Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 34 Salah Paham


__ADS_3

"Clara, di depan ada nak Dika. Dia ingin bertemu denganmu," kata Bu Dina saat baru tiba di rumah.


Dika menunggu di teras rumah. Hatinya berdebar-debar tak karuan, sudah lama dia tak berjumpa gadis idamannya.


"Eh Dika, apa kabar? Tumben kesini, ada apa?" tanya Clara merasa heran.


"Alhamdulillah baik, tadi ketemu ibumu di jalan. Beliau cerita bahwa kamu datang tapi sore sudah pulang, jadi aku bergegas kesini. Maaf ya bertamu pagi-pagi," jelas Dika menunjukkan senyumnya yang manis dengan gigi gingsulnya.


"Sudah lama tidak ketemu, aku rindu sekali denganmu. Kabarmu bagaimana, Clara?" tanya Dika menatap gadis cantik di depannya.


"Alhamdulillah aku baik, sekarang kamu kerja atau lanjut sekolah, Dik?" tanya Clara.


"Sebenarnya ingin kerja bantu usaha ayah, tapi mereka menyuruh lanjut sekolah. Mereka ingin aku masuk Akademi Militer seperti kakakku." jelas Dika.


"Oh, baguslah," kata Clara singkat.


"Kamu makin cantik saja, Clara," puji Dika.


"Ah biasa saja, Dika," jawab Clara tersipu.


Tiba-tiba Dika memegang tangan Clara, membuat gadis itu salah tingkah. Ia mencoba melepaskan genggaman pria itu, namun ternyata cukup kuat.


"Clara, aku tahu kamu pernah menolakku, namun aku tidak mampu melupakanmu. Dulu alasanmu karena masih ingin sekolah, aku bisa memakluminya. Sekarang apakah kamu mau menjadi kekasihku?" tanya Dika, membuat Clara segera melepas tangannya dengan kasar.


Sebenarnya Clara tidak ingin menyakiti hati Dika, namun bagaimanapun dia tidak pernah mencintai pria itu. Apalagi saat ini sudah ada Juan dalam hidupnya, dia tak menginginkan pria lain lagi.


"Maaf Dika, aku tidak bisa," jawab Clara lirih.


Mereka tidak menyadari sedari tadi Juan ada di sana, memperhatikan mereka. Juan melihat pria itu memegang tangan Clara, dan Clara tak menolaknya. Ia melihat mereka saling bertatapan, dadanya bergemuruh, hatinya begitu sakit. Ia memilih kembali kerumah Jhony, sebelum tahu penolakan Clara.


"Jhony, apakah Clara mempunyai kekasih di sini?" tanya Juan menahan emosi, matanya memerah.


"Tidak ada, memangnya kenapa?" tanya Jhony merasa bingung dengan sikap Juan.


"Lalu siapa pria yang bersamanya di rumahnya itu?" tanya Juan.

__ADS_1


"Hah? Coba sebentar aku lihat." jawab Jhony lalu pergi ke rumah Clara.


Di depan teras ia melihat Clara berbincang dengan Dika, pria yang sudah sejak lama mencintai Clara. Namun Clara tidak pernah menerimanya, karena tidak mempunyai rasa yang sama dengan pria itu. Dia merasa Juan telah salah paham. Sayup-sayup ia mendengar Clara menolak pria itu lagi. Ia pun berlalu dengan wajah kecewa.


"Kenapa dia kesini, Clara?" tanya Jhony.


"Seperti biasa, Jhon. Aku heran kenapa dia tidak mau menyerah, padahal kita sudah lama tidak bertemu. Sudah berulang kali juga aku tolak," ucap Clara.


"Ya namanya dia cinta mati sama kamu," jawab Jhony terkeke.


"Eh Juan lagi ngambek, tadi lihat kamu di pegang tangannya sama Dika. Dia mau kerumahmu, akhirnya malah balik lagi." cerita Jhony.


"Apa? Dia pasti salah paham. Ayo kita kesana, Jhon," ajak Clara.


"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Clara mesra.


Juan diam saja tidak merespon. Clara tersenyum, ia gemas melihat kekasihnya marah. Dia pura-pura cuek juga untuk menggoda Juan.


"Sayang kamu mandi dulu ya, abis itu ke rumahku. Kita makan bersama, ibu masak makanan favorit ku, kamu harus nyobain." kata Clara tetap tersenyum.


"Aku di sini saja, nanti aku mengganggu." jawab Juan ketus.


"Malas mandi, sana pergi saja temanin pria itu. Tidak perlu peduli denganku," jawab Juan, merajuk.


"Benar nih, nyuruh aku pergi? Apa tidak menyesal nanti?" tanya Clara sengaja membuat Juan bertambah kesal.


"Iya, pergi saja sana," kata Juan memalingkan wajahnya.


"Sayang, jangan merajuk dong. Dia itu cuma teman, makanya kalau lihat jangan setengah-setengah biar tidak salah paham," ucap Clara dengan sangat lembut.


Juan tak merespon.


"Pria itu namanya Dika. Dia sudah berulang kali memintaku menjadi kekasihnya, namun aku selalu menolak. Aku tak pernah ada perasaan kepadanya." jelas Clara.


"Tapi tadi kamu diam saja ketika dia memegang tanganmu," kata Juan masih bernada ketus.

__ADS_1


"Siapa bilang, makanya kalau lihat jangan setengah-setengah. Tadi aku menepis tangannya, tapi sepertinya kamu sudah keburu pergi lagi." kata Clara tetap sabar.


"Harusnya tadi kamu tegur, biar sekalian aku kenalkan. Agar dia tidak berharap lagi padaku, bukan malah pergi dan merajuk, Sayang," ujar Clara dengan mesra.


"Benarkah begitu kejadiannya?" tanya Juan masih terbawa cemburu.


"Iya, Sayang. Tadi Jhony juga lihat kok. Dia juga sudah tahu sejak dulu Dika itu menyukaiku, tapi tak pernah aku tanggapi." jelas Clara.


"Jangan pernah meninggalkanku ya, Sayang. Aku tak sanggup hidup tanpamu," kata Juan seraya mengusap pipi Clara dengan penuh kelembutan.


"Insyaallah, aku akan selalu mendampingimu." jawab Clara dengan mantap.


Setelah sarapan mereka menjenguk Bu Tini, Juan membawakan buah untuk Bu Tini. Beliau hanya bisa berbaring saja, mereka menatap wanita itu dengan iba. Jhony segera membawa ibunya untuk kontrol. Sebenarnya Juan sudah menawarkan untuk mengantar ke Rumah Sakit, namun Jhony memilih naik taksi. Dia tidak ingin merepotkan Juan.


Juan dan Clara berkeliling desa sebentar, menikmati suasana desa yang bersih dan jauh dari polusi udara. Mereka sempat berpapasan dengan Dika saat berkeliling, Dika langsung kena mental melihat Clara berjalan dengan pria kaya yang sangat tampan. Ia hanya mampu memandang mereka dari kejauhan.


"Bu, Pak, kita pamit dulu ya. Insyaallah jika ada waktu kita pasti pulang." kata Clara, matanya mulai berkaca-kaca.


"Ibu sama Bapak jaga kesehatan ya, jangan terlalu lelah," ujar Cindy tak kalah sedih.


"Iya Nak, kalian hati-hati di sana ya. Jaga diri baik-baik, ibu dan bapak selalu berdoa untuk kalian," kata bu Dina, bulir-bulir air mata menetes membasahi pipinya yang sedikit keriput di makan usia.


"Iya, Bu," jawab Cindy dan Clara kompak.


Mereka berangkulan, isak tangis terdengar memenuhi ruangan yang tak terlalu besar itu. Suasana seketika mengharu biru.


"Nak Juan, titip mereka ya. Mereka masih muda, tolong di arahkan jika mereka berbuat kesalahan." kata bu Dina serius.


"Saya percayakan mereka kepada Nak Juan, karena Jhony sekarang masih harus mengurus ibunya di sini. Saya merestui dengan siapa saja pilihan mereka, asal membawa kepada kebaikan dan membuat mereka bahagia," katanya lagi.


"Ibu tenang saja, insyaallah saya tidak akan mengecewakan kepercayaan ibu. Oh iya ini ada sedikit buat pendidikan adik-adik mereka ya, Bu. Tolong di terima," kata Juan sambil memberikan amplop yang sangat tebal.


"Tidak perlu Nak, jangan. Mereka sudah memberi ibu uang," tolak Bu Dina dengan halus.


"Tolong jangan di tolak, Bu. Ibu dan keluarga sudah saya anggap keluarga sendiri," kata Juan memaksa.

__ADS_1


Ibu Dina memandang kedua anaknya, mereka mengangguk sebagai tanda boleh menerima.


Selama perjalanan mereka gunakan beristirahat. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Juan merasa keluarga Clara atau pun Jhony sangat hangat, ada rasa iri di hatinya. Mengapa keluarganya tidak seperti mereka?


__ADS_2