Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 83 Wanita Hamil


__ADS_3

"Apa kamu serius? Kamu tidak sedang mempermainkan diriku bukan?" tanya Indra belum percaya.


"Aku sudah tidak berdaya, memangnya aku punya pilihan selain menuruti keinginan kamu," ucap Jhony.


"Bagus, kamu memang pintar. Aku akan melepaskan ikatan mu," balas Indra.


Ia segera melepaskan ikatan Jhony dan mengambilkan pakaiannya.


"Segera kemasi barang-barang mu, kita akan tinggal bersama di rumah ku. Kamu akan bekerja di cafe seperti dulu, kita akan hidup dengan bahagia," ucapnya dengan tersenyum lebar.


Jhony tidak ingin berdebat lagi, ia segera mengenakan pakaiannya lalu bergegas mengemas semua barangnya.


"Ini masih malam, tidak bisakah kita pergi besok, aku harus mengembalikan kunci kamar kepada pemilik kos ini," pinta Jhony.


"Itu gampang, anak buah ku yang akan mengurusnya. Kita harus cepat pergi dari sini," ucap Indra.


Mereka pun segera menaiki mobil dan meninggalkan kosan itu menuju rumah Indra.


***


Keesokan hari saat Clara dan Cindy fokus dengan pekerjaannya, satpam memberi tahu jika ada seorang wanita yang ingin bertemu Cindy. Karena Clara trauma dengan kejadian saat Cindy menghilang dari kantor, ia ikut ke bawah menemui tamu Cindy.


"Selamat pagi mbak Cindy, perkenalkan nama saya Gina," sapa wanita itu sembari memperkenalkan diri.


"Iya saya Cindy, ada perlu apa ya?" tanyanya.


Clara hanya menyimak, memperhatikan wanita di depannya yang sepertinya tengah berbadan dua. Perutnya sedikit buncit, tidak sesuai dengan tubuhnya yang ramping. Mereka terkejut saat wanita itu duduk dan tiba-tiba menangis.


"Hei, kenapa kamu menangis?" tanya Cindy bingung.


"Aku tidak tahu harus mulai dari mana, aku takut kamu tidak akan percaya kepada ku," ucapnya dengan terisak.


"Katakan saja perlahan, aku akan mendengarkan," ucap Cindy.


"Aku sudah tahu kamu akan menikah dengan Bima, aku turut senang mendengarnya," balas nya.


"Terima kasih, tapi kalau boleh tahu apa maksud kamu bertemu dengan ku?" tanya Cindy.

__ADS_1


"Aku saat ini sedang hamil 3 bulan," ucapnya sambil mengelus perut.


"Iya, aku bisa melihatnya. Tapi apa hubungannya dengan ku, maaf tapi sepertinya aku tidak pernah mengenal mu," balas nya.


"Kita memang tidak mengenal, tapi anak di dalam kandungan ku adalah benih calon suami mu. Dia berjanji akan menikahi aku, namun setelah aku hamil ia malah meninggalkan aku," jelasnya sambil menangis sesenggukan.


"Apa? Kamu tidak bercanda bukan?" tanya Cindy tidak percaya.


"Kita Sama-lama wanita, apa mungkin aku berbohong?" tanyanya.


"Bukan begitu, hanya saja ia tidak pernah bercerita jika sedang dekat dengan seorang wanita," jawab Cindy.


"Mana ada pria playboy itu jujur, ia akan diam jika tidak ketahuan. Lalu akan berkelit jika sudah terbuka aibnya," ucapnya.


"Wah benar-benar itu Bima, semalam kata-katanya terlihat tulus, ternyata dia sudah menghamili anak orang," ucap Clara kesal.


Cindy duduk terpekur di samping Gina, ia masih belum percaya dengan wanita ini. Namun Tidak mungkin rasanya wanita ini berbohong, tidak akan ada untungnya baginya. Dia benar-benar sedih, baru saja tadi malam ia memutuskan untuk menerima Bima dalam hidupnya kembali tapi saat ini ia justru mendengar kenyataan yang pahit.


"Lalu sekarang kamu ingin aku berbuat apa, Gina?" tanya Cindy, bulir-bulir air mata turun membasahi pipinya.


"Aku tidak akan menghalangi pernikahan Mbak Cindy dengannya, aku hanya ingin Mbak tahu dia pria seperti apa. Biarlah aku tanggung ini sendiri jika memang dia tidak menginginkan aku dan anak ini, aku akan berusaha untuk ikhlas," ucapnya.


"Aku malu untuk bercerita kepada keluarga ku, mereka orang terhormat. Aku Tidak ingin menjadi aib bagi mereka, aku akan pergi yang jauh. Aku akan berusaha membesarkan anak ini dengan baik, mbak jangan kuatir" ucap Gina.


"Jangan pergi dulu, aku akan berbicara dengan Bima. Aku akan meyakinkan nya untuk bertanggung jawab pada mu, aku tidak mau berbahagia di atas penderitaan mu" cegah Cindy.


"Percuma, dia tidak akan pernah mau bertanggung jawab. Sudah berulang kali aku mencoba, tapi ia justru bertindak kasar padaku. Aku Sudah tidak ingin berharap lagi," ucap Gina.


"Jangan begitu, ini tidak akan adil untuk mu dan bayi mu. Aku akan melepaskannya untuk mu," balas Cindy.


"Dia tidak mencintai ku, jika aku memaksakan untuk bersamanya pasti hanya rasa sakit yang akan aku terima, Mbak. Tidak apa-apa, aku ikhlas jika kalian bahagia," ucapnya.


"Kalau kamu ikhlas seharusnya kamu tidak perlu datang kesini, kamu tidak perlu membuka mulut dan memilih pergi. Jika kamu begini kamu akan membuat kakak ku merasa sakit dan bersalah padamu," ucap Clara kesal.


"Maaf, aku hanya ingin Mbk Cindy tahu siapa pria yang akan menikahinya. Sungguh aku tidak ada maksud apa-apa," sanggah Gina.


Cindy dan Clara memilih diam, mereka larut dalam perasaan masing-masing.

__ADS_1


"Lebih baik aku segera pergi dari sini. Aku minta maaf jika kabar ini membuat Mbk Cindy terluka," ucapnya lalu bangkit dan melangkah pergi.


"Tunggu," cegah Cindy, namun wanita itu terus melangkah pergi.


"Bagaimana ini Clara? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Cindy gelisah.


"Kakak percaya dengan ceritanya?" tanya Clara.


"Menurut kamu apa untungnya jika dia berbohong, dia benar-benar hamil," jawab Cindy.


"Aku tahu tapi bisa saja dia hanya mengaku-ngaku, walaupun aku juga tidak tahu alasannya berbohong," ucap Clara.


"Bukannya menurut mu Bima bukan orang baik, mengapa sekarang justru kamu membelanya?" tanya Cindy heran.


"Kak, aku tidak membela Bima. Aku hanya kurang percaya dengan wanita tadi. Karena setahu ku Bima sangat mencintai mu bahkan nekad berbuat seperti itu karena ingin menikahi Kakak, jadi rasanya tidak mungkin dia berbuat seperti itu," jawab Clara.


"Manusia bisa khilaf, Clara. Dia saja tega kepada ku apalagi dengan orang lain," ucap Cindy.


"Hem, terserah Kakak saja. Aku hanya berpendapat saja," balas Clara mengalah.


"Kamu telepon ibunya dan ceritakan tentang wanita hamil tadi," suruh Cindy.


"Bukannya Kakak sudah menyimpan nomor calon mertua Kakak?" tanya Clara.


"Aku tidak sanggup berbicara, lebih baik kamu saja. Tadi Kamu juga mendengar wanita itu bercerita," jawab Cindy.


"Baiklah," ucap Clara.


"Assalamualaikum, Bu," sapa Clara.


"Waalaikum salam, ada apa Nak Clara? Apa orang tua mu sudah mendapat tanggal yang baik ya? Kapan itu?" tanya Ibu Bima beruntun.


"Ehm, belum Bu. Ini berita yang lain," jawab Clara.


"Berita apa, Nak?" tanyanya.


"Begini Bu, barusan ada seorang wanita yang datang ke kantor menemui kakak. Dia mengaku telah hamil tiga bulan, dan itu hasil hubungannya dengan putra Ibu. Tapi menurutnya anak Ibu tidak mau bertanggung jawab," jelas Clara.

__ADS_1


"Apa?"


__ADS_2