Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 47 Pembalasan Kedua


__ADS_3

"Cindy, itu dari siapa paketnya? Apa kamu punya musuh?" tanya Andre.


"Tidak tahu, Pak. Tidak ada pengirimnya. Saya merasa tidak punya musuh, tapi entah jika ada orang yang tidak menyukai saya," jawab Cindy terlihat sedih.


"Eh sepertinya ada kertasnya. Tinggalkan dia, jika masih sayang nyawamu!" kata Bella sembari membaca kertas itu.


"Maksudnya apa ya?" tanya Bella.


"Apa mungkin seorang gadis yang dekat dengan Kak Bima? Sampai sekarang saja kita belum melihatnya. Tapi nekad sekali, bagaimana kalau tadi ular itu menggigit. Aku tidak bisa membayangkan." kata Clara memberi pendapat.


"Sepertinya tidak, selama ini dia mengatakan tidak pernah dekat dengan wanita. ini belum sebulan jadi dia pasti masih di Bandung. Tapi entahlah aku juga bingung, siapa yang setega itu," jawab Cindy.


Adre terlihat melihat komputernya. Dia terlihat serius sekali menatap layar monitor.


"Biar nanti aku selidiki, sekarang kalian makan dulu," ucap Andre mempersilahkan mereka.


Merekapun makan bersama dan mencoba melupakan kejadian tadi.


Triingg... triingg... Terdengar ponsel Andre berbunyi.


[Hari ini wanita itu masih berhasil selamat, tapi mungkin tidak untuk hari-hari berikutnya. Selama dia masih di sana, akan aku teror terus. Semoga persediaan nyawanya masih banyak.]


Sms dari Jessy, Andre telah save nomornya saat dia menelepon dulu. Andre merinding membacanya, ternyata semua ini ulah Jessy. Ia bingung untuk bertindak, jika ia tetap di sini Jessy akan terus membahayakannya. Tapi jika tidak bekerja disini dia juga kuatir tidak bisa mengawasi, Cindy juga akan terpisah dari Clara. Dirinya begitu dilema, tidak menyangka melibatkan Cindy membuatnya justru menderita begitu. Andre begitu menyesal, ia tak menyangka Jessy senekad ini. Tapi darimana ia tahu Cindy selamat? Apakah ada yang bekerja sama dengannya di dalam kantor ini? Dia benar-benar pusing memikirkannya.


"Halo, Juan aku ingin bercerita dan minta pendapatmu. Tolonglah aku," kata Andre memulai obrolan.


"Kita bisa ketemu tidak, sekarang?" tanya Andre.


"Aku masih sibuk ini, nanti pulang kantor saja. Aku ke kantormu sekalian mau jenguk Jhony bersama Clara dan Cindy," jawab Juan.


"Jhony yang teman Clara dan Cindy itu ya? Memang dia kenapa?" tanya Andre.


"Iya, benar. Dia di tusuk preman 4 hari yang lalu, sampai sekarang masih koma," jelas Juan.

__ADS_1


"Kasihan sekali, kalau begitu kita ketemu dsana saja. Biar Clara dan Cindy aku yang antar, sekalian jenguk Jhony juga," kata Andre.


"Wah terimakasih. Ya sudah nanti kita ketemu di sana saja," jawab Juan.


Mereka pun ngobrol sebentar, namun karena masih banyak pekerjaan mereka memutuskan melanjutkan sepulang kerja.


***


Sepulang kantor Andre bergegas ke RS menjenguk Jhony, bersama Clara dan Cindy. Sesampai disana mereka telah melihat Juan tiba, ia sedang mengobrol denga dokter dan Indra.


"Tolong Dok, lakukan yang terbaik untuk Jhony." kata Juan.


"Pasti, Bapak jangan kuatir ya. Kondisinya sudah membaik sekarang, bantu doa ya." jawab Dokter.


Setelah menjenguk mereka memutuskan untuk segera pulang. Jhony telah dipasrahkan kepada perawat yang berjaga. Mereka segera mengantar Cindy dan Clara ke apartemen. Andre memilih cafe untuk bisa mengobrol dengan Juan.


"Kamu tadi mau cerita apa, Dre?" tanya Juan.


"Ayolah jangan buat aku penasaran, cepat cerita." pinta Juan.


"Jessy berulah lagi, tadi Cindy menerima paket. Kamu tahu isinya apa? Ular kobra." kata Andre kesal.


"Apa? Maksudnya yang mengirim paket itu si Jessy? Serius isinya ular kobra?" tanya Juan kaget.


Andre mengangguk, mengiyakan.


"Kejam banget sih dia, beda sekali dengan Sandra," ucap Juan merasa geram.


"Beruntung Cindy tidak jadi korban, kalau tidak aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri," jawab Andre gusar.


"Dia mengatakan akan selalu meneror apabila Cindy masih tetap di kantor dan bersamaku. Aku bingung harus bagaimana? Pekerjaan ini sangat penting untuk Cindy, tidak mungkin aku memecatnya. Tapi jika dia terus di sini, hidupnya selalu dalam bahaya," kata Andre dilema.


"Gini saja Dre, untuk sementara kamu off kan Cindy dari kantor dulu. Kamu tetap gaji dia seperti biasa, jadi dia aman dan tetap bisa membantu ekonomi keluarganya di kampung," kata Juan memberi ide cemerlang.

__ADS_1


"Ide bagus, kenapa tidak terpikir sedikitpun di kepalaku sih. Ini gara-gara Jessy gil4, otakku jadi tidak bisa berpikir jernih," sahutnya dongkol.


Juan tersenyum mendengar kata-kata sahabatnya, ia juga lega bisa memberi solusi atas masalahnya.


"Tapi yang aku heran, Jessy sepertinya tahu apa yang terjadi di kantor. Contoh paling jelas ketika Cindy berhasil selamat dari kobra, tak lama dia meneleponku. Ketika Cindy selamat dari kecelakaan dan mengalami amnesia, dia juga tahu semua," jelas Andre.


"Kemungkinan dia sudah membayar seseorang, bisa dari kalangan profesional tapi bisa juga penghuni di kantormu." kata Juan berspekulasi.


"Jika benar aku harus waspada, masalah Cindy ini biar hanya kita, Clara dan Cindy yang tahu. Begitu ku rasa lebih aman," jawab Andre.


Setelah selesai mereka pulang ke rumah masing-masing. Setelah membersihkan badan Juan segera menelepon kekasihnya, ia merencanakan rencana Andre kepada Cindy dan Clara.


"Jadi mulai besok Cindy jangan kerja dulu ya, ini demi keselamatannya. Tunggu suasana kondusif dulu. Satu hal lagi, jangan pernah menceritakan hal ini kepada siapapun tanpa terkecuali. Yang tahu hanya Andre, aku dan kalian berdua." Jelas Juan tegas.


"Iya Sayang, aku tidak menyangka wanita bernama Jessy itu sadis sekali ya. Ternyata 2x kakak ku hampir celaka karena ulahnya." jawab Clara.


Setelah cukup lama mengobrol, mereka memutuskan beristirahat. Karena sebelum bekerja setiap hari mereka akan ke RS menjenguk Jhony.


***


Keesokan hari seperti biasa Clara bangun pagi, setelah beribadah ia akan membersihkan apartemen bersama Cindy. Entah mengapa dari semalam Clara kepikiran Jhony.


"Karena Kakak tidak mengizinkan aku membantu beres-beres, aku langsung ke tempat Jhony ya. Perasaanku tidak enak dari semalam, biar nanti aku telepon Juan. Kakak jangan keluar rumah dulu, aku masih sangat kuatir." kata Clara.


"Iya, Clara. Semoga Jhony segera sembuh, kamu hati-hati di jalan ya." jawab Cindy.


Clara bergegas memesan taksi, ia sangat rindu dengan sahabatnya.


Sesampai di RS Clara segera masuk ke ruangan Jhony, namun ketika akan membuka pintu kamar ia melihat ada seseorang di sana. Terlihat pria dengan perkiraan usia 40 tahun ke atas sedang memegang tangan Jhony dan terlihat menangis. Ia mengusap wajah Jhony, Clara merasa tidak asing dengannya.


" Maafkan aku Tian, aku tidak bermaksud membuatmu begini. Aku hanya ingin kau menjauh dari laki-laki itu, aku sangat cemburu dengannya. Aku tak bisa melupakanmu," kata Pria itu terdengar lirih namun sangat jelas di telinga Clara.


Degh... Hati Clara mencelos mendengarnya. Pria itu menoleh ke arah pintu seoalah mengeri ada yang mengintainya, beruntung Clara sudah menjauh dari sana. Ia mencari tempat yang aman untuk memberitahukan hal ini kepada kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2