Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 40 Trauma masa lalu


__ADS_3

Keesokan hari di Adi Jaya Group.


"Bella tolong selesaikan proposal untuk PT. Siantar Mandiri segera ya, pukul 10.00 akan aku bawa meeting," kata Andre.


"Baik, Pak. Segera saya kerjakan," jawabnya.


"Terima kasih, Bel." ucap Andre tulus.


Bella tersenyum mengangguk, lalu segera keluar. Tidak lama pintu di ketuk kembali.


"Ada apa lagi, Bel?" tanya Andre heran melihat Bella kembali masuk.


"Ada tamu yang mencari Bapak, seorang wanita tapi dia tidak mau memberi tahu siapa namanya, Pak," jelas Bella.


"Dia bilang apa?" tanya Andre, mengernyitkan dahi.


"Dia hanya bilang mau ketemu Bapak, terus pas ditanya namanya siapa, dia bilang yang jelas Pak Andre pasti senang dengan kedatangannya. Begitu katanya," jelas Bella.


"Siapa kira-kira ya? Ehm... suruh saja masuk Bel," putus Andre.


"Baik, Pak." jawabnya.


Saat Andre masih menerka-nerka siapa yang mencarinya, pintu ruangannya terbuka. Tampak seorang gadis muda cantik dengan rambut pirang sebahu tersenyum manis kearahnya. Andre tampak tak asing dengan wajahnya, namun sedikit lupa.


"Maaf, ada perlu apa ya mencari saya?" tanya Andre sopan.


"Mas Andre lupa ya denganku?" tanya gadis itu.


"Apa aku pernah mengenalmu?" tanya Andre bingung.


"Tentu saja Mas, aku Jessy," jawabnya.


"Jessy?" tanya Andre.


"Iya, adiknya almarhumah Mbak Sandra, kekasih Mas Andre." jawab Jessy sambil tersenyum.

__ADS_1


Seketika ingatannya akan Sandra kembali, kenangan-kenangan indah bersamanya, rencana merajut cinta bersama, kemudian kecelakaan merenggut semuanya. Namun yang paling menorehkan luka adalah perselingkuhan yang ia ketahui justru setelah kekasihnya meninggal, betapa besar pengkhianatan wanita itu kepadanya. Begitu terpuruknya kehidupannya saat itu, bahkan hingga saat ini ia belum dapat membuka hati kembali. Disaat ia sudah berhasil bangkit mengapa adiknya justru muncul di hadapannya. Penampilannya banyak berubah, pantas Andre tak mengenalinya.


"Oh... ada perlu apa, Jes?" tanya Andre datar.


"Aku rindu dengan Mas Andre, walaupun saat itu kita bertemu hanya beberapa kali saja. Makanya aku datang," jawab Jessy sumringah.


"Aku telah mengubur dalam-dalam kisahku dengan Sandra dan segala yang berhubungan dengannya, jadi tolong pergilah segera," kata Andre ketus, matanya memerah menahan luka di hatinya.


"Bohong! Sampai sekarang saja Mas Andre masih sendiri, itu artinya Mas masih mencintai Mbak Sandra." teriak Jessy.


Andre bergeming.


"Aku rela menjadi pengganti Mbak Sandra, Mas. Aku tahu ia telah mengkhianatimu, aku berbeda dengannya, Mas. Aku juga cantik sepertinya, tapi aku berjanji akan selalu setia denganmu Mas Andre." imbuh Jessy.


"Apa maksudmu itu?" tanya Andre tak habis pikir.


"Aku tahu Mas Andre sampai saat ini belum bisa melupakan Mbak Sandra, makanya masih sendiri. Jadi izinkan aku menemanimu, menggantikan posisi Mbak Sandra di hatimu. Aku sudah mengagumi Mas sejak masih bersama Mbak Sandra, tapi aku cukup tahu diri. Sekarang tolong beri aku kesempatan untuk jadi orang spesial bagimu, Mas," kata Jessy sembari memegang lengan Andre.


Andre langsung melepaskan tangannya dengan kasar. Saat itu juga pintu diketuk.


"Tunggu, Cindy." kata Andre.


"Kamu salah jika menganggapku tak ada yang mendampingi. Ini Cindy, dia kekasihku saat ini. Mungkin kamu belum terlalu dalam mengorek tentang kehidupanku, sehingga hal ini saja kamu tidak tahu." kata Andre, ia tersenyum dan menggandeng tangan Cindy.


Mata Cindy membulat, namun ia pasrah. Ia tidak tahu apa yang terjadi, namun memilih mengikuti permainan bosnya itu.


"Mas bohong, Mas hanya ingin menyakiti aku kan? Mas hanya ingin balas dendam padaku atas apa yang telah Mbak Sandra lakukan kan?" tanya Jessy, matanya nanar menatap Andre.


"Aku serius, bahkan sebentar lagi kita akan segera bertunangan." jawab Andre dengan tenang.


Cindy makin merasa tak nyaman mendengar kata bertunangan, apalagi sejak tadi Andre tak melepaskan tangannya sama sekali.


Jessy menatap Cindy penuh amarah.


"Apa yang Mas lihat dari wanita ini? Dia biasa saja, masih lebih cantik diriku. Dandanannya juga biasa saja, aku yakin dia bukan dari kalangan berada. Dia pasti hanya menginginkan uangmu, Mas." kata Jessy kasar.

__ADS_1


Hati Cindy sakit mendengar penghinaan wanita itu, rasanya air matanya akan mengalir. Namun sekuat tenaga ia tahan agar tidak tumpah.


Andre tidak terima Cindy dihina seperti itu, apalagi melihat kesedihan di mata gadis itu. Ia merasa bersalah telah membuatnya mengikuti permainnya.


"Buat apa cantik jika hanya senang menyakiti, sudah kapok. Lebih baik yang hatinya cantik pasti akan selalu membuat bahagia. Jangankan uang seluruh harta akan ku berikan kepada Cindy jika dia mau," jawab Andre membuat Jessy makin kesal.


"Mas Andre, keterlaluan." ucap Jessy sangat marah.


Andre tidak perduli dengan kata-kata Jessy, ia terlihat sedang menelepon.


"Pak Slamet, tolong keruangan saya segera bersama Joko ya," katanya lalu memutus panggilan.


Menit kemudian datang 2 orang lelaki berseragam satpam masuk ke ruangan Andre.


"Pak tolong bawa wanita ini keluar, jangan sampai dia masuk ke kantor ini lagi apapun alasannya." Ucap Andre sangat tegas.


"Kurang aj*r, Mas Andre keterlaluan. Aku tidak akan tinggal diam. Aku pasti kembali untuk balas dendam." ucap Jessy sebelum di seret meninggalkan ruangan.


"Lepas, aku bisa jalan sendiri," ucap Jessy.


Satpam melepas pegangannya, gadis itu segera bergegas pergi membawa dendam di dadanya. Ia sangat kesal atas penolakan Andre, apalagi dia juga menghinanya.


***


"Cindy maafkan aku ya, gara-gara kamu mengikuti permainanku tadi Jessy menghinamu begitu." ucap Andre merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya hanya sedikit kaget tadi, apalagi melihat wanita itu terlihat begitu kesal," jawab Cindy lembut.


Andre melihat Cindy begitu polos, lembut seperti Clara. Tak tega rasanya melihatnya di hina seperti tadi.


"Dia adik dari kekasihku yang telah meninggal dunia, wanita yang telah berselingkuh dengan laki-laki lain. Bahkan saat kematiannya ia justru di temukan bersama pria itu," cerita Andre, netranya mulai berkaca-kaca.


"Sabar ya Pak Andre, orang baik pasti diciptakan untuk orang baik. Kebahagiaan pasti akan datang di saat yang tepat," kata Cindy sambil memegang tangan Andre, bermaksud memberi dukungan.


"Terima kasih Cindy, aku percaya kata-katamu," kata Andre sembari membalas sentuhan Cindy.

__ADS_1


Keduanya terhenyak, tak menyangka bisa sedekat ini. Cindy segera melepas tangannya, ia tak mau terbawa suasana. Mungkin jika masih sendiri ia akan membiarkannya, namun ada hati yang harus ia jaga. Tak di pungkiri Andre memiliki daya tarik yang luar biasa, namun dirinya adalah wanita setia. Tidak akan mungkin mengkhianati orang yang telah ia pilih, untuk orang lain.


__ADS_2