Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 146 Bima Selingkuh


__ADS_3

"Selamat ya Cindy, anak kamu tampan sekali," ucap Jhony.


"Terima kasih ya Jhon, sayang sekali Clara tidak ikut, padahal aku rindu padanya," balas Cindy.


Jhony dan Clara saling pandang, Clara belum bisa membuka penyamarannya karena masih ada ibunya Bima di situ.


"Ibu akan mengurus ari-arinya dulu ya, tolong titip Cindy sebentar,"


Wanita itu segera keluar, Clara mengambil kesempatan untuk membuka masker yang menutupi wajahnya. Cindy tampak kaget bukan main, Clara tampak begitu berubah.


"Astaga, aku pikir benaran pacarnya Jhony,"


Mereka semua tertawa, geli membayangkannya.


"Bima kemana sih Cin, kamu lahiran dia malah tidak datang dan sulit di hubungi," ucap Jhony.


"Aku juga tidak tahu Jhon, akhir-akhir ini dia memang makin jarang di rumah. Yang penting dia mau membayar biaya operasi ku saja, aku sudah senang," balas Cindy.


"Kamu salah Cin, jika kami tidak datang entah apa yang terjadi pada mu dan bayi mu. Untung tadi kita datang tepat waktu," ucap Jhony.


"Apa maksud mu, Jhon?" tanya Cindy tidak mengerti.


"Kita yang membayar semuanya, Kak," jawab Clara.


"Apa? Astaga kalian memang dewa penyelamat untuk ku, padahal semalam aku sudah mengatakan pada Bima jika sepertinya akan melahirkan dalam waktu dekat, aku menyuruhnya untuk memberi uang pada ibu untuk berjaga-jaga. Dia telah banyak berubah,"


Cindy tampak bersedih, sepertinya dia merahasiakan sesuatu dari mereka.


"Sudahlah Kak, jangan bersedih ya. Kakak harus semangat demi anak-anak, yang penting sekarang kalian baik-baik saja. Oh iya keponakan ku sama siapa di rumah, Kak?"


"Ada mbak yang membantu menjaganya. Sekali lagi terima kasih ya, aku tidak tahu kapan bisa membayar uang kalian,"


"Kakak bicara apa sih, itu memang rezeki untuk Kakak, itu bukan hutang,"


"Tapi pasti itu sangat banyak, Clara,"


"Sudahlah Cin, itu memang untuk kalian.

__ADS_1


Cindy merasa sangat terharu dengan kebaikan mereka, ia berdoa yang terbaik untuk keduanya. Karena hari sudah sore mereka akhirnya berpamitan.


"Kami pulang dulu ya Kak, besok kita akan kemari lagi. Ini Kakak simpan mungkin ada kebutuhan lain yang nanti harus di beli, kita tidak tahu kapan suami Kakak akan datang,"


Clara menyodorkan setumpuk uang, awalnya Cindy menolak namun mereka tetap memaksa sehingga ia pun menerimanya. Sebenarnya mereka tidak tega meninggalkan Cindy, namun mereka harus bersiap-siap untuk bekerja nanti malam.


***


Sementara itu di sebuah hotel bintang lima.


"Terima kasih ya Sayang, kamu selalu bisa membuat ku puas," ucap wanita itu.


Wanita itu bukanlah seorang pelacur, ia hanya seorang wanita kesepian, istri dari seorang pemilik perusahaan tempat Bima bekerja. Ya, pasangan mesum itu adalah Bima dengan istri bosnya.


Saat istrinya sedang berjuang antara hidup dan mati melahirkan keturunannya, ia justru sibuk bermandi peluh dengan wanita lain. Bima telah berubah, himpitan ekonomi membuatnya tega berselingkuh di belakang istrinya. Demi uang dan kepuasaan ia rela mengorbankan cintanya.


"Ini untuk mu," wanita itu memberinya segepok uang.


"Terima kasih Jenny, Sayang ku,"


Jenny masih berusia 35 tahunan dan memiliki nafsu yang menggebu-gebu, sedangkan suaminya hampir tidak ada waktu untuk dirinya dan lebih mementingkan bisnisnya. Kesepian membuat dirinya nekad menggoda karyawannya yang sedang kesulitan ekonomi dengan mengiming-imingi uang yang banyak. Awalnya Bima menolak, namun pria mana yang sanggup menolak di beri kenikmatan plus uang yang banyak? Bahkan kucing yang kelaparan saja bisa memakan segalanya yang penting perut terisi, apalagi manusia yang sejatinya memiliki sifat yang rakus.


"Sayang, dari tadi ponsel mu berdering terus, kenapa tidak di angkat sih? Mungkin istri mu mau melahirkan," ucap Jenny.


Ya, wanita ini masih punya rasa iba terhadap istri selingkuhannya. Ia sama sekali tidak ada niat merebut pria itu dari istrinya, yang ia inginkan hanya rasa puas untuk mengobati rasa dahaganya akan belaian seorang pria.


"Biarkan saja, kan ada ibu ku di rumah," balas Bima.


"Kamu jangan seperti itu, jika dia menelepon berarti dia membutuhkan diri mu, apalagi dia sedang hamil besar. Pulanglah, hari ini cukup sampai di sini," ucap Jenny.


Bima terdiam, ia mencerna kata demi kata yang Jenny ucapkan. Akhirnya ia menuruti permintaan wanita itu dan segera bangkit. Setelah mencium bibir Jenny dengan rakus, Bima segera berlalu.


***


Sementara itu di rumah sakit.


"Bu, sebenarnya mas Bima kemana ya? Kalau di kantor rasanya tidak mungkin dia tidak mengangkat telepon kan?" tanya Cindy.

__ADS_1


"Ibu juga tidak tahu, dia memang keterlaluan. Sudah tahu istrinya mau melahirkan tapi tidak memberi uang untuk pegangan, untung ada Jhony yang datang tepat waktu, ibu tidak bisa membayangkan jika tidak ada dia," jawab ibu mertuanya.


Tring... tring... tring...


Ponsel ibu mertuanya berbunyi.


"Bu, ponselnya berdering," ucap Cindy.


"Eh iya, sebentar ibu ambil. Dari Bima, panjang umur anak itu baru juga di bicarakan,"


"Halo Bima, kamu itu kemana saja sih dari tadi di telepon tidak di angkat. Cindy sudah melahirkan, anaknya lakki-laki, cepat kamu kesini,"


Setelah memberi tahu rumah sakit tempat Cindy di rawat, ibunya Bima segera mematikan telepon. Ia mulai sibuk mengurusi cucunya yang mulai haus, ia membantu Cindy menyusui bayi itu. Bayi itu menyusu sangat kuat.


Beberapa saat kemudian, Bima datang. Ia segera mencium istri dan juga putranya.


"Kamu dari mana saja sih, Mas?" tanya Cindy.


"Maaf tadi ada meeting penting," jawab Bima.


Cindy curiga dengan suaminya, kemejanya wangi parfum wanita yang bukan miliknya. Bahkan dia sempat melihat ada noda merah seperti bekas lipstik di sekitar kerah bajunya. Dugaan jika suaminya berselingkuh dengan wanita lain sepertinya memang benar.


Hatinya terasa teriris sembilu, namun ia tetap berusaha tenang. Begitu tega Bima mempermainkan dirinya, bahkan di saat ia sedang bertaruh nyawa ia memilih bersama selingkuhannya. Sakit sekali rasanya hati Cindy.


"Akh... sakit," rintih Cindy.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Bima panik.


Tiba-tiba Cindy pingsan, Bima segera berlari memanggil dokter.


"Dok, istri saya kenapa tiba-tiba kesakitan dan pingsan?" tanya Bima.


"Silahkan Bapak tunggu di luar dulu," ucap dokter itu.


Beberapa perawat dan dokter masuk ke ruangan Cindy, cukup lama mereka berada di dalam membuat Bima dan keluarganya sangat kuatir dengan kondisi Cindy.


"Maaf Pak, Bu, tolong pasien benar-benar di jaga mental dan fisiknya karena sepertinya pasien sangat tertekan hingga sampai pingsan," ucap dokter ketika keluar dari ruangan.

__ADS_1


__ADS_2