Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 91 Firasat


__ADS_3

"Clara bangun, Clara kamu kenapa?" tanya Cindy sembari mengguncang tubuh Clara.


Wajah Clara terlihat bermandi peluh, matanya terpejam namun meneteskan air mata. Cindy panik, ia bingung kenapa Clara tadi berteriak.


"Clara, bangun," ucapnya lagi sembari menyipratkan air ke muka Clara.


Clara terkejut lalu membuka matanya, ia langsung memeluk Cindy dan menangis dalam dekapannya.


"Kamu kenapa? Tadi kamu berteriak histeris saat aku baru selesai shalat subuh, apa kamu mimpi buruk ya?" tanya Cindy lembut seraya membelai rambut Clara yang masih memeluknya.


"Iya, Kak. Aku mimpi buruk sekali sampai rasanya aku pingsan di dalam mimpi," jawab Clara saat sudah mulai tenang.


"Memangnya kamu mimpi apa sampai berkeringat dingin seperti itu? Apa begitu seram sampai kamu menangis?" tanya Cindy.


"Seram sekali, sampai aku takut jika mengingatnya, Kak," jawab Clara.


"Ya sudah kalau kamu masih takut jangan cerita, sebaiknya kamu shalat subuh dulu ya," ucap Cindy.


"Iya Kak, aku shalat dulu. Nanti kita cerita lagi," balas Clara.


Clara segera mandi dan mengambil wudhu', setelah selesai ia bergegas mendekati Cindy. Ia kembali memeluk Cindy semakin membuatnya heran.


"Sebenarnya kamu mimpi apa? Kenapa kamu jadi aneh begini?" tanya Cindy penasaran.


"Mimpi itu seperti nyata, Kak. seolah-olah benaran terjadi, sampai membuat ku merinding," jawab Clara bergidik ngeri.


"Mimpi hantu?" tanya Cindy berusaha menebak.


Clara menggeleng cepat.


"Aku mimpi Indra datang kesini dengan anak buahnya, dia mengikat kita," cerita Clara.


"Hah? Kamu pasti terlalu kuatir dengan Jhony sampai kepikiran dan jadi mimpi," ucap Cindy.


"Mungkin, tapi mungkin juga ini firasat, Kak," balas Clara.

__ADS_1


"Kakak tahu di dalam mimpi dia mengikat tangan dan kaki ku, dia juga mengikat kakak di kasur," ucap Clara.


"Hanya seperti itu saja kamu bilang seram, sampai berteriak histeris begitu?" tanya Cindy heran.


"Mereka bukan hanya mengikat kita, aku melihat sekujur tubuh Kakak terluka. Darah di mana-mana, wajah Kakak seperti di sayat-sayat sampai darahnya menetes. Duh aku ngeri kalau mengingatnya," ucap Clara langsung bergidik.


"Nauzdubillah min dzalik, sadis sekali sih mimpinya. Semoga hanya kembang tidur saja, Clara," balas Cindy ngeri.


"Semoga saja begitu, Kak," ucap Clara.


"Apa jangan-jangan Indra mengancam dia akan menyakiti kita jika Jhony tidak menurutinya ya, Kak?" tanya Clara.


"Kenapa kamu bisa berpikiran begitu?" Cindy balik bertanya.


"Entahlah, mimpi ku semalam seperti firasat. Jhony takut Indra menyakiti kita, buktinya saat di cafe, dia langsung berpura-pura mengusir kita dengan berteriak, bahkan mengatakan tidak ingin berteman dengan kita lagi," jelas Clara.


"Bisa jadi begitu, kasihan sekali Jhony pasti merasa sangat tertekan. Mengapa Dia bisa bertemu dengan orang gila seperti Indra," ucap Cindy.


"Bagaimana cara kita membantu Jhony agar terlepas dari Indra ya?" tanya Clara.


***


Sementara di rumah Juan, pagi itu dia telah menghubungi Bagas untuk membantunya mencari tahu tentang asal usul Indra. Tentang keluarga, bisnis, pekerjaan dan segala hal yang berhubungan dengan pria itu. Dia ingin segera menolong Jhony agar tidak masuk perangkap pria itu lagi.


"Tolong segera kamu cari tahu ya, dia sangat berbahaya untuk teman ku," pinta Juan.


"Beres Mas, aku usahakan secepatnya memberi kabar," jawab Bagas.


"Ok, terima kasih. Aku tunggu kabar dari mu," ucap Juan lalu mematikan panggilan.


Ia segera bersiap-siap untuk menuju kantor. Sesampainya di kantor pekerjaannya sangat banyak, ia harus meeting dengan tiga orang klien hari ini. Hari ini dia sangat sibuk sampai tidak sempat mengecek ponselnya. Ia baru sadar ketika akan istirahat makan siang, segera ia membuka ponselnya.


Ada 5 panggilan tidak terjawab, dari kekasihnya dan juga Bagas. Ia memutuskan untuk menghubungi kekasihnya terlebih dahulu.


"Assalamualaikum Sayang, maaf ya baru sempat telepon, tadi sibuk sekali sampai tidak sempat pegang ponsel," ucap Juan.

__ADS_1


"Waalaikum salam, tidak apa-apa. Oh iya apa sudah dapat cara untuk membantu Jhony?" tanya Clara.


"Belum, ini aku sedang menyuruh Bagas untuk menyelidiki segala hal yang berhubungan dengan Indra. Kalau sudah tahu kelemahannya baru kita bisa bertindak," jawab Juan.


"Ya sudah nanti kabari perkembangannya ya. Oh ya kamu jangan sampai lupa makan, harus jaga kesehatan ya, Sayang," ucap Clara penuh perhatian.


"Iya, kamu juga ya, Sayang. Aku pamit dulu ya setelah ini akan ada meeting dengan klien lagi. Assalamualaikum," ucap Juan.


"Ok, Sayang. waalaikum salam," balas Clara.


Juan segera menghubungi nomor Bagas. Namun sampai lima kali ia menelepon tidak juga di angkatnya. Karena dia harus segera bertemu klien, dia memutuskan untuk menghubungi Bagas nanti lagi.


Sekitar pukul 15.00 Juan baru bisa bernafas lega, semua kliennya merasa puas dengan presentasinya. Juan sebenarnya memiliki beberapa usaha yang ia bangun sendiri, namun ia serahkan kepada orang kepercayaannya termasuk salah satunya kepada Bagas. Tidak ada yang mengetahuinya bahkan orang tuanya sekalipun. Yang orang-orang tahu hanya pekerjaannya di pabrik dan usahanya yang sebentar lagi akan segera launching.


Juan mengecek ponselnya, tidak ada satu pun pemberitahuan. Ia merasa heran mengapa sampai sekarang Bagas tidak juga menghubunginya kembali.


"Halo Hari, apa Bagas bersama mu?" tanya Juan.


"Tidak, Bos. Tadi siang dia keluar katanya mau mengurus izin usaha yang di Satelit, tapi sampai sekarang belum pulang," jawab Hari, asisten Bagas.


"Ya sudah, suruh segera hubungi aku jika kembali ya," pinta Juan.


"Ok, Bos. Siap laksanakan," ucap Hari, membuat Juan tersenyum kala mematikan panggilannya.


Sekitar pukul 17.00 baru Bagas meneleponnya.


"Kamu kemana saja sih Bagas? Aku dari tadi menelepon tidak kamu angkat, memangnya kamu sedang apa?" tanya Juan penasaran.


"Maaf ya Mas, tadi aku keluar untuk mengurus perizinan yang di Satelit. Saat mau balik ke kantor tiba-tiba ada orang yang menabrak mobil ku serta beberapa motor saat lampu merah, ternyata pengendara mobil itu lagi teler. Kasihan sampai ada korban jiwa, seorang pengendara motor. Yang lain termasuk aku hanya luka-luka. Aku di bawa ke rumah sakit, lalu ikut bersaksi di kantor polisi," jelas Bagas panjang lebar.


"Ya ampun bahaya sekali, minuman keras dan obat-obatan terlarang memang sangat membahayakan. syukurlah kalau kamu tidak apa-apa," balas Juan.


"Oh ya Mas, data-data Indra sudah aku kirim ke email ya. Coba Mas cek saja," ucap Bagas.


Juan segera membuka emailnya.

__ADS_1


"Jadi dia korban pelec*h*n s*ksual dari pamannya sendiri ya, terus bisnisnya dvd p*rno, minuman keras dan obat terlarang, pernah di penjara karena kasus pembunuhan. Ternyata dia memang kriminal, kasihan Jhony," ucap Juan membaca hasil penyelidikan Bagas.


__ADS_2