
Jhony melangkah ke salah satu apartemen mewah, di mana tempat Bosnya tinggal. Dia ragu untuk melangkah, keningnya berkeringat. Padahal udara di loby tidak panas. Ia sebenarnya merasa takut, namun segera ia tepis. Matanya sedikit bengkak karena kurang tidur dan menangis semalam. Penampilannya saat ini lebih rapi dan gagah dari sebelumnya. Tak lupa ia menyemprotkan sedikit parfum yang ia beli semalam, atas saran dari Doni. Ia terlihat berkelas.
Ting tung... terdengar suara bel. Tidak butuh waktu lama, Om Dion sudah membukakannya pintu dan mempersilahkanya masuk.
"Aku di sini hanya 3 hari, tolong layani kebutuhanku dengan baik," kata Om Dion, memandang puas dengan penampilan Jhony hari ini.
"Tian, ambillah beberapa minuman dan temani aku nonton film," perintah Bosnya itu.
"Baik, Om," jawabnya. Ia segera mengambil beberapa botol minuman, menuangkannya, lalu menemani pria itu nonton.
"Kenapa dari tadi kamu hanya menuangkanku minuman, minumlah juga biar seru," kata Om Dion.
"Tapi saya belum pernah minum, Om" jawab Jhony jujur.
"Cobalah sedikit, nanti juga terbiasa," rayu Om Dion.
Jhony terlihat ragu, hanya melihat saja.
"Ini hanya w*ne, kadar alkoholnya tidak begitu tinggi," kata Om Dion tetap merayu Jhony.
"Baiklah, aku coba," jawab Jhony sembari mengambil sedikit lalu meminumnya.
Hanya 2x dia mencoba, setelahnya kepalanya terasa berat. Dia tidak ingat apa yang terjadi setelahnya. Om Dion terlihat senang melihatnya tak sadar, sepertinya dia telah merencanakan semua.
Hari telah siang saat Jhony mulai siuman. Ia sangat terkejut mendapati dirinya dalam keaadan bug*l tanpa sehelai kain pun menutupi. Seketika dia lemas, tidak kuat membayangkan yang sudah terjadi. Ia menangis histeris. Diperiksanya seluruh tubuhnya, namun ia tidak melihat adanya pelec*han *****al. segera ia kenakan pakaiannya kembali, ia hanya ingin secepatnya pulang. Namun sepertinya tidak ada celah, pria itu mengurungnya di sini. Jhony begitu menyesal, meratapi nasibnya.
***
Sementara itu, di kantor Andre.
"Kak Bella, aku ke toilet dulu ya," kata Clara berpamitan.
"Iya, Clara," jawab Bella.
Clara segera menuju toilet. Setelah selesai ia segera keluar, namun baru saja membuka pintu toilet dia sudah di cegat.
__ADS_1
"Heh anak baru, kamu ngadu apa saja sama Pak Andre, hah?" tanya Riska emosi.
"Maksudnya apa nih, Kak?" tanya Clara tidak mengerti.
"Halah tidak perlu sok polos, kamu kan yang mengadu, menuduhku yang menghilangkan file milikmu. Gara-gara kamu aku di tegur tadi pagi, padahal selama ini dia selalu baik kepadaku." kata Riska berapi-api.
"Tapi aku tidak berkata apa-apa, Kak." jawab Clara dengan tegas.
"Jangan berteriak kepadaku, kamu itu hanya anak kemarin sore. Kebetulan saja dekat dengan Bos, jadi jangan sok." kata Riska tetap dengan nada tinggi.
"Aku tidak berteriak, jusru Kakak yang teriak padaku," jawab Clara tetap tenang.
"Berani kamu ya...." kata Riska, lalu mencoba menampar Clara.
Clara tidak mau kalah, ia merasa tidak bersalah. Jadi dia menangkis tangan Riska, lalu memelintirnya membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Cukup ya Kak! Aku sudah bersabar tapi Kakak terus memprovokasiku. Sebenarnya aku punya salah apa, kenapa Kakak begitu membenciku?" ucap Clara sudah tak tahan lagi.
"Aw, lepaskan! Sakit tahu, cepat lepaskan, dasar gadis desa bar-bar,"
Dia keluar dari toilet seolah tidak terjadi apa-apa. Dua orang karyawan lain yang tadi melihat pertengkaran mereka berdecak kagum. Mereka tidak menyangka ada yang berani menantang Riska yang sudah terkenal sadis baik perilaku ataupun mulutnya. Sebentar lagi berita ini pasti menjadi viral di seantero kantor.
"Clara apa kamu tidak apa-apa? Tadi kamu lama sekali loh di toilet?" tanya Bella kuatir.
"Aku baik-baik saja kok, Kak. Tadi hanya ngobrol sebentar dengan karyawan lain di toilet," jawab Clara.
"Syukurlah kalau begitu," kata Bella merasa tenang.
Mereka bekerja dengan tenang. Sejauh ini Riska belum berani mengganggu Clara lagi. Tapi tetap saja dia selalu melihat Clara dengan sinis, namun Clara tidak begitu peduli padanya.
"Clara apa benar-benar kata orang-orang?" tanya Bella setengah berbisik.
"Maksud Kakak bagaimana, aku tidak mengerti?" tanya Clara bingung.
"Tadi aku kan mengantar dokumen yang harus Pak Andre tanda tangani, nah aku dengar karyawan bergosip kalau kamu sudah memberi pelajaran Riska di toilet," jelas Bella.
__ADS_1
"Tadi dia mengintimidasiku Kak, tidak tahu apa salahku. Jadi ketika dia mau menamparku, aku pelintir saja tangannya. Dia pikir aku takut padanya. Aku tidak takut kepada siapapun selama aku benar. Begitu ceritanya, Kak," jelas Clara.
"Wah hebat, benar-benar tidak menyangka aku. Orang seperti dia memang pantas diberi pelajaran. Selama ini semua takut kepadanya, karena dia karyawan terlama di sini. Aku bangga padamu, Clara," kata Bella, ia spontan memeluk Clara. Membuat karyawan lain melirik mereka, heran.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00. Jhony ketiduran setelah lama meratapi hidupnya. Tadi dia sangat kelaparan sehingga memakan apa saja yang tersedia di kulkas. Tiba-tiba terdengar langkah mendekat dan gagang pintu dibuka. Ia ketakutan namun merasa senang, karena ada kesempatan untuk kabur.
"Kau sudah sadar, Tian?" tanya Om Dion.
"Apa yang Om lakukan kepadaku?" tanya Jhony penuh amarah.
"Aku tidak melakukan apa-apa, kenapa kamu marah?" jawab pria itu tenang.
"Kalau begitu kenapa aku tadi telanj*ng?" tanya Jhony lagi.
"Maaf, tadi bajumu basah terkena minuman jadi aku buka. Tapi tiba-tiba aku terans*ng melihat tubuhmu, hingga aku lucuti semua pakaianmu. Tapi aku ingat janjiku untuk tidak ada kontak fisik, jadi aku pergi," jelas Om Dion merasa bersalah.
Memang di bajunya ada bekas minuman tumpah dan tubuhnya juga tidak ada yang lecet satupun, jadi Jhony menganggap pria itu jujur.
"Aku mau berhenti saja, aku tidak mau lagi bekerja, Om!" seru Jhony.
"Jangan begitu Tian, hanya 2 hari lagi aku di sini. Tidak mudah mencari gantimu. Aku berjanji tidak akan macam-macam. Habis ini kita ke mall ya, kamu bisa membeli apapun yang kamu mau," kata Om Dion, berusaha merayu Jhony.
Batin Jhony bergolak antara takut tapi sayang jika di tolak.
"Baiklah, tapi jika sekali lagi Om menyentuhku, aku akan benar-benar pergi." jawab Jhony sambil sedikit mengancam.
"Baiklah, aku setuju. Sekarang kamu siap-siap dulu. Kamu bisa memakai bajuku yang ada di lemari, sepertinya ukuran kita sama," kata Om Dion sambil menunjuk lemari di dekat tempat tidur.
"Ok," jawab Jhony singkat.
Ia mengambil baju di lemari, lalu bergegas ke kamar mandi. Ia segera mengunci rapat, takut tiba-tiba Om Dion masuk. Bagaimanapun ia masih merasa trauma, ia tidak ingin kecolongan lagi. Selama mandi pikirannya juga tidak tenang, namun ia berusaha kuat. Demi seorang ibu yang telah memberinya hidup. Mungkin semua orang akan menganggapnya salah, tapi dia sudah sejauh ini melangkah tak mungkin menoleh ke belakang lagi.
Terkadang begitulah hidup. Kita selalu bisa menghakimi orang lain, tanpa introspeksi diri sendiri. Tiap orang memiliki masalah yang berbeda, jadi berhentilah menjadi yang maha benar. Karena kesempurnaan hanya milik "Allah SWT".
__ADS_1