
"Kak Cindy tadi Juan kemari, katanya kita akan menghadari undangan Kak Bima. Nanti malam dia jemput, kita berangkat bersama-sama," kata Clara dengan riang, saat Cindy dan Jhony datang.
"Wah akhirnya malam mingguan kita keluar, biasanya cuma di rumah saja. Aku harus terlihat keren nih," kata Jhony tidak kalah gembira.
"Iya nanti kita datang," jawab Cindy dengan tenang, namun tidak dapat menutupi raut bahagia di wajahnya.
***
"Aku sudah kehilangan akal mengurusi putramu itu, Ma! terang-terangan dia berani menentang, bahkan mengancamku!" teriak Pak Danuarta saat bertemu istrinya di rumah.
"Jangan diambil hati, dia pasti tidak serius. Dia masih belum dewasa, Pa," jawab istrinya berusaha menyabarkannya.
"Dia sudah 27 tahun. Berhentilah selalu membelanya, ini semua terjadi karena kamu selalu memanjakannya." katanya mulai menyalahkan istrinya.
"Kenapa Papa menyalahkan aku? Papa yang terlalu keras padanya, membuatnya jadi pemberontak sekarang." Kata mama Juan tak mau kalah.
"Kamu yang tidak punya waktu untuknya, sehingga dia menyalahkanku. Seharusnya sebagai istri kamu lebih banyak di rumah menjaga anak, bukan hanya arisan, berkumpul tidak jelas, ikut kegiatan sosial, sampai lupa dengan anak." sambung pak Danuarta.
"Oh Papa lupa. Dulu saat aku selalu di rumah menjaga Juan dibilang kurang pergaulan, ketinggalan zaman, tidak sosialita seperti istri teman-teman Papa. Aku ikuti kemauan Papa! Sekarang kenapa Papa berkata begitu." jawabnya.
"Ah sudahlah jangan dibahas. Sekarang rencana apa yang Mama punya untuk memisahkan mereka?" tanyanya, mengalihkan pembahasan.
Nyonya Danuarta hanya diam, dia terlihat masih kesal. Dia teringat dulu dia hanya ibu rumah tangga biasa, merawat Juan, memasak, berkebun di taman rumah, dan pekerjaan lain yang lumrah di lakukan ibu rumah tangga. Sampai suaminya merubahnya menjadi seperti sekarang. Sebenarnya dia juga enggan memisahkan Juan dengan kekasihnya, apalagi dia cinta pertamanya yang mampu menggetarkan hati putranya. Namun taat dengan ucapan suami membuatnya melakukan hal itu.
"Aku belum tahu, berikan saja nomor ponselnya. Nanti aku hubungi," jawabnya dengan sedikit malas.
"Baik, aku simpan di ponselmu," kata Pak Danuarta, lalu pergi meninggalkan istrinya.
'Dia selalu begitu, semua orang harus mengikuti keinginannya' batin istrinya yang tidak berdaya.
"Halo, apakah ini Clara?" tanyanya mulai menghubungi kekasih putranya itu.
__ADS_1
"Iya benar, ini siapa ya?" tanya Clara di seberang telepon.
"Saya Nyonya Danuarta, mamanya Juan," jawabnya dengan lembut.
"Oh iya, ada apa Nyonya?" tanya Clara sopan.
"Aku ingin bertemu denganmu, bisa?" tanyanya.
"Jika Nyonya menyuruhku untuk meninggalkan Juan, maaf saya tidak bisa." tegas Clara terus terang.
"Tidak, bolehkah kita bertemu dulu agar tidak salah paham. Aku ingin mengenalmu lebih jauh," kata wanita itu lagi.
"Baiklah," kata Clara menyetujui
"Berikan alamatmu, aku akan kesana," kata mama juan. Ia terlihat mencatat alamat Clara.
Wanita paruh baya itu segera menyuruh sopir mengantarnya ke rumah Clara. Dia tidak sabar bertemu dengan gadis pilihan putranya. Dia senang akhirnya putranya memilih seorang gadis untuk menemani hidupnya walaupun hanya gadis miskin yang minim pendidikan, namun pasti suaminya takkan merestui sampai kapanpun.
Tok... tok... tok... Dia mengetuk rumah Clara.
"Permisi, apa benar ini rumah Clara," tanyanya saat pintu dibuka.
"Iya, saya Clara," kata Clara.
Mama Juan memandangi gadis itu.
'Manis, ramah, namun sepertinya masih terlalu muda' batin mama Juan.
"Oh, Saya Mamanya Juan," katanya memperkenalkan diri.
Perempuan yang sudah cukup berumur, namun masih tetap cantik dan elegan. Clara tersenyum lalu mempersilahkannya duduk. Clara membuatkan minum sebentar, sementara mama Juan mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah.
__ADS_1
"Silahkan di minum Nyonya," kata Clara dengan sopan.
"Terima kasih, panggil tante saja ya" jawabnya lalu minum suguhan dari Clara.
"Sudah berapa lama kamu dekat dengan Juan, Clara?" tanyanya lembut, sangat keibuan.
"Baru beberapa minggu, Tante," jawab Clara jujur.
"Maaf Clara to the point saja, sebenarnya tante merestui dengan siapa saja Juan ingin menghabiskan hidupnya, namun pasti setiap orang tua ingin yang terbaik untuk hidup anaknya. Seperti orang tuamu, tante dan papanya Juan juga sama. Mungkin bagi kamu kami jahat, namun orang tua mana yang rela hidup anaknya menderita. Dia anak semata wayang kami. Kami hanya takut dia terluka nantinya." kata mama Juan, lembut namun berhasil menikam jantung Clara.
Clara diam sejenak, mencoba mencerna kata-kata wanita itu. Tadinya dia menyangka wanita itu berbeda dengan suaminya. Ternyata sama saja, hanya saja penuturannya lembut khas seorang ibu.
"Maaf, apa maksud Tante saya akan membuat Juan terluka dan menderita?" tanyanya ingin memperjelas maksud wanita itu.
"Usia kalian terpaut sangat jauh, kehidupan sosial kalian juga berbeda. Tante rasa kalian tidak bisa hidup berdampingan tanpa adanya konflik. Mengertilah Clara, kami hanya ingin putra kami bahagia," katanya sambil menyentuh tangan Clara, seoalah memohon.
"Tante, apakah orang yang seusia, satu kasta, ada jaminan akan merengkuh kebahagiaan? Jika iya, kenapa pasangan artis banyak yang nikah cerai? Kembar identik saja pasti ada bedanya tante. Begitulah Allah menciptakan kehidupan saling berbeda untuk saling melengkapi." kata Clara bijaksana, dia tidak tersulut emosi.
"Maaf saya tidak bisa meninggalkan putra Tante, jika bukan Juan sendiri yang menyuruh saya pergi." kata Clara tetap dengan pendirian.
"Benar kata Papanya Juan, kamu gadis yang sangat keras kepala! Percuma tante kesini dan memohon padamu." katanya dengan nada tidak selembut tadi.
"Maafkan saya Tante, saya tidak dapat mengabulkan permintaan Tante." kata Clara lagi.
"Suamiku pasti akan melakukan apapun untuk memisahkan kalian. Pikirkan itu, Clara," katanya setengah mengancam.
"Saya tahu tante, itu sudah konsekuensi atas pilihan saya. Sekali lagi saya minta maaf," ucap Clara dengan tulus.
Wanita itu menghela napas tanda menyerah. Ia melihat kesungguhan dan ketulusan dalam diri Clara. Seandainya saja mereka sederajat, pasti takkan serumit ini. Ia hanya takut akan tindakan suaminya yang nekad. Masalah ini juga akan membuat hubungan ayah dan anak kian jauh, bahkan saling menyakiti satu sama lain. Tanpa sadar netranya mulai menitikkan air mata. Clara sangat iba melihat wanita di sampingnya, ia teringat ibunya di desa. Nalurinya sebagai seorang anak tersentuh.
"Tante tolong jangan menangis, saya tidak ingin menyakiti siapapun. Namun saya sudah berjanji, saya akan mendampingi Juan dalam keadaan apapun. Tolong mengerti saya, Tante," kata Clara dengan mata mulai mengembun.
__ADS_1
"Baiklah aku akan berusaha membujuk suamiku, namun aku tidak bisa berjanji untuk hasilnya. Aku hanya tidak ingin kamu atau Juan terluka pada akhirnya. Aku tidak akan bisa menolong lagi jika suatu saat terjadi sesuatu. Tante pergi dulu," katanya kemudian berlalu dengan cepat.
Clara mematung, menerka-nerka ucapan demi ucapan wanita itu. Apa arti jika nanti terjadi sesuatu? Apa suaminya akan melukai diriku bahkan putranya sendiri? Terlalu asyik dengan pikirannya sendiri, membuatnya tidak sadar wanita itu telah berlalu dengan mobil sedannya.