Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 94 Membawa Jhony Kabur


__ADS_3

"Baiklah Bella, aku tunggu di luar ya. Setelah itu aku akan mengantar mu pulang," ucap Bagas lalu keluar.


Setelah mengenakan pakaian Bella segera keluar menemui Bagas. Bagas tidak bertanya banyak kepada Bella, ia hanya berpesan agar dia sementara jangan pergi kemana-mana dulu karena takut anak buah Indra yang lain akan mencarinya. Bella setuju untuk izin ke kantornya sementara waktu. Dari sana Bagas baru tahu jika Bella bekerja di tempat yang sama dengan Clara. Namun dia memilih tidak bertanya lebih lanjut dan segera mengantar Bella pulang.


"Terima kasih, Mas Bagas," ucap Bella.


"Sama-sama, jangan lupa menghubungi aku jika mereka mengganggu mu kembali," ucap Bagas.


Bella menggangguk mengiyakan, Bagas segera pamit dan meninggalkan rumah Bella.


***


Sementara itu di apartemen tampak Clara dan Cindy tengah bersantai.


"Ya pulsa ku habis, aku ke konter sebentar ya Kak. Apa Kakak mau titip sesuatu?" tanya Clara.


"Tolong belikan jus mangga tanpa gula ya, Clara," jawab Cindy.


"Ok Kak, aku pergi dulu," pamit Clara lalu bergegas ke bawah.


Dia segera membeli pulsa di konter di kawasan ruko sebelah apartemennya. Setelah selesai ia mengunjungi tempat juz buah tapi ternyata tutup. Ia melihat di seberang jalan ada yang menjual jus, karena tidak ingin mengecewakan kakaknya ia akhirnya menyeberang untuk membeli jus.


Ketika ia menyeberang tak sengaja netranya melihat sosok Jhony di toko lampu beberapa toko dari penjual jus, sontak saja ia terkejut namun juga senang. Tanpa pikir panjang ia menghampiri Jhony dan menarik tangannya.


"Jhony ayo kita pergi, kamu harus kabur dari orang jahat seperti Indra," ajak Clara.


"Clara, sedang apa kamu di sini?" tanya Jhony terkejut melihat kehadiran Clara yang tiba-tiba menariknya.


"Sudah jangan banyak bertanya, kita harus pergi secepatnya," jawab Clara.


"Tidak Clara, Indra itu berbahaya dia sangat nekat. Aku tidak mau membuat sahabat atau keluarga ku terluka, biarlah aku saja yang berkorban, yang penting kalian selamat," ucap Jhony.


Ternyata ini alasan Jhony menghindar dari mereka selama ini, ternyata mimpinya itu memang sebuah firasat. Tapi ia tidak mungkin tega membiarkan Jhony sendiri menghadapi semuanya, ia harus membawanya pergi.


"Clara cepatlah pergi anak buah Indra ada di mana-mana," pinta Jhony.


"Tidak Jhon, kita ke kota bersama-sama mana mungkin aku meninggalkan mu sendiri dalam kesulitan," ucap Clara.


Clara segera menyetop taksi yang kebetulan lewat.

__ADS_1


"Pergilah, anak buah Indra akan segera datang," perintah Jhony.


Clara tidak mau mendengar, ia menarik Jhony masuk ke taksi dan menyuruh sopir segera melakukan kendaraannya. Seorang anak buah Indra melihat itu dan berteriak ke arah mereka.


"Non, ini kita mau kemana?" tanya sopir.


"Sudah jalan saja dulu, Pak," jawab Clara.


"Clara kenapa kamu bertindak gegabah seperti ini, tadi ada yang melihat kita, dia pasti melapor kepada Indra. Jika Indra tahu dia akan menghabisi kita berdua," ucap Jhony.


Clara terdiam, kini ia merasa sangat takut. Entah mengapa tadi berbuat nekad seperti itu, ia hanya tidak tega melihat Jhony menahan semuanya sendiri.


"Maaf Jhon, aku hanya tidak tega kepada mu," ucap Clara.


"Tapi dengan begini kamu sudah membahayakan diri mu sendiri, harusnya kamu biarkan aku mengatasinya sendiri, aku akan mencari kelemahannya," balas Jhony.


"Sudah terlanjur Jhon, sekarang kita harus kemana?" tanya Clara bingung.


"Aku juga tidak ada ide, Clara," jawab Jhony.


Tiba-tiba ponsel Clara berdering. Bella meneleponnya.


"Aku besok tidak bisa ke kantor, Clara. Aku sedang tidak enak badan, tolong kamu bantu handle pekerjaan dengan Cindy ya," jawab Bella.


"Iya, tidak masalah Kak. Semoga Kakak cepat sembuh," ucap Clara.


Tiba-tiba iya mempunyai ide di kepalanya, ia akan pergi ke rumah Bella saja sambil menyusun langkah selanjutnya.


"Kak Bella, bolehkah aku kerumah mu sekarang? Ini darurat Kak, boleh ya?" tanyanya memohon.


Bella bingung tiba-tiba Clara ingin ke rumahnya, namun sepertinya ia sedang ada masalah jadi ia memperbolehkannya. Bella segera memberi tahu alamatnya langsung kepada sopir taksi. Mobil taksi segera melaju ke alamat yang di sebutkan. Clara segera menelepon kakaknya.


"Halo, Clara kamu kemana kok lama sekali beli pulsanya?" tanya Cindy di seberang.


"Maaf Kak, kakak kunci semua pintu dan jendela apartemen, jangan menerima siapapun dan dengan alasan apapun," ucap Clara, suaranya bergetar.


"Memangnya kenapa? Kamu ini di mana?" tanya Cindy penasaran.


"Aku sedang bersama Jhony, aku membawanya kabur Kak," jawab Clara.

__ADS_1


"Kamu gila ya, kenapa bisa senekad itu, Indra pasti tidak akan membiarkan kalian lari," ucap Cindy kesal.


"Sekarang kamu dan Jhony di mana?" tanya Cindy.


"Aku di taksi sedang perjalanan ke rumah Kak Bella, tolong hubungi Juan ponsel ku low..." belum selesai bicara ponselnya sudah kehabisan baterai.


"Kenapa Clara mau ke rumah Kak Bella?" tanya Cindy heran.


Ia segera ingat pesan Clara untuk menghubungi Juan, namun ketika melihat ponselnya baterai nya juga sudah merah. Mengapa saat di butuhkan ponsel juga tidak berpihak padanya, ia segera mengecharge ponsel itu dan menunggu beberapa saat.


Sementara itu Clara dan Jhony telah sampai di rumah Bella, dia terkejut melihat Clara datang bersama dengan seorang pria namun bukan Juan.


"Dia sahabat ku dari kampung Kak, kita sedang di buru oleh penjahat," jelas Clara agar Bella tidak salah paham.


"Masuklah dulu, kalian terlihat sangat pucat," kata Bella mempersilahkan.


Bella segera memberi mereka minum dan camilan, namun karena pikiran tidak tenang mereka hanya minum saja.


"Kak, maaf ya kita jadi merepotkan begini," ucap Clara merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, aku justru senang ada teman ngobrol. Ibu ku sedang ke luar kota selama seminggu, menghadiri pernikahan saudara jadi aku sendirian," balas Bella.


"Baru saja mereka mulai merasa nyaman tiba-tiba terdengar pintu depan di gedor dengan keras. Mereka semua ketakutan, Bella menyangka itu anak buah teman kencannya. Sementara Clara dan Jhony mengira itu anak buah Indra. Mereka bertiga meringkuk di belakang kursi.


Mereka sepertinya berhasil membobol pintu dan mulai masuk. Ketiganya benar-benar ketakutan saat mendengar teriakan serta barang-barang yang di banting. Tidak perlu waktu lama, mereka bertiga segera tertangkap.


"Wii mereka di sini," teriak salah seorang dari mereka.


"Ayo segera bawa mereka," perintah seseorang.


"Apa semuanya di bawa?"


"Wanita itu tidak perlu, yang dua saja yang kita bawa," ucapnya menunjuk Bella.


Mereka memukul Jhony dan Clara hingga pingsan dan membawanya pergi, namun Bella mencoba menghalangi.


"Tolong jangan bawa mereka, kasihan mereka, jangan," pinta Bella dengan bertunangan air mata.


Beberapa anak buah Indra menyerangnya sampai Bella terjatuh dan nyaris pingsan. Dengan kekuatan yang tersisa ia mencoba menghubungi seseorang di ponsel untuk meminta bantuan, namun ia tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang ia hubungi karena sudut matanya terluka di pukul orang-orang tadi. Ia senang yang ia telepon mengangkat panggilannya.

__ADS_1


"Tolong..." belum selesai bicara ia sudah pingsan.


__ADS_2