
Keesokan hari.
Tok... tok... tok...
"Jhon, bangun," panggil Clara
Jhony yang masih sangat mengantuk langsung melirik jam di dinding.
"Masih jam 8, ada apa sih Clara membangunkan aku pagi-pagi," gumam Jhony.
"Iya, sebentar,"
Dengan malas ia segera membuka pintu, ternyata Clara sudah berpakaian rapi seperti akan pergi.
"Ada apa, Clara? Kamu mau kemana, pagi-pagi begini sudah rapi?" tanya Jhony sembari menguap.
"Ayo ikut aku Jhon, Kak Cindy tadi telepon katanya mau lahiran. Kita ke rumah bu bidan sekarang," ajak Clara.
"Yang benar, tapi kok ke bidan sih kenapa tidak ke rumah sakit?" tanya Jhony.
"Ya mana aku tahu, sudah cepat mandi sana. Jangan lama-lama ya, aku tunggu di depan,"
Clara segera turun dan menunggu di ruang tamu, ternyata mami Sita sedang merenung di sana. Wanita itu tampak sedang bermuram durja.
"Mi, apa Mami sedang ada masalah?" tanya Clara penuh perhatian.
"Aku memikirkan tentang Tasya, ia sekarang berani mengancam ku," jawab mami.
"Mengancam bagaimana, Mi?"
"Ia akan nekad menjebak Juan, agar pria itu menikahinya. Ia ingin hamil anaknya agar segera di nikahkan,"
"Apa?" Clara merasa sangat terkejut.
"Kamu pasti kaget kan. Aku sudah mendidiknya dengan benar, entah mengapa sekarang dia menjadi wanita yang tidak ada harga dirinya. Jelas-jelas Juan itu tidak pernah tertarik kepadanya, tapi dia sangat memaksa,"
"Kalau orang tuanya setuju, bukankah anaknya akan ikut setuju Mi?"
"Tidak, aku dengar Juan sudah pernah menikah siri dengan seorang wanita desa. Tapi istrinya hilang entah kemana, sejak saat itu dia kembali dingin kepada wanita. Dia tidak pernah melupakan wanita itu dan terus mencarinya. Bisa di bayangkan bagaimana nasib Tasya jika hidup bersama pria yang tidak pernah mencintainya. Juan juga tidak setuju dengan perjodohan itu walaupun orang tuanya memaksa,"
Clara sangat yakin jika Juan yang di maksud memanglah suaminya. Ia tidak menyangka jika sampai saat ini pria itu masih mencintainya dan berusaha mencarinya. Ia tidak dapat membayangkan betapa marahnya pria itu jika mengetahui dirinya sekarang bekerja sebagai LC di klub malam.
Rasa rindu yang telah ia kubur dalam-dalam kini mulai bersemi kembali. Rasa cinta yang tidak pernah sirna kini bahkan makin meraja. Pandangannya mulai menerawang ke masa lalu, masa di mana mereka masih hidup bersama.
__ADS_1
"Clara, apa kamu baik-baik saja?"
Mami membuyarkan lamunannya, ia sadar jika yang barusan ia rasakan hanya ada dalam bayangannya.
"Maaf Mi, aku hanya ingat masa lalu. Aku tidak apa-apa kok,"
"Syukurlah kalau begitu, kamu mau kemana sepagi ini sudah rapi?"
"Kakak ku mau melahirkan Mi, jadi aku ingin melihat kesana bersama Jhony,"
"Benarkah, mami ikut bahagia. Salam untuk kakak mu ya. Oh iya sebentar, kamu tunggu di sini,"
Mami bergegas naik ke kamarnya, entah apa yang akan dia lakukan.
"Ayo Clara, aku sudah siap," ajak Jhony yang sudah turun.
"Sebentar Jhon, di suruh menunggu mami," ucap Clara.
"Memangnya mami mau ikut ke tempat Cindy?" tanya Jhony.
"Tidak tahu juga, dia cuma bilang suruh tunggu sebentar,"
Sembari menunggu mami Sita, keduanya asyik mengobrol.
"Itu urusan gampang, nanti saja kita atur. Yang penting aku ingin melihat keadaan kakak ku," jawab Clara.
Mami Sita kembali turun membawa sebuah tote bag, sepertinya wanita itu tidak akan ikut mereka.
"Ini tolong kamu berikan untuk kakak mu, kamu selalu menolak bantuan mami, kali ini tolong di terima,"
Mami Sita memberikan tote bag itu kepada Clara.
"Ini apa, Mi?" tanya Clara.
"Kamu buka saja,"
Clara membuka pemberian mami, ternyata beberapa baju baru dan setumpuk uang.
"Tapi Mi, ini terlalu berlebihan," ucap Clara.
"Kenapa kalian selalu menolak bantuan Mami, bahkan membanting tulang sebagai pekerja malam. Padahal mami tidak keberatan memberikan modal untuk membuat usaha, mami ikhlas membantu kalian," balas mami.
"Maaf Mi, bukannya kita tidak mau, hanya saja kita tidak ingin ada fitnah. Kita tidak mau di tuduh memanfaatkan kebaikan Mami, kita tidak mau Mami bertengkar lagi dengan putri Mami. Selama kita bisa, insyaallah akan kita jalani dengan ikhlas,"
__ADS_1
***
Sementara itu di sudut lain kota Surabaya.
Cindy sedang merintih kesakitan, ini adalah saatnya ia melahirkan. Ia terlihat di temani ibu dan ayah mertuanya, sedangkan suaminya Bima tidak tampak di sana.
"Akh... sakit Bu, perut ku sakit sekali," ucap Cindy meringis sembari memegangi perutnya.
"Iya Nak, sabar ya,"
Ibu mertuanya mengusap-ngusap punggung wanita itu untuk mengurangi rasa sakit yang ia rasa. Namun Cindy merasa perutnya semakin sakit.
"Bu maaf, ini bayinya posisinya sungsang dan di lilit tali pusar. Sangat riskan jika tidak segera di keluarkan, ini harus segera di operasi,"
Ucapan bidan tadi membuat Cindy sangat ketakutan, ia takut dirinya dan bayinya tidak akan selamat. Operasi cesar pasti membutuhkan biaya yang sangat besar, sedangkan ia tidak punya uang banyak.
"Bagaimana Bu, ini mau di rujuk ke rumah sakit mana? Kita harus cepat karena di buru waktu, kalau tidak akan berbahaya untuk ibu dan bayinya," desak bu bidan.
"Sebentar ya Bu, saya telepon suaminya dulu,"
Ibu Bima tampak menelepon, namun sepertinya tidak di angkat.
"Bu bagaimana keadaan Cindy? Saya Jhony, tetangganya di desa dan ini pacar saya,"
Jhony datang di saat yang tepat, ia mengenalkan Clara sebagai pacarnya. Gadis itu memakai kacamata, topi dan masker sehingga mertua Cindy pasti tidak mengenalinya.
"Dia di dalam Nak, dia harus segera di rujuk ke rumah sakit untuk segera di operasi. Bayinya sungsang dan terlilit tali pusar, kami tidak punya banyak uang. Bima juga tidak bisa di hubungi, ibu sangat kuatir dengan keadaan Cindy dan bayinya," jawab mertua Cindy.
"Ya sudah Bu, biar saya yang tanggung biayanya," ucap Jhony.
"Nak Jhony serius?"
Jhony segera mengangguk, detik itu juga Cindy segera di larikan ke rumah sakit untuk segera di operasi. Cindy belum tahu jika Jhony dan Clara yang membantunya, ia pikir suaminya yang memberi uang untuk operasi.
Menit demi menit berlalu, semua orang menunggu di depan ruang operasi dengan tidak sabar. Apalagi Clara, hatinya benar-benar cemas memikirkan kakak dan keponakannya yang sedang berjuang di dalam. Ia sangat kesal kepada Bima, di saat darurat begini justru tidak bisa di hubungi.
"Tenang, berdoa saja untuk mereka. Cindy dan bayinya pasti selamat," bisik Jhony untuk menghibur Clara.
Clara hanya mengangguk. Semua mata tertuju pada pintu ruang operasi yang baru saja di buka.
"Alhamdulillah, ibu dan bayinya selamat. Bayinya seorang laki-laki dan sehat,"
Kata-kata dokter itu membuat haru semua orang.
__ADS_1