Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 139 Keributan di Hari Pertama


__ADS_3

"Itu bukan urusan mu Tasya, jika kamu tidak meninggalkan rumah ini hidup mami tidak akan sesunyi ini," jawab mami Sita.


"Tapi bukan berarti Mami bebas membawa orang asing masuk ke dalam rumah ini, jika saja papi masih ada dia pasti tidak akan pernah setuju," bentak Tasya.


"Cukup Tasya, jika papi masih ada aku tidak mungkin kesepian, kalian juga tidak akan berani meninggalkan aku sendiri. Kalian memang tidak pernah menghargai aku, lebih baik kamu pergi saja jika hanya ingin bertengkar dengan ibu mu ini,"


Teriakan mami Sita menggema di seluruh rumah, membuat Clara dan Jhony merasa tidak nyaman berada dalam kondisi ini. Karena kehadiran mereka ibu dan putrinya itu bertengkar.


"Terserah Mami saja, setelah para pekerja malam itu sekarang orang asing juga mami terima. Jika mereka memanfaatkan Mami, jangan pernah minta tolong kepada ku,"


Gadis itu berlalu dengan kesal, mobil mewahnya meninggalkan rumah begitu saja.


"Mami sebaiknya kita pergi saja dari rumah ini, kami tidak ingin ada kesalahpahaman dengan putri Mami," ucap Clara.


"Sudahlah Clara, jangan pernah dengarkan dia. Dia itu tidak pernah peduli dengan hidup ku, ketakutannya hanya soal harta, selebihnya dia tidak pernah ambil pusing,"


Setelah merasa yakin tidak akan ada masalah, mereka menuju kamar masing-masing untuk beristirahat.


Mami Sita adalah seorang janda kaya raya dengan kekayaan fantastis, bisnisnya tersebar di dalam dan luar negeri. Setiap hari ia hanya memantau semuanya dari rumah, namun begitu pundi-pundi kekayaannya tidak pernah kering. Walaupun kekayaannya melimpah namun dia tidak suka menghamburkan kekayaannya untuk hal yang tidak penting. Dia mempunyai jiwa sosial yang tinggi, ia banyak menjadi donatur tetap untuk panti asuhan dan panti jompo di sekitarnya.


Banyak sekali fasilitas umum yang ia dirikan seperti sekolah, rumah sakit serta yayasan amal untuk membantu menyalurkan sumbangan kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Dulu ia adalah seorang kupu-kupu malam yang di pertemukan dengan pria baik yang tulus mencintainya, yaitu suaminya yang telah meninggal karena usianya yang memang sudah tua, ia meninggal di usia 75 tahun.


Semenjak kepergian suaminya semuanya berubah, anak-anak mereka memilih tinggal sendiri dan membangun bisnis mereka sendiri, tentunya dengan uang peninggalan ayah mereka. Ini membuat mami Sita hidup dalam kesepian hanya di temani para karyawannya. Maka dari itu ia putuskan untuk membangun kos-kosan. Rumahnya yang memang dekat dengan beraneka ragam tempat hiburan malam membuat kosannya sangat di minati oleh para pekerja malam. Ia yang pernah merasakan betapa sulitnya hidup sehingga terpaksa terjun ke dalam dunia malam membuatnya menerima mereka dengan baik, walau banyak kata-kata miring dari masyarakat ia tidak pernah dengarkan.


Tok... tok... tok...


"Sayang, apa kamu sudah bangun?"


Mami mengetuk kamar Clara, karena tidak ada sahutan ia coba membukanya. Ternyata Clara sedang shalat, mami menangis melihatnya, betapa lama ia sudah tidak pernah memakai mukenahnya.

__ADS_1


"Mami, kenapa Mami menangis?" tanya Clara sembari melepas mukenahnya.


"Tidak apa-apa Sayang, melihat mu shalat membuat ku sedih. Betapa tidak bersyukurnya aku yang sudah sekian lama melupakan Tuhan ku,"


"Tidak apa-apa Mi, pelan-pelan saja. Allah Maha pemaaf, yang penting niatnya benar-benar tulus,"


"Apa Tuhan akan menerima tobat ku, setelah semua dosa yang aku lakukan selama ini?"


Clara yang tidak tahu menahu tentang masa lalu mami Sita bingung untuk menjawab, entah apa dosanya sehingga merasa Tuhan tidak pernah bisa mengampuninya.


"Mami manusia itu tempatnya salah, teruslah berbuat baik dan terus beribadah, kita tidak pernah tahu kebaikan mana yang akan membawa kita ke dalam surga. Kita hanya bisa berusaha, hasilnya tetap Tuhan yang menentukan. Seberat apapun dosa kita selama hayat masih di kandung badan dan ada niat tobat dalam diri seseorang, insyaallah Tuhan akan selalu memaafkan. Mami jangan sampai patah semangat ya,"


Mami memeluk Clara begitu erat, ia merasa Clara adalah malaikat yang di kirim Tuhan untuk membuat hidupnya lebih baik. Mungkin itu kenapa dia merasakan aura kebaikan dalam dirinya sejak pertama melihatnya.


"Mami beruntung bertemu kalian, aku berharap kalian betah tinggal di sini,"


Setelah beberapa lama mengobrol, Clara segera bersiap untuk bekerja. Mami memaksa mereka agar di antar sopir namun dengan sopan mereka menolak, mereka tidak ingin memanfaatkan kebaikan mami Sita. Kendaraan roda dua milik Clara yang menemani perjalanan mereka.


"Hari ini akan ramai karena banyak pengusaha yang datang, aku dengar perusahaan mereka sedang menang tender," ucap Rico.


"Semoga kamu kuat ya, Clara," ucap Jhony.


Raut wajah Clara mulai terlihat panik, suara musik yang keras membuat kepalanya sedikit pusing. Ia memilih pergi ke toilet untuk menenangkan diri sebentar.


"Kamu harus kuat Clara, demi Axel dan keluarga mu di desa," ucapnya menyemangati diri sendiri.


Setelah merasa nyaman ia kembali menemui Jhony, ternyata suara musik telah berubah cukup tenang. Pria-pria dewasa yang cukup matang dengan setelan jas rapi tampak memenuhi ruangan, mungkin mereka yang di ceritakan Rico tadi. Clara mulai membaur, memberikan minuman untuk para tamu.


"Tolong tuangkan minumannya ya, nama kamu siapa?" tanya salah seorang tamu.

__ADS_1


"Baik, nama saya Marsya,"


Clara tidak ingin identitasnya terungkap, ia memikirkan nama panggilan untuknya. Marsya, nama yang cantik menurutnya untuk di pilih.


"Nama yang cantik, sesuai dengan orangnya. apa kita bisa pergi jalan-jalan?"


"Maaf Tuan, saya tidak bisa,"


"Ah jangan jual mahal begitu, aku bisa membeli mu. Berapa yang kamu inginkan?"


"Maaf, saya bukan wanita seperti itu,"


Clara segera menepis tangan pria yang sudah lancang menyentuh pahanya, Rico yang tidak sengaja melihat kejadian itu segera menghampiri mereka.


"Maaf, ada apa ini? Tolong yang sopan kepadanya ya, dia adalah gadis baik-baik," bela Rico.


Pria itu tertawa terbahak-bahak, pandangannya terlihat menghina.


"Mana ada wanita baik-baik yang bekerja di klub malam, janganlah munafik. Semua pekerja malam itu sama saja, rela berbuat apa saja demi uang," cemoohnya.


"Cukup, jika anda masih terus menghinanya lebih baik anda keluar. Saya tidak suka ada tamu yang lancang kepada pegawai saya," ancam Rico.


Pria itu akhirnya diam dan memilih mengacuhkan mereka. Malam semakin larut, banyak orang yang mulai mabuk. Clara kembali mengambilkan minuman untuk para tamu. Hal tidak terduga tiba-tiba terjadi.


"Akh... lepaskan. Tolong lepaskan aku," teriak Clara.


Tamu tadi tiba-tiba menarik tangannya, mendekapnya dalam pangkuannya. Clara tidak terima di lecehkan, namun tenaganya tidak cukup kuat untuk melepaskan diri, apalagi pria ini sedang mabuk yang membuatnya semakin kuat.


Brukkk...

__ADS_1


Seseorang memukul pria itu dan menarik Clara dalam lindungannya.


__ADS_2