Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 126 Clara Hamil


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


Juan sudah kembali sehat, namun tidak mempunyai semangat hidup. Hari-hari ia jalani hanya mencari istrinya bersama Bagas selebihnya dia hanya mendekam di apartemen. Cindy juga sangat kuatir dengan nasib Clara dan membantu mencari Clara bersama suaminya di saat lenggang. Jhony dan Januar juga telah mengunjungi semua teman Clara, mulai teman sekolah sampai teman kerjanya saat di pabrik dulu, namun belum juga menemukan Clara.


Tubuh Juan semakin kurus, matanya mulai memiliki kantung mata karena jarang tidur dan terlalu sering menangis. Ibunya sangat merasa bersalah, pasalnya ia tahu jika Clara meninggalkan Juan karena paksaan suaminya namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Semua orang tidak ada yang mengetahui keberadaan Clara, pun dengan orang tuanya di desa. Karena setelah berganti nomor Clara belum pernah menghubungi mereka kembali. Kepergian Clara memberikan kesedihan mendalam di hati semua orang yang mengenalnya.


***


Sementara hidup Clara juga tidak mudah, setiap hari ia sibuk bekerja. Ia belajar menjahit, membuat pola serta semua keterampilan yang mendukung pekerjaannya ia pelajari. Tidak jarang ia pulang saat hampir magrib, badannya terasa sangat letih tiap hari. Namun dia bersyukur karena dengan melakukan banyak kegiatan membuatnya lupa sejenak dengan segala masalah yang dia alami.


Huek... huek...


Clara muntah, badannya terasa tidak enak. Perutnya mual dan kepalanya pusing. Ia segera melumuri badannya dengan minyak kayu putih setelah mandi. Setelah shalat ia segera berbaring di tempat tidurnya.


Sekitar pukul 22.00 dia terbangun, saat ke kamar mandi dia kembali muntah-muntah. Badannya terasa lemas sekali, ia memutuskan untuk tidur kembali. Namun baru saja berbaring ia merasa mual lagi sehingga harus pergi ke kamar mandi.


Huek... huek...


"Ya Allah kenapa separah ini, perut ku terasa sakit sekali," ucap Clara meringis memegangi perutnya.


Setelah mengoleskan minyak kayu putih, dia berusaha untuk tidur kembali. Perutnya terasa sedikit kram, mungkin karena dari tadi ia merasa mual dan muntah. Walaupun menahan sakit akhirnya Clara terlelap juga.

__ADS_1


Keesokan harinya dia bangun untuk shalat subuh seperti biasa, namun badannya juga tak kunjung membaik. Setelah mandi dan shalat ia memutuskan untuk beristirahat kembali. Hari ini ia izin tidak bekerja dan berencana akan ke puskesmas nanti. Dengan badan sedikit lemah dan menahan rasa mual ia keluar untuk membeli sarapan dan teh hangat.


Tubuhnya sedikit membaik setelah sarapan dan minum teh hangat, namun rasa mual tidak juga kunjung hilang padahal ia sudah mengkonsumsi obat herbal untuk masuk angin. Tepat jam 8 pagi ia bergegas menuju puskesmas terdekat, ia memilih naik becak karena sudah tidak kuat untuk berjalan, kepalanya terasa pusing. Setelah menunggu beberapa saat namanya akhirnya di panggil.


"Ibu Clara," panggil petugas puskesmas.


Clara segera masuk, ia menyampaikan semua keluhannya. Tapi dokter malah menanyakan tentang pernikahan dan kapan terakhir dia menstruasi, membuatnya sedikit bingung.


"Saya menikah sudah hampir 4 minggu Dok, kalau haid terakhir kalau tidak salah 5 minggu yang lalu," jawab Clara.


Dokter terus menggali keterangan dari Clara, dia terus senyum-senyum mendengar ceritanya. Clara merasa heran dengan sikap Dokter itu, yang menurutnya tidak berempati kepadanya. Dia sedang mengeluh sakit tapi dokter menanggapinya tidak serius, malah senyum-senyum dari tadi.


"Sepertinya ibu sedang hamil, coba tes pakai tespect ini. Masukkan urine ibu Clara ke dalam sini dan berikan ke laboratorium," Dokter memberikan tespect dan sebuah tempat untuk menampung urin.


"Apa saya tidak salah dengar, Dok?" tanya Clara masih ragu.


"Tentu saja tidak, kehamilan adalah hal yang wajar bagi wanita yang telah menikah," jawab dokter itu.


Clara segera melakukan yang dokter suruh. Ia mencoba memakai tespect, setelah menunggu beberapa saat muncul 2 garis, satu berwarna merah terang dan satu agak kurang terang. Hati Clara benar-benar tidak karuan, ia merasa sangat senang dan sedih secara bersamaan. Setelah memberikan wadah urin ke laboratorium, ia kembali ke tempat dokter untuk memberitahukan hasil tespect itu.


"Sepertinya memang benar dugaan saya, semua keluhan yang di alami karena Bu Clara sedang hamil. Untuk lebih meyakinkan kita tunggu dulu hasil laboratorium, silahkan Ibu bisa menunggu di ruang tunggu laboratorium,"


"Baik Dok, terima kasih,"

__ADS_1


Clara melangkah menuju ruangan yang di maksud oleh dokter. Ia mengelus perutnya dengan lembut, tetesan air mata terjun bebas di pipinya. Dia begitu bahagia pernikahannya dengan suaminya berhasil membuat mereka punya keturunan, namun ia merasa sangat sedih karena ia hamil dalam keadaan ketika memilih pergi dari suaminya.


"Ibu Clara,"


Clara tersentak saat namanya di panggil, ia segera menyeka air matanya. Ia di beri selembar kertas berisi hasil laboratorium, ia tidak begitu mengerti karena isinya tentang istilah dalam kedokteran. Sesuai petunjuk ia harus menunjukkan hasilnya kepada dokter.


"Wah selamat ya Bu Clara, hasilnya memang positif. Dari perhitungan haid terakhir usia kandungan ibu sudah berjalan 4 minggu, saya akan meresepkan beberapa obat dan vitamin untuk mengurangi rasa mual dan vitamin agar ibu tidak mudah sakit,"


Dokter memberikan selembar kertas berisi resep yang harus ia ambil di ruang farmasi.


"Terima kasih ya, Dok," ucap Clara sebelum meninggalkan ruangan.


Ia segera menuju ruang farmasi, sambil menunggu dia terus merenung memikirkan bagaimana nasib anaknya nanti. Haruskah ia menghubungi keluarganya untuk mengatakan semua ini? Tidak tahan rasanya ia menanggung semuanya sendiri, ia benar-benar membutuhkan pundak untuk bersandar.


Setelah mendapat obat dan vitamin ia bergegas menuju ke kosannya, di dalam perjalanan tidak lupa ia membeli water heater dan susu ibu hamil. Walaupun dalam keadaan susah begini bayi di dalam rahimnya harus mendapatkan nutrisi yang cukup.


Sesampai di kos ia langsung membuat susu yang tadi ia beli, ia terpaksa meminumnya walaupun tidak suka. Clara memang tidak suka minum susu sejak dulu, namun demi bayi yang sedang ia kandung harus ia lakukan.


Setelah selesai ia memutuskan untuk melakukan aktivitas ringan, ia bersih-bersih dan mencuci pakaiannya yang kotor. Setelah selesai ia memakan sedikit roti dan kemudian bersiap untuk beristirahat.


"Sayang, maafkan ibu mu ya, kamu harus merasakan penderitaan seperti yang ibu rasa. Ayah mu pasti senang jika mengetahui kabar ini, dia begitu menantikan kehadiran mu selama ini," Clara mengelus perutnya, mengajak bicara bayinya.


Ia mengambil foto pernikahannya dengan Juan dan menciuminya. Clara begitu merindukan kasih sayang suaminya, ia tak dapat membendung rasa sedihnya lagi dan menangis sejadi-jadinya tanpa mengeluarkan suara. Bisa di bayangkan betapa sesaknya dadanya.

__ADS_1


Di apartemen, seolah merasakan kerinduan istrinya. Juan juga meneteskan air mata tanpa sebab.


__ADS_2