Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 49 Balas Budi


__ADS_3

"Kenapa kamu diam, Jhon?" tanya Clara.


"Dia sangat berbahaya, kamu harus melaporkannya kepada pihak yang berwajib." saran Clara.


"Dia itu bos ku dulu, Clara. Dia memang punya perilaku menyimpang, tapi setahuku dia sudah berjanji untuk berubah sesuai takdirnya. Aku membantunya agar tidak terpuruk, dia pun sangat baik kepadaku. Ibuku bisa berobat dengan baik berkat dia. Aku tidak tahu dia sudah pulang dari luar negeri dan berusaha mencelakakan ku begini," cerita Jhony dengan mata mulai mengembun.


Mereka menghela napas dalam.


"Sabar ya Jhon, semoga kamu cepat sembuh. Aku kuatir dia mencelakaimu kembali." kata Clara.


"Tenang saja, aku akan segera sembuh. Kamu jangan kuatir ya, nanti aku akan segera menyelesaikan semua ini dengan om Dion." jawab Jhony meyakinkan Clara.


"Ya, aku percaya kamu bisa menyelesaikannya dengan baik. Tapi kamu harus hati-hati." pesan Clara.


"Iya, Cindy mengapa tidak ikut? Apa dia baik-baik saja?" tanya Jhony.


"Panjang ceritanya, Jhon," sahut Clara sambil menghela napas.


Clara menceritakan semuanya dari awal. Andre dan Juan pun segera bergabung. Karena Jhony harus banyak istirahat, mereka memutuskan untuk segera pamit dan berjanji besok akan kesana lagi.


***


Seminggu kemudian.


Jhony telah dinyatakan sembuh total dan diperbolehkan pulang. Juan, Clara dan Cindy serta Indra mengantar kepulangan Jhony. Jhony sangat bersyukur banyak yang perhatian dengannya walau jauh dari keluarganya.


Keesokan harinya Jhony memutuskan menemui om Dion. Ia tidak tahu mencarinya dimana, namun pertama ia akan mencoba mencarinya di apartemennya yang dulu.


Jam 9 pagi Jhony tiba di apartemen. Dia menatap apartemen dari kejauhan, ada kenangan buruk yang selalu ia ingat disana. Ia sungguh tak menyangka akan menapakkan kakinya lagi di sana. Ia pun melangkah dengan berat. Sesampainya di depan kamar om Dion Jhony langsung mengetuk pintu 3x. Tak lama pintu terbuka.


"Tian, kamu..." ucap om Dion sangat terkejut.


"Kenapa Om kaget begitu?" tanya Jhony.


"Darimana kamu tahu aku telah kembali?" tanyanya heran.

__ADS_1


"Ayo masuk dulu," imbuhnya.


Jhony melangkah masuk dan duduk di sofa.


"Aku tidak menyangka Om begitu tega untuk mencelakai aku, hampir 2 minggu aku di rumah sakit. Beruntung aku mempunyai banyak teman yang peduli sehingga bisa sembuh." ucap Jhony sedih.


Om Dion mulai terisak, ia sungguh tak menyangka Jhony mengetahui semua rencananya. Tapi ia heran mengapa dia masih mau kesini dan tidak langsung memperkarakannya ke kantor polisi.


"Maafkan aku, Tian," jawabnya lirih.


"Aku sudah hampir sebulan disini, aku ingin memberikanmu kejutan dengan kedatanganku. Tak menyangka aku melihatmu dengan pria itu, kalian begitu dekat. Aku merasa sangat cemburu." jelasnya.


"Aku tak bermaksud mencelakaimu, aku hanya ingin menakut-nakuti saja. Tapi preman-preman itu sangat bodoh, aku sangat menyesal Tian. Tolong maafkan aku." ucapnya mengiba.


"Maksud Om pria itu Mas Indra? Dia itu bos ku di cafe jadi pasti kita sering berinteraksi, dengan karyawan yang lainnya juga begitu. Selama ini sikapnya normal, dia tidak mungkin menyukaiku. Selama ini dia biasa saja padaku, tidak pernah aneh-aneh," jawab Jhony tegas.


"Aku tak ingin memperkarakan kasus ini, biarlah aku anggap ini sebagai balas budiku karena dulu Om pernah baik padaku. Om juga sudah berjanji akan hidup normal namun kenapa malah begini? Aku sungguh kecewa, tolong menjauhlah dari hidup ku setelah ini. Anggap semuanya impas." kata Jhony serius.


Om Dion masih terdiam namun terlihat gurat kesedihan dan penyesalan di wajahnya. Jhony segera berdiri dan melangkah pergi.


Om Dion bergerak ke nakas, terlihat ia mengambil sesuatu.


"Ini milikmu, aku sudah mengambilnya dari preman itu. Semoga setelah itu kamu selalu hidup bahagia," katanya seraya memberikan ponsel Jhony yang dirampas oleh preman itu.


"Baik Om, terimakasih," jawab Jhony lalu segera pergi meninggalkan om Dion yang masih tertegun.


***


Sudah 2 minggu Cindy tak ke kantor, ia merasa sedikit bosan. Bima juga tak kunjung menemuinya, ia sedikit merasa curiga. Namun karena rasa cintanya ia berusaha menepis semua itu. Pagi itu ia dan Clara sedang beberes apartemen.


"Clara, sudah 2 minggu aku tak kekantor. Aku merasa tak enak dengan Pak Andre, aku juga mulai bosan di apartemen terus. Kapan ya aku bisa mulai kerja kembali?" tanya Cindy.


"Iya sih Kak, nanti coba aku tanyakan Pak Andre ya Kak." jawab Clara.


"Iya tolong nanti kamu tanyakan ya," ucap Cindy.

__ADS_1


Setelah selesai semua Clara pamit untuk berangkat ke kantor. Setiba di kantor ia menemui Andre di ruangannya. Ia menceritakan keluh kesah Cindy kepadanya.


"Nanti aku akan bicara dengannya, aku akan mengajaknya berjalan-jalan sebentar." kata Andre.


"Wah Kakak pasti gembira sekali. Terima kasih, saya akan kembali keruangan saya, Pak," jawab Clara lalu kembali ke ruangannya.


Ketika jam makan siang Andre pergi menemui Cindy. Ia mengajaknya pergi keluar. Cindy senang sekali, ia bergegas berganti pakaian.


"Kita akan kemana, Pak?" tanya Cindy dalam perjalanan.


Andre menatapnya sekilas, senyum Cindy begitu merekah. Ia terlihat sangat anggun dengan dress yang ia pakai. Andre merasa bersalah sekali kepadanya, karena ulahnya gadis ini sudah terkurung di apartemen selama 2 minggu.


"Kamu ingin kemana, katakan saja jangan sungkan," jawab Andre tersenyum lebar.


"Saya ingin ke kebun binatang, kalau boleh," jawab Cindy malu-malu.


"Wah ide bagus, sudah lama sekali aku tak pernah kesana," sahut Andre antusias.


"Benarkah kita kesana? Wah saya senang sekali, Pak," ujar Clara tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya.


"Tapi kita makan siang dulu ya, nanti lanjut ke kebun binatang," kata Andre.


Cindy hanya mengangguk namun tetap tersenyum lebar. Andre gemas melihat tingkahnya, apalagi permintaannya meminta ke kebun binatang. Kalau wanita lain pasti akan mengajaknya ke vila, restoran mewah, salon atau bahkan hotel. Cindy memang berbeda.


Mereka memilih makan siang tak jauh dari kebun binatang. Setelah makan mereka pun bergegas kesana.


"Wah Pak, lihat itu ada gajah. Besar sekali ya," kata Cindy menunjuk ke arah gajah.


Ia melonjak kegirangan. Andre tertawa melihat tingkahnya yang seperti anak kecil.


"Iya lucu ya, ayo kita naik perahu di sana," ajak Andre.


"Ayo, siapa takut." jawab Cindy.


Mereka menikmati sekali suasana di sana. Sudah lama sekali mereka tidak liburan seperti ini. Tak terasa hari telah sore, mereka memutuskan untu pulang dan beristirahat. Cindy mengucapkan terima kasih kepada Andre. Andre mengatakan untuk menunggu selama seminggu lagi, setelah itu ia bisa kembali lagi bekerja.

__ADS_1


__ADS_2