Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 87 Gina Membuka Suara


__ADS_3

Beberapa menit kemudian Juan sampai di rumah sakit itu, ia segera bergabung dengan Bagas.


"Bagaimana keadaannya, Gas," tanya Juan saat baru tiba.


"Itu Mas, dia masih antri. Sepertinya masih agak lama, oh ya pria yang bersamanya itu menurut ku pasti suaminya karena mereka terlihat mesra sekali," ucap Bagas.


"Iya kemungkinan besar begitu, karena Andre juga bilang dia sudah menikah dan sedang hamil," balas Juan.


"Terus kapan kita akan bertindak, Mas?" tanya Bagas yang sudah tidak sabar membongkar kedok Gina.


"Sabar, biarkan saja dulu. Aku akan menemui Bima dulu yang sedang berobat, kakinya di tabrak ibu-ibu tadi," kata Juan.


"Wah kasihan, belum selesai masalah Gina malah dapat musibah lagi," ucap Bagas bersimpati.


"Aku tiba-tiba mendapat ide agar Gina mengaku dengan sendirinya, tanpa di paksa sedikit pun," ucap Juan sembari tersenyum licik.


"Wah ide apa, Mas?" tanyanya penasaran.


"Ada saja, nanti kamu lihat sendiri. Sekarang cukup kamu perhatikan saja Gina jangan sampai ia selesai sebelum Bima, nanti aku akan membawa Bima kesini," jawab Juan.


"Siap, aku pasti tidak akan mengalihkan pandangan darinya," balas Bagas.


"Bagus, kamu memang bisa di batalkan," ucap Juan lalu meninggalkannya.


Setelah Juan menghubungi Bima untuk mengetahui posisinya di mana, Juan bergegas menyusul. Setelah dekat dekat ruangannya Juan segera melihat Bima yang tengah meringis kesakitan, terlihat kakinya luka dan berdarah.


"Hei Bima, kenapa kamu di sini harusnya langsung ke unit gawat darurat agar segera di tangani. Itu luka mu keluar banyak darah. Tadi bilangnya tidak apa-apa, ini tuh cukup parah," ucap Bima, ia iba melihat keadaan Bima.


"Tidak apa-apa kok, aku masih tahan," jawab Bima masih berusaha tersenyum.


"Sudahlah kamu tidak perlu antri, ayo aku bawa ke UGD saja," Juan memaksa Bima.

__ADS_1


"Tidak perlu Juan, aku tidak apa-apa," kata Bima masih berusaha menolak.


"Sudah nurut saja, kamu harus cepat sehat karena sebentar lagi kamu harus akting agar si Gina itu buka mulut dan mengatakan kebenarannya," ucap Juan.


Bima tidak dapat menolak lagi saat Juan memapahnya ke UGD. Ia berusaha mencerna kata-kata Juan tadi yang mengatakan dia harus berakting. Tapi karena perawat segera menangani lukanya, ia urung bertanya maksud ucapan Juan tadi. Dokter dan perawat bekerja dengan cekatan, mereka segera membersihkan luka dan mengobatinya. Ia mendapatkan beberapa jahitan di kakinya karena lukanya agak parah. Juan segera melunasi administrasi walaupun Bima menolaknya.


"Bima Gina baru saja masuk ke ruangan dokter, sebentar lagi kamu harus menemuinya tepat saat mereka keluar dari ruangan dokter," jelas Juan.


"Menemuinya? Lalu aku harus berkata apa?" tanya Bima yang belum paham dengan ide Juan.


"Sepertinya dia kesini dengan suaminya untuk periksa kandungan. Bukankah kemarin dia mengaku yang ia kandung adalah anak mu, ya sudah kamu akui saja dan katakan kamu mencintainya dan akan bertanggung jawab kepadanya dan bayi kalian," jawab Juan.


"Hah apa kamu gila? Aku tidak mengenalnya, bagaimana mungkin aku mencintainya? Bukankah kamu bilang percaya jika yang wanita itu kandung bukan anak ku?" tanya Bima bingung.


"Justru itu, ini trik supaya dia membeberkan semuanya. Ia tidak mungkin membuat suaminya marah atau cemburu dengan kata-kata mu nanti, dan akhirnya ia pasti akan mengaku," jelas Juan.


"Oh iya, ide kamu brilian sekali. Ayo aku sudah tidak sabar untuk menjebaknya, aku penasaran apa motifnya melakukan ini semua," ucap Bima antusias.


Mereka segera ke tempat Bagas berada, terlihat Gina belum keluar dari ruangan dokter. Mereka harus menunggu beberapa menit sebelum akhirnya pasangan itu keluar dari ruang dokter.


Bima mengangguk dan segera menjalankan rencana.


"Hei Gina, bagaimana keadaan anak kita? Tadi kamu sudah periksa dia bukan?" tanya Bima mulai menghampirinya.


"Apa maksud pria ini, Sayang?" tanya pria di sampingnya.


"Tidak tahu Mas, aku tidak mengenalnya. Mungkin hanya orang kurang waras saja, tidak perlu di dengar," jawab Gina.


"Kenapa kamu tega berkata begitu, bukankah kita saling mencintai? Anak dalam perut mu adalah saksi cinta kita, bukankah kamu ingin kita menikah, Sayang," ucap Bima sangat meyakinkan.


"Heh kamu jangan mengaku-ngaku, dia ini istri ku dan anak yang dia kandung adalah anak ku. Kamu hanya orang tidak waras yang ingin mengganggu kami saja," hardik pria itu.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak percaya kamu tanya saja pada Cindy tunangan ku, Gina sudah menemuinya saat di kantornya. Bahkan aku sudah melihat CCTV nya, dia mengaku jika anak itu adalah benih ku," ucap Bima lantang.


Gina tersentak, ia begitu terkejut mendengar ucapan Bima. Pertahanannya mulai melemah. Juan dan Bagas yang menonton tersenyum dengan puas. Pria itu segera menatap istrinya yang kini terlihat menundukkan kepalanya.


"Apa benar yang dia ucapkan, Gina? Apa anak ini benar anak kalian?" bentaknya dengan penuh penekanan.


"Tidak Mas, ini benar anak mu. Ini anak kita, aku berani bersumpah," ucap Gina sambil terisak.


"Lalu mengapa kamu mengatakan ini anak kalian kepada tunangannya? Jangan berbohong padaku, apa kalian telah berselingkuh di belakang ku?" teriak pria itu, membuat Gina kian menangis.


Gina menggeleng cepat, tangisnya kian keras namun tidak sepatah katapun keluar dari mulut mu.


"Bukankah kamu ingin aku bertanggung jawab, ayo kita segera menikah, Gina," ucap Bima semakin mendalami aktingnya.


"Diam!" bentak Gina.


"Cukup, jangan membuat suami ku menyangka yang tidak-tidak lagi," ucapnya dalam sela-sela tangisnya.


"Kamu tidak perlu menangis Gina, jika memang dia ayah dari bayi mu aku akan membiarkannya bertanggung jawab kepada kalian, aku akan segera mengurus surat perceraian kita," ucap pria itu kecewa, terlihat sekali ia sangat sedih bahkan sempat mengeluarkan air mata.


"Ini tidak benar Mas, ini hanya salah paham. aku mengaku salah, tapi aku terpaksa," ucap Gina pada akhirnya.


"Apa maksud mu Gina, tolong jangan bertele-tele," balas pria itu tegas.


"Aku terpaksa Mas, karena butuh uang untuk membantu perekonomian kita saat ini. Aku di bayar mahal untuk pura-pura menjadi korban dari laki-laki bernama Bima yaitu kekasih dari Cindy, agar mereka batal menikah. Aku memfitnahnya dengan mengatakan dia telah menghamili ku dan tidak mau bertanggung jawab," jelas Gina dengan derai air mata.


Juan, Bagas dan juga Bima tersenyum lega mendengar pengakuan Gina. Sekarang yang mereka ingin tahu siapa sebenarnya yang menyuruhnya.


"Astagfirullah Gina, kenapa kamu tega ingin menghancurkan kebahagiaan orang lain hanya demi uang. Keluarga kita tidak akan berkah jika makan dari hasil uang panas," ucap pria itu sembari membantu istrinya berdiri.


"Maaf Mas, aku tidak berpikir sampai kesana," ucap Gina lirih.

__ADS_1


"Aku tidak akan memperkarakan hal ini ke polisi, tapi kamu harus memberi tahu siapa orang yang menyuruh mu itu," kata Bima tegas.


"Baiklah, aku akan memberi tahu," balas Gina.


__ADS_2