
Satu bulan kemudian.
Pukul 02.30.
Clara dan Jhony baru saja pulang bekerja, mereka sudah terbiasa dengan jam kerja malam seperti ini. Sejauh ini pekerjaan mereka lancar, bahkan tip yang mereka dapat sangat lumayan. Mereka bisa membiayai hidup mereka dan mengirim orang tua di kampung.
Setelah pak satpam membukakan gerbang, mereka masuk perlahan.
"Clara, itu apa yang ada di lantai?" tanya Jhony menunjuk ke bawah.
"Sepertinya itu orang, Jhon. Tapi kok tidur di lantai ya," jawab Clara bingung.
Mereka mendekatinya perlahan. Ternyata seorang wanita dengan paras cantik dan pakaian minim, sepertinya sedang tidak sadar.
"Kak, kenapa tidur di sini? Apa Kakak kos di tempat mami ini?" tanya Clara.
"Ehm... kamu siapa?"
Wanita itu bertanya dengan mata masih terpejam, sepertinya ia sedang mabuk.
"Sepertinya dia mabuk, kita harus bagaimana ini? Tidak mungkin meninggalkan dia sendirian di sini," ucap Clara.
Jhony segera menuju pos satpam, sementara Clara menemani gadis yang mabuk itu.
"Oh itu namanya Neng Dinda, orang Bandung. Di antarkan saja ke kamarnya, ayo saya bantu," ucap pak Satpam.
Mereka membawa gadis itu ke kamar kos yang pak satpam tunjukkan. Namun Clara tidak sampai hati meninggalkan wanita yang setengah sadar ini sendirian. Ia berniat menungguinya.
"Aku tidak mungkin meninggalkan kamu bersamanya di sini, ya sudah aku ikut menjaga dia," ucap Jhony.
Mereka menemani gadis itu, awalnya mereka terjaga namun rasa kantuk yang mendera membuat mereka hilang menuju alam mimpi. Sekitar dua jam berlalu, mereka masih saja terlelap.
"Akh... Siapa kalian?"
Sebuah teriakan membuat mereka terbangun, ternyata wanita yang bernama Dinda itu telah sadar. Sepertinya dia kaget melihat dua orang asing ikut tertidur di kamarnya.
__ADS_1
"Maaf Kak, kita tidak bermaksud jahat. Semalam Kakak tertidur di lantai dekat taman, pak satpam dan kami yang membawa kemari. Aku tidak tega meninggalkan Kakak sendiri, jadi aku di sini, karena mengantuk kita juga ikut tertidur,"
Wajah gadis itu terlihat sedih setelah mendengar penjelasan Clara, ia segera memeluk Clara dan mengucapkan terima kasih kepada mereka berdua. Ternyata gadis itu bekerja sebagai LC di sebuah klub malam di sekitar tempat itu. Semalam ia masuk berat sehingga belum sampai di kamar sudah tidak sadar terlebih dulu.
"Ya sudah Kakak istirahat saja, kita juga mau istirahat. Nanti kita lanjut lagi, aku masih ingin mendengar kisah Kakak," ucap Clara.
"Terima kasih ya, kalian sangat baik. Aku baru tahu ada yang tinggal bersama mami sekarang. Ya sudah selamat istirahat ya,"
Mereka segera ke kamar masing-masing. Clara sangat mengantuk, ia lanjut tidur tanpa membersihkan diri dan berganti pakaian. Berbeda dengan Jhony yang tiba-tiba insomnia, pesona seorang Dinda sudah mengaburkan angan-angannya. Baru kali ini ia merasa sangat tertarik dengan sosok wanita, pasalnya kejadian masa lalu masih membekas dalam hidupnya.
Dinda memang gadis yang cantik, dengan kulit putih mulus, tubuhnya tinggi seperti seorang model, benar-benar selera Jhony. Sepertinya ia mabuk kepayang, sedari tadi selalu tersenyum jika mengingat Dinda.
♥︎♥︎♥︎
Keesokan harinya.
"Mi, apa Clara sudah bangun?" tanya Dinda.
"Dinda, apa kamu mengenal Clara?"
Dinda segera menceritakan kejadian semalam, mami Sita tampak menyimak dengan baik.
Dinda sependapat dengan mami, mereka berdua memang orang baik. Saat mereka asyik mengobrol, Jhony keluar dari kamarnya. Tatapannya tertuju kepada gadis cantik yang tengah berbicara dengan mami Sita, jantungnya sekarang berdegup lebih kencang. Tiba-tiba ia menjadi grogi namun ingin lebih mendekat kepada Dinda.
"Pagi Mi, pagi Dinda," sapa Jhony.
"Wah kok tumben sudah rapi, mau kemana Jhon?" tanya mami.
"Tidak ada Mi, mungkin sudah terasa jika ada wanita cantik yang mau mengunjungi Mami," seloroh Jhony sambil melirik ke arah Dinda.
Dinda jadi salah tingkah, dia merasa senang mendengar gombalan Jhony.
"Wah anak mami sudah bisa gombal ya sekarang, ini Dinda tadi nanyain Clara,"
"Oh, kirain nanya aku,"
__ADS_1
Wajah Dinda makin bersemu merah merona, sepertinya gadis itu juga ada ketertarikan dengan Jhony.
"Temani Dinda dulu ya Jhon, mami mau ke kamar Clara dulu ya,"
Mami segera meninggalkan mereka berdua, kini keduanya sama-sama salah tingkah.
"Maaf ya Dinda, aku memang suka bercanda. Kamu jangan marah ya, aku tidak serius kok," ucap Jhony.
"Serius juga tidak apa-apa kok," balas Dinda.
Tatapan mereka beradu, ada rasa hangat di hati keduanya.
"Aku senang memiliki teman, selama ini mereka semua menganggap ku hina. Padahal jika boleh memilih, aku juga tidak ingin seperti ini,"
Dinda terlihat sedih, menjadi LC memang tidak mudah. Mereka pasti menerima cibiran dari semua orang, padahal banyak sekali latar belakang seseorang untuk bekerja seperti itu.
"Semua orang pasti punya masa kelam, kita tidak boleh menghukum orang tanpa tahu apa yang melatarbelakangi dia melakukan hal tersebut. Percayalah Dinda, setiap orang pasti akan bahagia cepat atau lambat,"
Ucapan Jhony benar-benar menenangkan gadis itu. Gadis yang memiliki kisah kelam yang mungkin tidak semua orang bisa bertahan jika berada di posisinya. Ia terharu, baru kali ini ia merasa di hargai sebagai seorang manusia. Tanpa sadar Dinda meneteskan air mata.
"Mungkin ini terlalu cepat, tapi sepertinya aku menyukai mu Dinda," ucap Jhony serius.
"Tapi Jhon, aku hanya seorang LC. Hidup ku bergelimang dosa, aku tidak pantas menerima rasa cinta mu," balas Dinda.
"Aku juga punya masa lalu yang kelam, yang penting kita sama-sama mau menerima kekurangan masing-masing,"
Wajah mereka makin mendekat, saat bibir mereka hampir tidak berjarak, Clara dan mami Sita muncul mengagetkan mereka.
"Ehem... ehem..." Clara sengaja berdehem.
Clara benar-benar tidak menyangka dengan apa yang ia lihat, Jhony dan Dinda hampir berciuman. Semoga saja mami tadi tidak melihat, karena ia tidak ingin mami berpikiran buruk terhadap Jhony.
"Kamu sedang apa sih Jhon, kenapa tadi aku lihat kamu mau mencium Kak Dinda?" tanya Clara lirih.
"Maaf, aku tadi spontan. Sepertinya aku jatuh cinta padanya, Clara. Semalam aku tidak bisa tidur karena memikirkan dia," jawab Jhony.
__ADS_1
"Kamu serius?"
Jhony mengangguk. Cinta memang tidak ada yang pernah tahu kapan akan datang dan kepada siapa akan berlabuh. Memang Dinda hanya seorang LC yang mungkin jauh dari kata sempurna, namun cinta adalah milik semua insan di dunia. Mungkin keduanya bisa saling melengkapi dan memperbaiki diri.