
Tok... tok... tok... suara pintu diketuk dari luar, lalu seorang perempuan cantik dengan blazer merah marun dengan sepatu hak tingginya masuk ke ruangan Pak Danuarta. Dia mengatakan tamu yang ditunggu sudah datang. Pak Danuarta menyuruh masuk.
"Selamat pagi, Om Danu. Ini Clara kekasihnya Juan," sapa David memperkenalkan Clara.
"Selamat pagi, saya Clara Pak," ucap Clara memperkenalkan diri.
"David, keluarlah dulu! Aku ingin bicara berdua dengannya!" perintahnya.
Hening sesaat, David takut meninggalkan Clara sendirian. Dia takut om nya melukai gadis itu. Namun dia berlalu juga, menunggu di depan pintu. Berjaga-jaga jika saja sesuatu terjadi, ia berpikir pasti mendengarnya.
Clara diam, dia hanya menunduk. Mencoba tersenyum ramah, namun pria sebaya ayahnya di depannya malah tersenyum sinis. Dia memandang Clara dari bawah ke atas, membuatnya risih. Menit kemudian pria itu menyuruhnya duduk.
"Duduklah, Clara," katanya dingin.
"Terima kasih, Pak," jawab Clara, lalu duduk di kursi, tepat di depan pria itu.
"Sepertinya kamu masih sangat muda sekali, apa benar kamu mencintai Juan?" tanya ayah Juan memulai pembicaraan.
"Benar, saya mau 16 tahun Pak. Saya nyaman bersamanya, dia sangat baik sekali," jawab Clara dengan jujur.
"Kamu sadar siapa dia? Dan siapa Kamu?" tanya pria itu dengan memicingkan matanya.
"Apa kamu kira, kamu dan keluargamu sederajat dengan kami?" tanyanya lagi.
Hati Clara tersayat, dia tak kuasa menahan air mata yang tak terbendung lagi. Namun netranya berusa bertahan agar tidak tumpah.
"Saya tulus mencintainya, bahkan jika dia tak memiliki apapun, saya akan tetap mendampinginya," jawab Clara dengan tenang.
"Hahaha... kamu bisa berkata begitu sekarang, tapi jika Juan benar-benar tidak punya apa-apa, kamu pasti meninggalkannya!" kata ayah Juan.
"Kamu pikir gadis miskin sepertimu bisa menipuku? Berapa yang kamu inginkan, sebut saja?" tanya pria itu lagi.
"Apa maksud Bapak? Saya memang miskin, tapi saya tidak akan menukar cinta saya dengan uang," kata Clara dengan tegas.
"Sudahlah tidak perlu malu, bukankah kamu membutuhkan uang untuk keluargamu di kampung! Di amplop ini ada uang 50 juta, kamu ambil saja! Tapi cepat kamu tinggalkan Juan, dan jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi!" perintahnya setengah berteriak.
__ADS_1
Clara sudah tidak dapat membendung air matanya lagi. Bulir-bulir air mata itu jatuh begitu deras, dia menatap jengah ke arah Pak Danuarta. Tiba-tiba dia merasa sesak napas, pria itu mencoba membeli harga dirinya. Terbayang wajah Juan yang sangat tampan, meneduhkan dan baik sekali. Bayangan pria itu menari indah dalam ingatannya, namun menit kemudian berganti bayangan Pak Danuarta yang menghinanya. Begitu ironi sekali, kedua pria itu terlihat sangat kontras baginya.
"Maaf Pak, saya memang miskin tapi saya punya harga diri! Ambil uang Bapak, saya tidak butuh! Permisi...." tegas Clara seraya mengusap air matanya, lalu berlalu dengan angkuh.
Dia melewati David yang berada di depan pintu, membuat pria itu terpana. Clara berlalu dengan cepat, di ikuti David yang mengekor. David menyusulnya, membukakan pintu untuk gadis itu.
"Terima kasih, David," ucapnya berusaha tersenyum.
"Kamu baik-baik saja, Clara?" tanyanya mengkuatirkan Clara. Dia tahu gadis itu habis menangis dari guratan-guratan wajahnya.
"Jika kamu masih ingin menangis, menangislah dipundakku," kata David lagi.
"Aku hanya sedih, kenapa orang kaya selalu memandang rendah orang miskin? Apa baginya kita tidak patut dihargai?" tanya Clara menumpahkan kekesalannya.
"Tidak semua Clara, bukankah aku sudah memperingatkanmu tentang keluarga Juan. Jujur aku memang mencintaimu, namun bukan hanya karena itu aku ingin kamu meninggalkan Juan, aku takut kamu akan terluka seperti sekarang ini." jelas David membuatnya terharu.
"Kamu pria yang baik, tolong lupakan aku dan carilah wanita lain. Orang seperti dirimu pasti di sukai banyak orang," katanya membesarkan hati David.
"Tidak semudah itu Clara, aku tidak gampang jatuh cinta. Seandainya mudah, sudah dari dulu aku mempunyai kekasih, bahkan mungkin sudah menikah," jelas David.
"Maaf," kata Clara singkat.
"Aku ingin sendiri, kamu tidak keberatan kan?" tanya Clara yang melihat David ingin mampir.
"Baiklah, aku mengerti," ucapnya.
Brukk... brukk...
Dua kali David kena bogem mentah, membuat Clara berteriak. Pukulan yang mendadak membuat David tidak sempat mengelak, ia jatuh terjerembab.
"Juan jangan, apa yang kamu lakukan," kata Clara sembari memegangi Juan yang akan memukul David kembali.
"Lepaskan aku Clara, aku akan menghajarnya! Dia memang tidak suka melihat kita bersama." kata Juan penuh emosi.
"Kamu salah paham!" teriak Clara.
__ADS_1
Dia memeluk erat Juan agar tidak memukul David lagi, rasa malunya sudah terkikis. Dia harus menyelamatkan David dari amukan kekasihnya. David merasa hatinya lebih sakit dari wajahnya yang di pukul Juan. Pemandangan di depannya sangat menyakitkan, dia memilih pergi dari sana saat Clara menyuruhnya segera pulang.
"Kenapa kamu lakukan ini pada ku, Clara?" tanya Juan masih salah paham.
"Apa yang aku lakukan Juan, dia hanya mengantarku," jelas Clara.
"kamu hanya perlu meneleponku, akan aku antarkan keujung dunia sekali pun!" kata Juan berteriak kecewa.
"Kamu tidak mengangkat teleponku, aku mencari ke rumah tidak ada seorang pun, bahkan Cindy juga tidak tahu kamu kemana! Aku berkeliling Surabaya mencarimu, lalu aku lihat kamu bersamanya! Bisakah kamu bayangkan perasaanku, Clara?" kata Juan, netranya mulai berkaca-kaca, menahan antara amarah dan kecewa.
Clara kembali memeluk pria itu untuk menenangkannya, Juan tidak menolak namun juga tidak membalas. Ia bergeming, tetap memikirkan apa yang dilakukan Clara dan David.
Clara tersadar, betapa pria ini begitu mencintainya. Dia memutuskan tetap bertahan dengannya, walau belum mendapatkan restu.
"Sayang, aku tidak pernah mengkhianatimu, jika itu yang kamu pikirkan," kata Clara dengan lembut.
Dia menceritakan semuanya dari awal. Dia tidak ingin berbohong kepada pria yang sangat mencintainya itu. Pria itu menatap wajah Clara, berusaha mencari kejujuran dari ceritanya.
"Tapi kenapa kamu tidak menjawab teleponku?" tanya Juan.
"Aku sudah mengatakan tadi, aku akan meneleponmu nanti, setelah sampai di rumah," jelas Clara lagi.
"Kamu sudah membuatku gila tadi, Clara," katanya lirih.
"Maafkan aku Juan, aku tidak menyangka kamu begitu kuatir," kata Clara penuh penyesalan.
"Berarti kamu sudah bertemu Papa? Lalu apa yang dia katakan?" tanya Juan begitu penasaran.
Mimik wajah Clara menyiratkan kesedihan, Juan menangkap semua itu tatkala ia bertanya tentang pertemuannya dengan ayahnya.
"Apa dia berkata kasar padamu, Clara? apa dia melukai perasaanmu? Jawablah, Clara?" tanya Juan bertubi-tubi.
"Sudahlah Sayang, aku akan tetap bersamamu apapun yang terjadi." ucap Clara seraya mengusap wajah pria yang dia cintai dengan sangat lembut.
Juan menggenggam tangan Clara lalu mengecupnya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Clara. Teruslah bersamaku, menua bersamaku sampai ajal menjemput kita."
Mereka saling bersitatap. Mencari arti satu sama lain. Clara memutuskan untuk menyembunyikan hinaan yang ia terima. Dia tidak ingin hubungan ayah dan anak itu kian memburuk.