Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 112 Cindy Melahirkan


__ADS_3

Lima bulan kemudian.


"Sayang, perut kamu sudah besar sekali ya," ucap Bima melihat Cindy seperti berat membawa perutnya.


"Iya, ini kan sudah sembilan bulan," jawab Cindy.


"Apa kamu sudah siap untuk melahirkan Sayang?" tanya Bima.


"Ya harus, aku harus siap demi anak kita," jawab Cindy.


"Tinggal semingguan lagi kita akan jadi orang tua, semoga semuanya lancar. Kamu jangan terlalu banyak gerak, nanti kamu capek," ucap Bima.


"Justru dokter menyuruh ku agar sering jalan-jalan agar lebih mudah saat melahirkan,"


"Akh, aduh..." Cindy meringis sambil memegang perutnya.


"Kenapa Sayang?" tanya Bima kuatir.


"Dia bergerak keras sekali, membuat ku sakit," jawab Cindy.


"Ayo kita periksa saja, Sayang," ajak Bima.


"Tidak perlu, semakin dekat hari memang begitu. Aku sudah begini sejak seminggu ini, mungkin karena usia dan beratnya juga semakin besar," jawab Cindy.


"Tapi aku kuatir, kalau begitu aku izin tidak masuk kantor saja ya?" tanya Bima.


"Jangan, perkiraannya masih seminggu lagi. Aku tidak apa-apa, setiap ibu hamil pasti merasakan hal ini. Kamu berangkat saja, di rumah kan ada ibu. Jika ada sesuatu beliau pasti segera mengabari mu," jawab Cindy.


"Tapi aku tidak akan tenang bekerja jika di sini kamu kesakitan seperti ini," ucap Bima.


"Ini sudah kodrat wanita, insyaallah aku akan kuat. Kamu berangkat saja, kamu bisa menemani aku dan anak mu nanti ketika lahir," balas Cindy.


Bima menghela napas berat, tidak tega rasanya ia meninggalkan istrinya di rumah. Tapi istrinya memang wanita yang kuat, selama ini tidak pernah mengeluh walaupun ini kehamilan pertama baginya. Bahkan ia masih menjalani rutinitas seperti biasanya, memasak, bersih-bersih, menyiram tanaman dan lain-lain. Walaupun dirinya dan juga orang tuanya sudah melarang, namun Cindy tetap mengerjakannya dengan senang hati.


"Ya sudah aku berangkat, tapi janji ya segera mengabari jika terjadi sesuatu?" tanya Bima.


"Iya, iya kamu adalah orang pertama yang akan aku kabari," jawab Cindy.


"Ya sudah aku berangkat dulu ya, assalamualaikum," pamit Bima.


"Waalaikum salam, hati-hati di jalan ya," pesan Cindy.

__ADS_1


"Iya, Sayang," jawab Bima lalu berangkat kerja setelah berpamitan dengan ibunya juga.


Cindy kemudian membantu bersih-bersih rumah walaupun agak tertatih karena terhalang perutnya yang sudah besar.


"Nak sudah kamu istirahat saja, biar ibu yang mengerjakan semua," cegah ibunya Bima.


"Tidak apa-apa Bu, kata dokter harus di bawa jalan-jalan," jawab Cindy.


"Iya sih, tapi ibu tidak tega melihat mu begitu. Bawa perut saja kelihatannya berat, apalagi di sambi melakukan bersih-bersih begitu," balas ibu mertuanya.


"Tidak apa-apa Bu, aku akan istirahat jika merasa lelah," ucap Cindy.


"Baiklah, setelah itu kamu segera sarapan ya. Ibu tinggal menyiram tanaman dulu ya," balas ibu mertuanya.


"Iya Bu, terima kasih,"


Cindy segera melanjutkan aktivitasnya. Setelah semua selesai ia mulai merapikan perlengkapan bayi yang kemarin sudah ia suci, ia simpan di lemari pakaian yang telah ia beli khusus untuk calon buah hatinya.


"Semua sudah beres, sekarang ibu mau sarapan dulu ya Nak," ucap Cindy mengajak bayi di dalam perutnya berbicara.


Cindy sarapan dengan lahap, semakin kesini selera makannya memang semakin tinggi. Namun dokter menyuruhnya untuk mengurangi makanan yang manis-manis karena berat badan bayinya saat terakhir di USG sudah mencapai 3,3 kg.


"Ah, kebelet pipis lagi," Cindy bangkit untuk ke kamar mandi.


Ia berganti ****** ***** yang telah di lapisi pembalut. Ia duduk untuk beristirahat karena perutnya terasa begah. Dia menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan agar merasa lebih nyaman. Namun menit kemudian perutnya terasa sakit, tidak berapa lama normal lagi sampai berulang-ulang.


"Bu, Ibu..." panggil Cindy karena sudah tidak kuat berdiri.


Tapi ibu mertuanya tidak menyahuti, kemungkinan tidak dengar panggilannya. Cindy berusaha bangun dan melangkah ke depan.


"Bu..." teriak Cindy.


"Ada apa Nak?" jawab ibu mertuanya sambil berlari.


"Bu, aku keluar darah dan perut ku terasa sakit tapi tidak terus menerus," jawab Cindy.


"Kalau begitu kita ke rumah sakit saja, itu biasanya sudah mau lahiran. Kamu tunggu di teras saja biar ibu siapkan semuanya sebentar," ucap Ibu mertuanya.


Cindy menurut dan duduk di teras. Mertuanya segera menyiapkan persiapan untuk Cindy dan juga bayinya yang akan lahir. Ia segera memesan taksi.


"Ayo Nak, itu taksinya sudah datang," ajak mertuanya sembari memapahnya.

__ADS_1


"Pak, tolong bawakan tas itu ke mobil ya," pinta mertua Cindy kepada sopir taksi.


Setelah di dalam taksi ia segera menghubungi putranya.


"Nak, ini ibu sedang perjalanan ke rumah sakit. Istri mu sudah mengalami kontraksi sepertinya sudah mau lahiran," ucap Ibunya.


"Bukannya masih seminggu lagi, Bu?" tanya Bima.


"Ya kan bisa mundur tapi juga bisa maju, Nak. Ya sudah kamu cepat pulang ya, ibu tunggu di rumah sakit Bunda," jawab ibunya.


"Baik Bu, aku segera kesana," ucap Bima.


Taksi segera melaju walaupun terkadang harus terhenti karena macet dan lampu merah. Rasa sakit perut yang Cindy rasakan semakin sering, membuatnya merintih kesakitan.


"Sabar ya Nak, tarik napas dalam-dalam lalu keluarkan perlahan," ucap mertuanya.


Cindy menurut, namun sakitnya tetap tidak berkurang. Setelah beberapa menit mereka sampai, mereka segera menuju ke ruang bersalin.


"Ibu silahkan masuk dulu agar segera di periksa. Ibu, anda tolong daftar dulu ya," perintah perawat yang membawa Cindy.


Setelah melakukan pendaftaran ibu mertua Cindy segera ke ruangan Cindy.


"Dok, bagaimana keadaan menantu saya?" tanya ibunya Bima.


"Masih pembukaan lima bu, saya sudah menyuruh ibu Cindy berbaring menghadap ke kiri agar semakin cepat pembukaannya," jawab dokter itu.


"Semua pemeriksaannya normal, kemungkinan besar bisa melahirkan normal. Ibu jangan kuatir, ibu bisa menemani di dalam," imbuh dokter itu.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Dok," ucap mertua Cindy.


Mertua Cindy berusaha menenangkan menantunya yang sedang merintih kesakitan. Ia mengusap-usap punggung Cindy untuk mengurangi rasa sakitnya. Tidak tega rasanya melihat menantunya kesakitan, ia jadi teringat saat melahirkan Bima yang juga penuh perjuangan dulu.


"Bu, sakit sekali aku tidak tahan lagi," ucap Cindy sambil menangis.


"Sabar ya Nak, memang begini perjuangan seorang ibu," hibur mertuanya sambil terus mengusap punggungnya.


Cindy jadi teringat ibunya, begini rasanya dulu pastinya saat beliau melahirkannya. Penuh perjuangan dan bertaruh nyawa.


"Iya Bu, tolong panggilkan dokter aku sudah tidak tahan. Sakit sekali Bu rasanya," pinta Cindy.


"Iya, ibu panggilkan. Kamu tahan sebentar ya," ucap mertuanya lalu bergegas memanggil Dokter.

__ADS_1


Dokter segera memeriksa Cindy.


"Sudah lengkap, ayo siapkan semuanya," perintah dokter kepada perawat yang bertugas.


__ADS_2