Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 97 Pertemuan Yang Mengharukan


__ADS_3

"Bu, Clara pergi kemana? Dia pergi dengan siapa dan naik apa?" tanya Juan beruntun.


"Di antar suami saya naik motor, jika di kejar sekarang pasti masih bisa. Nak Clara minta di antar pulang, ke apartemen gitu kalau tidak salah," jawab bu Siti.


Juan merasa bersyukur ternyata Clara di selamatkan oleh penduduk. Juan merogoh sakunya, ia keluarkan semua uang yang ada di dompetnya. Ia akan memberikannya kepada bu Siti sebagai ucapan terima kasih, memang tidak banyak tapi nanti dia akan berikan lagi kepada suaminya yang sedang mengantar Clara.


"Bu tolong ini di terima, maaf tapi tidak banyak karena di dompet hanya tinggal ini saja. Terima kasih sudah membantu calon istri saja, tolong jangan di tolak ya," ucap Juan sembari menyerahkan setumpuk uang kepada bu Siti.


"Jangan Nak, saya ikhlas membantu," tolaknya halus.


"Tidak apa-apa Bu, tolong di terima ini rezeki Ibu," ucap Juan memaksa.


"Ini banyak sekali, terima kasih ya Nak," balas nya.


"Sama-sama, kita pamit dulu untuk mengejar mereka ya, Bu," pamit Juan.


"Iya, Nak. Hati-hati di jalan," ucap Bu Siti.


Juan dan Bagas bergegas kembali ke tempat mobil mereka di parkir. Mereka sedikit berlari untuk mengejar waktu. Sekitar 30 menit mereka sampai di apartemen. Juan berlari terlebih dahulu sedangkan Bagas memarkirkan mobil.


"Pak, apa Clara sudah pulang?" tanya Juan kepada satpam.


"Belum Mas, hari ini Non Clara tidak terlihat," jawabnya.


Bagas baru saja masuk saat Juan menghampirinya.


"Gas kata satpam Clara belum datang, kenapa lama sekali ya?" tanya Juan kuatir.


"Sabar Mas, mungkin pelan-pelan atau ada kendala. Kita tunggu dulu ya biar tidak sisipan jalan lagi," jawab Bagas.


Mereka menunggu di lobi, tampak Juan sudah sangat tidak sabar. Sejak tadi ia mondar mandir kesana kemari membuat Bagas tersenyum geli, mungkin begitu jika orang sedang jatuh cinta. Maklum Bagas sampai sekarang masih sendiri, mungkin jika sudah jatuh cinta baru bisa merasakan seperti yang Juan rasakan.


Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit, Clara belum juga menampakkan diri. Juan sudah terlihat gusar.


"Gas, Ini sudah lama sekali. Lebih baik kita kembali ke rumah bu Siti tadi, aku tidak tahan menunggu tanpa kepastian begini," ucap Juan.


"Iya sudah, ayo kita kesana," balas Bagas setuju.


Saat sedang menuju parkiran, sebuah motor tampak masuk ke area apartemen. Juan menatapnya dari jauh, ia tidak melihat ke arah jalan hingga menabrak mobilnya sendiri.


"Aduh," Juan meringis.

__ADS_1


"Makanya lihat jalan, Mas," ucap Bagas⁰ terkekeh geli dengan tingkah Juan.


Namun Juan tidak menanggapi, dia terlihat serius memandang motor yang berhenti tadi. Tiba-tiba ia berteriak.


"Iya, itu Clara," ucapnya sembari berlari ke arah motor tadi.


"Clara," panggilnya.


Clara menoleh saat mendengar namanya dipanggil, senyumnya seketika merekah.


"Juan," balasnya nyaris tak terdengar karena terlalu bahagia.


"Sayang, aku merindukan mu," ucap Juan.


Dua insan sedang berpelukan, melepaskan kerinduan yang tertahan. Keduanya merasa sangat bahagia bisa bertemu kembali pasca kejadian yang mengerikan yang terjadi.


"Bagaimana keadaan mu, Sayang?" tanya Juan.


"Aku baik-baik saja. Oh ya ini suami bu Siti yang mengantar ku kesini," ucapnya.


Juan mencium tangan suami bu Siti dan mengucapkan terima kasih. Mereka mengajaknya masuk, namun beliau menolak karena kasihan dengan istrinya jika terlalu lama di tinggal.


"Bapak langsung pulang saja ya Nak, kasihan ibu kalau di tinggal lama-lama. Yang penting Nak Clara sudah sampe di rumah dan bertemu keluarga," ucap pria paruh baya itu.


"Pak tolong jangan di tolak, ini rejeki Bapak dan Ibu. Saya sangat berterima kasih sekali karena sudah merawat dan mengantarkan calon istri saya pulang dengan selamat," kata Juan sembari menyodorkan amplop itu.


"Jangan Nak, Kita ikhlas menolong Nak Clara," tolaknya.


"Kita juga ikhlas, jangan di tolak Pak. Ini tidak sebanding dengan pertolongan kalian," ucap Juan memaksa.


Setelah berkali-kali menolak dan berkali-kali Juan membujuk akhirnya suami bu Siti mau menerima pemberian Juan. Setelah beliau pergi, Juan, Clara dan Bagas memutuskan ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan Clara serta menjenguk Jhony dan Bella.


"Aku sebenarnya tidak apa-apa hanya sedikit luka saja, tidak perlu di bawa ke rumah sakit, Sayang," ucap Clara saat di dalam perjalanan.


"Di tubuh mu banyak luka, itu harus di periksa jadi tolong jangan membantah," balas Juan.


Tak berapa lama mereka tiba di rumah sakit. Sementara Juan mengantar Clara periksa, Bagas memutuskan menjenguk Bella.


"Bagaimana keadaan mu hari ini?" tanya Bagas.


"Alhamdulillah aku sudah mendingan, Cindy merawat ku dengan sangat baik," jawab Bella sambil tersenyum.

__ADS_1


'Ah, manis sekali senyumnya. Ternyata dia cantik juga, tubuhnya juga akh...' batin Bagas, tiba-tiba hatinya bergetar.


"Semoga lekas sembuh ya," ucapnya.


"Terima kasih Mas, kamu sudah menolong ku dua kali. Aku berhutang budi sama Mas Bagas," ucap Bella tulus.


"Sama-sama, itu sudah kewajiban kita untuk saling menolong. Oh ya Cindy kemana?" tanya Bagas.


"Dia sedang melihat Jhony, memangnya kenapa Mas?"


"Tidak apa-apa, hanya ingin memberi tahu kalau Clara sudah di temukan," jawab Bagas.


"Benarkah? Di mana dia sekarang? Lalu bagaimana keadaannya?" tanya Bella senang.


"Iya, dia sedang di antar mas Juan memeriksakan keadaannya. Dia terluka tapi tidak separah kamu dan Jhony," jawab Bagas.


"Syukurlah, semoga para penjahat itu segera tertangkap," ucap Bella.


"Ya sudah, kembalilah beristirahat. Aku akan melihat perkembangan Jhony," pamit Bagas.


"Iya, terima kasih Mas," ucap Bella.


Ketika akan ke ruangan Jhony ia bertemu Juan dan Clara. Clara hanya luka ringan dan di beri resep obat saja sehingga tidak perlu rawat inap.


"Kamu dari mana, Gas?" tanya Juan.


"Menjenguk, Bella," jawab Bagas.


"Wah sepertinya Bagas sebentar lagi tidak akan sendiri lagi nih," goda Juan.


"Apa sih Mas," ucap Bagas, wajahnya memerah.


Juan Puas sekali bisa menggoda Bagas, karena biasanya anak itu yang sering menggodanya.


"Gas, setelah ini sebaiknya kamu istirahat. Kamu pasti lelah dari kemarin menemani ku, tapi anak buah mu tetap suruh memantau ya," ucap Juan.


"Iya, Mas. Aku ingin melihat Jhony dulu, setelah itu aku akan pulang," balas Bagas.


Clara dan Juan segera menjenguk Bella, setelah agak lama di sana mereka membiarkannya untuk beristirahat kembali. Setelah dari sana mereka lanjut menjenguk Jhony. Dari kejauhan Clara melihat kakaknya sedang menemani Jhony yang sepertinya masih tertidur.


"Kak Cindy," teriak Clara, ia lupa jika sedang di rumah sakit karena saking gembiranya.

__ADS_1


"Clara," panggil Cindy sembari menghambur memeluk adiknya.


"Aku merindukan mu Clara, aku sangat kuatir dengan keadaan mu. Aku benar-benar takut kamu kenapa-kenapa," ucap Cindy sembari menangis karena terharu.


__ADS_2