Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 134 Pulang Kampung


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


"Kenapa suntuk sekali? Masih ingat Clara atau masalah pekerjaan?" tanya Andre.


Juan menghela napas, di sibaknya rambutnya dengan kasar. Penampilannya sekarang jauh lebih baik dari berbulan-bulan lalu.


"Tentu saja aku masih mengingatnya, tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan kehadirannya dalam hidup ku," jawab Juan serius.


"Walaupun dia sudah meninggalkan mu selama ini?"


"Aku yakin dia punya alasan kuat, pasti dia tidak berdaya. Bukankah itu yang selalu kamu katakan untuk menghibur ku,"


Tatapan mereka saling beradu, mereka mencoba mencari kebenaran kata-kata mereka sendiri. Namun semuanya masih abu-abu, masih sebatas prasangka yang belum terbukti keabsahannya.


"Sebenarnya ini tentang papa, dia memaksa ku menikah dengan gadis pilihannya," ucap Juan.


"Lalu bagaimana tanggapan mu?" tanya Andre penasaran.


"Tentu saja aku menolak, hanya Clara istri ku sampai kapanpun," jawab Juan tegas.


Keduanya terdiam, hanya menikmati kopi yang telah mereka pesan. Andre tidak terlalu pandai menghibur Juan, apalagi dia sudah 2x merasakan patah hati. Ia sadar, penghiburan hanya akan membantu sementara namun tidak akan pernah menyembuhkan luka yang tercipta.


" Aku bagai burung tanpa sayap,


Bagai malam tanpa bintang,


Bagai siang tanpa mentari,


Begitu tak berarti..."

__ADS_1


Tiba-tiba Juan berpuisi, penuh penghayatan. Kata-katanya sangat sederhana, namun ekspresinya yang penuh kesakitan mampu membuat trenyuh siapa saja yang melihatnya. Andre menyeka air matanya yang tanpa ia sadar jatuh menetes di tangannya.


"Sabar Juan, nasib ku juga tidak lebih baik. Cinta pertama mengkhianati ku, cinta kedua ku memilih pergi bahkan di saat semua baru di mulai. Kamu masih beruntung bisa menikahi gadis yang kamu cintai, menikmati saat-saat indah bersama. Kamu masih merasakan saat-saat berbahagia, sedangkan aku surga dunia saja belum tahu rasanya,"


Juan menyimak perkataan Andre, awalnya begitu serius membuatnya merasa bersalah tidak mengerti penderitaan sahabatnya itu, namun akhirnya Juan tak bisa menahan tawa dengan kata-katanya yang terakhir.


"Surga dunia itu sangat indah, Dre. Apalagi saat semua sudah halal, di jamin pasti ketagihan," goda Juan, tertawa puas.


"Jangan mentang-mentang sudah pernah merasakan lalu pamer ya, setidaknya saat ini kita sama-sama tidak bisa merasakannya," ledek Andre tak mau kalah.


Kesedihan jika di tanggapi selalu serius tidak akan pernah ada ujung pangkalnya, mempunyai teman yang humoris seperti Andre membuat hidup jadi lebih berwarna. Hal-hal yang sederhana terkadang justru malah meningkatkan semangat hidup.


***


Di kediaman pak Iman.


Bu Rina mengajari Clara mengurus Axel dengan penuh kesabaran, Clara juga cepat sekali belajar. Clara sudah bisa membedong dan memandikan Axel sendiri. Karena air susu Clara tidak begitu lancar sedangkan Axel begitu kuat menyusu, ia memberi susu formula sebagai tambahan. Sebenarnya semua cara sudah bu Rina lakukan seperti memberi jamu, pil dan sayur untuk memperbanyak asi Clara, namun belum membuahkan hasil sehingga terpaksa di dukung susu formula.


"Iya Ibu benar, dia sangat pengertian sekali ya Bu," balas Clara.


"Oh iya Bu, saya ingin pamit. Rencananya mau kembali ke desa mungkin sampai masa nifas selesai, saya boleh titip motor di sini dulu, Bu?"


Sebenarnya berat meninggalkan mereka yang sudah baik kepadanya selama ini, namun ia harus memikirkan kehidupan keluarga dan putranya ke depannya.


"Kenapa tidak di sini saja sih Nak, ibu tidak keberatan merawat Axel jika kamu ingin bekerja kembali setelah selesai masa nifas. Kamu dan Axel sudah ibu anggap keluarga sendiri, keberadaan kalian memberi kebahagiaan tersendiri di rumah ini," jawab bu Rina.


"Terima kasih sekali, ibu dan seluruh keluarga di sini begitu tulus menyayangi kami. Hanya saja ibu saya pasti ingin merawat cucunya juga, selama ini saya merasa bersalah karena meninggalkan mereka tanpa kabar. Saya pasti kembali ke sini lagi, karena saya harus bekerja untuk membiayai Axel dan membantu orang tua saya," ucap Clara.


Bu Rina membantu Clara berkemas, Clara memutuskan mencarter taksi pak Iman karena selain lebih aman karena sudah saling mengenal, ia juga punya alasan memberinya uang lebih tanpa melukai harga dirinya.

__ADS_1


"Bu, saya pamit dulu ya. Salam kepada Sandra, Assalamualaikum," pamit Clara sembari mencium tangan bu Rina.


Terlihat bu Rina memeluk Clara dan Axel, dengan berlinang air mata ia melepas keduanya. Clara yang tadinya berusaha kuat tidak mampu menahan perasaannya lagi, ia menangis di dalam taksi. Kebersamaannya dengan keluarga pak Iman selama 9 bulan ini sangat berarti untuknya, mereka adalah keluarga kedua baginya.


" Kita berhenti untuk makan dulu ya Nak, kasihan Axel mungkin butuh udara segar," ucap Pak Iman setelah menempuh setengah perjalanan.


"Iya Pak. Saya juga mau ke toilet, boleh titip Axel sebentar?" tanya Clara.


"Tentu saja Nak, sini Axel sama kakek. Aduh Axel masih ngantuk ya, Axel mau mimik cucu ya?"


Pak Iman begitu menyayangi Axel, Clara merasa terharu orang yang tidak memiliki ikatan darah bisa menerimanya dengan tulus. Apa yang akan di lakukan Ayah Juan jika mengetahui cucunya lahir, akankah segembira pak Iman? Atau justru tidak menerimanya seperti terhadap dirinya? Clara tidak ingin membayangkan, ia sudah tidak ingin berharap restu dari ayah mertuanya lagi.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 7 jam barulah mereka sampai, pak Iman memang mengendarai dengan santai karena yang di bawanya adalah seorang bayi dan wanita yang baru saja melahirkan. Saat membaca papan tanda selamat datang, dada Clara bergemuruh. Begitu lama ia pergi tanpa kabar, keluarganya pasti sangat terkejut dengan kepulangannya. Apalagi dengan membawa seorang bayi.


"Assalamualaikum," ucap Clara dan pak Iman.


"Waalaikum salam, Clara... Anak ku,"


Pak Jarwo segera memeluk putrinya, tangisnya pecah tatkala melihat Clara di depan pintu menggendong seorang bayi. Dengan tak sabar ia segera memanggil istrinya.


"Bu, ibu... Sini Bu, putri kita pulang Bu," teriak pak Jarwo.


Bukan hanya bu Dina yang datang, adik-adiknya, Jhony dan bu Tini ikut berhamburan ke rumah pak Jarwo. Mereka tidak bisa menyembunyikan kebahagian yang tersirat dari sorot mata mereka. Mereka bergantian memeluk Clara dan bayi mungilnya.


"Kenapa tidak telepon jika mau pulang Nak, ibu bisa menyuruh Jhony atau yang lain untuk menjemput mu," ucap Bu Dina sembari mengusap punggung putrinya.


"Tidak apa-apa Bu, ini kenalkan pak Iman. Beliau yang mengantar saya kesini, kebetulan beliau seorang sopir taksi. Selama ini beliau dan keluarganya yang selalu membantu, bahkan setelah melahirkan aku tinggal di rumahnya," balas Clara.


Mereka segera mengucapkan terima kasih kepada pak Iman. Karena hari sudah malam, pak Iman di suruh menginap karena pasti dia juga merasa lelah.

__ADS_1


"Putra mu mirip sekali dengan Juan, seolah takut tidak di akui," ucap Jhony.


"Apa kamu akan memberi tahu Juan, Nak?" tanya pak Jarwo.


__ADS_2