
"Itu Pak, kita menjadi pelayan di cafe milik teman Yuni," jawab Jhony sedikit gugup.
"Oh, tidak masalah jangan merasa malu. Apapun pekerjaannya yang penting halal. Sekarang sudah malam, sebaiknya kalian segera tidur,"
Merekapun pamit untuk segera beristirahat. Karena merasa lelah tidak butuh waktu lama untuk keduanya segera terlelap.
***
Keesokan harinya.
Mereka sarapan bersama di rumah pak Iman, setelah itu berpamitan untuk mencari kos di dekat tempat mereka bekerja yang tidak terlalu jauh dari sana.
"Kenapa tidak kos di tempat mu dulu, Clara?" tanya Jhony.
"Jangan, sebaiknya kita cari kos lain yang lebih dekat tempat kerja kita," jawab Clara.
Jhony menurut saja, ia segera melajukan motornya untuk mencari tempat kos. Mereka mendatangi beberapa kos, namun belum ada yang cocok. Karena lelah mereka beristirahat di sebuah warung kopi untuk membeli es.
"Sepertinya Mas dan Mbak ini bukan warga sini ya, karena belum pernah liat," ucap ibu pemilik warung.
"Iya Bu, kita sedang mencari kos di daerah sini. Tapi agak susah cari yang bebas, hampir semua penuh dan sebagian kurang cocok," jawab Clara.
"Apa kalian tinggal bersama? Sudah menikah?" ibu warung bertanya menyelidik.
"Maksudnya bebas itu yang tidak ada jam malamnya Bu, karena kita kerjanya malam. Kita akan menyewa 2 kamar, kita sahabat bukan pasangan Bu. Saya sudah menikah dan punya anak di desa,"
Ibu warung hanya ber-oh ria menanggapi penjelasan Clara. Namun tiba-tiba wajahnya berubah cerah.
"Coba cari di kosan mami Sita, tempatnya di ujung gang ini sebelah kanan jalan. Rumah besar bercat putih, ada tulisannya "Kosan Mami Sita". Tapi yang kos kebanyakan wanita yang bekerja di klub malam, jadi di sana bebas tidak ada jam malam. Tapi sepertinya kalian orang baik-baik, lebih baik cari yang lain saja deh," ucap ibu itu.
"Memangnya wanita yang bekerja di klub malam itu tidak baik ya, Bu?" tanya Jhony hati-hati.
"Ya namanya juga kerja malam Mas, tempatnya penuh maksiat. Kalau wanita baik-baik tidak mungkin kerja di sana," jawab ibu itu.
Clara sangat sedih, ia tahu betul klub malam begitu dekat dengan dosa. Tempat segala kemaksiatan di umbar, aurat yang terbuka, minuman beralkohol, pergaulan bebas bahkan obat terlarang juga bisa ada di dalamnya. Ia juga tidak paham apakah hasil keringatnya nanti haram atau halal.
"Jika berubah pikiran belum terlambat, Clara. Kita masih bisa mencari pekerjaan lain," ucap Jhony lirih.
Kini Clara benar-benar dilema, namun detik kemudian telah mengambil keputusan.
__ADS_1
"Kita coba saja Jhon, jika memang tidak nyaman kita segera berhenti. Ayo kita lanjut cari kosannya,"
Mereka mulai mencari kos lagi, mereka melewati kos mami Sita yang ibu warung tadi katakan.
"'Coba saja kesana Jhon, sapa tahu cocok,"
Rumah itu kelihatan besar dan megah, terlihat barisan kamar berderet rapi. Satpam segera menghampiri mereka.
"Cari siapa, Mbak?" tanya satpam.
"Kita sedang mencari kos, apa ada yang kosong ya?"
Satpam itu memandangi mereka dari bawah sampai atas, entah apa yang dia pikirkan sampai tidak segera menyahuti pertanyaannya.
"Ada banyak, tapi mungkin kalian kurang cocok. Rata-rata yang kos di sini adalah pekerja malam," jawabnya.
"Boleh kita lihat dulu, Pak?"
"Ehm, sebentar saya telepon mami Sita dulu,"
Pria itu tampak menghubungi seseorang, tidak lama kemudian seorang pembantu membuka gerbang di temani dengan seorang wanita paruh baya dengan dandanan menor. Ia menatap Clara dan Jhony penuh arti.
"Kita berdua, Bu," jawab Clara sopan.
"Panggil saja mami Sita. Apa kalian pasangan?"
"Bukan Mami, kita berteman," jawab Jhony.
Wanita itu pun tersenyum, ia segera mengajak mereka masuk dan melihat kamar-kamar yang kosong. Kamarnya lebih luas dari kos Clara sebelumnya dan fasilitasnya juga lebih lengkap.
"Clara ini pasti mahal, tidak cocok dengan pekerjaan kita. Lihat saja kasurnya springbed, ada kipas dan ac, ruangannya juga besar. Kita cari yang lain saja," bisik Jhony.
Mami Sita mendengarnya walau Jhony berbisik.
"Memangnya kalian kerja apa?" tanyanya.
"Kita hanya bekerja sebagai pelayan di klub, itu juga baru akan mulai hari ini. Sepertinya kita cari yang lain saja, maaf ya Mami," jawab Jhony.
Wanita itu menatap keduanya sambil berpikir.
__ADS_1
"Lebih baik kalian tinggal bersama ku, di rumah ku. Selama ini aku tinggal hanya dengan pembantu, kedua anak ku meninggalkan ku karena malu mempunyai ibu seperti aku. Aku kesepian tinggal sendiri di rumah sebesar itu,"
Clara dan Jhony mematung, begitu mudahnya wanita ini mempersilahkan mereka tinggal di rumahnya padahal belum saling mengenal.
"Kalian tidak perlu terkejut, aku bisa membedakan mana orang baik dan jahat. Ayo lihatlah rumah ku, kalian bisa menempati kamar anak-anak ku. Aku berharap kalian mau tinggal bersama ku,"
Seolah di hipnotis mereka mengikuti langkah mami Sita. Rumahnya sangat besar, dia pasti orang kaya raya. Dia memperlihatkan kamar-kamar anaknya yang mewah.
"Mami ini terlalu berlebihan, kami tidak pantas tinggal di sini," ucap Clara.
"Kalian pantas tinggal di sini, kalian anak-anak baik. Aku akan menganggap kalian seperti anak ku sendiri,"
Mami Sita memeluk Clara dengan erat, ia juga mengusap kepala Jhony dengan lembut. Mungkin wanita ini begitu kesepian sehingga bisa seperti ini. Clara dan Jhony bingung tidak tahu bagaimana menanggapi ini semua.
"Mami, jujur kami belum bisa mempercayai ini semua," ucap Clara.
"Cobalah tinggal di sini, jika kalian tidak betah aku tidak keberatan kalian pindah,"
Karena niat mami Sita begitu tulus, merekapun menerima permintaannya untuk tinggal. Mereka segera mengambil barang-barang yang masih ada di tempat pak Iman dan pindah ke rumah mami Sita.
Mami Sita segera memasak untuk mereka, wajahnya terlihat ceria sekali menyambut keduanya. Mereka makan bersama, masakannya ternyata sangat lezat.
"Sebenarnya kalian tidak perlu bekerja, aku bisa menghidupi kalian," ucap mami Sita.
"Mami, aku sudah mempunyai seorang putra yang aku titipkan kepada orang tua ku. Aku bertanggung jawab atas mereka, jadi biarkan aku tetap bekerja ya," balas Clara.
"Tidak masalah Sayang, aku bisa membiayai keluarga kalian juga," ucap mami lagi.
"Mami sudah terlalu baik kepada kami, biarkan kami melaksanakan tanggung jawab kami atas keluarga kami," sahut Jhony.
"Ya baiklah, tapi jika ada kesulitan jangan segan untuk mengatakannya pada ku ya. Sekarang lebih baik kalian beristirahat ya,"
"Mami..."
Baru saja akan beranjak, seorang wanita dengan pakaian minim memanggil mami Sita. Dia melihat Clara dan Jhony dengan pandangan aneh.
"Ada apa, Tasya? Kali ini apalagi?" tanya mami Sita lembut.
"Jangan bilang mereka akan tinggal di rumah ini, Mam. Jangan sembarangan mengambil orang di jalan untuk tinggal di rumah ini, jika papa tahu dia takkan pernah mengijinkan," ucap gadis itu ketus.
__ADS_1