Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 22 Hari Pertama Clara bekerja


__ADS_3

"Halo, Bella kamu ke ruanganku sekarang ya," kata Andre pada gadis di telepon.


"Baik, Pak," jawab gadis itu.


Tak lama terdengar pintu diketuk, nampak seorang gadis cantik dengan dandanan seperti seorang sekretaris melangkah masuk.


"Bella kenalkan ini Clara, dia akan mengisi bagian admin yang sedang kosong. Tolong kamu jelaskan tentang pekerjaannya dan ajari sampai bisa ya. Oh ya jangan galak-galak kepadanya, jika tidak Juan akan memakanmu." jelas Andre membuat Juan melirik tajam.


"Tapi Pak Andre, saya belum di wawancara," kata Clara dengan begitu polosnya.


Andre dan Juan spontan terkekeh bersama, mendengar kepolosan Clara.


"Kamu benar-benar bikin gemas, mungkin itulah perbedaanmu dengan gadis yang lain, sampai-sampai Juan tak bisa lepas," kata Andre.


"Kamu adalah rekomendasi dari Juan, mana mungkin aku tidak mempercayainya. Semoga kamu betah kerja di sini ya Clara," lanjut Andre.


"Oh baiklah, terimakasih Pak Andre," kata Clara sambil membungkuk sopan.


"Aku kerja dulu ya," katanya berpamitan dengan kekasihnya.


"Iya, nanti makan siang kamu di temani Andre ya. Siang nanti ada meeting soalnya, tapi pulang kerja aku jemput ya." kata Juan sebelum Clara pergi


Clara mengangguk dan berlalu mengekor Bella.


"Tolong jaga dia ya Dre, aku percaya padamu." kata Juan merengkuh pundak sahabatnya.


"Dia sangat menarik, akan sangat susah menjaganya," kata Andre dengan senyum menggoda.


"Ah kamu jangan membuatku kuatir, tadinya aku menyuruhnya membatalkannya untuk bekerja. Aku begitu takut kehilangan dia, hanya dia yang membuat hidupku berwarna seperti saat ini." jawab Juan dengan sungguh-sungguh.


"Maaf, aku bercanda. Aku akan menjaganya selama kamu tidak bersamanya. Aku tidak ingin kamu terluka sepertiku dulu. Kamu yang telah membantuku dari keterpurukan sehingga bisa bangkit kembali, mana mungkin aku melupakannya. Tenang saja ya kawan," kata Andre sambil menepuk-nepuk pundak Juan, berusaha menghilangkan kekuatirannya.

__ADS_1


"Terima kasih Andre. Tapi orang tuaku belum menyetujui hubungan kita, alasannya hanya karena dia wanita dari desa yang menurut mereka tidak sederajat dengan keluargaku. Bahkan Papa pernah bertemu Clara, entah apa yang di katakannya. Dia terlihat habis menangis setelah ketemu Papa, namun dia tidak bercerita apa-apa." cerita Juan pada sahabatnya.


"Sudah biasa itu Juan, apalagi kamu keturunan keluarga Hartono satu-satunya, pasti mereka ingin yang terbaik. Namun aku melihat Clara adalah gadis yang sederhana, sepertinya dia tidak matre seperti gadis di luaran sana. Buktinya dia masih mau bekerja, mungkin kalau gadis lain akan memilih diam di rumah dan memanfaatkan fasilitas yang kamu berikan," kata Andre menanggapi curhatan Juan.


"Ya aku mengerti, tapi harta bukan jaminan kebahagiaan justru harta akan membuat hubungan semakin jauh. Liat saja mama, papa dan aku, semakin jauh karena terlalu mengejar harta. Dia memang baik, makanya aku begitu menyayangi gadis itu," kata Juan.


"Sabar ya, semua akan indah pada waktunya," ujar Andre menyemangati sahabatnya.


"Iya, terimakasih sekali ya Dre. Beberapa hari lagi aku akan membawa Kakaknya Clara untuk bekerja di tempatmu juga," kata Juan.


"Ya,ya, kamu bawa semua keluarga Clara bekerja di tempatku juga tidak masalah," katanya menggoda sahabatnya.


Merekapun tertawa bersama. Setelah berpelukan dan mengucapkan terima kasih lagi, Juan pun berpamitan pulang.


"Clara ini ruanganmu. komputernya sudah di program, jadi nanti kamu tinggal mengerjakan saja. Semua file ini adalah pekerjaanmu, nanti aku ajarkan kamu mengerjakannya ya. Sekarang aku ajak kamu berkenalan dengan staf yang lain dulu." terang Bella dengan ramah.


"Jangan dengarkan apabila ada yang berkata buruk kepadamu, mereka hanya iri saja ya," imbuh Bella.


"Eh liat gadis itu, sekali gadis kampung walaupun di poles sebegitu rupa ya tetap saja gadis kampung," kata Riska staf keuangan berbisik kepada rekannya. Ia tertawa, memandang sinis kepada Clara.


"Kok bisa ya gadis desa seperti dia mendapatkan Pak Juan yang udah tampan, tajir lagi. Jangan-jangan dia pakai pelet," imbuh Riska mulai menghasut rekannya.


"Ah kamu bisa saja ris, aku liat dia gadis yang baik. Dia juga memang cantik, pria normal wajar jika menyukainya." kata Desy rekan Riska, ia terlihat memihak Clara. Menurutnya Clara orang yang ramah.


"Sok tahu banget kamu Des, baru juga kenal. Jangan terlalu percaya orang kampung seperti dia," kata Riska tak terima temannya membela Clara.


"Dasar aneh, kamu saja baru kenal sudah menuduhnya begitu. sudah ayo lanjut bekerja." sungutnya, merasa kesal dengan temannya yang tak pernah memandang baik terhadap orang lain.


Merekapun lanjut bekerja kembali. Clara sudah mulai bisa menyesuaikan diri, ia sangat antusias sekali. Ia bersyukur berkenalan dengan Bella, selain cantik dia juga sangat baik hati. Tak terasa waktu cepat berlalu, sudah tiba waktunya istirahat.


"Clara, sudah waktunya istirahat. Aku makan siang dulu ya. Kamu pasti nungguin Pak Andre ya, tadi kan Pak Juan sudah pesan soalnya," kata Bella.

__ADS_1


"Iya, Kak Bella duluan saja tidak apa-apa," jawab Clara, lalu merapikan mejanya.


"Clara, ayo makan siang," ajak Andre tiba-tiba datang.


"Iya, Pak," jawabnya sopan.


"Kamu mau pesan apa, Clara?" tanya Andre setelah menyodorkan menu kepada Clara.


"Saya nasi goreng sama es teh saja, Pak," jawabnya.


"Itu saja, Clara?" tanya pria itu lagi.


"Iya, itu sudah cukup," jawabnya sopan.


Andre hanya menggeleng-gelengkan kepala, menurutnya tingkah Clara sangat lucu baginya.


"Ayo ceritakan bagaimana pertemuanmu dengan Juan, dia belum bercerita semua kepadaku." kata Andre, tersenyum manis kearah Clara.


Lalu mengalirlah cerita pertemuannya dengan Juan, sesekali terdengar tawa renyah dari keduanya. Banyak pria yan tertarik dengan penampilan Clara yang sangat manis, namun terlihat minder karena ia terlihat bersama atasan mereka. Beberapa wanita terlihat patah hati, mengira Clara adalah gadis yang di sukai atasannya itu.


"Terima kasih Pak Andre sudah baik sekali mau menerima saya bekerja di sini, bahkan mentraktir makan siang," ucap Clara dengan tulus, saat selesai bersantap.


"Panggil Andre saja, Clara. Juan itu bagiku sudah seperti keluarga, jadi kamu jangan sungkan ya," jawab Andre.


"Jangan Pak, tidak enak dengan karyawan lain. Saya akan berusaha bekerja sebaik mungkin, agar tidak mengecewakan kepercayaan yang sudah Bapak beri," kata Clara lagi.


"Oh ya Pak, apa di sini ada mushalla?" tanya Clara.


"Ada, dari sini belok kanan. Lalu lurus saja, sebelum toilet tempatnya." jawab Andre sembari memberi tahu arahnya.


"Terimakasih ya Pak. Saya kesana dulu, Pak Andre duluan saja ya," pamit Clara dengan membungkukkan badannya.

__ADS_1


Andre melongo menatap kepergian Clara. Menurutnya gadis itu benar-benar unik dan sangat menarik. Pantas saja sahabatnya tak mau kehilangan dia. Dia saja yang baru mengenalnya, sangat menyukai sifat Clara.


__ADS_2