Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 117 Mau Lagi Dan Lagi


__ADS_3

Keesokan harinya.


Bu Dina dan pak Jarwo telah bangun lebih dulu, tidak nyaman rasanya mereka tidur di kasur padahal Juan dan Clara tidur di karpet. Mereka tersentuh sekali melihat mereka berempat tidur dengan nyenyak, Juan memang pria yang baik, oleh sebab itu mereka tidak kuatir mempercayakan Clara kepadanya.


Clara sepertinya tersadar jika ada yang memperhatikannya, ia mulai membuka mata dan melihat ibu dan bapaknya sedang memandang ke arah mereka.


"Ibu, bapak, kok tidak membangunkan aku?" tanya Clara.


"Sepertinya kamu nyenyak sekali tidurnya, jadi sengaja tidak kami bangunkan," jawab ibunya.


"Iya Bu, mungkin karena lelah jadi pulas sekali. Hari ini mau masak apa Bu?" tanya Clara.


"Apa saja yang ada di dalam kulkas saja, biar tidak perlu ke pasar," jawab ibunya.


Karena di dalam kulkas masih ada ayam ungkep, telur, wortel, kubis dan brokoli akhirnya mereka masak sayur sop, telur dadar dan ayam goreng tidak lupa dengan sambal terasi. Pukul 06.00 pagi semua sudah siap, mereka membangunkan semua orang yang masih tidur. Setelah semua mandi mereka sarapan bersama.


Sekitar pukul 08.00 keluarga Clara mulai berkemas untuk segera kembali ke desa.


"Nak, kami pulang dulu ya, berbaktilah kepada suami mu. Nak Juan titip Clara ya, didiklah dia dengan baik," ucap pak Jarwo.


Mereka saling berpelukan, ada tangis sedih mengiringi kepergian keluarganya. Setelah beberapa saat larut dalam suasana haru mobil pun mulai melaju meninggalkan apartemen menuju tempat Januar untuk menjemput Jhony, baru melanjutkan perjalanan ke desa.


Juan dan Clara kembali ke atas, dia memeluk istrinya yang masih bersedih.


"Sayang, jangan bersedih lagi masih ada suami mu yang mencintai mu di sini," hibur Juan.


Juan melingkarkan tangannya di pinggang ramping Clara, ia mulai menciumi tengkuk istrinya yang putih mulus. Tiba-tiba Clara berteriak.


"Auw... tidak," Clara berteriak membuat Juan terkejut.


"Kenapa Sayang?" tanya Juan heran.


"Geli, Sayang," jawab Clara malu-malu.


"Aduh kamu ini bikin gemes saja," Juan langsung membopong tubuh Clara dan membawanya ke kasur.

__ADS_1


"Sayang ini masih pagi," ucap Clara yang mengerti keinginan suaminya.


"Kita akan melakukannya sampai pagi lagi," jawab Juan.


"Apa? Bagaimana jika sampai aku tidak bisa berjalan karena kamu?" tanya Clara serius.


"Aku akan menjadi kaki untuk mu," jawab Juan.


Saat ini mereka sedang tidur berdampingan, Juan menggenggam tangan Clara. Mereka mulai berciuman dengan mesra, bibir mereka saling m*lum*t. Tangan Juan mulai bergerilya di balik pakaian istrinya membuatnya mulai merasakan kenikmatan.


"Juan," panggil Clara dengan napas tak beraturan.


"Apa kamu sudah siap, Sayang?" tanya Juan.


"Iya," jawab Clara malu-malu.


"Tapi kata orang awalnya akan terasa sakit," ucap Juan.


"Aku tahu, tapi aku ikhlas menjalankan kewajiban ku," balas Clara.


"Sayang kenapa kamu menutup wajah, kita sudah halal sekarang. Apa kamu tidak ingin melihat tubuh ku dan memegangnya?" tanya Juan membuat Clara salah tingkah dan menurunkan tangannya.


Juan menarik celana Clara membuat gadis itu spontan menutupi area sensitifnya. Lalu Juan mulai membuka pakaian Clara dan menyisakan bra dan cd nya saja. Ia pandangi keindahan tubuh istrinya sampai tak berkedip, ini kali pertama ia melihat tubuh wanita nyaris telanjang begini. S*nj*tanya mulai membesar yang tanpa sadar Clara melihatnya.


"Sayang, itu," tunjuk Clara pada benda milik Juan.


"Kamu membuatnya bangun, kamu harus bertanggung jawab," bisik Juan.


Juan mulai menciumi wajah istrinya, lalu m*lum*t bibirnya dengan lembut, setelah hampir kehabisan napas ia berganti menciumi leher Clara dan tanpa sadar membuat gadis itu mendesah. Juan mulai meremas kedua gunung kembar istrinya, memilin-milinnya dengan lembut membuat tubuh Clara bergetar hebat.


"Enak Sayang?" tanya Juan.


Clara hanya mengangguk pasrah, matanya sayu menahan kenikmatan yang suaminya berikan. Napasnya memburu seolah meminta lebih. Mereka sekarang benar-benar b*gil. Gesekan antara kulit membuat nafsu mereka kian membara.


Juan perlahan mendekati gua Clara yang terlihat rimbun namun rapi, ia mulai menggesekkan rudalnya di sana.

__ADS_1


"Akh... akh..." Clara mulai mendesah lagi, guanya sudah mulai basah karena hujan buatan Juan.


"Sabar ya Sayang, mungkin akan terasa sakit sedikit," ucap Juan.


Ia mulai menekan pelan-pelan, wajah Clara mulai meringis menahan sakit. Juan menghentikan aktivitasnya dan mulai menciumi bibir istrinya, lalu meng*l*m gunung istrinya dengan rakus membuat Clara mendesah keras. Di saat itu ia mulai menekan lagi bagian bawah istrinya dan... gol, gawang pertahanan Clara akhirnya bisa ia takhlukkan.


Ia goyang perlahan milik Clara yang masih sangat sempit, Clara menggigit bibirnya karena merasakan kenikmatan yang tiada tara. Ini pengalaman pertama bagi keduanya, masih sama-sama belajar. Namun ternyata hasilnya tidak mengecewakan.


Juan makin mempercepat gerakannya, karena ini yang pertama hanya satu gaya saja yang mereka pakai. Mungkin karena belum berpengalaman tidak berapa lama Juan telah mengeluarkan lahar panas ke dalam rahim istrinya.


"Akh..." teriak mereka bersamaan.


Karena lelah mereka ketiduran sampai siang. Mereka bangun saat terdengar suara adzan dzuhur. Clara bangun lebih dulu, seluruh tubuhnya terasa sakit apalagi di area sensitifnya.


"Sayang bangun, ayo kita shalat dulu," ajak Clara.


"Ya Sayang, kamu mandi dulu saja," jawab Juan.


Akhirnya Clara mandi terlebih dahulu, ia mulai menyabuni tubuhnya. Membersihkan area senstitifnya dan tentu saja mandi besar. Namun ketika sedang asyik keramas tubuhnya di peluk dari belakang. Juan terus memberikan ciuman di ceruk istrinya membuat Clara kembali ter*ngs*ng.


"Sayang, katanya mau shalat," ucap Clara.


"Ya, setelah satu ronde lagi," balas Juan.


Ia terus menciumi tengkuk Clara sambil meremas kedua gunung istrinya, rudalnya pas sekali berada di bok*ng Clara. Keduanya tidak bisa membendung hasrat yang lain menggelora. Walaupun raga terasa sangat lelah namun kenikmatan ini tidak dapat mereka tolak. Terjadi lagi penyatuan antara dua insan yang sedang di mabuk cinta.


Setelah sisa-sisa kenikmatan kembali bersarang kembali di rahim Clara, merekapun menyudahi permainan kali ini.


"Sayang, terima kasih ya. Kamu membuat ku ketagihan, ingin lagi dan lagi," ucap Juan sembari mencium kening istrinya dengan lembut.


"Iya Sayang, tapi rasanya lelah sekali sampai tidak kuat berdiri," balas Clara.


Tentu saja Clara lelah karena di permainan kedua Juan lebih tahan lama dan menggunakan gaya bervariasi. Lutut Clara sampai lemas di buatnya.


"Maafkan aku ya Sayang, aku terlalu menggebu-gebu. Kamu sih membuat ku candu," ucap Juan.

__ADS_1


__ADS_2