Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 39 Rencana Perjodohan


__ADS_3

Sebulan kemudian.


"Halo, Juan," sapanya ramah.


"Ada apa, tumben sekali Papa menelepon?" tanya Juan.


"Juan Tante Nindy dan Om Jimmy serta putrinya akan datang ke sini hari ini, tolong kamu jemput di bandara dan bawa kerumah ya. Papa dan mama masih ada urusan, nanti kita menyusul kerumah," jelasnya dengan lembut.


"Apa tidak bisa sopir saja yang menjemputnya, kenapa harus aku sih Pa," gerutu Juan.


"Mereka itu kan sahabat baik Papa dan mama, selama ini juga banyak membantu kita, tidak sopan kalau sopir yang menjemput. Tolonglah Juan, kan hanya sebentar," bujuk Pak Danu.


"Ya baiklah, jam berapa mereka datang?" tanya Juan.


"Pesawatnya mendarat jam 10.30," jawab pak Danu.


"Ok, baiklah." jawab Juan lalu menutup teleponnya.


***


Di dalam pesawat, menuju Surabaya.


"Ma, apa benar sekarang Juan sangat tampan?" tanya Stella.


"Iya, Sayang. Kemarin Om Danu sudah kirim fotonya, dia sangat tampan. Tapi sayang sekali menurut Om Danu dia tidak mau menjadi direktur di perusahaan terbesarnya, Juan memilih memegang pabrik." jelasnya.


"Tidak apa-apa, dia anak satu-satunya otomatis semua kekayaan Om Danu pasti jatuh di tangannya. Aku rindu kepadanya, 2 tahun bersama saat kita kecil tidak dapat aku lupakan, Ma," ucap Stella sangat antusias.


"Tapi kata Tante Irma dia sudah mempunyai kekasih sejak beberapa bulan terakhir ini, hanya saja dia gadis biasa bukan dari kalangan mereka. Om Danu sangat menentang hubungan mereka, namun tidak bisa berbuat banyak sejauh ini," jelasnya lagi.


"Wah padahal Aku berharap sekali bisa jadi istrinya, Ma," ucap Stella merasa sedih.


"Tenang saja, Om Danu dan Tante Irma sangat berharap kamu yang menjadi menantunya. Mereka mengundang kita ke Indonesia justru untuk mendekatkan kalian berdua," jelas mamanya.


"Benarkah, Ma? Kenapa baru cerita sekarang sih, Ma?" tanya Stella.


"Sudah Ma, jangan terlalu memberi harapan Stella. Juan pasti sangat mencintai kekasihnya, buktinya dia rela sampai menentang orang tuanya. Lebih baik biarkan mengalir saja, kasihan Stella jika akhirnya terluka karena terlalu berharap." kata Papa Stella sangat bijaksana.


"Papa sebaiknya diam saja, orang tua Juan saja sangat berharap besanan dengan kita. Ya kita harus dukung anak kita, jangan mengalah dengan gadis miskin." ucapnya dengan ketus.


Suaminya hanya menggelengkan kepala melihat tabiat istrinya yang tak pernah berubah, selalu memandang rendah orang lain apalagi kaum yang kurang mampu.


"Roda itu bisa berputar, Ma. Sebaiknya jangan terlalu memandang rendah orang lain. Sekarang kita sudah menua, lebih bijaklah dalam bersikap. Ajarkan anak-anak kebaikan, bukan kemungkaran," Kata Pak Jimmy sangat dewasa.


"Sudah, kalau Papa tidak mau membantu lebih baik diam saja. Selalu saja ceramah, seperti tidak punya salah saja." ucap istrinya sangat jengkel.

__ADS_1


Pak Jimmy menghela napas dalam, ia tak ingin menasehati lagi.


"Terserah Mama saja deh," putusnya, lalu mulai memejamkan mata karena mengantuk.


"Tapi bagaimana jika Juan memilih gadis itu, Ma?" tanya Stella merasa kuatir.


"Sudahlah Sayang, nanti kita cari cara. Orang tua Juan pasti mendukung kita." katanya meyakinkan Stella.


***


Bandara Juanda, pukul 10.25.


Juan telah menunggu mereka sejak 5 menit yang lalu, sopirnya juga turut serta menemani. Akhirnya mereka terlihat setelah mengambil barang-barang mereka.


"Apa kabar, Om, Tante?" tanya Juan ramah.


"Baik," jawab keduanya kompak.


"Hai Kak Juan, apa kabar? Masih ingat aku tidak?" tanya Stella manja.


" Hai juga, Stella. Pasti ingat dong, alhamdulillah baik. Bagaimana kabarmu?" tanya Juan juga.


"Baik juga, Kak," jawabnya.


"Pak tolong bawa barang-barang mereka ke mobil ya," suruh Juan kepada sopirnya.


Juan mengantar mereka sampai ke mobil, namun ia tak bisa ikut pulang kerumah karena harus meeting dengan klien.


"Maaf ya, Om, Tante, Stella, aku tidak bisa mengantar sampai rumah. Ada meeting yang tidak bisa di tinggal, aku pergi dulu ya," kata Juan kemudian berlalu.


"Ma, dia benar-benar tampan. Aku sampai tidak bisa berkedip menatapnya," kata Stella.


"Apa Mama bilang, benar kan. Aslinya jauh lebih tampan dari foto yang Om Danu kasih." jawab Mamanya.


Sopir mengantar mereka ke kediaman keluarga Juan.


***


"Halo, Juan. Apa kamu sudah bertemu Om Jimmy dan keluarganya?" tanya pal Danu.


"Sudah Pa, mereka diantar sopir ke rumah," jawab Juan.


"Kenapa bukan kamu yang mengantar, Juan?" tanyanya setengah berteriak.


"Aku ada meeting penting, di antar sopir kan sama saja, toh tadi aku sudah menjemput mereka di bandara." jawab Juan kesal.

__ADS_1


"Selalu saja beralasan. Pokoknya nanti malam harus makan malam di rumah karena sedang ada tamu, tidak enak sama mereka." putus Pak Danu.


"Akan aku usahakan. Ya sudah Pa, aku mau meeting," jawab Juan langsung memutus teleponnya.


" Halo, Sayang Assalamualaikum. Kamu sedang istirahat ya?" tanya Juan mesra.


"Waalaikumsalam. Iya, ini lagi makan siang sama Kak Cindy dan Kak Bella. Ada apa, Juan?" tanya Clara.


"Maaf ya Sayang, nanti kita batal pergi. Di rumah sedang ada tamu, jadi papa membuat acara makan malam bersama," jelas Juan.


"Oh tidak apa-apa lain kali saja," jawab Clara.


"Ok, Sayang. Aku meeting dulu ya. Assalamualaikum," ucap Juan.


"Waalaikumsalam," jawab Clara


***


Kediaman Danuarta hari ini terlihat ramai. Jam 19.00 semua telah siap di meja makan, tinggal Juan saja yang belum datang. Mereka bercerita mengenang masa lalu saat mereka sama-sama di luar negeri dulu. Terdengar derai tawa mereka. Terlihat Stella sejak tadi gelisah, karena yang di tunggu tak kunjung tiba. Saat Pak Danu akan menghubungi Juan, pintu di buka.


"Lama sekali kamu datang, tidak enak mereka telah menunggu," bisik Pak Danu, menghampiri Juan.


Juan tak menghiraukan, ia langsung menuju meja makan.


"Maaf sudah menunggu, tadi meetingnya sedikit lama," ucapnya dengan sopan.


"Tidak apa-apa, kita juga belum lapar kok," jawab Om Jimmy.


"Ya sudah ayo kita mulai makan malamnya," ajak mama Juan.


Sambil makan mereka mengobrol.


"Juan, Stella ini ternyata sangat hebat walaupun seorang wanita, Dia sudah memegang salah satu perusahan Papanya," puji Pak Danu.


"Wanita seperti dia, sangat cocok bersanding denganmu," imbuhnya.


Juan seketika mengerti maksud Ayahnya, dia kesal namun masih bisa di tahan.


"Iya, Juan. Dia menantu idaman sekali, tadi dia yang membantu Mama memasak semua makanan ini. Enak bukan masakannya, seperti masakan restoran," ujar Bu Danu.


"Sudah cantik, pintar, kaya, baik, masakannya enak, apalagi coba yang kurang. Berkualitas sekali menjadi seorang istri," imbuhnya.


Stella dan keluarganya tersanjung di puji-puji begitu oleh orang tua Juan. Namun Juan justru sudah tidak tahan, ia langsung berdiri.


"Aku tegaskan sekali lagi ya Ma, Pa, orang yang akan menjadi istriku hanyalah Clara! Jangan pernah mencarikan wanita lain untukku. Selama ini aku selalu menuruti apa yang kalian mau, tapi tidak untuk masalah ini. Maaf Om, Tante, Stella aku pergi dulu. Maaf atas ketidak nyamanannya." kata Juan tegas.

__ADS_1


Ia berlalu pergi, naik ke kamarnya.


Mereka semua terkejut melihat sikap Juan, apalagi keluarga Stella. Mereka terlihat kecewa namun tak bisa berkata apa-apa.


__ADS_2