Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 30 Terkurung Di Toilet


__ADS_3

"Allahu Akbar, kamu cantik sekali sayang. Terimakasih sudah mau memakai pemberianku," puji Juan saat melihat Clara.


"Kekasihnya siapa dulu dong," jawab Clara manja.


"Eh itu jam tangannya baru ya, tidak pernah kelihatan soalnya?" tanya Juan sambil melihat jam tangan Clara yang ia tahu harganya sangat mahal.


"Oh, ini pemberian Pak Andre. Aku sudah menolaknya, tapi katanya ini sebagai rasa terima kasihnya sudah menemani mencari kado kemarin," jelas Clara, tak ingin kekasihnya salah paham.


"Oh, dia memang begitu orangnya. Tidak apa-apa, terima saja," kata Juan yang sangat mempercayai sahabatnya itu.


Mereka pun berangkat bersama. Di sepanjang perjalanan Juan mendengarkan cerita Clara, ada saja yang ia ceritakan yang membuat Juan tertawa. Sampai tidak terasa mereka telah sampai di kantor Clara. Juan tidak mengantarnya ke atas, karena banyak laporan yang harus dia selesaikan.


***


Sementara itu di apartemen Om Dion, Jhony memulai hari keduanya bekerja, dengan menemani pria itu makan. Jhony sudah tidak begitu takut, apalagi kemarin pria itu sudah memberikan banyak uang dan barang-barang mahal.


"Tian, apakah kamu menyukai wanita?" tanya Om Dion.


Jhony bingung harus menjawab apa, sejauh ini dia belum pernah berpacaran.


"Aku belum pernah pacaran, Om," jawab Jhony terus terang.


"Apa? Kamu lugu sekali ya," katanya.


"Aku seperti ini sebenarnya bukan kemauanku. Waktu kecil orang tuaku berpisah. Ibuku orang indonesia tulen sedang ayah orang Rusia. Karena ibuku miskin, ayah membawaku ikut ke negaranya. Di sana aku mulai mendapat pelecehan dari pamanku sendiri selama bertahun-tahun." cerita Om Dion membuat Jhony bersimpati.


"Kenapa Om tidak melaporkannya ke polisi? Atau paling tidak ke orang tua Om Dion?" tanya Doni.


"Saat itu aku masih kecil, apalagi dia mengancamku. Aku bisa tenang saat ayah menyekolahkanku di asrama. Namun itu tak berlangsung lama, mimpi buruk selalu menghantui setiap malam. Sampai aku harus ke psikiater untuk membantuku lepas dari trauma itu. Saat itulah ayah tahu, dia melaporkan paman ke polisi. Dia merasa sangat bersalah kepadaku," Om Dion lanjut bercerita.


"Setelah itu dia tidak pernah lepas mengawasiku, mendidikku, merawatku dengan baik. Tapi setelah aku di universitas, aku merasa berbeda. Aku lebih tertarik melihat Pria. Akhirnya aku memilih pergi ke Indonesia, karena yang aku tahu Indonesia adalah negara yang beradab." jelasnya lagi.


"Apakah Om bertemu dengan ibu Om Dion?" tanya Jhony penasaran.

__ADS_1


"Aku di sini sudah 20 tahun, membantu mengembangkan bisnis ayahku disini. Aku bawa ibu tinggal bersamaku. Kehilangan ibu 3 tahun yang lalu membuatku terombang-ambing kembali. Aku kehilangan jati diri, aku kehilangan pelindungku. Aku sudah beberapa kali mencoba membina hubungan dengan seorang wanita, namun selalu gagal. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri," kata Om Dion, netranya mulai berkaca-kaca. Terasa kesedihannya begitu mendalam.


"Sabar ya, Om," kata Jhony menyemangati, tanpa sadar ia menyentuh bahu pria itu dengan lembut.


"Terima kasih, Tian," katanya menyambut tangan Jhony.


"Hanya kepadamu aku berkata jujur tentang kisahku. Sebelumnya aku tidak pernah berani, karena malu," kata Om Dion jujur.


"Sudahlah Om, jangan bersedih lagi. Kita keliling surabaya yuk, biar tidak ingat kejadian masa lalu lagi." kata Jhony memberi ide.


"Baiklah, ayo kita berangkat," ajak Om Dion, menerima usulan Jhony.


Mereka berkeliling surabaya. Mencoba berbagai macam kuliner, berjalan-jalan di taman, bermain wahana di THR (Taman Hiburan Rakyat), sampai nongkrong di kafe mereka lakukan. Om Dion memang bisa di bilang sangat kaya, namun hidupnya tidak glamour. Dia akan terlihat parlente, hanya ketika bertemu klien saja. Selebihnya ia lebih santai menikmati hidup. Dia benar-benar nyaman bersama Jhony.


***


Di kantor Adi Jaya Group. Semua karyawan tengah berbisik tentang Clara, terutama yang wanita. Mereka kagum dengan penampilannya hari ini, karena semua yang ia kenakan adalah barang yang sangat mewah untuk di gunakan gadis desa.


"Pasti dia morotin Pak Juan, gadis desa mana bisa beli barang begitu," ucap Riska si kompor mleduk.


"Halah paling juga ditukar dengan tubuhnya tuh," kata Riska makin tidak sopan.


"Hati-hati kalau kamu bicara, ntar tanganmu di pelintir lagi, baru tahu rasa." kata Desy, menganggap Riska sudah keterlaluan.


"Siapa takut, dia tidak level denganku," jawab Riska, lalu keluar ruangan.


Hari ini Juan dan Andre sama-sama sibuk, Clara memutuskan makan siang bersama Bella.


"Clara, hari ini kamu terlihat berbeda. Semua yang kamu kenakan terlihat mahal," puji Bella.


"Apa benar, Kak? Aku tidak terlalu paham, hanya ingin menghargai yang memberi saja," jawab Clara jujur.


Selama ini dia memang modis, suka sekali fashion. Namun dia belum bisa membedakan barang mahal atau KW.

__ADS_1


"Iya benar, itu semua harganya lumayan loh," jelas Bella.


"Mereka itu memang boros, Kak. Ya mungkin begitulah orang kaya," jawab Clara sambil mengunyah makanannya.


Mereka mengobrol sangat akrab sekali, sampai tak terasa waktu makan siang akan berlalu.


"Aku ke toilet dulu ya, Kak. Kak Bella duluan saja tidak apa-apa," pamit Clara.


"Ok, Clara." jawab Bella.


Dia merapikan riasannya sebentar, lalu masuk ke dalam toilet. Namun ketika akan keluar, tiba-tiba pintunya tidak bisa terbuka, di susul kemudian lampu toilet padam.


"Ahhh... siapa saja, tolong buka pintunya! Buka...." teriak Clara sambil menggedor pintu.


Dia sangat ketakutan, keringat mulai membasahi tubuhnya. Berulang kali dia berteriak dan menggedor pintu namun tetap tidak ada sahutan. Sampai akhirnya dia merasa pusing dan akhirnya pingsan.


"Ahh... buka pintunya, bukaa... bukaaa," ucap Clara, mengigau.


"Clara bangun, ini aku. Clara, bangunlah," kata Andre sambil menepuk pipi Clara.


"Bagaimana bisa begini sih, Bel? Coba kamu ceritakan?" tanya Andre sedikit panik melihat Clara belum sadar.


"Saya juga tidak tahu. Tadi sehabis makan siang dia pergi ke toilet dan menyuruh saya kembali duluan, Pak. Tiba-tiba ada OB yang datang, katanya Clara ditemukan pingsan di toilet." jelas Clara.


"Ya sudah kamu kembali saja, tolong kamu handle dulu pekerjaan Clara yang kejar deadline ya, Bel. Biar aku yang jaga." ujar Andre.


"Baik, Pak. Nanti saya suruh OB kesini untuk membantu," jawab Bella.


"Ok," kata Andre singkat. Dia sangat kuatir dengan keaadaan Clara.


"Clara, bangunlah," kata Andre menggenggam tangan Clara. Ia memberikan minyak kayu putih di bawah hidung gadis itu, benar saja menit kemudian Clara mulai siuman.


"Pak Andre, " kata Clara spontan memeluk pria itu.

__ADS_1


Clara menangis di pelukannya. Andre mengelus punggung Clara untuk menenangkannya. Jangan ditanya bagaimana perasaan Andre, dia senang bisa menjadi sandaran Clara. Namun hatinya pedih melihatnya menangis.


__ADS_2