
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Cindy menelepon Clara.
"Kakak tidak perlu buru-buru, nikmati saja bulan madunya. Kita nanti kan masih kembali sore ke kota," ucap Clara.
"Tapi mungkin mobilnya akan di pakai Juan," balas Cindy.
"Kan ada motor, dia bisa pakai motor," ucap Clara.
"Apa Juan bisa naik motor?" tanya Cindy.
Clara spontan tertawa mengingat kejadian semalam, gara-gara berkeliling dengan motor Juan langsung masuk angin.
"Di tanya malah tertawa," ucap Cindy.
"Habis lucu sih, Juan itu bisa naik motor tapi semalam di ajak berkeliling sebentar dia langsung masuk angin sampai bersin terus karena tidak biasa," jelas Clara.
"Kamu juga iseng banget, udah tahu Juan tidak pernah pakai motor malah di ajak keliling," balas Cindy ikut tersenyum.
"Sudah Kakak enakin saja bulan madunya, semakin cepat kakak punya adik bayi makin cepat kita nyusul," kelakar Clara.
"Eh, ada-ada saja. Ya sudah kalau begitu kita balik siang saja ke rumah," ucap Cindy.
"Iya, terserah Kakak," balas Clara.
Tidak lama setelah mereka selesai mengobrol Juan terlihat duduk di teras depan dengan Jhony. Clara segera membuatkan teh hangat untuk kekasihnya dan kopi untuk Jhony.
"Sayang, ini di minum tehnya selagi masih hangat," ucap Clara.
"Iya, terima kasih ya," balas Juan.
"Bagaimana keadaan mu sekarang? Aku siapin sarapan ya?" tanya Clara.
"Alhamdulillah sudah membaik setelah kamu kerokin semalam. Aku sudah sarapan tadi bersama Jhony," jawab Juan.
"Oh ya sudah. Barusan kakak telepon dia mau pulang takut mobilnya mau kamu pakai, aku bilang saja tidak perlu buru-buru di puas-puasin saja bulan madunya," ucap Clara.
"Tidak masalah, kita kan tidak kemana-mana. Kalau mau pergi juga masih ada motor," balas Juan.
"Yakin masih mau naik motor?" tanya Clara melirik kekasihnya.
"Ya kalau jarak dekat sepertinya tidak masalah," jawab Juan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak apa-apa Clara, dia begitu kan karena tidak terbiasa," bela Jhony.
__ADS_1
"Jhony benar, sepertinya sepulang dari sini aku akan membeli motor. Kamu tidak masalah jika aku mengajak mu pergi naik motor, Sayang?" tanya Juan.
"Kalau tidak membuat mu sakit, aku tidak masalah," jawab Clara.
"Oh iya Sayang, kenapa kamu tidak mengundang Januar di pernikahan Cindy kemarin?" tanya Juan.
"Sudah, tapi dia sedang kena musibah dan tidak bisa datang. Ia sedang menunggu ibunya yang akan operasi mata di salah satu rumah sakit di Surabaya," jelas Clara.
"Oh kasihan, jika belum pulang nanti kita jenguk saat kembali ke kota ya," ucap Juan.
"Salam untuk Januar jika kalian kesana, tolong sampaikan permintaan maaf ku tidak bisa ikut menjenguk," ucap Jhony.
"Iya, nanti kita sampaikan," balas Clara.
***
Setelah dzuhur sekitar pukul 12.30 Bima dan Cindy telah pulang. Wajah mereka terlihat berbinar-binar, sepertinya mereka telah melakukan malam pertama mereka yang sempat tertunda. Orang tua mereka sangat gembira, mereka sudah tidak sabar untuk menggendong cucu.
Sekitar pukul 16.00 mereka semua segera berpamitan untuk kembali ke kota. Perpisahan adalah hal terberat saat pulang kampung seperti ini, orang tua berat melepas anak, anak juga merasa berat untuk meninggalkan orang tua. Namun mereka harus kuat demi sebuah tujuan yang baik.
Sepanjang perjalanan semua memilih istirahat, walaupun cuti Cindy masih ada dua hari lagi ia juga memilih untuk tidur di sepanjang jalan. Orang pertama yang sampai adalah Clara.
"Kakak tidak ambil barang-barang dulu?" tanya Clara saat sampai apartemen.
"Cie, sekarang memanggilnya suami ku," masih sempat-sempatnya Clara menggoda Cindy.
"Kamu ini, sudah sana cepat masuk," balas Cindy.
Setelah memastikan Clara masuk apartemen sopir melajukan kendaraannya lagi. Mereka mengantar Cindy dan Bima baru pulang ke rumah Juan.
***
Keesokan paginya saat adzan subuh mulai berkumandang, Cindy bangun dari tidurnya untuk melakukan ibadah. Bersama suaminya ia menghadap Sang Khalik yang telah memberi mereka kehidupan.
Cindy memulai tugasnya sebagai istri dengan membantu ibu mertuanya memasak dan membersihkan rumah. Mertuanya bersikap sangat baik kepadanya seperti anak kandungnya sendiri, membuat Cindy merasakan kehangatan kasih sayang seperti keluarganya sendiri.
"Bu, biar Cindy bantu menyiram tanamannya ya," ucap Cindy.
"Tidak perlu Sayang, dari tadi kamu sudah banyak membantu, kamu itu istri anak ku bukannya pembantu," tolak ibu mertuanya.
"Tidak apa-apa Bu, bosan jika hanya diam saja," ucap Cindy memaksa.
"Baiklah kalau begitu, jika kamu merasa lelah istirahat ya," balasnya.
__ADS_1
Cindy mengangguk sembari tersenyum, ia menyiram tanaman dengan hati riang. Bima dan ibunya melihat Cindy dari kejauhan.
"Dia gadis yang istimewa, jagalah baik-baik dan jangan pernah kamu sia-siakan," pesan ibunya.
"Iya Bu, itu kenapa aku sangat mencintainya. Semoga kami segera bisa memberi ibu cucu," ucap Bima.
"Ibu sudah tidak sabar, ibu harap walaupun kalian menikah muda tapi pernikahan kalian langgeng," balasnya.
"Amin,"
Karena hari ini Bima dan Cindy masih libur mereka melanjutkan bulan madu mereka walau hanya di rumah. Bima segera memeluk Cindy dari belakang saat tengah di dapur membuat Cindy sangat terkejut.
"Apa yang kamu lakukan, malu jika orang tua mu tahu," ucap Cindy sembari melepas pelukan suaminya.
"Makanya ayo cepat ke kamar," ajak Bima tidak tahan.
"Suami ku ini masih jam 10 pagi, bagaimana jika orang tua mu mendengar," ucap Cindy.
"Mendesahnya jangan keras-keras biar tidak kedengaran," balas Bima.
"Ehem, ehem. Kita mau pergi dulu ya, ada urusan sebentar," pamit orang tuanya, tiba-tiba sudah di belakang mereka.
"Eh, iya Bu," jawab Bima salah tingkah.
Setelah melihat mobil orang tuanya meninggalkan halaman rumah, Bima bergegas menemui istrinya. Ia segera menggendongnya ke kamar membuat Cindy sedikit berteriak karena terkejut. Bima segera membaringkan tubuh istrinya di kasur.
"Sabar dulu, aku mau mandi dulu biar wangi. Tadi kan habis masak sama nyiram tanaman," cegah Cindy.
"Tapi aku sudah tidak tahan," rengek Bima membuat Cindy tertawa.
"Sabar, hanya sebentar," ucap Cindy.
Cindy bangkit mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi. Ia mulai membersihkan tubuhnya ketika merasa bukit kembarnya terasa di gelitiki.
"Kenapa kamu di sini?" pekik Cindy tatkala melihat suaminya telah berada di belakangnya tanpa pakaian.
"Aku tidak sabar menunggu mu selesai," jawabnya.
Ia mulai mengulum bibir istrinya, sembari tangannya meremas kedua bongkahan kenyal kesukaannya. Cindy mulai menikmati apa yang suaminya lakukan, desahannya semakin keras tatkala Bima bermain dengan p*t*ingnya.
"Akh... ehm... akh..."
Setelah melakukannya di kamar mandi, mereka melanjutkan permainan mereka di kasur. Tampaknya Bima benar-benar tidak ingin membuang-buang waktu. Begitulah pengantin baru bisa melakukannya berkali-kali tanpa rasa lelah.
__ADS_1