
Sekitar jam 8 malam, Jhony pulang. Wajahnya terlihat berseri-seri, lagi-lagi dia membawa belanjaan yang banyak. Cindy dan Clara saling berpandangan. Tadi Clara telah bercerita tentang pertemuannya dengan Jhony di mall.
"Wah kamu bawa apa Jhon, banyak sekali?" tanya Cindy.
"Bos aku baik sekali, dia membelikanku ini semua tadi," jawab Jhony merasa senang.
"Dia pasti kaya sekali ya Jhon, royal lagi orangnya," imbuh Cindy.
Clara diam saja, memperhatikan Jhony tajam. Namun sepertinya Jhony tidak sadar. Clara merasa Jhony menyembunyikan sesuatu tentang pekerjaannya.
"Bos kamu pasti perempuan ya Jhon? Mungkin dia menyukaimu makanya sangat baik kepadamu," ujar Clara dengan tenang, ingin melihat reaksi Jhony.
"Kamu salah Clara, Bos ku seorang pria sekitar 40 tahunan gitu. Aku hanya 3 hari bekerja untukku, karena setelah itu ia harus berangkat ke luar negeri," jelas Jhony.
"Oh," kata Clara singkat. Berarti tadi yang ia lihat di mall kemungkinan adalah bosnya, pikirnya.
"Clara, Cindy, ini untuk kalian. Bos ku yang membelikannya, semoga kalian suka ya," kata Jhony sambil menyerahkan 2 buah kotak.
"Kamu jangan selalu memberi hadiah untuk kami, Jhon. Lebih baik kamu tabung untuk bekal pulang nanti, ibu kamu membutuhkan biaya yang tidak sedikit." kata Cindy menasehati.
"Wah, jam nya cantik sekali. Ini pasti mahal, Jhon. Lebih baik kamu jual saja buat tambahan nanti pulang," kata Clara menambahi.
"Tidak itu untuk kalian, untuk pulang sudah ada kok. Kalian tenang saja, tolong jangan di tolak ya," ucap Jhony memelas.
"Baiklah, tapi lain kali jangan boros seperti ini ya," kata Cindy.
"Terima kasih ya Jhon, semoga rezekinya barokah. Amin," kata Clara.
"Amin, terimakasih semua. Aku ke dalam dulu ya," ucap Jhony lalu masuk ke kamarnya.
"Tuh kan benar, seperti yang Clara liat di mall tadi. Cuma yang tidak habis pikir, sikap mereka itu bukan seperti bos dengan anak buah," ucap Clara setengah berbisik.
"Sudahlah Clara, mungkin sikap Bosnya begitu. Menganggap anak buah layaknya keluarga sendiri." ucap Cindy bijaksana.
"Ya bisa saja sih, yaudah ayo kita ke kamar," ajak Clara.
__ADS_1
"Eh aku tadi di beri hadiah Pak Andre, karena sudah menemani beli kado untuk adiknya. Coba kita lihat, Kak," kata Clara lagi.
Clara mulai membuka tas belanja tadi. Sepertinya dia mengenal brand di tas itu. Ia mulai membuka kotak segi empat itu, betapa terkejutnya dia.
"wah mewah sekali, itu pasti sangat mahal," kata Clara terkejut.
"Loh ini kan hadiah yang Clara pilih tadi, untuk kado adiknya Pak Andre. Kenapa di sini? Apa jangan-jangan Pak Andre salah ngasih ya?" tanya Clara merasa bingung.
"Bisa jadi sih, coba kamu tanya dulu. Kasihan jika sampai salah nanti," kata Cindy memberi saran.
"Aku telepon dulu deh," kata Clara, lalu menghubungi Andre.
Baru 2x dering teleponnya sudah diangkat.
"Halo, Pak Andre," sapa Clara.
"Iya, ada apa Clara?" tanya Andre dengan lembut.
"Sepertinya Bapak salah ngasih hadiah. Ini yang Bapak kasih tadi, itu isinya jam tangan yang saya pilih untuk kado adiknya Pak Andre," jelas Clara.
Andre tersenyum mendengar penjelasan Clara. Ia benar-benar mengagumi sifat gadis itu, sangat jujur dan apa adanya.
"Tapi ini berlebihan, Pak. Ini pasti sangat mahal, saya tidak enak menerimanya," jawab Clara terus terang.
"Sudahlah Clara, itu pantas untukmu. Aku akan marah jika kamu menolaknya," ucap Andre dengan tegas.
"Tapi Pak...." kata Clara ingin membantah namun langsung di sela Andre.
"Sudah cukup, aku tidak mau tahu. Besok kamu pakai ke kantor ya, titik. Selamat malam, Clara." kata Andre tidak mau di bantah.
Clara terdiam, tidak bisa beralasan lagi karena telepon sudah di matikan.
"Sudahlah kamu terima saja, sepertinya dia tulus kok." kata Cindy memberi saran.
"Sejujurnya aku merasa tidak nyaman Kak, ini terlalu mahal." kata Clara.
__ADS_1
"Orang kaya memang begitu jika sudah merasa nyaman, Bos nya Jhony juga begitu. Jadi kamu jangan terlalu di pikir ya," kata Cindy mencoba menenangkan adiknya.
***
Di kediaman Andre. Pria itu sedang termenung di dalam kamarnya. Hatinya mulai tidak terkontrol. Semakin mencoba melupakan, semakin sering bayangan Clara hadir. Walau sekuat apapun berusaha menepisnya, selalu datang, lagi dan lagi. Saat gadis itu tersenyum, saat tangan mereka tak sengaja bersentuhan, atau saat dia memegang keningnya, semua berputar seolah menonton film dalam memorinya. Begitu menyiksa. Mengapa harus kekasih Juan?
"Mengapa kamu harus hadir Clara? Tahukah kamu, aku tak pernah baik-baik saja saat di dekatmu. Aku tak mungkin memilikimu. Aku tak mungkin merebutmu dari seseorang yang sudah sekian tahun aku anggap saudara dan selalu membantuku, bahkan disaat terburukku. Tuhan... tolong jauhkan dia dari pikiranku. Lebih baik diriku yang sakit, daripada aku melukai mereka." kata Andre bermonolog.
Netranya menitikkan air mata, namun segera di hapusnya. Ia tidak ingin bersedih dan menjadi lemah. Ia bersiap tidur agar semua bayangan Clara lenyap dari pikirannya. Rasa lelah menidurkan pria itu lebih cepat.
***
Keesokan harinya, Juan datang lebih pagi menjemput Clara. Ia ingin melepas rindu dengan kekasihnya itu.
"Juan, aku merindukanmu," kata Clara malu-malu. Ia langsung membukakan pintu saat mendengar deru mesin mobil Juan di halaman.
"Iya, aku tahu. Aku juga sangat merindukanmu, makanya kesininya lebih pagi." jawab Juan tak kalah senangnya.
"Oh ya ini oleh-oleh buat kakak dan juga teman-temanmu, kamu simpan dulu ya," kata Juan sambil memberikan beberapa kantong belanja.
"Wah banyak sekali, Juan." kata Clara seraya menerima kantong-kantong belanja dari Juan, lalu menaruhnya di belakang. Sedangkan Juan kembali ke mobilnya.
"Itu apalagi?" tanya Clara, melihat Juan masih membawa beberapa kantong belanja lagi.
"Ini khusus untuk kamu, Sayang. Ada baju, celana, tas dan sepatu untuk kebutuhanmu kerja. Buat ganti-ganti." kata Juan.
"Banyak sekali, jangan boros-boros Juan. Aku bisa membelinya sendiri, nanti." kata Clara merasa tidak enak.
"Kamu penyemangatku bekerja, jadi jangan protes jika aku membelikanmu apapun ya Calon Istriku," kata Juan sambil tersenyum mesra.
"Kamu itu bisa saja ya, membuat aku terbang ke awan. Jangan keseringan begitu, nanti aku tidak bisa turun lagi loh," jawab Clara manja.
Juan tertawa mendengar kata-kata Clara.
"Terima kasih ya, Sayang. Aku bawa ke dalam, sekalian siap-siap dulu sebentar ya," kata Clara berpamitan.
__ADS_1
"Iya, aku tunggu di depan saja ya." kata Juan, lalu duduk di teras.
Clara membuka pemberian Juan satu persatu. Ia kenakan baju yang di belikannya, agar kekasihnya senang. Ia juga mengenakan jam tangan pemberian Andre, agar tidak dimarahi bosnya itu. Sekarang Clara benar-benar terlihat berkelas.