
Saat jam makan siang.
"Halo, Dre. Apa kamu di kantor?" tanya Juan di telepon.
"Aku baru selesai meeting, mau makan siang ini." jawabnya.
"Oh, kalau begitu kita ketemu di Restoran padang dekat jembatan ya," ucap Juan.
"Wah boleh, ada yang ingin ku ceritan juga denganmu," jawabnya.
"Ok deh, sampai ketemu di sana," kata Juan lalu menutup telepon.
Dua puluh menit kemudian, Juan sampai di restoran itu. Terlihat mobil Andre ada di parkiran, berarti dia telah lebih dulu tiba. Setelah sampai di dalam segera ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan sahabatnya, terlihat ia memilih tempat di pojok belakang. Juan pun menghampirinya setelah memesan menu.
"Hai, Dre. Apa sudah dari tadi?" tanya Juan sambil menyeret kursi, lalu duduk di depan Andre.
"Baru saja kok. Tumben ngajak makan diluar, biasanya langsung ke kantor makan bareng Clara dan yang lain?" tanya Andre penasaran.
"Ini masalah pria, lebih baik aku bahas berdua denganmu," jawab Juan.
"Ada apa memangnya, ceritakan saja?" tanyanya penasaran.
"Sahabat Papa baru saja datang dari luar negeri, entah berapa lama mereka akan tinggal di rumah. Yang membuatku kesal Mama dan Papa seolah mau mendekatkan aku dengan Stella, putri dari temannya itu." cerita Juan merasa kesal.
"Bukannya orang tuamu sudah tahu jika kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Andre.
"Justru itu, mereka memang sengaja membuatku berpisah dengan Clara. Stella sepertinya gadis baik, 2 tahun aku mengenalnya waktu kecil saat kami tinggal di luar Australia. Tapi perasaan tidak dapat di paksakan, aku hanya akan mencintai Clara," jawab Juan.
"Lalu apa yang membuatmu kuatir, Juan?" tanyanya.
"Aku hanya takut mereka menjebakku agar mau di jodohkan dengan Stella, aku takut saat aku lengah mereka mengambil kesempatan itu. Aku takut Clara tidak mempercayaiku jika sampai hal itu terjadi." ucapnya merasa kuatir.
"Iya juga sih, apalagi Om Danu bisa melakukan apa saja. Tante Irma yang sepertinya baik juga pernah hampir mencelakai Clara untuk membuat kalian berpisah, jadi sepertinya bisa saja mereka berbuat nekat." kata Andre ber-opini.
__ADS_1
"Makanya aku menemuimu, mungkin kamu punya solusi?" tanya Juan.
Andre terlihat berpikir sejenak, memikirkan solusi terbaik untuk masalah Juan.
"Gini saja, suruh Bagas untuk mengawasi kamu selama 24 jam. Mungkin bisa bergantian dengan anak buahnya agar bisa tetap beristirahat. Tapi harus benar-benar hati-hati, karena orang suruhan Om Danu pasti juga bertindak. Dengan begitu kamu akan bisa tenang, jika sewaktu-waktu mereka menjebakmu Bagas dan anak buahnya bisa langsung menolongmu." kata Andre memberi ide.
"Wah benar juga itu, Dre. Nanti aku perintahkan Bagas agar bisa membantuku," jawab Juan setuju dengan saran Andre.
"Aku sudah membantumu mencari solusi, sekarang kamu tolong bantu aku juga ya," kata Andre.
"Apa? Kamu juga sedang ada masalah ya? Ada apa?" tanya Juan bertubi-tubi.
"Kemarin Jessy mengacau di kantor ku," katanya.
"Jessy siapa?" tanya Juan.
"Dia itu adiknya almarhumah Sandra, dia tiba-tiba datang. Dia ingin mendampingiku menggantikan kakaknya. Katanya karena aku masih saja sendiri jadi pasti masih mencintai kakaknya." cerita Andre.
"Entahlah aku juga bingung, saat mengobrol tiba-tiba Cindy datang. Aku tak ingin memberi harapan jadi aku bilang Cindy kekasihku. Yang aku takutkan dia mengatakan akan balas dendam sebelum pergi," imbuhnya.
"Wah yang salah kan kakaknya yang selingkuh dari kamu, kenapa justru dia yang akan balas dendam. Disini justru kamu yang jadi korban, sampai kamu terpuruk sangat lama." kata Juan geram.
" Mungkin karena aku dengan tegas menolaknya." jelas Andre.
"Kamu tenang saja, di kantormu kan sudah terpasang CCTV jadi ada hal apapun pasti terpantau. Tapi kamu tetap harus hati-hati, karena wanita yang sakit hati juga bisa nekat." kata Juan.
"Ya, kamu benar. Ya sudah ayo makan dulu, aku sudah lapar," kata Andre, lalu menyantap menu pilihannya dengan sangat lahap.
***
Satu minggu kemudian. Juan telah menyuruh Bagas memantaunya selama 24 jam, tidak ada hal yang mencurigakan. Walau Stella tak ada hentinya menggodanya dengan berpura-pura jatuh dari tangga agar Juan membantu menggendongnya, terkadang sengaja memakai baju seksi di hadapan Juan, bahkan pernah ia berteriak kalau di kamar mandinya ada kecoak. Setelah Juan periksa ternyata dia mengunci pintu dan menggoda Juan dengan melepas bajunya satu persatu. Namun karena Juan sudah di pantau, Bagas berhasil membantunya.
Hari ini Juan berencana mengajak Clara berkencan.
__ADS_1
[Sayang aku tunggu di hotel Majapahit tepat pukul 19.00 ya, kamar 201. Jangan sampai telat]
Send.
[Oh ya kamu naik taksi saja karena aku masih ada urusan, tidak bisa menjemput. Langsung masuk, tidak perlu menelepon. Ponselku lowbat]
Send
Clara melihat ponselnya yang berbunyi.
"Wah ada sms dari Juan, tumben tidak langsung telepon," kata Clara sambil membuka pesan itu.
'Bukankah tadi mau ngajak jalan, kenapa malah di suruh kehotel? Apa ada hal serius yang ingin dia sampaikan? Atau dia punya kejutan untukku ya?] batin Clara penuh tanda tanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.20, setelah berpamitan dengan Cindy ia bergegas mencari taksi. Hotel itu sebenarnya tidak jauh dari apartemennya namun karena takut macet ia memutuskan segera berangkat.
Sesampainya di hotel ia langsung menuju kamar yang di tentukan, ia langsung masuk sesuai instruksi sms. Benar saja pintunya terbuka. Ia memandang sekeliling, sepertinya Juan belum datang begitu pikirnya. Sudah pukul 19.10 tapi Juan belum juga datang. Tiba-tiba lampu kamar padam, seketika ia panik.
"Juan, Juan, jangan main-main aku takut." kata Clara sambil meraba-raba.
"Akh... Ehmm...." kata Clara berusaha mrmberontak.
Clara pingsan karena sudah di bius, pria itu menyeringai penuh kemenangan. Di tidurkannya Clara diatas kasur, lalu menghidupkan lampu tidur yang remang. Pria itu mengusap lembut wajah Clara, membelai rambutnya.
"Akh... kamu sangat cantik wahai bidadariku. Hari ini kita akan segera menyatu. Kita akan menggapai surga dunia bersama," katanya sambil menyibak rambut Clara.
Dia melepas highheels Clara dengan lembut, mengusap kaki Clara perlahan. Kemudian mulai membuka kancing baju Clara satu persatu.
"Maafkan aku, hanya dengan cara ini kita bisa segera menikah. Aku sangat mencintaimu, Clara." ucap pria itu, kemudian mencium kening Clara.
Naluri kejantanannya mulai menyeruak tatkala melihat kedua gunung kembar yang masih terbungkus bra berenda berwarna merah marun. Ia menelan salivanya melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ini pertama kalinya untuknya, ia merasa sangat gugup sekali. Di bukanya satu persatu pakaian Clara, menyisakan bra dan cd nya saja. Fantasinya sudah kemana-mana.
"Maafkan aku, Sayang," bisiknya di telinga Clara, lalu memulai aksinya.
__ADS_1