Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 67 Di Hina Lagi


__ADS_3

"Nak, Kami pulang dulu ya, kalian jaga diri baik-baik di sini. Kita ikut rombongan saja, kasihan sopirnya Nak Juan harus bolak balik antar jemput kami," ucap ibu Clara dan Cindy.


"Terserah Bapak dan Ibu saja bagaimana enaknya, itu kue-kue dan makanan dibawa saja lumayan untuk bekal selama perjalanan," balas Clara.


"Iya, Nak. Terima kasih ya, semua saudara sangat senang dengan pesta semalam. Nak Juan juga sampai memberi mereka kamar untuk beristirahat di hotel itu, mereka merasa sangat di hargai. Ternyata tidak semua orang kaya itu sombong ya, Nak Juan dan keluarganya sangat baik. Clara sabar ya mungkin seiring dengan berjalannya waktu orang tuanya akan merestui hubungan kalian, yang penting jangan berhenti berdoa saja," ucap ibunya.


"Iya, Bu. Setiap shalat aku selalu berdoa untuk kebaikan semua orang. Kalian hati-hati di jalan, jika ada waktu kami akan pulang," jawab Clara.


Setelah berpamitan mereka mengantarnya ke dalam mobil sekalian menyapa saudara-saudaranya yang telah datang jauh dari desa untuk menghadiri acara pertunangannya. Mereka tidak mampir karena takut waktunya tidak cukup.


***


Seminggu telah berlalu, hari-hari berlanjut seperti biasa. Rutinitas mereka kembali seperti sebelumnya, bekerja setiap hari dan libur di akhir pekan.


Hari minggu ini Clara di ajak Juan menghadiri pesta pernikahan salah satu anggota keluarganya.


"Assalamualaikum Cintaku, apa kamu sudah siap?" tanya Juan.


"Waalaikum salam, mungkin 10 menit lagi, Sayang," jawab Clara.


"Ok, setengah jam lagi aku sampai. Tunggu ya, Sayang. Assalamualaikum," ucap Juan.


"Ok, Sayang. Waalaikum salam," jawab Clara.


Clara tampak mematut dirinya di cermin, walau acara pernikahan dandanannya tetap natural seperti biasanya. Jika biasanya di desa kaum wanita akan berdandan heboh saat ada undangan pesta, Clara lebih memilih natural saja. Baju yang di kenakan juga lebih suka yang simpel tapi elegan.

__ADS_1


"Duh yang mau di bawa ke acara keluarga kekasih belum selesai juga dandannya, udah perfect kok. Jangan di pandangi terus nanti cerminnya pecah lo," ledek Cindy yang udah melihat Clara selama kurang lebih 2 jam mencari baju yang pas serta berdandan.


"Duh Kakak bikin tambah grogi saja, aku gelisah karena ini perdana aku di ajak ke pesta keluarga Juan. Otomatis semua keluarganya hadir termasuk orang tua Juan kemungkinan datang. Semoga saja semua berjalan lancar ya, Kak," ucap Clara.


"Amin, aku pasti doakan yang terbaik untuk kalian. Yang penting kamu harus yakin sudah melangkah sejauh ini, tinggal selangkah lagi menuju pernikahan, semoga Allah memudahkan harapan kalian," balas Clara.


"Terima kasih ya, Kak. Apa Kakak tidak keluar hari ini?" tanya Clara.


"Sama-sama, Clara. Nanti Bima mau jemput, katanya mau mengajak ke tempat spesial yang indah dan belum pernah kita kunjungi. Sore juga pasti sudah pulang kok," jawab Cindy.


"Oh, ya sudah Kakak hati-hati. Aku belum tahu pasti nanti pulang jam berapa, aku kabari lewat telepon saja ya, Kak," ucap Clara.


"Iya, tidak masalah. Itu ponselmu berdering, mungkin Juan sudah sampai," ucap Cindy.


"Oh iya, Kak. Aku pergi dulu ya, sampai ketemu nanti," balas Clara.


"Sayang, kamu sangat cantik sekali. Apalagi dengan rambutmu yang kamu warnai kecoklatan seperti ini, kamu seperti boneka berjalan. Aku saja terpana melihatmu, bagaimana dengan orang lain. Ternyata ada tidak enaknya ya memiliki kekasih yang cantik, harus rela di lihat orang lain, rasanya tidak ikhlas," ucap Juan.


"Kamu itu dari tadi gombal terus sih, Sayang. Kamu pikir aku rela gitu semua wanita tak berkedip melihat wajah tampan calon suamiku. Kamu itu udah tampan, jabatan bagus, harta berlimpah, apalagi baiknya minta ampun, siapa coba yang tidak tergoda dengan kekasihku ini," ucap Clara dengan wajah cemberut.


Ucapan Clara memang benar, selama ini entah sudah berapa gadis yang mengejarnya. Mulai dari kerabat, rekan bisnis, teman sekolah dan kuliah, bahkan karyawannya banyak yang secara terang-terangan mengejarnya. Namun dia selalu bersikap acuh, namun saat pertama melihat Clara hatinya langsung terpaut.



Setelah perjalanan selama 2 jam mereka tiba di tempat acara di adakan. Tuan rumah menyambut mereka dengan ramah sekali, mereka segera berbaur dengan tamu undangan yang lain. Terlihat orang tua Juan menatap mereka ketika baru tiba, namun sepertinya tidak ada keinginan mereka untuk menyapa.

__ADS_1


"Jeng, calon mantumu cantik sekali ya. Serasi sekali bersanding dengan putramu, jangan lupa undang-undang jika mereka menikah lo," ucap salah seorang tamu kepada mama Juan.


Dia melirik Juan dan Clara, memang mereka serasi. Andai Clara berasal dari kalangan yang sama dengan mereka pasti suaminya akan merestui hubungan itu.


"Ya, pasti aku undang jika mereka menikah. Doakan saja ya," balas mama Juan.


"Eh, tapi dengar-dengar kalian tidak merestui hubungan mereka ya?" tanya wanita itu.


"Ah sudahlah jangan bahas hal itu, aku mau mencari suamiku dulu ya," jawab mama Juan berusaha menghindar.


"Ma, lihat itu Juan sudah mulai berani mengajak gadis desa itu ke acara keluarga seperti ini. Kapan hari mereka bertunangan, sekarang ke acara keluarga, besok-besok mereka akan nekad menikah walau kita tidak setuju," ucap suaminya geram.


"Sudahlah, Pa. Biarkan saja mereka bersama, restui mereka agar hubungan kita dengan Juan kembali harmonis. Juan kelihatannya bahagia bersama Clara," ucap istrinya.


"Apa, beraninya kamu berkata seperti itu. Jangan pernah kamu sebut nama gadis desa itu di depanku, dan jangan pernah membela mereka! Sampai kapanpun aku tidak setuju dia melahirkan keturunanku!" bentak suaminya, membuatnya ketakutan.


"Iya, jangan berteriak begitu, malu jika sampai terdengar orang lain," ucap istrinya mengalah.


Pesta berjalan dengan sangat meriah. Pak Danu tidak bisa melepas pandangannya kepada Clara dan Juan. Saat Juan tengah bergabung dengan kerabatnya, dan Clara menjauh untuk mengambil minuman terlihat Pak Danu menarik tangannya menjauh dari keramaian.


"Sampai kapan kamu akan bertahan dengan putraku? Apa sampai harta anakku habis kamu keruk? Dengar ya, aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian sekalipun kalian sudah bertunangan, apa kamu mengerti?" tanyanya sedikit berteriak.


"Saya sudah pernah berkata bahwa saya mencintai Juan tulus, bukan karena harta. Mengapa Bapak begitu membenci saya, apa benar hanya semata karena saya gadis desa yang miskin?" tanya Clara tenang.


"Tentu saja karena kamu tidak layak untuk bersanding dengan putraku! Asal kamu tahu, kotoran walaupun di campur dengan parfum termahal sekalipun tidak akan pernah bisa menutupi baunya. Begitulah perumpamaan kamu dan Juan!" tegasnya sangat menghina Clara.

__ADS_1


Pria itu bergegas pergi setelah puas menghina Clara. Gadis itu terdiam berusaha menenangkan perasaannya, ia harus kuat karena ini adalah pilihannya. Walaupun ucapan ayah kekasihnya sarkasme sekali dan sangat menyakiti hati dan perasaannya.


__ADS_2