dahulu. Setengah 8 Andre datang menjemput.
"Pagi Pak Andre, apa kita langsung berangkat?" tanya Clara, menyambut bosnya.
Andre melihat penampilan Clara dari bawah ke atas, ia selalu terlihat menarik menurutnya. Clara memakai dress lengan pendek dibawah lutut, dengan aksesoris sabuk melingkari pinggangnya yang ramping. Rambutnya sebagian ia jepit ke belakang, sisanya tergerai begitu saja. Terlihat begitu modis dan berkarakter.
"Eh iya, kita langsung berangkat saja yuk," kata Andre setelah sadar dari lamunannya.
"Maaf merepotkan ya Pak Andre, terima kasih juga sudah mau menjemput," kata Clara saat dalam perjalanan.
"Apa tidak ada kata-kata lain selain minta maaf dan terima kasih Clara?" kata Andre menggoda Clara.
"Hah? Apa ya?" tanya Clara begitu lugunya.
"Dasar gadis lugu, hahaha...." kata Andre seraya tertawa terpingkal-pingkal, membuat Clara merasa bingung.
__ADS_1
Andre merasa Clara bisa membuat suasana selalu terasa ceria. Juan yang sedingin kulkas saja bisa berubah begitu, pikirnya. Dia pasti gadis yang istimewa.