
Hari-hari pun berlalu, kehidupan mereka tampak tenang tanpa kehadiran Sandra di kantor. manager baru yang menggantikan Sandra adalah pria yang baik seperti Andre. Namun usianya sudah tidak muda lagi sekitar 45 tahunan. Dia baik kepada semua karyawannya.
Hari ini Ibu Bima menghubungi Clara, ternyata hari ini tepat satu bulan dari pertemuan terakhir mereka. Ini berarti Cindy akan memberikan jawabannya hari ini.
"Nak Clara, bisakah hari ini kami berkunjung ke tempat kalian? bukankah hari ini tepat sebulan setelah pertemuan terakhir kita?" tanya Ibu Bima.
"Oh benarkah bu, coba nanti saya tanyakan kakak dulu ya. Setelah itu baru saya hubungi Ibu kembali," jawab Clara.
"Oh ya sudah, ibu tunggu ya. Assalamualaikum," ucap ibu Bima.
"Iya, Bu. Waalaikum salam," jawab Clara.
Setelah menutup panggilan Clara segera memberi tahu Cindy yang tengah asyik mengerjakan laporan.
"Kak, apa Kakak ingat ini hari apa?" tanya Clara.
"Tentu saja, ini hari rabu kan," jawab Cindy.
"Duh Kakak, bercanda saja nih. Aku serius bertanya loh," ucap Clara gemas.
"Apa jawaban ku salah Clara?" tanyanya langsung mencari kalender di komputernya.
"Benar kok, sekarang hari rabu," ucap Cindy.
"Iya memang benar, tapi bukan itu maksudnya. Ternyata kakak lupa, hari ini tepat sebulan setelah pertemuan dengan keluarga Bima. Barusan ibunya telepon katanya mau datang untuk mendengar jawaban kakak," jelas Clara.
"Yang benar? ternyata waktu cepat berlalu ya, aku hampir lupa dengan masalah itu," ucap Cindy.
"Apa Kakak belum siap untuk menjawab?" tanya Clara.
"Siap tidak siap aku harus menjawabnya, kasihan juga jika aku memberi mereka harapan palsu," jawab Cindy.
"Apa Kakak akan menerimanya?" tanyanya.
"Nanti kamu akan mendengarnya, suruh mereka datang saja nanti malam," jawab Cindy.
"Baiklah, tolong Kakak benar-benar pikirkan keputusan ini. Ini menyangkut hidup Kakak ke depannya jadi harus dipikirkan dengan serius," ucap Clara.
"Iya, aku tahu," balas Cindy lalu sibuk melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Clara segera sms ke nomor ibu Bima.
[Bu, kata kakak silahkan datang nanti malam.]
Tring... tring...
tidak menunggu waktu lama, ibu Bima segera membalas sms Clara.
[Baik Nak Clara, terima kasih. Kamu semua akan datang kesana nanti malam.]
Sepulang kantor mereka menyempatkan mampir ke toko roti untuk membeli beberapa kue dan roti.
"Kak, kok banyak sekali belinya, nanti keburu kadaluarsa jika tidak termakan," ucap Clara.
"Nanti malam kita kan kedatangan tamu, Clara. Stok kue kita sudah habis di apartemen makanya aku beli agak banyak," balas Cindy.
"Oh iya, aku lupa, hehehe," ucap Clara.
Setelah membersihkan diri mereka bersantai dan mengobrol di ruang tv.
"Clara, jika Juan tidak sibuk suruh datang kesini ya. Dia sebagai pengganti bapak di sini, walaupun dia calon adik ipar ku namun hanya dia satu-satunya pria terdekat kita saat ini," ucap Cindy.
Cindy hanya mengangguk, mengiyakan. Clara segera menyambar ponselnya untuk menghubungi kekasihnya.
"Assalamualaikum, Sayang," sapanya.
"Waalaikum salam, kenapa Sayang, kangen ya?" tanya Juan menggoda Clara.
"Kalau kangen itu sudah pasti, tapi kangen ingin nyubit, hehehe," seloroh Clara.
"Sakit dong, kamu sedang apa ini?" tanyanya.
"Sedang santai saja ini. Oh ya Sayang, jika kamu tidak sibuk tolong datang kesini sekarang ya. Sebentar lagi keluarga Bima akan datang untuk mengetahui jawaban dari kakak, tolong kamu yang jadi pengganti orang tua kami di sini ya," balas Clara.
"Oh baiklah, aku segera bersiap sekarang. Assalamualaikum," ucap Juan.
"Iya, waalaikum salam," jawab Clara.
Sekitar 15 menit kemudian Juan telah tiba. Cindy masih belum memberi tahukan jawabannya kepada mereka, hal ini membuat mereka sangat penasaran. Namun mereka sepakat akan menghargai apapun keputusan Cindy.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian keluarga Bima juga datang. Sepertinya Bima melakukan perawatan dengan luka di wajahnya karena bekas lukanya sekarang tidak terlihat, namun kakinya masih sedikit pincang walaupun tidak begitu kentara. Ia nampak gagah lagi seperti dulu. Keluarga mereka tampak berpakaian rapi seolah akan menghadiri acara formal. Juan segera membuka pertemuan itu.
"Terima kasih Bima sekeluarga sudah datang, sejujurnya saya belum mengetahui apa jawaban Cindy sampai saat ini, namun apa pun keputusannya tolong kita semua bisa menghargainya, jangan sampai setelahnya ada rasa tidak menerima," ucap Juan.
Sebenarnya Juan mengira Cindy pasti akan menolak Bima, makanya dia berbicara seperti itu.
"Insyallah saya dan keluarga akan menerima keputusan Cindy dengan lapang dada," jawab Bima, ia menatap Cindy.
"Alhamdulillah kalau begitu. Silahkan Di makan dulu kue nya agar lebih santai," ucap Juan mempersilahkan.
"Iya, Nak. Terima kasih, kue nya enak," puji ibu Bima mencicipi kue itu.
Setelah suasana kembali santai mereka melanjutkan pembicaraan tadi.
"Mungkin Bima ingin menyampaikan sesuatu sebelum Cindy memberi keputusan," ucap Juan.
"Oh ya Clara, coba telepon orang tua mu agar mendengar juga keputusan Cindy. Bagaimana pun ini menyangkut kehidupan anaknya, mereka harus di libatkan," imbuh Juan.
Clara segera menelepon orang tuanya dan menceritakan keadaan mereka sekarang. Mereka terharu karena masih ingat dengan orang tuanya walaupun mereka telah menyerahkan semua keputusan di tangan anaknya.
Bima mulai berbicara menyampaikan isi hatinya.
"Aku tahu ini keputusan yang sulit untuk mu. Aku benar-benar minta maaf sedalam-dalamnya atas perbuatan ku. Aku hanya takut kehilangan dirimu, aku terlalu mencintai mu sehingga menghalalkan berbagai cara untuk memiliki mu seutuhnya. Hati ku sakit melihat mu masih mengingat Andre walaupun raga mu bersamaku," ucap Bima.
"Aku akhirnya sadar bahwa cinta tidak harus memiliki walaupun aku sangat berharap untuk bersama mu. Aku sadar jika cinta takkan pernah bisa untuk menyakiti. Maafkan aku, aku akan menerima keputusan mu apapun itu," imbuhnya.
Mata Bima memerah saat mengatakannya, orang tuanya sangat terharu mendengar ucapan tulus putranya itu. Cindy pun tak kuasa menahan air matanya, seketika terlintas kenangan indah dulu saat mereka bersama.
"Nak Cindy, katakanlah keputusan mu, kita sudah siap mendengarnya," ucap ibu Bima.
Air mata Cindy makin deras mengalir membuat semuanya bingung harus berbuat apa. Clara merangkul Cindy untuk memberi semangat dan kekuatan.
"Menangislah, Kak. Keluarkan rasa sakit di dalam hati mu agar lega. Kita akan menunggu," ucap Clara.
Setelah beberapa saat Cindy mulai merasa tenang, setelah menangis ia merasa sangat lega.
"Maaf jika aku membuat mu sakit hati karena masih mengingat mantan, tapi jujur itu memang tidak mudah untuk ku. Begitu pun dulu saat kamu pergi tidak mudah untuk ku membuka hati kembali. Aku sangat kecewa kepada mu, aku bahkan sempat membenci mu. Tapi melihat mu meminta maaf dengan tulus aku sangat terharu. Setelah aku pikir kejadian ini bukan semata kesalahan mu, aku turut andil membuat mu melakukan hal itu. Setelah kita bersama, jangan pernah sakit aku lagi," ucap Cindy.
"Apa maksudnya kamu menerima ku kembali?" tanya Bima.
__ADS_1